Cerita Mama-mama Masyarakat Adat Marind Anim dan Martin Aleida Penerima Penghargaan AJ 2025

“Apabila hari ini Akademi Jakarta memberikan penghargaan kepada Saudara Martin Aleida dan penghargaan bagi Saudara-saudara dari komunitas Mama-mama Masyarakat Adat Marind Anim di Papua Selatan, sesungguhnyalah merupakan bagian dari pemberian suatu penanda. Penanda apa? Penanda tentang siapa yang harus dibela. Penanda tentang siapa yang harus dipedulikan.Penanda tentang siapa yang harus diperjuangkan.Penanda tentang siapa yang harus diberi perhatian sepenuhnya. Penanda tentang siapa yang sudah semestinyalah dimenangkan!” Seno Gumira Ajidarma – Ketua Akademi Jakarta

SENIN (13/10/25) petang di panggung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Akademi Jakarta (AJ) menghelat acara tahunan: menyampaikan Penghargaan AJ kepada Mama-mama Masyarakat Adat Marind Anim (secara virtual) Papua Selatan dan sastrawan – jurnalis Martin Aleida.

Sejak tahun 2021, kategori penerima Penghargaan AJ diberikan kepada perseorangan dan  lembaga – komunitas maupun kolektif yang tak hanya bergerak di bidang seni budaya, melainkan kebudayaan secara luas: lingkungan, pendidikan, gerakan untuk kehidupan yang demokratis dan setara, maupun penelitian dan bidang-bidang kajian.

Masyarakat adat Laman Kinipan & Remy Sylado (2021) merupakan penerima perta penghargaan AJ dalam dua kategori tersebut.

“Apabila hari ini Akademi Jakarta memberikan penghargaan kepada Saudara Martin Aleida dan penghargaan bagi Saudara-saudara dari komunitas Mama-mama Masyarakat Adat Marind Anim di Papua Selatan, sesungguhnyalah merupakan bagian dari pemberian suatu penanda,” ungkap Ketua AJ, Seno Gumira Ajidarma saat menyampaikan sambutan pembuka.

“Penanda apa? Penanda tentang siapa yang harus dibela. Penanda tentang siapa yang harus dipedulikan.Penanda tentang siapa yang harus diperjuangkan.Penanda tentang siapa yang harus diberi perhatian sepenuhnya. Penanda tentang siapa yang sudah semestinyalah dimenangkan!” tegas Seno kemudian.

Selain itu, Seno menyatakan, penanda dalam pemberian penghargaan AJ tersebut, juga merupakan bentuk pengujian: “Apakah kita sungguh-sungguh masih Sebangsa dan Setanah Air adanya!”

Dalam acara yang dipandu jurnalis dan aktivis Debra Yatim tersebut, Wakil Ketua AJ, Karlina R Supelli menyampaikan,  penghargaan kepada Komunitas Mama-Mama Masyarakat Adat Marind Anim, Papua sebagai penghormatan dan dukungan terhadap kegigihan mereka memperjuangkan terwujudnya ketahanan pangan asali, keadilan budaya dan keadilan ekologis, kendati mengalami tekanan, ancaman, dan kriminalisasi.

“Mewujudkan keadilan budaya dan keadilan ekologis adalah bagian yang tak terpisahkan dari keadilan sosial dan hak asasi manusia,” ungkap Karlina, tegas.

Dikemukakan pula, “Tanpa letih mereka mengadvokasi jaminan akses terhadap lumbung pangan asali, pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan layak, penghentian kekerasan, militerisasi, dan diskriminasi, dengan menegaskan bahwa semua itu berhubungan dengan hak masyarakat adat atas tanah leluhur mereka.”

Wakil Ketua Akademi Jakarta, Karlina R. Supelli dibantu Debra Yatim menjelaskan makna tropi karya perupa Dolorosa Sinaga kepada Mama Yasinta yang menerima secara virtual (kiri). Martin Aleida berusaha berdiri menerima piagam dari anggota AJ, Jeffry Al Katiri (kanan) | eCatri_NPG

Sejak Pemerintah Kolonial Belanda

Pada bagian lain uraian tentang pertimbangan AJ memberikan penghargaan kepada Komunitas Mama-Mama Masyarakat Adat Marind Anim, Papua – Karlina mengemukakan, selama bertahun-tahun sejak pemerintahan kolonial Belanda (1902) suku yang mendiami pesisir pantai selatan Papua, termasuk wilayah di sekitar Merauke, serta daerah Mappi dan Boven Digoel — dipaksa menerima megaproyek tanpa persetujuan mereka.

Mulai dengan Proyek Padi Kumbe tahun 1955, Mega Proyek Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) seluas 2,5 juta hektar (2010), kemudian Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) seluas 1,2 juta hektar dan sekarang Mega Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate Merauke seluas 2,29 juta hektar.

Proyek ini merampas lahan dan hutan adat mereka, menghalangi akses mereka terhadap sumber daya alam, memicu kerusakan lingkungan hidup, dan berbagai tindakan intimidasi serta kekerasan negara terhadap masyarakat adat.

Masyarakat Adat Marind — meliputi tujuh marga besar Suku Marind adalah Gebze, Mahuze, Samkakai, Ndiken, Kaize, Basik-Basik, dan Balagaize — juga sudah terkepung dengan perluasan struktur militer yang tidak hanya menjaga perbatasan negara melainkan masuk ke bidang pertanian, penguasaan tanah dan hutan adat, serta pengerjaan PSN.

AJ memberikan Penghargaan kepada Komunitas Mama-mama Masyarakat Adat Marind Anim – Papua, ini sebagai penghormatan dan dukungan terhadap kegigihan mereka memperjuangkan terwujudnya ketahanan pangan asali, keadilan budaya dan keadilan ekologis, kendati mengalami tekanan, ancaman, dan kriminalisasi. “Mewujudkan keadilan budaya dan keadilan ekologis adalah bagian yang tak terpisahkan dari keadilan sosial dan hak asasi manusia,” tegas Karlina.

Mama Yasinta Moiwen yang mewakili komunitas Mama-mama Masyarakat Marind Anim menerima penghargaan AJ secara virtual, mengucapkan syukur kepada Tuhan dan para leluhur Marind Anim atas penghargaan tersebut.

“Puji dan syukur kepada Allah yang maha kuasa, kepada leluhur Marind Anim. Kami masih terus ada di atas tanah kami…, (walaupun) saat ini kami dalam ancaman akibat proyek strategi nasional dua juta hektar,” ungkapnya, haru.

Mama Yasinta mewakili komunitas Mama-mama Masyarakat Adat Marind Anim secara virtual mengucapkan terima kasih. “Kami tidak berjuang sendiri |eCatri_NPG

Hutan Kami Digusur

Ia mengatakan, dirinya hanya salah satu dari sekian Mama-mama Marind yang (sampai) hari ini berjuang mempertahankan tanah adat mereka dari proyek strategis nasional (PSN) pemerintah yang hari ini telah terbukti merampas ruang hidup mereka.

“Saat ini pemerintah DPR, DPD, Gubernur, Bupati, dan Kementerian terkait tidak mendengar suara dan aspirasi kami. (Demikjian juga) Majelis Rakyat Papua juga tidak membela kami. Kami ditinggalkan sendiri. Hutan tempat kami mencari makan digusur. Lingkungan kami digusur, tempat hewan dan tanaman obat-obatan. Semua menjadi hancur karena proyek strategi nasional,” ungkapnya.

Mama Yasinta juga mengemiukakan, apa yang terjadi di tanah adat Marind Anim, khususnya di Wamena. Sampai saat ini pembongkaran masih berjalan terus. Tempat kami cari makan, tempat kami melahirkan sudah tidak ada lagi.

“Kebiasaan kami mama-mama Papua, kami punya tempat melahirkan, itu di hutan. Kita buat sebuah pondok, kita melahirkan dan Tuhan sudah siapkan obat-obat kami, obat-obat alam yang sudah tidak ada lagi. Sehingga kami sekarang kehilangan alam, kehilangan tanah kami. Tanah kami anggap adalah ibu kami. Dan kami saat ini juga mau dikemanakan…?” ungkapnya.

Bagi masyarakat adat Marind Anim, tanah dan hutan kami, yang kami anggap, kami punya bank. Hewan yang kami dapat untuk makan, minum, dan sebagian kami jual sudah tidak ada.

Dikemukakannya, “Kami sudah bersuara dari 2024. Begitu banyak yang saya hadapi, tantangan dan intimidasi, tetap saya melawan. Saya tidak mundur. Saya tetap melawan. Saya tetap maju demi tanah dan hutan kami. Karena Tuhan berikan tanah dan hutan untuk kami makan, minum, dan bahkan ketika kami mati.”

Dengan menahan perasaan, Mama Yasinta menyatakan, “Kami dikuburkan di tanah. Tidak mungkin kami dibuang seperti kucing atau anjing. Namanya kita manusia harus dimakamkan selayaknya. Banyak yang kami hadapi, termasuk air bersih yang juga sudah kehilangan karena strategi nasional.”

Mama Yasinta mengatakan, pula, “Begitu dia bongkar tanah kami, akhirnya air dari laut masuk, air yang bersih menjadi air yang asin. Di saat ini kami mencari air bersih dengan susah payah. Kami masih bersyukur karena ada hujan. kami masih bisa dapat air bersih. Jadi kami anggap perusahaan yang menggusur tanah kami atau pemerintah, tidak peduli dengan suara rakyat aspirasi. Dia anggap kami apa ya sebetulnya.., kami ini manusia, kami bersuara tapi tidak pernah ada tanggapan dari pemerintah.”

Martin Aleida menyampaikan ucapan singkat selepas menerima Penghargaan AJ 2025 | eCatri_NPG

Papua Bukan Tanah Kosong

Dikemukakan pula, suara rakyat sampai di Jakarta, sampai di Bapak Presiden Prabowo Subianto,  tetapi tidak pernah suara rakyat tak ditanggapi.  “Kami dianggap apa hewan apa iblis yang datang ke Jakarta untuk bersuara,” ujarnya.

“Suara orang miskin. Kami ini orang Papua. Inilah kami orang Papua. Papua bukan tanah kosong. Ada pemiliknya, ada penghuninya, ada penjaganya. Sejak Allah jadikan tanah Papua, tanah Papua kaya raya. Tetapi apa yang kami dapat, orang Papua? Malah kami diusir, tanah kami digusur. Kira-kira kami mau ke mana? Kami mau tinggal di mana? Karena, itu kami berjuang untuk menolak Proyek Strategi Nasional,” lanjutnya.

Mengakhiri ucapannya, Mama Yasinta mengucapkan terima kasih kepada Akademi Jakarta yang telah memberi penghargaan kepada kami mama-mama. “Ini adalah bukti bahwa masih ada harapan kepada kami. Mama-mama adat Marind Anim untuk berjuang mempertahankan tanah kami,” pungkasnya.

Martin Aleida yang usianya kini beranjak 82 tahun, hidup di atas kursi roda dengan satu kaki kiri. Kaki kanannya diamputasi lantaran ditabrak motor ngebut.  Padahal ia dulu mampu untuk berlari ikut perlombaan lari marathon sejauh 45 km.

Anggota AJ, Jeffry Alkatiri mengemukakan, “Martin saat ini masih merasa galau, sebab urusan kaki palsunya belum dipasangkan oleh pihak rumah sakit, karena menurut pihak rumah sakit, masalah itu tidak termasuk ditanggung oleh BPJS.” Kendati demikian, dia masih terus menulis cerpen dan esai.

“Hampir semua ceritanya didasarkan atas pengalamannya dan juga pengalaman dari para korban aksi berdarah 65 yang ditemuinya dan didengarnya dari para saksi mata. Pada masa itu, hampir semua profesi terkena dampaknya, termasuk para penulis, pegiat teater, musisi, perupa, dalang, buruh, petani, apalagi ABRI, dan pegawai negeri,” ungkap Jeffry.

Setelah keluar dari kamp konsentrasi militer dan sebelum bergabung sebagai reporter, Martin sempat bekerja serabutan di berbagai tempat. Macam-macam pekerjaan itu masih diingatnya sampai sekarang.

Pada tahun 1969, dia memberanikan diri untuk menulis cerpen yang dikirimkannya ke majalah Horison di Balai Budaya. Setelah merasa percaya diri, dia melanglang menjadi reporter di beberapa media, seperti di majalah Ekspres (1970), majalah Tempo (1971 – 1983), dan di mingguan olahraga Bola (1984). Pada tahun 1982 – 1983, pernah menempuh studi linguistik  di Georgetown University, Washington D.C, Amerika Serikat.

Jeffry mengemukakan, “Pada awal era keterbukaan Reformasi 1998, dia terpanggil untuk mengangkat peristiwa kelam tahun 1965 – 1970-an dalam cerita- cerita pendeknya dan memoarnya, sebagai bentuk kesaksian terhadap kekejaman rezim militer Orde Baru yang baru saja tumbang.”

Sejumlah Penghargaan

Pada tahun 2004 Martin memperoleh Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa atas karyanya yang berjudul ‘Leontin Dewangga’ (kumpulan cerpen). Cerpen lainnya “Tanah Air” terpilih menjadi Cerpen Terbaik Kompas 2017. Dia juga penerima penghargaan kesetiaan berkarya dari Kompas (2013), anugerah budaya dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2014), Do Karim Award dari sastrawan-budayawan Aceh (2006).

Mengutip Wibisana (2023) Jeffry mengemukakan, bahasa verbal dalam cerita-cerita pendek Martin menghadirkan tragedi dengan narasi ironi yang dihadirkan melalui judul maupun kerangka cerita yang memperkuat argumentasi bahwa pengungkapan tragedi tidak hanya menggambarkan keadaan yang harus dikenang dan menjadi bagian memori kolektif, melainkan juga perlawanan ideologis dan konfrontatif terhadap kebenaran tunggal yang dilegitimasi negara.

Baginya, ungkap Jeffry, menulis adalah membebaskan dan melepaskan belenggu, terutama untuk dirinya sendiridari trauma kelam aksi 1965-1970-an. “Bukan hanya kebetulan, sebab atas dasar itu juga, Martin diminta sebagai saksi dalam sidang International People’s Tribunal, 10 -13 Oktober 2015, di Den Haag, Belanda,” tambah Jeffry.

Martin yang sering menulis di meja dapur sambil memasak,  memerlukan kesabaran untuk menunggu agar pesannya sampai kepada pembaca, seperti air yang mengalir dan tumpah di lubuk hati dan di benak para pembacanya lewat koran, majalah, medsos, ataupun sekarang lebih banyak dalam bentuk buku.

Lagi-lagi yang hadir tentang peristiwa berdarah tahun 1965 yang mengingatkan memori dari para penyintas, baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup terserak di berbagai tempat. Martin hanya dapat menyesal kalau tidak bisa bersuara untuk mereka, yang dibuat tak bisa berbicara puluhan tahun.

Buku barunya dalam cetakan kedua berkisah tentang para eksil di Eropa (Kompas 2025). Buku ini mengumpulkan cerita 19 orang Indonesia yang dipaksadan terpaksa kehilangan tanah air sebab paspor mereka dicabut, sehingga mereka harus klayaban mencari tanah air yang baru karena kewarganegaraan Indonesia mereka dilenyapkan oleh pemerintah Orde Baru.

Kepada Jeffry, Martin sempat bertanya dalam logat Melayu Deli, “Entah sampai kapan awak perlu berhenti ?” Sebuah tanya retorik yang sebetulnya hanya sebagai gumaman saja, sebab bagaimanapun,sosok Martin diperlukan untuk tetap eksis memberitakan tentang peristiwa berdarah tahun 1965 yang telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia.

Penghargaan AJ untuk Martin, sesungguhnya Penghargaan Kebudayaan yang tertunda. Beberapa periode AJ terdahulu, namanya disebut sebagai nominee penerima penghargaan AJ, namun urung diberikan. “Rezeki memang tidak akan tertukar, hanya tertunda saja,” pungkas Jeffry.

Martin Aleida berfoto bersama Ketua AJ Seno Gumira Ajidarma, Ratna Riantiarno ( Wakil Ketua 2021-2025), Dolorosa Sinaga (Anggota 2021-2025) dan para anggota AJ | eCatri_dok.AJ

Supaya Tegak Memikul Beban

Dalam ucapan selepas penerimaan penghargaan kepadanya, Martin Aleida mengemukakan, “Sungguh saya merasa dimuliakan terpilih sebagai penerima penghargaan Akademi Jakarta untuk tahun 2025 ini.”

Martin mengemukakan, “Saat pertama kali saya mengangkat pensil dan menulis di atas kertas polos, lebih setengah abad lalu, satu-satunya harapanku adalah bahwa saya dibaca. Saya tak tahu siapa orang pertama yang membaca hasil renungan saya itu. Jelas, bukan di antara buruh-buruh pabrik kapur yang berteriak bersinandong ke seberang Sungai Asahan, memanggil-manggil sampan perusahaan supaya datang menyeberangkan mereka.”

Dari situlah, menurutnya, awal hubungan batin dia dengan mereka-mereka yang bergelut dengan hidup – pergumulan yang keras tapi romantis. “Dari mereka juga saya belajar tentang solidaritas dan kesetiaan pada kerja yang sudah jadi pilihan,” ujar Martin lagi.

Diungkapkannya, sebagai penulis, harapan tertinggi dia hanyalah sekadar dibaca. Dibaca! “Namun, tak menyangka Akademi Jakarta memberikan penghargaan yang tak pernah muncul, meskipun dalam angan-angan saya,” ungkapnya.

Martin mengemukakan lagi, “Adalah keyakinan saya, bahwa takdir sastra memang tak bisa lain kecuali berpihak pada korban. Kalau tak salah ingat, pada 1972,
di Teater Arena, yang dulu berdiri di dekat tempat kita bertemu sekarang.”

Ketika itu, menurut Martin, dibahas kumpulan 13 cerita pendek yang disusun Harry Aveling. Ketiga belas cerita pendek dengan latar 1965 itu menumpahkan empati pada korban. Bertolak belakang secara dramatis dengan sikap yang berada di luar sastra, mereka yang malahan bertempik-sorak merayakan begitu banyaknya manusia yang dibinasakan dengan keji.

“Bengawan dan sungai seperti tumpat oleh sesaknya jenazah korban yang dilemparkan begitu saja ke arus air yang tak berdosa,” ujarnya.

Martin yang terlihat berusaha berdiri di atas kursi rodanya untuk menunjukkan rasa hormat, lantas menyatakan, ” Penghargaan Akademi ini lebih memperkokoh kegigihan saya, tegak lurus dalam bersikap. Natura yang menempel padanya akan saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menopang kaki saya supaya tegak dan melangkah memikul beban yang tertumpang pada Penghargaan ini.” | Nuunporisa Gaga

 

Posted in LITERA.