MELAKA

Melaka tak hanya adalah jejak sejarah, yang pada setiap jarak dan depanya, tersimpan terlalu banyak kisah jatuh bangun peradaban, sebagaimana tersimpan aksara demi aksara watak berbagai bangsa di dunia. Mulai dari dominasi kuasa, ambisi dan syahwat politik Barat, bahkan bangsa-bangsa di Asia sendiri.

Melaka juga tapak romantisme peradaban bangsa-bangsa Timur dan kebesaran Islam yang berinteraksi dengan realitas nilai – budaya tradisi.

Inilah bandaraya yang ditabalkan sebagai bandaraya sejarah dan warisan dunia tak benda, yang di setiap sudut kota tua-nya kita dapat membaca ulang bagaimana kelemahan bangsa Melayu ketika berhadapan dengan kolonialisme dan imperialisme, sebagai salah satu cara untuk menemukan dan merumuskan kekuatan bagi kedigjayaan masa depan.. | Bang Sem

 

Artefak bangunan rumah kedai di tepian Sungai Melaka | semHaesy

 

HardRock Cafe Melaka. Menghubungkan bandaraya bersejarah ini dengan masa kini dan masa depan | semHaesy

 

Museum PROKLAMASI menyimpan sejarah pemekikan kemerdekaan Malaysia oleh Tengku Abdul Rahman Putera |semHaesy

Dua budak China pelancong ke bandaraya Melaka | semHaesy

Majelis Makan Malam Ajang Penampilan Seni Pertunjukan

Pemerintah memfasilitasi dan mengkatalisasi seniman seni pertunjukan, sastrawan dan budayawan. Antara lain dengan menggelar kegiatan tahunan Melaka Performing Arts Festival. Termasuk performa seni pertunjukan modern berbasis seni tradisi. Tak terkecualiseni peranakan (China, India, dan Eurasia). Majelis Makan Malam untuk menyambut tamu atau berbagai aktivitas nasional dan internasional yang digelar di […]

Selengkapnya→

Memperlakukan Anak sebagai Manusia Berdaulat

Karena sejak kanak-kanak terbiasa mendapat ruang dialog dan kemerdekaan dialektis dalam memandang dogma dengan segala ikutannya, proses pendidikan keluarga yang mereka tempuh, juga terhindari dari sikap dogmatis. Salah satu hal yang saya syukuri adalah prinsip-prinsip kehidupan inklusif yang diturunkan orang tua saya, terus terpelihara, sehingga kami terhindar dari jebakan-jebakan hidup […]

Selengkapnya→

Kandang Betawi Muda

Pada masanya kaum Betawi dikenal sebagai peternak sapi unggul penghasil susu, yang tersebar di berbagai lokasi di wilayah Selatan. Mulai dari Senayan, Mampang, Buncit, Kemang, dan daerah lain. Akan halnya di wilayah Barat, mulai dari Kembangan, Poris Gaga, Joglo, Meruya dan sekitarnya, pernah dikenal sebagai penghasil kerbau. Demikian pula halnya […]

Selengkapnya→

Ketel Retak dalam Jebakan Fantasi Kaum Hedonis

Kaum hedonis tak memerlukan omongan – meski mengandung kebaikan — karena yang tak sesuai dengan apa yang mereka rindukan. Tak klop dengan hasrat kebahagiaan dalam fantasi mereka. Situasi semacam ini bisa terjadi di berbagai lapangan kehidupan. Politik, pendidikan, bisnis, bahkan agama. Windhunoviari “Human speech is like a cracked kettle on […]

Selengkapnya→

Rasa Cendekia Soto Madura dan Sate Buntel Cak Ong

Sajian sate buntel yang menjadi salah dua menu utama di kedai makan, itu menurut Cak Ong sangat disukai penikmat, termasuk Dipo Alam dan beberapa tokoh nasional dan tokoh Madura, serta kalangan intelektual yang kerap singgah makan (atau memesan) di kedai yang relatif baru itu. Saya beruntung, bisa menikmatinya soto dan […]

Selengkapnya→

Titian Interaksi Manusia

SENI sebagai salah satu poduk budaya, memberikan tawaran menarik dalam memahami dimensi kedalaman insaniah manusia. Sekurang-kurangnya menghaluskan budi, yang tertampak pada pekerti — polah tingkah. Seni juga menjadi titian bagi manusia untuk berinteraksi dengan sains, teknologi, dan astrologi, sekaligus memahami nilai dan norma kehidupan. Sejumlah petikan pertunjukan seni dalam dokumentasi, […]

Selengkapnya→

Anjuran Pemusnahan Wayang dan Kepandiran Ideologis

Doktrin, sikap, dan pernyataan penganut aliran wahabiyah dengan segala doktrinnya, termasuk di Indonesia dan Malaysia, tak pernah usai memercikkan api perselisihan dan pertentangan di kalangan ulama. Terutama karena doktrin yang mudah mengkafir-kafirkan orang lain yang tak sepaham dengannya. Sekaligus mengharamkan segala hal, terutama yang berkaitan dengan adat resam budaya tempatan. […]

Selengkapnya→

Pendidikan Seni Budaya Melatih Kepekaan dan Sikap Kritis

Akademi Jakarta : Pendidikan seni-budaya yang sesuai dengan konteks zaman tidak saja memupuk rasa keindahan, tetapi dapat menukik hingga mencapai kepekaan terhadap alam, rasa kemanusiaan dan keadilan, solidaritas terhadap kaum terpinggir, penajaman nurani, dan sikap kritis terhadap penyalahgunaan kekuasaan.   Pendidikan seni yang selama ini cenderung dilihat semacam proses untuk […]

Selengkapnya→

Akademi Jakarta Rekomendasikan Cegah Penghancuran Nalar Publik

Nalar publik ini penting untuk menilai kebijakan, gagasan, berbagai kepentingan.  Penilaian itu memerlukan nalar dan sikap yang sangat kritis.Sasaran (rekomendasi AJ) adalah menghidupkan kembali, (daya kritis) (sekaligus) mengajak warga. dari Sabang sampai Merauke untuk bangkit bersama-sama menjadi kritis melalui berbagai cara, dan selalu peka terhadap kebijakan-kebijakan yang akan berpengaruh pada […]

Selengkapnya→