Puisi dan Lagu Gairahkan Pelantikan Walikota New York Zohran Mamdani

Ribuan orang yang memadati lokasi sepanjang Broadway menyaksikannya. Sejumlah giant screen dipasang di beberapa titik kota, menayangkan prosesi pelantikan dan angkat sumpah yang khas itu. Zohran Mamdani dan Rama Dwaji nampak tenang. Sikap keduanya memadu padan wibawa dan keanggunan yang membalut wataknya. Dengan senyumnya yang khas, pasangan ini seolah sedang mengirim kehangatan. Sekaligus menghapus jarak antara pemimpin ibu kota keuangan dunia yang ‘mahal’ itu dengan warganya..

KAMIS, 1 Januari 2026 di bawah tekanan suhu yang dingin Zohran Mamdani (34) — putera pasangan imigran  Mahmood Mamdani – guru besar, intelektual Universitas Columbia asal Uganda dan Mira Nair – sineas – pembuat film asal India — dua kali dilantik dan angkat sumpah sebagai Walikota New York City (NYC) ke 112.

Kali pertama ia dilantik secara resmi oleh Jaksa Negara Bagian New York Letitia James di stasiun bawah tanah yang tak lagi beroperasi di bawah Balai Kota New York.  Ketika mengucapkan sumpah, ia meletakkan salah satu tangannya di atas dua Al Qur’an dalam genggaman istrinya, Rama Duwaji. Satu Al Qur’an milik kakeknya dan satu lagi koleksi perpustakaan umum Scomburg – New York yang diperkirakan berasal dari abad ke-18.

Kali kedua di hadapan ribuan khalayak ramai yang datang dari berbagai penjuru negara bagian New York, termasuk dari Queen. Ia mengucapkan lafal sumpah dipandu Senator Independen Amerika Serikat dari Vermont, Bernie Sanders yang terkenal kritis. Puisi dan Lagu dengan pesan khas terasa menjadi ‘ruh’ yang menggairahkan peristiwa pelantikan dan angkat sumpah di beranda Balai Kota New York, itu.

Ribuan orang yang memadati lokasi sepanjang Broadway menyaksikannya. Sejumlah giant screen dipasang di beberapa titik kota, menayangkan prosesi pelantikan dan angkat sumpah yang khas itu. Zohran Mamdani dan Rama Dwaji nampak tenang. Sikap keduanya memadu padan wibawa dan keanggunan yang membalut wataknya. Dengan senyumnya yang khas, pasangan ini seolah sedang mengirim kehangatan. Sekaligus menghapus jarak antara pemimpin ibu kota keuangan dunia yang ‘mahal’ itu dengan warganya..

Kehangatan itu menjadi penting, karena Mamdani seorang muslim dan berterang-terang menyatakan diri sebagai seorang sosialis demokrat. Sesuatu yang menjadi penKau yang membedakan dirinya dengan ‘lawan tanding’-nya, mantan Gubernur Negara Bagian New York Andrew Cuomo dan Walikota NYC — petahana — Eric Adams.

November lalu, selepas pemilihan, setelah mengetahui kemenangan Mamdani, Cuomo mengakui kekalahannya yang juga disebut “Tuesday night confession” – pengakuan Selasa malam.

Ribuan warga NYC antusias memngikuti pelantikan dan angkat sumpah Mamdani, sebagaimana mereka ungkap melalui berbagai media, termasuk media sosial, untuk menunjukkan, Mamdani sungguh pemimpin pilihan rakyat yang tak ditopang oleh orang-orang kaya – kaum oligarki.

Zohran Mamdani bersama istrinya Rama Dwaji memasuki arena pelantikan dan angkat sumpah sebagai Wali Kota New York City | NYCmayoroffice

Ia pemimpin yang mampu menyerap aspirasi dan menjadi katarsis bagi rakyat miskin kota, kalangan pekerja yang muak dan lelah dengan politisi dari kalangan oligarki yang mengelola NYC dengan tidak peduli dengan kelas pekerja. Termasuk Michael Bloomberg, pengusaha multi bisnis, yang menggelontorkan uangnya untuk kampanye dan aksi anti rokok di seluruh dunia, setelah kalah dalam lelang tembakau Virginia.

Kemenangan Suatu Gerakan

Orang-orang kaya – kaum oligarki yang menguasai partai politik mengelola NYC dengan kekuasaan, telah terlalu lama menyatakan kepada kaum miskin kota,  kaum pekerja, bahwa kekuasaan dan New York hanya milik mereka. Tak ada tempat bagi kaum miskin kota, termasuk yang menjadi gelKaungan di berbagai sudut kota.

1 Januari 2026 situasi berubah. Kemenangan Mamdani seolah ingin memekikkan narasi rindu, “New York, kekuatan ini milikmu. Kota ini milik kalian.” Kemenangan Mamdani bukan kemenangan seorang figur, melainkan kemenangan suatu gerakan.

Kemenangan yang didapat dengan mencicil — dari pintu ke pintu — tabungan simpati, empati, apresiasi, respek, cinta dan kemanusiaan yang akhirnya menjadi kekuatan baru. Sekaligus menunjukkan, modal sosial untuk kehidupan bermartabat milik semua orang dalam kesetaraan dan keadilan. Bukan hanya milik segelintir orang yang menguasai sumber daya kekuasaan. Kemenangan Mamdani menunjukkan, modal sosial berupa tabungan simpati dan empati berkembang menjadi mutual respect, dan mampu mengalahkan modal finansial.

Pelantikan Mamdani menKaui prediksi yang melecehkan daya dorong gerakan rakyat dalam gelembung survei yang hanya memberi angka 5 persen perolehan suara. Karena itu sangat wajar, bila Bernie Wagon Blast – announcer – penghantar acara – menyeru dengan gembira, “Kita berdiri di sini dengan kesempatan luar biasa untuk menciptakan New York yang lebih baik.”

Pada pelantikan Mamdani, lagu kebangsaan AS, “The Star-Spangled Banner” semakin meresap di dada khalayak. Nada lagu ini digubah oleh John Stafford Smith dari lagu karyanya semula bertajuk “The Anacreontic Song,” yang diperuntukannya bagi klub lelaki di London, Anacreontic Society.

Liriknya dari puisi karya seorang pengacara AS Francis Scott Key pada tanggal 14 September 1814. Key menulis puisi itu selepas menyaksikan Angkatan Laut Kerajaan Inggris Raya membombardir Benteng McHenry selama selama Pertempuran Baltimore dalam Perang 1812.

Javar Munoz disiapkan menyanyikan lagu kebangsaan ini dan dia  melaksanakan tugasnya dengan baik. Terasa ada aliran rasa dari dalam batin mengalir melalui suaranya yang fasih menghadirkan setiap lirik dalam larik dan bait menggugah sisi lain kebangsaan yang sering diketepikan para politisi ‘kaki tangan oligark.’

Suasana pelantikan dan angkat sumpah Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York City – AS | NYCmayoroffice

Makna Lagu Kebangsaan AS

Begini, syair itu : “Say, can you see / By the dawn’s early light / What so proudly we hailed / At the twilight’s last gleaming? // Whose broad stripes and bright stars / Through the perilous fight / O’er the ramparts we watched / Were so gallantly, yeah, streaming? // And the rockets’ red glare / The bombs bursting in air / Gave proof through the night / That our flag was still there // O say, does that star-spangled banner yet wave / O’er the land of the free and the home of the brave.”

Blast menafsir syair lagu kebangsaan ini dengan puitis,. artistik dan estetik yang menggugah jiwa kebangsaan  :

“Oh, katakanlah, dapatkah Kau melihat di cahaya fajar yang pertama, apa yang dengan bangga kita pegang di senja terakhir yang berkilauan, yang garis-garis lebarnya dan bintang-bintang terangnya melalui pertempuran yang berbahaya.

“Atau bagian-bagian yang kita saksikan mengalir dengan gagah berani. Dan kilatan merah roket, bom yang meledak di udara, memberi bukti sepanjang malam bahwa bendera kita masih ada di sana.

“Oh, katakanlah, apakah bendera berbintang itu masih berkibar atau tanah kebebasan dan rumah para pemberani.”

Meskipun selalu dibungkus dengan kemasan narrow nasionalism, tafsir Blast atas syair lagu kebangsaan ini, menghantarkan pesan sosialisme demokrat yang menegaskan demokrasi sebagai cara mencapai harmoni kebangsaan.

Ia menjadi bermakna, karena selama ini kerap diabaikan dan ditanggalkan oleh para petinggi politik yang ‘menguasai’ negeri, itu. Termasuk para walikota NYC pada beberapa dekade belakangan hari, yang menjerat kota ini dengan kapitalisme global.

Zohran Mamdani selepas pelantikan dan angkat sumpah sebagai Wali Kota New York City menyampaikan pidatonya | NYCmayoroffice

Untuk mengembalikannya ke titik-titik azimuth tujuan kebangsaan, itu dimensi religi ditempatkan pada senarai acara yang pas. Lewat do’a kontekstual yang bergairah dan berghirah, yang disampaikan Imam Khaled Latif yang didampingi Rabbi Ellen Lipman, Pastor Andrew Welps, Pendeta Steven Green, Penatua Jeffrey Sigler, Auria Arun Dosai, dan Sardep Tandep Core, perwakilan dari berbagai komunitas agama di Kota New York. Apalagi, sebagai Walikota, kepemimpinan Zohran Mamdani akan diperkuat oleh Pengawas Keuangan Mark Lavine, dan advokat publik Jamanji Williams yang dilantik pada kesempatan sama, di panggung yang sama.

Satu persatu agenda acara berlangsung, penampilan paduan suara bocah PS22 Staten Island yang dipimpin oleh Greg Bryinberg dan Mandy Patakin yang diiringi oleh Adam Ben David. Mereka menghadirkan tembang puitik kaya metafora, seperti ini: “Matahari terbit. Kukatakan semuanya baik-baik saja. / Ketika seluruh dunia menjadi kacau tanpa harapan dan tetesan hujan berjatuhan di sekeliling, surga membuka jalan ajaib. / Saat semua awan menggelapkan langit, ada jalan raya pelangi yang bisa ditemukan, mengarah dari jendelamu ke tempat di balik matahari. Hanya selangkah di luar hujan.//

“Di suatu tempat di atas pelangi, jauh di atas sana, ada negeri yang pernah kudengar di suatu tempat di atas Pelangi, langit biru, dan mimpi yang berani kau impikan benar-benar menjadi kenyataan. Suatu hari nanti aku akan berharap pada bintang. Bangun di tempat awan jauh di belakangku../Dimana masalah mencair seperti permen lemon di atas cerobong asap. Di situlah kau akan menemukanku. Di suatu tempat di atas pelangi, burung-burung biru terbang. Burung-burung terbang di atas pelangi. / “Lalu mengapa aku tak bisa? Jika burung-burung biru kecil yang bahagia terbang melampaui pelangi. Oh, mengapa kita tidak bisa? Bravo…” //

Professor Penyair dari Rochester

Selepas, itu seorang lelaki baya dengan sosok yang tinggi, melangkah ke podium. Ia, Cornelius Eady yang baru saja pensiun dari jabatannya sebagai Professor di Universitas Tennessee. Dengan kepala berbungkus balutan topi rajut ia tampil istimewa di panggung upacara pelantikan.

Eady yang lahir di Rochester, New York dan telah mengajar di beberapa universitas di seluruh AS, membaca puisinya bertajuk “Proof,” yang sebagian isinya dimuat di The New York Times (30/12/2025). Kepada 10News Eady mengatakan, Mamdani tak ingin membaca draf (review) puisi yang akan dibacanya pada upacara tersebut. Dengan cara itu Mamdani menghormatinya, apalagi informasi tentang prestasi Eady diketahui khalayak secara luas. Ia telah meraih beberapa penghargaan atas karyanya, termasuk menjadi nominee Penghargaan Pulitzer (1999) untuk karyanya bertajuk “Running Man.”

Sebelum membaca puisinya, Ead berterima kasih kepada walikota dan stafnya karena atas kehormatan telah mengundang dirinya membacakan puisinya. Lantas ia bercerita, “Tadi pagi ketika saya bangun, istri saya bercKau bahwa suatu saat selama kampanye, mungkin ada seseorang yang berkata, “Dia, dia akan terpilih ketika neraka membeku.” Khalayak tertawa.

Penyair Professor Emiritus Universitas Tennesse, Cornelius Eady membaca puisi karyanya, “Proof” pada upacara pelantikan Wali Kota NYC ke 112, Zohran Mamdani | NYCmayoroffice

“Jadi, di sinilah kita. Dan saya benar-benar ingin berterima kasih atas hadiah terbesar dan terhebat yang pernah saya miliki, yaitu berada di ruangan biru pagi ini setelah melakukan soundcheck karena energi dan pengakuan dan kegembiraan momen ini sungguh luar biasa,” lanjutnya. Lagi, khalayak tertawa.

“Pagi ini saya diingatkan, bahwa New York adalah ibu kota pertama Amerika Serikat. Dan menurut saya, ini mungkin merupakan awal baru bagi energi tertentu yang mungkin dimulai di sini dan menyebar ke seluruh negeri, ke seluruh bangsa,” sambungnya.

“Jadi, meskipun ini adalah puisi New York, puisi yang berbasis di New York, saya ingin mendedikasikan puisi ini kepada mahasiswa asing saya yang berkulit berwarna di Universitas Tennessee, Knoxville. Agar mereka dapat melihat bahwa ini mungkin terjadi,” ungkapnya. Eady pada momen bersejarah, itu membaca puisinya bertajuk “Proof.”

Ini adalah Waktu Kita

“PROOF // You have to imagine it. / Who said you were too dark, too large, too queer, too loud? /Who said you were too poor, too strange, too fat? //You have to imagine it. / Who said you must keep quiet? / Who heard your story, then rolled their eyes? / Who tried to change your name to invisible? //

” You’ve got to imagine. / Who heard your name and refused to pronounce it? / Who checked their watch and said, “Not now”? // James Baldwin wrote, / “The place in which I’ll fit will not exist until I make it.” / New York, city of invention, / Roiling town, refresher and renewer. // New York, city of the real, / Where the canyons whisper in a hundred tongues. / New York, where your lucky self waits for your arrival, / Where there is always soil for your root. // This is our time. / The taste of us, the spice of us, / The hollers and the rhythms and the beats of us, / In the echo of our ancestors, / Who made certain we know who we are.// City of insistence/ City of resistance. /  You have to imagine /  An army that wins without firing a bullet. / A joy that wears down the rock of “no,” / Up from insults, / Up from blocked doors, / Up from trick bags, / Up from fear, / Up from shame, / Up from the way it was done before. // You have to imagine / That space they said wasn’t yours, / That time they said you’d never own, / The invisible city lit // On its way. / This moment is our proof. //”

Imam Khaled Latif memimpin do’a cara islam didampingi para pemuka berbagai komunitas agama di NYC | NYCmayoroffice

Dialih bahasa secara bebas, puisi ini bebunyi : Bukti.// Kau harus membayangkannya./ Siapa bilang Kau terlalu gelap, terlalu besar, terlalu aneh, terlalu berisik? / Siapa bilang Kau terlalu miskin, terlalu aneh, terlalu gemuk? // Kau harus membayangkannya./ Siapa bilang Kau harus diam? / Siapa yang mendengar ceritamu lalu memutar bola mata? / Siapa yang mencoba mengubah namamu menjadi tak terlihat // Kau harus membayangkan siapa yang mendengar namamu dan menolak untuk mengucapkan / Siapa yang melihat jam tangannya dan berkata, “Bukan sekarang.”// James Baldwin menulis, / “Tempat di mana aku akan cocok tidak akan ada sampai aku menciptakan.”// New York, kota penemuan, kota yang ramai, penyegar dan pembaharu / New York, kota yang nyata, di mana ngarai berbisik dalam seratus bahasa / New York, di mana dirimu yang beruntung menunggu kedatanganmu, di mana selalu ada tanah untuk akarmu. // Ini adalah waktu kita / Rasa kita, bumbu kita, teriakan dan ritme dan detak kita / dalam gema leluhur kita yang memastikan kita tahu siapa kita.// Kota ketegasan, kota perlawanan. // Kau harus membayangkan pasukan yang menang tanpa menembakkan peluru // Kegembiraan yang mengikis batu penolakan. // Bangkit dari hinaan./ Bangkit dari pintu yang diblokir. // Bangkit dari jebakan. / Bangkit dari rasa takut, bangkit dari rasa malu, bangkit dari cara yang dilakukan sebelumnya. / Kau harus membayangkan ruang yang mereka katakan bukan milikmu. // Waktu yang mereka katakan Kau tidak akan pernah memilikinya. Kota tak terlihat yang menyala dalam perjalanannya. / Momen ini adalah bukti kita.//

Di penghujung acara pelantikan itu, Mamdani memeluk Eady sebagai ekspresi rasa terima kasihnya.  Pesan dalam puisi ini terasa sebagai ‘bara’ yang menghangatkan dan punya nilai tersendiri bagi transformasi kepemimpinan dan orientasi kerja dengan paradigma baru, dari orientasi kekuasaan menjadi layanan publik sebagai kemuliaan.

Pesona lain yang tampak dan terasakan pada pada upacara pelantikan dan angkat sumpah tersebut adalah kehadiran dan performa lagu dan musik Lucy Deus, yang membawakan lagunya bertajuk “Roti dan Mawar,” yang dikenali sebagai ‘laghu kebangsaan kaum pekerja. Penampilannya sekaligus mengalirkan pesan dari lubuk hati yang aspiratif dan inspiratif.

“Saat kita erbaris dalam keindahan hari ini, Sejuta dapur yang gelap, seribu pabrik yang kelabu tersentuh oleh semua pancaran yang tiba-tiba diungkapkan oleh matahari. Karena orang – orang mendengar kita menyanyikan roti dan mawar.

“Saat kita berbaris, kita berjuang untuk semua insan, karena mereka adalah anak-anak dan kita mengasuh mereka lagi. Hidup kita tidak akan diperas sejak lahir hingga akhir hayat. Hati juga kelaparan seperti tubuh. Beri kami roti, juga beri kami mawar.

“Saat kita berbaris. Perempuan yang tak terhitung jumlahnya, yang telah meninggal, menangis melalui nyanyian kita. Seruan kuno mereka untuk roti. Cerdas dalam cinta dan keindahan. Semangat kerja keras mereka menjerat. Ya, roti kita perjuangkan, seperti kita juga berjuang untuk mawar. Saat kita berbaris, kita membawa hari-hari yang lebih besar.

“Kebangkitan perempuan berarti kebangkitan ras manusia. Tidak ada lagi pekerja kasar dan pemalas yang mengerjakan pekerjaan di tempat seseorang beristirahat, tetapi berbagi kemuliaan hidup. Roti dan mawar. Hidup kita tidak akan diperas sejak lahir hingga akhir hayat. Hati juga bisa kelaparan seperti tubuh. Roti dan mawar. Roti dan mawar.”

Lucy Deus tampil menyanyikan ‘lagu kebangsaan pekerja’ bertajuk “Roti dan Mawar” diiringi sahabatnya | NYCmayoroffice

Saya Terpilih sebagai Sosialis Demokrat

Usai seluruh rangkaian acara pelantikan dan angkat sumpah yang bersejarah, itu Mamdani menyampaikan pidatonya yang lantang, bergairah, dan dengan retorika yang rapi sebagai ethos, pathos, dan logos. Pidato Mamdani kali ini mewawar perayaan agenda progresif yang dibawanya ke Balai Kota, dihadiri oleh beberapa nama besar dalam gerakan itu.

Mamdani merupakan Walikota termuda sepanjang Kota New York berada selama seabad, dengan berbagai sandangan yang dilekatkan kepadanya: Walikota muslim pertama, dan Walikota Asia Selatan pertama di kota imigran yang sangat plural dan multikultur, itu. “Saudara-saudara warga Kota New York, hari ini kita mulai era baru,” katanya.

Dalam pidatonya, Mamdani berbicara dengan penuh semangat tentang kota yang kini dipimpinnya. Ia menyatakan,  dirinya menjadi walikota bagi semua warga New York. Sesaat Mamdani mengenang perjalanannya naik kereta bawah tanah dan bus saat remaja ke sekolah menengahnya di Bronx. Pun tentang kencan pertamanya dengan istrinya, Rama Duwaji, di McCarren Park, Brooklyn.

Mamdani mengemukakan pula, “Saya tahu ada beberapa orang yang memandang pemerintahan ini dengan rasa tidak percaya atau jijik. Atau yang melihat politik sebagai sesuatu yang rusak secara permanen, dan meskipun hanya tindakan yang dapat mengubah pikiran, saya berjanji kepada Anda: Jika Anda adalah warga New York, saya adalah walikota Anda.”

Mamdani menolak anggapan dirinya akan mengurangi agenda ambisius yang telah ia tetapkan dalam kampanyenya, dan segera mulai bekerja untuk menurunkan biaya hidup bagi warga New York pada umumnya. “Mulai hari ini, kita akan melayani secara luas dan berani. Mungkin tidak selalu berhasil, tetapi kita tidak akan pernah dituduh kurang berani untuk mencoba,” kata Mamdani. “Saya terpilih sebagai sosialis demokrat dan saya akan memimpin sebagai sosialis demokrat. Saya tidak akan meninggalkan prinsip-prinsip saya karena takut dianggap radikal,” lanjut mantan anggota dewan negara bagian dari Queens, ini.

Mamdani menarik perhatian dunia dan mengejutkan kalangan politik dengan kemenangannya dalam pemilihan pendahuluan Demokrat musim panas lalu, dengan menjalankan kampanye yang berfokus pada keterjangkauan: Ia segera mulai bekerja untuk menciptakan program penitipan anak universal, membekukan sewa untuk sekitar dua juta penyewa dengan sewa tetap, dan membuat bus kota “cepat dan gratis.” | jeanny, le porisagaga.

Posted in ARTESTA.