Membaca Diam di Salonsa

Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy

Membaca Diam di Salonsa

(Kepada Sawedi Muhammad)

Riak danau. Angin sunyi mencumbu dedaunan dengen.  Buah ranumnya berjatuhan di hampar rerumputan. 

Ingin kutuliskan rindu di setiap kelopak dengen yang tersisa. Lalu memberi makna atas sujud di hadapan Tuhan.

Kudengar celoteh bocah mungil buah cintamu.  Berlarian di tepian danau. Hup!  Kutemukan makna sukacita,  saat perlahan ia berenang,  mengenali kejernihan.

Di sini hidup berpilin damai.  Salonsa sekeping hening.

Disediakan Tuhan untuk tak henti menggelar sajadah.  Lalu sujud sepenuh sukma.

Kau coba pahami kegelisahanku  tentang kerja dan karya, seperti kupahami kegelisahanmu  tentang para pemburu asa tanpa kesungguhan kerja.

Kubaca di tatap pandang matamu:  hakikat tanggungjawab atas alam, keluarga,  dan orang-orang yang tak henti bekerja dan berkarya  dengan kesungguhan.

Dan ketika kau kabarkan kehamilan istrimu dengan sukacita, kutangkap harap menyembul dari danau kembara risau.

Hidup terus bergerak dengan iramanya.  Angin danau mengusik  riak airnya jelma jadi puisi seluas pandang.

Kau tuliskan bagian sejarah hidupmu di sela riak air Matano, saat perahu melintas mengangkut rotan.

Kita tak boleh berhenti memberi makna atas dinamika. Karena hidup menghadirkan kita  di setiap sela gelegak dan gejolaknya.  Asa senantiasa membuka ruang rasa.

Di sana segala fikir jelma  jadi amal yang tak ‘kan habis dihitung anak cucu.

Meski seringkali mesti ditebus  dengan kesal dan marah terkemas di balik senyuman.

Tak ada ruang dan waktu untuk berkeluh kesah.  Tak ada.

Tuhan memberikan ruang dan waktu  untuk bekerja dan berkarya.

Mengolah daya  yang diberi sejak kita ada di garba ibu.

Mengolah asa sejak dititipkan anak-anak kita  ketika dia dilahirkan.

Jangan pernah berhenti menuliskan sejarahmu di sela riak air danau.

Meski petir menyambar.  Mentari menyengat.  Dan hujan memeluk kita dengan basah dan dingin.

Lihatlah kelopak dengen. Membuka rahasia warna dan rasa Di putiknya tersimpan rahasia . Kecerdasan dan kearifan. Misteri tak teraba empirisma. Lihatlah kupasan pertama tanah merah. Tempat Tuhan bercerita tentang humus. Dan kehidupan makhluk tak terlihat pandang.

Lihatlah rerumputan hijau. Tempat kita belajar tentang proses kehidupan. Baca semua misteri. Tersimpan di dalam Matano. Terentang di luas Towuti. Terurai di elok Mahalona

Bukankah diam di Salonsa. Bukan sunyi dikepung hening

Irama indah nyanyian bocah. Memaknakan kata ceria di wajah cerah

Jangan pernah berhenti berfikir. Jangan pernah berhenti berkarya

Meski hanya sejengkal kita melangkah. Semua terekam dalam sejarah

N. Syamsuddin Ch, Haesy | Salonsa, 2007-2008

Syahwat Kuasa

kala nalar tak seirama dengan nurani dan rasa, hasad dan hasut terus membara membakar adab dan cinta.

mimpi-mimpi ideal berubah realita pahit getir.

lihatlah murka di mana-mana. tak pandang bangsa dan negara. terhuyung dihempas gelombang syahwat kuasa.

rasisme bagai kelewang menebas kemanusiaan. sebagian orang melawannya. sebagian lainnya terkapar tanpa daya. tunduk pada kehendak perut.

Puisi N. Syamsuddin Ch, Haesy |  Jakarta, 7 Januari 2021

Aku Murka, Kekasihku

kau tak kan pernah mendengar dan mengerti bagaimana aku murka, kekasihku. aku murka pada Tom Cat yang sesuka hati menyengat ujung matamu. hingga lebam menghias sebelah matamu dan dan nyeri menyengatmu.

kusimpan murkaku dalam diam. aku tak pandai memilih kata penghiburan. kutekuk atensiku dalam do’a. kulipat rasa khawatirku pada rasa, bukan kata.

Selalu kubayangkan orang-orang yang gemar merangkai presumsi dengan aneka tanya, bertanya dan mempertanyakan bagaimana reaksiku.

Ahh.. aku murka, kekasihku. Kurutuk Tom Cat dengan pesona warna sosoknya menyengat ekor matamu seketika. Tak bisa kau duga. Tak bisa kau tahu. Pada pagi. Ketika kau alirkan cinta lewat air memandikan tanaman hias dan bunga-bunga.

Aku murka dalam diamku, kekasihku. Aku tak pandai mengekspresikannya dengan cara orang-orang berekspesi. Boleh jadi hanya ekspresi basa-basi.

Kubelai lebam matamu dengan doa di lepas separuh malam.

Kuambil nyeri dalam rasa ketika sujud terakhir salat malamku.

Aku murka, kekasihku !

N. Syamsuddin Ch, Haesy |  Jakarta, 10 Januari 2021

Posted in LITERA.