Di dunia seni, Guruh tak hanya merambah dan menguasai sendra tari, bersama Keenan Nasution, Chrisye, dan Abadi Soesman ia juga merambah dunia musik, antara lain lewat Gank Pegangsaan. Guruh juga membentuk kumpulan Guruh Gipsy bersama Chrisye dan Odink Nasution (1977).
Putera bungsu Presiden Soekarno dan Fatmawati, seniman kreatif di masanya, dan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra dikabarkan meninggal dunia (Sabtu, 26/09/26).
Penerima gelar Chevalier de L’Ordre des Arts et des Lettres dari pemerintah Prancis atas kontribusinya di bidang budaya (1991), wafat sekitar pukul 04.20 jelang subuh di hospital Siloam Semanggi, Jakarta Selatan.
Pria yang lebih populer dipanggil Guruh, itu wahat pada usia 73 tahun (kelahiran 13 Januari 1953). Sebagai seniman, Guruh tampil dengan berbagai gagasan yang mengintegrasikan dimensi artistik, estetik, dan etik yang mencerminkan keragaman Indonesia.
Meski terklesan karib dengan budaya tradisional Bali dan Jawa, sesungguhnya Guruh dengan perspektif kosmopolitannya juga karib dengan budaya Sunda, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.
Kemampuannya memadu-harmoni dimensi budaya Indonesia, itu mengalirkan kesadaran luas di kalangan para pelaku seni dan kebudayaan. Terutama para ‘murid’-nya yang pernah tergabung dalam Swara Mahardhika dan Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production.
Di dunia seni, Guruh tak hanya merambah dan menguasai sendra tari, bersama Keenan Nasution, Chrisye, dan Abadi Soesman ia juga merambah dunia musik, antara lain lewat Gank Pegangsaan. Guruh juga membentuk kumpulan Guruh Gipsy bersama Chrisye dan Odink Nasution (1977).
Sebagian generasi Indonesia yang bertumbuh bersamanya, tentu akan selalu ingat tembang Galih dan Ratna, Zamrud Khatulistiwa, Kala Sang Surya Tenggelam, Cinta Indonesia, Lenggang Puspita, dan Candu Asmara.

Guruh Sukarnoputra telah menebar karya-karya seni dimensional berbasis kebangsaan | khas
Seni Medium Nasionalisma
Bersama kumpulannya ini, Guruh melakukan inovasi dan mencapai invensi seni populer lewat padu padan antar genre musik. Termasuk ‘mengawinkan’ seni gamelan Bali yang khas dengan musik rock.
Tak berhenti hanya di situ, Guruh juga mengulik lagu populer bergenre campur sari berpadan rasa dangdut, “Candu Asmara” yang dinyanyikan biduan berprestasi Cici Faramida (1998) produksi Kinarya GSP.
Di tangan Guruh, tradisionalisma budaya Indonesia berpadu-padan dengan selera modernisma di panggung seni pertunjukan yang mempengaruhi generasi muda di masanya.
Daya kreatif dan inovasi guruh dalam berkesenian merupakan sesuatu yang bertumbuh dari kesadaran budaya berbasis pengetahuan. Guruh yang sejak belia sudah karib dengan seni tradisional Indonesia menuntut ilmu antropologi di Universitas Amsterdam, Belanda.
Karya-karyanya yang mengekspresikan nasionalisma merambah berbagai panggung internasional. Antara lain panggung World Popular Song di Tokyo, Jepun.
Sebagai seorang maestro, Guruh telah mengharumkan nama Indonesia dan menyadarkan, bahwa seni merupakan medium untuk memelihara kesadaran kebangsaan, keindonesiaan. Di masa perjuangan kebangsaan, HOS Tjokroaminoto menjadikan sendratari sebagai salah satu medium untuk itu. Lantas ‘Bung Karno” – menantu HOS Tjokroaminoto — ayah Guruh menggunakan tonil sebagai medium.
Guruh pernah menikah dengan Sabina Guseynova (Sabina Padmavati) (20/09/2002) dan bercerai tujuh tahun kemudian (2009). Sampai kabar perceraiannya tular, Guruh menunjukkan sikapnya sebagai seorang suami (hanya) dengan satu istri.
Kita kehilangan tak hanya maestro seni. Wafatnya Guruh, juga ‘kepergian’ seorang yang mengaliri dunia seni dengan nasionalisme.. Kita kan selalu mengenangnya… | nura
