Memaknai Legasi Ali Sadikin

Kebudayaan adalah ruh peri kehidupan manusia yang menyediakan ruang simpati, empati, apresiasi, respek, cinta dan kemanusiaan. Ruang yang mempertemukan ethos, pathos, dan logis denga artistika, estetika, dan etika. Ruang yang memfasilitasi terbangunnya daya kreasi, yang menurut Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Miftahulloh Tamary meliputi, antara lain, pameran arsip, workshop pembuatan film pendek, dan pembuatan mural  bertema sentral Ali Sadikin.

Javier M. Fadhillah

JELANG senja yang bermakna. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bicara di atas level yang dipasang di plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini 73, Jakarta. Di latarnya ada gambar sketsa Ali Sadikin, dengan tulisan, “Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin.”

Ali Sadikin, Jenderal KKO (Marinir) yang hensem itu, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta ke 4 (1966-01977) menanam sejarah penting bagi kota yang pernah bernama Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia, dan Jacatra.

Gubernur DKI Jakarta kelahiran Sumedang (7/07/1926), itu tak hanya mengubah Jakarta dari ‘the big village’ menjadi metropolitan dengan imajinasi yang keren. menjadi kota berwawasan internasional, yang kini (menurut Undang Undang No.2/2024) mengemban fungsi sebagai Pusat Perekonomian Nasional dan Kota Global.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung benar, ketika menyatakan, Ali Sadikin tidak hanya meninggalkan legasi berupa pembangunan infrastruktur ragakota, melainkan juga kebudayaan Betawi yang harus diperkuat.

Kata Pramono Anung, “Bagi saya pribadi sebenarnya bukan hanya hal yang bersifat fisik, tetapi karya paling utama beliau adalah bagaimana yang berkaitan dengan budaya, seni, yang salah satunya adalah di tempat ini.” Ia lantas menyebut beberapa peninggalan yang relevan dan terbabit dengan Taman Ismail Marzuki (TIM), Taman Impian jaya Ancol, dan Kebun Binatang Ragunan.

Karenanya, kata Pramono, ia berkomitmen melanjutkan dan merawat peninggalan-peninggalan Gubernur Ali Sadikin. Wujudnya, antara lain menghidupkan kembali Planetarium dan Observatorium Jakarta yang digagas Bung Karno. Suatu penanda komitmen negara terhadap pengembangan sains dan teknologi, kala khalayak masa itu amat dipengaruhi oleh tahayul.

Gubernur DKI jakarta Pramono Anung” “Pelihara Semangan Ali Sadikin.” | JMF

Pelihara Semangat Ali Sadikin

Pramono juga mengungkapkan komitmen, melanjutkan berbagai proyek pembangunan pemerintahan sebelumnya yang belum tuntas, sebagai prioritas.Pernyataan ini penting disimak, khasnya ketika dihubungkan dengan prinsip perubahan dan keberlanjutan.

Ia lantas menyebut gagasan untuk merevitalisasi Pusat Budaya Betawi “Setu Babakan,” sebagai ajang pengembangan budaya Betawi sebagai salah satu identitas Kota Jakarta.  Karenanya, Pramono mengajak khalayak Jakarta untuk memelihara semangat Ali  Sadikin.

Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin (7-14/7/26) digelar dengan semangat kolaborasi antara Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Lrmbaga Kebudayaan Betawi.

Ali Sadikin memfasilitasi berdirinya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Akademi Jakarta (AJ), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Djakarta (LPKD) — yang kemudian bermetamorfosa menjadi LPKJ dan IKJ — karena Jakarta tak hanya harus menjadi wahana modernitas penghidupan dan kehidupan berbasis ekonomi.

Secara spesifik, Ali Sadikin — sebagai orang gunung (indepth oriented) yang karib dengan samudera (panoramic oriented) — sangat paham  Jakarta merupakan hub strategis pergerakan migrasi sosial dari seluruh wilayah Bumantara, yang membawa serta nilai seni budaya daerahnya masing-masing.

Ali Sadikin melihat jauh ke depan lintasan dinamika perjuangan hidup, sehingga memandang penting penting dan utama kebudayaan melekat pada keberadaan manusia sebagai subyek yang atas  suatu  bandar.

Itulah khalayak tempatan yang eksistensinya harus selalu dijaga dengan merawat beragam produk, atraksi, dan ekspresi budaya. Kita kenali sebagai budaya Betawi yang kaya nilai : Berani, Egaliter – kosmopolit, Tangkas, Agamis, Wasi – berwawasan luas, dan Inklusif.

Kesemua nilai itu dipahami oleh Tunjang yang Tujuh (Effendi Yusuf, Emma A Bisrie, Rusdi Saleh, Halim Nasir, Napis Tadjeri, Hamid Alwi, Haji Sa’ali) kala menggagas dan menggelar PraLokakarya Penggalian dan Pengembangan Seni Budaya Betawi (16-18/2/1976).

Itulah ajang saling sulang komitmen dan semangat kultural Betawi — yang difasilitasi dan dikatalisasi Gubernur Ali Sadikin, yang ‘melahirkan’ Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Inilah lembaga kebetawian yang eksistensinya diikat ‘tali puser’ Surat Keputusan Gubernur No. 197 Tahun 1977.

Gubernur DKI jakarta Pramono Anung memberikan tumpeng kepada salah seorang putera Ali Sadikin | JMF

Memorial Lecture Ali Sadikin

LKB merupakan institusi sentral seluruh aspek seni budaya Betawi yang menjadi tumpuan tapak-tapak pencapaian tujuan lestari dan berkembangnya budaya Betawi. Langkah Dinas Kebudayaan bekerjasama dengan DKJ, AJ, dan IKJ merawat energi peradaban bangsa Betawi, memang munasabah. Apa lagi dalam menggelar peringatan 100 Tahun Ali Sadikin.

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin — yang pada namanya melekat hakikat maknawi kecerdasan, ketangkasan, dan keberanian dalam melakukan perubahan dramatik (transformasi) setelah melewati fase revolusi  melakukan — melihat kebudayaan secara menyeluruh. Yakni seni, bahasa (termasuk sastra di dalamnya), norma, nilai, sains, ekonomi, politik, sosial, resam, tradisi, religi dan ritus.

Kebudayaan adalah ruh peri kehidupan manusia yang menyediakan ruang simpati, empati, apresiasi, respek, cinta dan kemanusiaan. Ruang yang mempertemukan ethos, pathos, dan logis denga artistika, estetika, dan etika. Ruang yang memfasilitasi terbangunnya daya kreasi, yang menurut Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Miftahulloh Tamary meliputi, antara lain, pameran arsip, workshop pembuatan film pendek, dan pembuatan mural  bertema sentral Ali Sadikin.

Juga soft launching buku biografi Ali Sadikin, termasuk kongkow budaya bahasa Betawi dan pertunjukan tari. Tentu, termasuk sesi akademik Memorial Lecture Ali Sadikin oleh Gubernur Jakarta 2007 – 2012 Haji Fauzi Bowo dan patung dada Ali Sadikin.

Gelaran peringatan 100 Tahun Ali Sadikin, patut diapresiasi di tengah upaya Pemprov DKI Jakarta menghidupkan dan menggerakkan kesadaran kolektif memberi aksentuasi atas keberadaan kota ini sebagai kota yang berbudaya. Tanpa kecuali mengangkat kembali muruah Taman Ismail Marzuki, seperti yang kerap disampaikan Wakil Gubernur pada berbagai kesempatan. Seolah menengok ke belakang bentaran, buat melanjutkan terbang ke masa depan.

Sajian Orkes Keroncong Tugu petang itu, ketika matahari Jakarta merona jingga, boleh jadi isyarat yang relevan, sebagai penanda hidup masih bisa dinikmati di antara nada dan irama.. |

Posted in LITERA.