Palestina Ada, Selalu Ada dan Akan Selalu Ada

“Di tanah ini, terdapat ibu dari segala permulaan, ibu dari segala akhir. / Namanya Palestina. / Aku pantas mendapatkannya karena kaulah wanitaku, / Ada alasan untuk hidup di tanah ini, wanita dari segala negeri, tanah air dari segala permulaan, tanah air dari segala akhir./ Ia lahir dan dikenal sebagai Palestina. / Ia akan selamanya dikenal sebagai Palestina, tanahku./  Wanitaku, kaulah alasannya. Kaulah alasan untuk hidup.”
Mahmud Darwish, penyair Palestina

Duta Besar Palestina untuk Kerajaan Inggris Raya, Husam Zomlot berseru, “Hadirin sekalian, Palestina itu ada, selalu ada, dan akan selalu ada.” Kalimat yang diucapkan penuh keyakinan, itu disampaikan Zomlot di depan kantor Misi Palestina, di London, Senin (22/9/25).

Husam Zomlot, selepas menaikkan bendera Palestina di hadapan khalayak yang memadati depan kantor Misi Palestina di pusat kota London, itu kemudian menyatakan,“Kita berkumpul hari ini di depan Misi Palestina untuk Inggris di London untuk menandai momen bersejarah ini,” ujar Zomlot.

Momentum tersebut sangat bersejarah karena dilakukan di London, ibu kota Inggris Raya, ibu kota Deklarasi Balfour yang mengawali keberadaan Israel dan seluruh rangkaian kejahatannya.

Di tempat lain, di Tel Aviv – Israel, yang selama ini sebagai ibukota Israel, penjahat perang — yang ditetapkan Mahkamah Internasional Kejahatan – Den Haag, Belanda — Benyamin Netanjahu, Perdana Menteri (PM) zionis Israel berang, kalap, dan kian tak mampu mengendalikan amarah dirinya. Ia ‘memekik,'”tak kan ada negara Palestina.”

Lelaki koppig (ngèyèl, bedegong) itu masih hanyut dalam obsesi neo kolonialisma sataniyah : melantakkan dan merompak seluruh wilayah Palestina, serta merampas sebagian wilayah negara-negara di sekitarnya (Libanon, Yaman,  dan Syria) menjadikannya Israel Raya.

PM Inggris Raya Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Australia Anthony Albanese, PM Portugal Paulo Rangel, PM Kanada Mark Carney, — dan berbagai sekufunya — telah menyatakan pengakuan resmi atas Palestina sebagai negara berdaulat.

Pengakuan negara-negara tersebut melengkapi 156 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang mengakui keberadaan Palestina sebagai negara merdeka. Maknanya semua negara tersebut menentang Israel.

Selama dua hari (21-22/9/25) di tengah Majelis Umum PBB ke 80 di Markas Besar PBB, New York City para Kepala Negara / Pemerintahan menyatakan pengakuan mereka terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Bendera Palestina berkibar di depan Kantor Misi – yang akan menjadi Kedutaan Besar Palestina di London, setelah berjuta bendera Palestina berkibar di seantero dunia | aljazeera dan dok

Bukan Hanya tentang Palestina

Laksana pemabuk tengah hari, penjahat perang Benyamin Netanjahu memang kalap. Ia memerintahkan serdadunya untuk terus menggempur Gaza dan Tepi Barat Palestina. Melakukan aksi pembinasaan terhadap rakyat Palestina, khasnya kaum perempuan dan anak-anak. Baik dengan menggempur segala sarana hidup dan kehidupan dengan bom dan senjata lainnya.

Para serdadu zionis Israel, dengan ‘satanic action,’ kian ketat menghambat bantuan kemanusiaan, pasokan pangan dan keperluan dasar hidup warga Palestina. Tak kurang dari 640 ribu warga Palestina mereka usir dari tempat pengungsian selama ini

Dukungan berbagai negara yang terbangun kesadaran kemanusiaan dan mutual respect-nya terhadap Palestina, membuat Israel kini hanya mengandalkan Amerika Serikat. Khasnya dalam memasok persenjataan dan dana.

Hasil pemungutan suara di Sidang Dewan Keamanan PBB beberapa hari berselang, hanya 10 negara yang menolak mengakui eksistensi, kemerdekaan, dan kedaulatan Palestina. Yakni, Amerika Serikat – induk semang Israel selama ini, Argentina, Hungaria, Paraguay, dan negara-negara kecil : Papua New Guinea, Micronesia, Palau, dan Tonga yang banyak bergantung nasib kepada Amerika Serikat.

Dalam konteks wilayah, negara-negara yang mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat, tanpa kecuali Tiongkok dan Russia, menegaskan wilayah Palestina meliputi Tepi Barat yang diduduki Israel, termasuk Yerusalem Timur,  ibu kota Palestina − dan Gaza.

Dalam konteks Inggris Raya, Zomlot mengatakan, “Setelah  lebih dari satu abad penyangkalan, perampasan, dan penghapusan yang terus-menerus (atas eksistensi negara Palestina), pemerintah Inggris akhirnya mengambil langkah yang telah lama tertunda untuk mengakui negara Palestina,”

“Selekasnya, sambil menunggu beberapa proses hukum, beberapa proses birokrasi, plakat ini, yang bertuliskan ‘Kedutaan Besar Negara Palestina’… akan ditempatkan tepat di belakang saya di gedung ini,” ucap Zomlot, sambil mengangkat sebuah plakat, disambut sorak sorai khalayak yang hadir di situ.

Zomlot juga mengatakan, momen tersebut “bukan hanya tentang Palestina, tetapi juga tentang tanggung jawab serius Inggris dan pemerintah Inggris. Ini tentang mengakhiri penolakan hak asasi rakyat Palestina atas kebebasan dan penentuan nasib sendiri, dan merupakan pengakuan atas ketidakadilan historis,” ujarnya.

Pagi yang tak selalu indah. Sebentar lagi boleh berujar, “Selamat Pagi yang Indah” | dok. khas

Selamat Pagi yang Indah

Hadir menyaksikan peristiwa historis tersebut, Menteri Faulner, Menteri Negara untuk Timur Tengah dan Afrika Utara di FCDO (Foreign, Commonwealth snd Development Office) – kementerian dalam pemerintahan Inggris Raya yang bertanggung jawab mempromosikan kepentingan Inggris di luar negeri — diplomasi, pembangunan, dan layan konsuler.

Juga nampak Duta Besar Ivan Martineese dari Honduras, pemimpin korps diplomatik di London, Duta Besar Shikh Fawaz Muhammad Al-Khalifa dari Kerajaan Bahrain yang juga pemimpin korps diplomatik Arab di London. Tak tertinggal Menteri Pertama Skotlandia dan para menteri dari Irlandia Utara dan Wales, perwakilan pemerintah dan pejabat senior.

“Hari ini, para anggota parlemen yang terhormat, para wali kota dan penasihat, para pejabat tinggi, tokoh masyarakat, sahabat dan sekutu, serta sesama warga Palestina yang hadir bersama kita hari ini. Selamat pagi. Selamat pagi yang indah…,” ujar Zomlot membuka kalimah.

Zomlot lantas mengemukakan, “Sebentar lagi, akan ada beberapa pekerjaan hukum dan birokrasi yang harus diselesaikan bersama menteri dan pemerintah. Plakat ini, plakat bertuliskan Kedutaan Besar Negara Palestina, Kedutaan Besar Negara Palestina, akan ditempatkan tepat di belakang saya di gedung ini. Momen ini bukan hanya tentang Palestina.

Zomlot juga menyartakan, Palestina akan selalu ada di hati rakyat kita dan jutaan orang yang kita kasihi di dunia. “Pengakuan ini bukan tentang menegaskan apa yang sudah kita ketahui. Ini tentang menulis kesalahan historis dan berkomitmen bersama untuk masa depan yang didasarkan pada kebebasan, martabat, dan hak asasi manusia yang fundamental,” tambah Zomlot dengan nada suara yang haru, namun bersemangat.

Zomlot juga menyatakan, “Kini, sembari menyambut keputusan ini dan menyadari beratnya momen ini, kita harus ingat bahwa pengakuan ini datang di saat penderitaan dan rasa sakit yang tak terbayangkan, genosida yang dilancarkan terhadap kita. Genosida yang masih disangkal dan dibiarkan berlanjut tanpa hukuman.”

Anak-anak dan perempuan Palestina menjadi sasaran genosida di Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki zionis Israel | dojk. khas

Lebih dari Sekadar Gestur Diplomatik

Suasana menjadi penuh haru, kala Zomlot menyatakan, bahwa peristiwa bersejarah itu terjadi ketika rakyat Palestina di Gaza kelaparan, dibom, dan terkubur di bawah reruntuhan rumah mereka. Sedangkan rakyat kita di Tepi Barat sedang dibersihkan secara etnis, dianiaya oleh terorisme yang disponsori negara (Israel) setiap hari, perampasan tanah, dan penindasan yang mencekik.

“Ini terjadi ketika kemanusiaan rakyat Palestina masih dipertanyakan, nyawa kita masih diperlakukan seperti barang sekali pakai, dan kebebasan dasar kita masih diingkari. Peristiwa tersebut merupakan tindakan perlawanan terhadap kebenaran.,” tukasnya.

Bara semangat terasa hangatnya, ketika Zomrot menyatakan, “Momen ini, merupakan bentuk penolakan untuk membiarkan genosida menjadi kata akhir. Penolakan untuk menerima bahwa pendudukan bersifat permanen. Penolakan untuk dihapuskan. Dan penolakan untuk didehumanisasi.”

Pada bagian lain pidatonya yang terasa sebagai meluahkan apa yang tersimpan di dalam dada. “Pengakuan internasional lebih dari sekadar gestur diplomatik. Ini adalah pengakuan, bahwa Palestina selalu menjadi tanah yang dihuni oleh rakyat. Dan sungguh bangsa yang luar biasa. Berakar pada sejarah, tradisi yang membanggakan, dan tekad yang tak tergoyahkan. Bangsa yang ketangguhan dan keberaniannya tak tertandingi,” ungkapnya.

Dikemukakannya, Palestina adalah bangsa yang tidak hanya bertahan melawan erasia, tetapi juga menyerang, membangun masa depan. “Kita tidak hanya bertahan hidup. Kita sedang mempersiapkan pembebasan kita yang tak terelakkan,” ujarnya.

Kami sedang mempersiapkan diri untuk berkembang sebagai petani, guru, pembangun, dan penyembuh, tambah Zomlot. “Untuk memahami budaya kami, para sahabatku, untuk memahami warisan kami, Anda tidak perlu melihat lebih jauh dari kecintaan kami pada pendidikan, kunci menuju masa depan yang cerah dan menjanjikan,” urainya.

Dikemukakannya kemudian, “Komitmen Palestina untuk belajar dan berprestasi tertanam dalam DNA kami. Lihatlah sekeliling Anda di antara kerumunan ini. Anda akan melihat di antara komunitas Palestina bersama kami hari ini beberapa dokter, wirausahawan, akademisi, seniman, penulis, eksekutif, inovator, dan pekerja terbaik di seluruh bidang di Inggris. Saat kita berbicara, secara harfiah, 34 mahasiswa tiba dari Gaza ke Inggris dengan beasiswa bergengsi dan sangat kompetitif,” ungkapnya.

Zomlot memandang khalayak. “Dapatkah Anda mulai membayangkan apa yang dibutuhkan mereka, keluarga, dan komunitas mereka untuk mencapai ini? Untuk belajar, mengikuti ujian, dan mengisi formulir aplikasi di tengah genosida di bawah bom, tanpa listrik, dan dengan perut kosong? Mereka tetap berhasil masuk universitas dan mereka akan berada di sana hari ini. Mereka adalah rakyat Palestina.”

Duta Besar Palestina untuk Kerajaan Inggris raya di London, Husam Zomlot | dok. khas

Kaulah Alasan untuk Hidup

Zomlot menyebut, Inilah semangat Palestina. Seperti yang dikatakan penyair nasional kita tercinta, Mahmud Darwish, ada yang pantas mendapatkan kehidupan. “Di tanah ini, terdapat ibu dari segala permulaan, ibu dari segala akhir. Namanya Palestina. Aku pantas mendapatkannya karena kaulah wanitaku,” ujarnya mengutip salah satu puisi Darwish.

Zomlot melanjutkan, mengutip puisi Darwish, “Ada alasan untuk hidup di tanah ini, wanita dari segala negeri, tanah air dari segala permulaan, tanah air dari segala akhir. Ia lahir dan dikenal sebagai Palestina. Ia akan selamanya dikenal sebagai Palestina, tanahku. Wanitaku, kaulah alasannya. Kaulah alasan untuk hidup.”

Zomlot seperti peselancar yang kembali di atas papan selancar di pantai Palestina lewat ucapannya.  “Sahabat .. sahabat, hari ini bukanlah akhir dari perjuangan kita. Jauh dari itu. Ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan langkah lain dalam perjalanan panjang kita menuju keadilan, pembebasan, dan kedaulatan. Ini tentang pemenuhan hak-hak dasar rakyat kita, kebebasan, kesetaraan, dan penyelesaian yang adil bagi pengungsi Palestina sesuai dengan hukum internasional.”

Ia berseru, “..hari ini, marilah kita mulai bekerja. Marilah kita perlakukan momen ini bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai awal dari babak selanjutnya dalam perjalanan kita. Marilah kita perlakukan momen ini sebagai seruan untuk bertindak. Untuk menghentikan genosida dan pembersihan etnis. Untuk mencabut pengepungan dan mengakhiri pendudukan. Untuk meminta pertanggungjawaban para agresor dengan menggunakan cara yang dimungkinkan oleh hukum, termasuk sanksi komprehensif dan embargo senjata penuh.”

Selanjutnya, Zomlot mengungkap luah terima kasihnya. Ia katakan, pencapaian, pengakuan dunia atas eksistensi Palestina, “tidak akan mungkin terjadi tanpa Anda semua. Dan saya tahu bagaimana Anda semua telah bekerja keras untuk momen ini. Tidak hanya dalam beberapa bulan terakhir, tetapi bahkan bertahun-tahun, bahkan selama beberapa dekade.”

Ia mengucapkan terima kasih kepada rakyat Inggris yang hebat, jutaan orang yang telah berbaris di jalan minggu demi minggu, bulan demi bulan, yang telah mengubah London menjadi pusat gerakan untuk Palestina. Ia berterima kasih kepada Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara yang lebih memilih prinsip daripada politik, kepada serikat pekerja, mahasiswa, politik yang dipandu oleh agama, kepada serikat pekerja, mahasiswa, pemimpin agama, para dokter, anggota parlemen yang telah menyuarakan pendapat mereka.

“Kami berterima kasih. Kami akan selalu mengingat bagaimana Anda berdiri di sisi kami di sisi sejarah yang benar. dan untuk rakyatku, rakyat Palestina yang hebat dan bangga di Gaza, di Yerusalem, di Jenewa, di kamp-kamp pengungsi, di pengasingan, dan di seluruh diaspora. Momen ini milik kalian,” ungkapnya.

Momen yang merupakan buah dari lebih dari 100 tahun keteguhan, pengorbanan, dan kecintaan terhadap tanah air kita, kata Zomlot. “Berkat kalianlah dunia tak lagi dapat menyangkal keberadaan kita. Berkat kalianlah negara Palestina diakui. Di pundak kalian dan di pundak para leluhur kita, negara ini akan bangkit merdeka, bangga, dan sejahtera,” ungkapnya sambil mengajak khalayak bersamanya mengibarkan bendera Palestina beserta warna-warnanya yang mewakili bangsa kita, hitam untuk pagi kita, putih untuk harapan kita, hijau untuk tanah kita, dan merah untuk pengorbanan rakyat kita.”

Ia melanjutkan, “Kita mengibarkannya untuk menghormati perjalanan panjang rakyat Palestina menuju kebebasan dan keadilan, serta untuk menghormati jutaan orang yang mencintai kebebasan di Inggris dan di seluruh dunia. Kita mengibarkannya sebagai sebuah ikrar. Kita mengibarkannya sebagai ikrar bahwa Palestina akan hidup. Palestina akan bangkit dan Palestina akan merdeka.”  Terima kasih. | Florencetique

Posted in LITERA.