Catatan Apresiasi Bang Sem Haesy tentang Pukul Dua Belas BILA puisi hendak dipahami sebagai ‘lukisan aksara’ – Buku kumpulan kuisi bertajuk “Pukul Dua Belas,” karya penyair Soesi Sastro, berhasil ‘melukis dengan aksara.’ Soesi mengubah impresi tentang realitas pertama kehidupan, menjadi ekspresi yang menjelma menjadi ‘lukisan aksara,’ yang menggambarkan realitas kedua […]
SelengkapnyaLITERA
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch. HAESY
Ramadan waktu mengantarku berkunjung lagi ke beranda rumahMu tuk memenuhi hakMu shaum di bulan Ramadan biarlah sukma membayar kangen di raga yang dahaga pada dria yang lapar dalam kepung tantangan di garba ujian syukurku tiada berhingga Kau hantarkan aku lewat waktu menemui masa penyegaran Ramadan karim masa memberikan hakmu ‘tuk […]
SelengkapnyaImajinasi
Bang Sèm Cinta yang dibangkitkan khayalan salah dan tidak pada tempatnya bisa saja mengantarkannya pada keadaan ekstasi. Namun, kenikmatan itu jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya. Kekasih yang sadar akan hadirnya seseorang yang mencintainya. Laksana kenikmatan lelaki yang memeluk tugu batu di kegelapan sambil tersedu-sedan menangis dan meratap. Meski […]
SelengkapnyaPuisi Puisi Gus Nas [ HM Nasruddin Anshoriy Ch ]
PURNAMA NISFU SYA’BAN Nisfu Sya’ban memanggil namaku Manusia lalai yang asyik bergelimang fatamorgana Manusia pelupa yang memuja hiruk-pikuk dunia Dalam album biru lembaran hidupku Yang kutemukan hanya senda gurau dan bujuk rayu Menumpuk remuk dan redam rongsok dunia Memeluk alpa pada akhirat yang berkilau cahaya Purnama Nisfu Sya’ban […]
SelengkapnyaPanggil Aku Ibu
Mini Monolog Sem Haesy SENJA baru saja rebah. Angin gunung turun merambat. Dingin mendekap gelap, memeluk tubuh lelahku. Bayangkanlah aku ibumu… Ya.. Ibumu… Ibu yang melahirkanmu. Ibu yang menyusuimu berbulan-bulan. Ibu yang menuntunmu kala belajar berjalan. Ibu yang selalu mengangkatmu kala terjatuh. Ibu yang selalu ada di sampingmu, kala kau […]
Selengkapnya17 Pantun N. Syamsuddin Ch. Haesy
[1] usai sarapan meminum jamu air sejuk di dalam kendi bila nak paham orang berilmu merendah hati merunduk budi [2] nasi lemak hidangkan pagi tengah hari santap nasi kebuli bacalah doa sebelum pergi baca hamdalah saat kembali [3] senyum manis menyambut tamu wajah murung jangan tampakkan berkasih dengan orang berilmu […]
SelengkapnyaMembaca Diam di Salonsa
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy Membaca Diam di Salonsa (Kepada Sawedi Muhammad) Riak danau. Angin sunyi mencumbu dedaunan dengen. Buah ranumnya berjatuhan di hampar rerumputan. Ingin kutuliskan rindu di setiap kelopak dengen yang tersisa. Lalu memberi makna atas sujud di hadapan Tuhan. Kudengar celoteh bocah mungil buah cintamu. Berlarian […]
Selengkapnya






