Pendidikan Seni Budaya Melatih Kepekaan dan Sikap Kritis

Akademi Jakarta : Pendidikan seni-budaya yang sesuai dengan konteks zaman tidak saja memupuk rasa keindahan, tetapi dapat menukik hingga mencapai kepekaan terhadap alam, rasa kemanusiaan dan keadilan, solidaritas terhadap kaum terpinggir, penajaman nurani, dan sikap kritis terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

 

Pendidikan seni yang selama ini cenderung dilihat semacam proses untuk tampil, sesungguhnya penting untuk melatih kepekaan, melatih imajinasi, melatih sikap kritis. Ini yang tidak dilihat selama ini.

Karlina Supelli, anggota Akademi Jakarta (AJ), mengemukakan hal tersebut pada kesempatan jumpa pers Rekomendasi AJ bertajuk “Cegah Penghancuran Nalar Publik,” yang digelar secara daring, Jum’at – 28 Januari 2022, petang.

AJ menyampaikan lima rekomendasi terkait dengan Pendidikan, Lingkungan Hidup, Intoleransi, Ekonomi, dan Politik.

Dalam diskusi dan dialog reguler anggota AJ setiap pekan sepanjang 2021, yang melatari rekomendasi tersebut, pada bidang pendidikan, mengemuka pemikiran menyeluruh tentang pendidikan, dan pemikiran khas tentang pendidikan seni.

AJ memandang, pendidikan seni dapat menghidupkan rasa-budaya lokal melalui ungkapan multimedia dan jelajah digital dengan memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi. Sebaliknya, pendidikan seni-budaya dapat memperkuat aspek humanistik sains dan teknologi.

Salah satu ekspresi dalam Astungkara karya Prof. Dr. Endang Caturwati, guru besar ISBI berkolaborasi dengan Prof. Setiawan Sabana dan Prof. Anis Sujana | foto RUS – dok Rumah Seni Hapsari

Cara pandang yang mempertentangkan pengetahuan lokal-tradisional dengan pengetahuan modern, serta kurikulum yang mengkotak-kotakkan rumpun ilmu secara kaku justru memiskinkan interaksi lintas-bidang pengetahuan yang semakin dibutuhkan di masa depan.

Dalam booklet yang melatari rekomendasi tersebut, di bidang pendidikan  AJ mengemukakan, bahwa pendidikan merupakan proses belajar yang tidak hanya mengarah pada pencapaian kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Pendidikan adalah proses pendewasaan manusia sepanjang hayat sebagai makhluk yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk menyeimbangkan nalar, nurani, naluri, dan rasa dalam seluruh proses kehidupannya.

Dengan tujuan luhur itu, pendidikan dalam hidup berbangsa dan bernegara merupakan tugas konstitusional untuk membentuk warga yang mampu berpikir kritis, mandiri, berpengetahuan, serta bijak bertindak demi mencapai kebaikan bersama dalam komunitas sosial, politik, dan budayanya.

Salah satu tantangan terbesar bagi pendidikan adalah kuatnya paradigma yang mendudukkan kepentingan manusia sebagai pusat segala sesuatu, sehingga ia bebas menaklukkan alam untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

Ekspresi siswa di salah satu sekolah kaum dhuafa | dok. akarpadi

Dengan bingkai pikir ini manusia mengembangkan gaya hidup yang melebihi daya dukung Bumi, dan mengakibatkan kerusakan alam yang mendatangkan bencana termasuk munculnya penyakit menular baru.

Bingkai pikir ini juga dibentuk oleh nalar ekonomi yang menyusup dan mendominasi semua bidang kehidupan, termasuk pendidikan.

Pendidikan menjadi lahan bisnis yang produktivitasnya dinilai dari kesuksesan lulusan di pasar kerja dalam meraih imbalan tertinggi.

Setiap aspek manusia dilihat sebagai aset dan komoditas dalam persaingan bebas, dengan yang kuat meninggalkan yang lemah.

Peserta didik tidak dilihat sebagai pribadi yang sedang mengembangkan potensi kemanusiaannya, tetapi objek ekonomi dan konsumen.

Sistem ranking, prestise jurusan sains-teknologi di atas seni-budaya, dan perlombaan sekolah mewah yang menciptakan kasta-kasta dalam pendidikan merupakan imbas dari penalaran tersebut.

Dalam iklim pendidikan berbasis ranking kurang terbangun kepedulian sosial, kemampuan bertenggang terhadap yang berbeda dan kemampuan kerja sama, yang amat menentukan dalam menghadapi krisis multi-dimensi.

Sekolah – INS Kayu Tanam di Sumatera Barat didirikan Ungku Muhammad Syafe’i untuk melawan sistem pendidikan yang diterapkan Belanda | dok. khas

Dibutuhkan sistem pendidikan humanis yang dapat mengubah paradigma egosentris menjadi kearifan mengenali kelemahan diri, kerentanan serta kesalingtergantungan manusia baik dengan sesama maupun alam.

Pendidikan yang membangun kepekaan tidak dapat bersifat linear dan hanya berada di tataran kognitif belaka. Belajar dari Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa dan Ungku Mohammad Syafei melalui Sekolah Kayu Tanam, diperlukan pengembangan daya kritis, daya cipta dan nalar inovatif secara terpadu, yang menyeimbangkan teori dengan praktik, keilmuan dengan kehidupan sehari-hari, pikiran dengan rasa, nurani dan empati.

Seluruh proses pendidikan perlu menjadi ruang aman dan nyaman bagi setiap perserta didik, bebas dari kekerasan dalam bentuk apapun.

Seni-budaya merupakan medium pendidikan yang paling tepat untuk membangun daya imajinasi serta mengolah naluri dan rasa yang memanusiakan manusia.

Persepsi yang keliru tentang seni sebagai sekadar pelatihan ketrampilan untuk melayani keperluan industri atau pelipur lara, perlu segera dikoreksi.

Pendidikan seni-budaya merupakan landasan bagi pembentukan watak dan pemanusiaan manusia. Untuk itu, pendidikan seni-budaya perlu mengisi jenjang pendidikan mulai paling dasar hingga pendidikan tinggi.

Kompleks Pendidikan Taman Siswa Yogyakarta didirikan Ki Hadjar Dewantara salah satu bentuk sekolah kebangsaan | trackpacking

Seni di sini tidak dapat dilepaskan dari budaya (humaniora), karena seni terkait erat dengan tatanan nilai, bahasa, relasi sosial dan kehidupan sehari-hari yang terus berubah.

Pendidikan seni-budaya berpeluang menyalakan kepekaan siswa terhadap keragaman budaya, baik nasional, regional, maupun global.

Diskusi para anggota AJ, masing-masing: Afrizal Malna, Anto M. Hoed, Armantono, Bambang Harymurti, Biem Benjamin, Dolorosa Sinaga, Karlina Supelli, Kusmayanto Kadiman , Marco Kusumawijaya, Margani M. Mustar, Melani Budianta, Ratna Riantiarno (Wakil Ketua) , Sandyawan Sumardi, Seno Gumira Ajidarma (Ketua), Syamsuddin Ch Haesy, Tisna Sanjaya dan Zeffry Alkatiri, berlangsung lebih dari 52 kali, termasuk dialog dengan para pakar dari berbagai bidang.

AJ berkesimpulan, bahwa pendidikan seni-budaya yang sesuai dengan konteks zaman tidak saja memupuk rasa keindahan, tetapi dapat menukik hingga mencapai kepekaan terhadap alam, rasa kemanusiaan dan keadilan, solidaritas terhadap kaum terpinggir, penajaman nurani, dan sikap kritis terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Oleh karena itu, seni perlu mendapat peran yang sentral dalam sistem pendidikan nasional, bukan sekadar pelengkap dalam muatan lokal. Pendidikan seni berperan sebagai daya gugah dalam pencerdasan kehidupan berbangsa dan ruang persemaian agen-agen perubahan di tingkat lokal dan global.  |mentari, marsya d’watee

Posted in ARTESTA.