Tengadah Tangan

Tengadah tangan, juga mesti disertai dengan keyakinan, hanya memohon kepada Allah saja. Tidak kepada manusia. Seperti pesan Imam Ali bin Abi Thalib karamahu wajhah: “Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.” 

Farhan

Ada hal elementer dalam kenangan masa kanak-kanak, yang merupakan manifestasi pendidikan adab dalam berdo’a, yang selalu dicontohkan Allahyarhamah ibu. Yakni tengadah tangan dan cara melakukannya.

Bukan sekadar membuka dua telapak tangan lebar-lebar yang dilakukan sekenanya.

Tak hanya kala berdo’a selepas salat atau dalam upacara-upacara resmi. Tak juga hanya ketika akan memulai dan mengakhiri makan.

Ibu selalu memberi contoh bagaimana duduk dengan tegak, lantas meletakkan posisi kedua telapak tangannya pas di depan dadanya.

“Lakukan dengan bersungguh-sungguh,” ujar Ibu.

Apa pasal? Tengadah tangan mesti dilakukan dengan suatu kesadaran relasi antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai sekurang-kurangnya sebagai al Khaliq (Pencipta) dan Rabb (Pemelihara). Antara pemohon dan penerima permohonan yang tak pernah bosa mendengar dan mengabulkan permohonan itu.

Kesadaran relasi demikian menegaskan, bahwa tengadah tangan saat berdo’a selain menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada Dia Yang Maha Tinggi, juga menandai pengakuan bahwa tiada daya manusia, kecuali karena mahadaya Allah.

Tengadah tangan terbuka juga perlambang, bahwa manusia sebagai pemohon menegaskan kesadarannya, bahwa Allah Nan Maha Kaya mempunyai otoritas luar biasa, sebagaimana Ia nyatakan : “Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berujar, “Jadi !” Maka jadilah, apa yang Ia kehendaki.” (QS Yaasin 82).

Sekaligus perlambang kesadaran manusia sebagai insan, bahwa Ia Mahasuci yang segala otoritas berada di ‘tangan’-Nya, dan kepada-Nya kelak (insan dan semesta) dikembalikan. (Q.S Yaasin 83).

Wilayah otoritas Allah tercermin dalam rangkaian ayat dalam Surah al Baqarah.

Allah menyatakan, Dialah yang menciptakan segala ihwal yang ada di bumi untuk manusia, lantas Dia menciptakan langit, lalu menyempurnakannya menjadi tujuh lapis. Dia (pula) yang mengetahui segala hal ihwal (QS al Baqarah 29).

Kemudian Dia menegaskan, bermohonlah pertolongan (hanya) kepada-Nya dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yakni, orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya dan hanya kepada-Nya mereka akan kembali. (QS al Baqarah 45-46).

Bermohonlah hanya kepada Allah, bukan kepada manusia | khas

Allah menegaskan pula, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia yang Hidup Kekal dan tak pernah henti mengurus makhluk-Nya; tak mengantuk tak pula tidur. Milik-Nya lah segala hal di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at kecuali seizin-Nya. Allah mengetahui segala hal yang di hadapan dan di belakang (manusia), dan manusia tidak mengetahui segala hal ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.

Allah tegas menyatakan, wilayah otoritasnya meliputi langit dan bumi, dan Dia tak merasa berat mengurusnya.. Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS al Baqarah 255).

Tengadah tangan saat berdo’a dengan demikian merupakan penanda, manusia bersikap tahu diri keti dia meminta kepada Sumber dari segala sumber otoritas.

Tengadah tangan saat berdo’a, dengan demikian terkait erat dengan dengan kesadaran insaniah menggerakkan tangan dan seluruh indrianya (ikhtiar) dan amal salih.

“Itu sebabnya, setiap kali tengadah tangan saat berdo’a, duduklah dengan tegap dan sigap menerima apa yang Dia berikan,” tutur Ibu.

Allahyarhamah ibu juga mengingatkan, Allah senantiasa mendahulukan apa yang diperlukan manusia, kala manusia lebih mendahulukan permohonan sesuatu yang diinginkannya.

Kendati demikian keperluan dan keinginan manusia pada momen-momen tertentu seiring jalan, karenanya, jangan pernah abai memasukkan dalam do’a, keyakinan teguh tengadah tangan: Ya Ilaahi Anta Maqsudi! Wahai Allah, Engkau mengetahui apa maksud (permohonan) daku.

Tengadah tangan kala berdo’a juga merupakan ekspresi penanda kesadaran akan keyakinan, bahwa do’a merupakan komunikasi langsung insan dengan Allah.

Karenanya, setiap kali do’a dimulai dan tangan tengadah tangan dilakukan, mesti diyakini, bahwa Allah secara eksistensial di luar empirisma, ada dan menyimak do’a itu. Dialndasi oleh keyakinan teguh, Allah ada dan sangat dekat, melebihi dekatnya nadi dalam tubuh insan.

Tengadah tangan, juga mesti disertai dengan keyakinan, hanya memohon kepada Allah saja. Tidak kepada manusia. Seperti pesan Imam Ali bin Abi Thalib karamahu wajhah: “Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Untuk itu, jangan pernah tengadahkan tangan kepada manusia. Tengadahkan tangan hanya kepada Allah, selanjutnya serahkan kepada-Nya, siapa yang akan Ia pilih untuk menghantarkan pertolongannya kepada Anda ! |

Bait al Hikmah, 22/4/25

 

Posted in RELIGIO.