Kekacauan, kegaduhan, dan keruwetan sebagaimana tersirat dari riwayat Usamah dan janji Allah untuk mencegah dan melindungi umat dari kehancuran akibat kelaparan dan serangan musuh – supposed enemy — seperti tersurat dan tersirat dari riwayat Thauban. Namun, ada orang-orang atau golongan kaum di antara kita sibuk dengan nafsu (dan kepentingan)-nya masing-masing terus berusaha membunuh dan memenjarakan siapa saja yang mereka presumsikan sebagai musuh.
Renungan Tok Fadhillah
Akan tiba masa di negeri-negeri yang semula damai, kekacauan meletup. Umat saling tikam dan saling memenjarakan satu dengan lainnya. Presumsi-presumsi negatif dianggap sebagai kebenaran, lalu khalayak saling sibuk mengolah alasan-alasan pembenaran.
Dalam kitab “Al-Fitan wa Ashrat as-Sa’ah” yang berkaitan dengan aneka gangguan dan tanda-tanda waktu berakhir, terpumpun berbagai hadits shahih Muslim – kitab 41.
Hadits-hadits tersebut berisi berbagai riwayat yang menggambarkan kekacauan yang merusak ketentraman hidup manusia. Namun, melalui ikhtiar dan do’a yang dikabulkan, Allah mencucuri rahmat dan karunianya.
Dua hadits dalam kitab tersebut memberi isyarat yang harus dibaca hikmah yang tersirat di balik riwayat yang tersurat. Sesuatu yang memandu jalan untuk beroleh jalan ikhtiar melakukan perubahan. Khasnya perubahan cara berfikir.
Dua hadits, masing-masing dari Usamah dan Thauban ( Bab 3 dan Bab 5) memantik kesadaran untuk melakukan kaji ulang.
Usamah meriwayatkan, Rasulullah Muhammad SAW, suatu ketika memanjat salah satu benteng di antara benteng-benteng di Madinah. Lalu Rasulullah bersabda : “Engkau tidak melihat apa yang aku lihat dan aku melihat tempat-tempat kekacauan di antara rumah-rumah kalian sebagai tempat curah hujan.”
Saya memaknai kalimat “sebagai tempat curah hujan,” sebagai tempat Allah menurunkan ‘hujan’ rahmah – ‘hujan’ kasih sayang, yang dihidupkan oleh kesadaran kolektif umat untuk secara antusias menghidupkan dan memanifestasikan nilai-nilai asasi manusia, sebagai mahluk sosial.
Nilai-nilai asasi itu adalah simpati, empati, apresiasi, dan respek yang disuburkan oleh cinta. Oleh kesadaran untuk melihat segala sesuatu tidak dengan presumsi negatif, sangka buruk, suudzan. Melainkan oleh sangka baik, husnudzan.
Sikap husnudzan yang diikuti oleh sikap tabayyun (verifikasi dan konfirmasi) dalam memilih dan memilah informasi yang di dalamnya terdapat beragam ghibah – rumors, buhtan – hoax, fitan – fitnah yang memantik dan menimbulkan namimah – adu domba.
Husnudzan – baik sangka dengan kesadaran – keberanian melakukan uji kebenaran informasi yang datang menghampiri setiap kita, akan menjadi ‘pedang’ yang menumpas ‘buruk sangka,’ agar tak terjadi kekacauan di tengah keruwetan.

Ilustrasi perang di masa lalu | khas
Tahu Diri
Thauban meriwayatkan, Rasulullah Muhammad SAW suatu saat bersabda: Allah mendekatkan ujung dunia satu dengan lain demi aku. Dan aku telah melihat ujung timur dan baratnya. Dan kekuasaan umatku akan mencapai ujung yang telah dekat denganku, dan aku telah diberikan harta merah dan putih. Lalu, aku memohon kepada Tuhanku untuk umatku agar tidak dihancurkan karena kelaparan, atau dikuasai oleh musuh yang tidak ada di antara mereka untuk mengambil nyawa mereka dan menghancurkan akar dan cabang mereka. Lalu, Tuhanku berfirman : “Muhammad, setiap kali Aku membuat keputusan, tidak ada yang mengubahnya. Baiklah, Aku memberimu untuk umatmu, bahwa mereka tidak akan dihancurkan oleh kelaparan dan tidak akan didominasi oleh musuh — yang tidak akan berada — di antara mereka, tidak akan mengambil nyawa mereka dan menghancurkan akar dan cabang mereka, bahkan jika semua orang dari berbagai bagian dunia bergandengan tangan (untuk tujuan ini). Tetapi akan terjadi di antara mereka, yaitu umatmu, beberapa orang akan membunuh atau memenjarakan yang lain.”
Saya pahami riwayat ini sebagai isyarat, bahwa Allah akan mencegah kita dari kehancuran akibat kelaparan dan membentengi kita dari serangan dan kuasa musuh-musuh dari Barat dan Timur yang terus mengintai dan akan mendominasi. Namun, ada di antara kita yang menjadi sumber kehancuran, karena kecenderungan untuk saling membunuh dan memenjarakan satu dengan lainnya.
Kekacauan, kegaduhan, dan keruwetan sebagaimana tersirat dari riwayat Usamah dan janji Allah untuk mencegah dan melindungi umat dari kehancuran akibat kelaparan dan serangan musuh – supposed enemy — seperti tersurat dan tersirat dari riwayat Thauban. Namun, ada orang-orang atau golongan kaum di antara kita sibuk dengan nafsu (dan kepentingan)-nya masing-masing terus berusaha membunuh dan memenjarakan siapa saja yang mereka presumsikan sebagai musuh.
Di tengah badai dan tsunami informasi yang simpang siur antara informasi yang sudah teruji dan belum teruji kebenarannya, serta informasi yang bersih (dari) dan (sudah) terkontaminasi oleh berbagai kepentingan orang dan golongan, yang harus dilakukan adalah mengambil jarak dengan situasi friksi dan konflik. Lantas berpegang pada keyakinan diri untuk dengan cermat melihat inti persoalan.
Di tengah situasi zaman yang sungsang – post truth, kita dihadapkan oleh arus besar informasi – termasuk rubbish information yang — meminjam istilah Warren Benis dan Burt Nanus — menimbulkan volatility (gejolak yang menimbulkan kegamangan), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas yang ruwet dan ribet), dan ambiguity (ambigu – kemenduaan), kita memaang harus pandai-pandai menjaga keseimbangan nalar, nurani, naluri, dan rasa atau akalbudi.
Inilah momentum untuk menghidupkan kesadaran atas eksistensi diri sebagai insan – ‘tempat kekurangan, kelemahan, dan kehilafan’ – yang bukan sebagai manusia super, kendati mempunyai kuasa. Termasuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam konteks ini, prinsip yang diajarkan HOS Tjokroaminoto (sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah) menjadi penting. Saya memahami ‘ilmu pengetahuan’ dalam konteks sains dan teknologi – tak terkecuali yang mutakhir) dan ‘siyasah’ sebagai cara dan formula berkehidupan. Inilah ‘ilmu tahu diri.’
Ajaran HOS Tjokroaminoto tersebut penting maknanya untuk fokus dan jernih mengenali khalayak keseluruhan, termasuk melihat dan mengenali siapa yang bertikai dan kaum yang ambisius menghabisi kaum lain yang dianggap musuh. Lantas, mengenali hasrat, keinginan dan kepentingan mereka.
Dengan cara demikian kita akan melihat dengan terang dan menghindari diri arus besar penghancuran akalbudi khalayak. Sekaligus mengambil inisiatif – ikhtiar merancang peradaban dan keadaban baru. Kembali ke garis kehidupan yang dibentangkan Allah SWT, dalam panduan keteladanan Rasulullah Muhammad SAW.
Tak hanyut terhambur gelombang pasang ! |
