Keroncong Memantik Pikiran dan Apresiasi

Dari Seminar Kajian Peta Jalan Kebudayaan Jakarta

Kehadiran musik ‘live’ keroncong pada kesempatan seminar tersebut, paling tidak, menjadi sisi penting bagi saya dalam berkontribusi pendapat dan gagasan untuk melihat substansi kajian peta jalan kebudayaan tersebut dengan perspektif yang lebih beragam. Atmosfer yang terbangun oleh musik keroncong di awal seminar, memungkinkan saya — sebagai salah seorang penanggap — memantik saya untuk memperkaya perspektif.

Catatan Bang Sem

Duduk berbanjar di sudut ruang, sekelompok musisi orkes keroncong mengenakan kopiah, cukin, dan baju sadariah, memainkan instrumen musik mereka masing-masing: flute, cuk (ukulele), mini, bas gitar elektrik, gitar elektrik, dan biola.

Mereka mengiringi biduanita yang mengenakan kebaya warna biru, melantunkan beberapa lagu, antara lain: Burung Putih, Aryati, dan Keroncong Kemayoran.

Mereka membangun suasana tenteram menjelang Seminar Hasil Kajian Peta Pemajuan Kebudayaan Jakarta yang digelar Dinas Kebudayaan Jakarta di salah satu ruang Hotel Travia Heritage – Jakarta.

Lantunan lagu yang didendangkan tanpa mendayu-dayu — yang menjadi ciri keroncong Jakarta — bagi saya, menyenangkan.

Saya mengapresiasi inisiatif  Kepala Bidang Pengembangan Budaya – Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Arista Nurbaya, penyelenggara seminar itu. Suasana karib terbangun, sebelum Seketaris Dinas Kebudayaan DKI jakarta, Imam hadi Purnomo membuka acara.

Kehadiran musisi dan biduan keroncong, itu bagi saya, bukan sekadar ‘cangkokan’ sambil menunggu peserta seminar yang masih senang datang terlambat.

Kehadiran dan presentasi musik keroncong, itu laksana ‘titian suasana’ seminar yang dipenuhi banyak kata-kata dan angka-angka hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat – Fakultas Ekonomi Bisnis (LPEM – FEB) Universitas Indonesia. Sekaligus secara kontekstual menjadi aksi relevan yang sublim dalam jenama lembaga yang mengurusi kebudayaan (dalam arti luas).

Sekretaris Dinas Kebudayaan DKi Jakarta Imam Hadi Purnomo (kanan) dan Kepala Bidang Pengembangan Budaya – Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Arista Nurbaya (kiri) | bangsem

Spot Budaya Tenabang

Kehadiran dan penyajian musik dan lagu keroncong, itu seolah menyeret kenangan masa kecil, sekitar dekade 1960-1970-an.

Tak jauh dari rumah, di kampung belakang — yang sebagiannya menjadi Waduk Melati, dekat dengan kediaman Abdillah Harris (penggubah lagu Kudaku Lari dan sutradara film Panji Tengkorak) yang beristri Junaedah, mantan istri pertama P. Ramlee, seniman legendaris Malaysia.

Kawasan Kebon Melati, Kebon Pala, Kebon Kacang, Kebon Sayur dan sekitarnya di Kecamatan Tanah Abang, itu adalah wilayah yang kaya dengan seniman seni pertunjukan.

Di wilayah itu tinggal Husin Sanip dan (apoteker) Darmi dengan grup keroncongnya, Inyak Rosna (guru) yang konsisten mengajarkan tari Serampang 12 dan aneka tarian Melayu.

Di wilayah Kecamatan Tanah Abang (Tenabang), itu juga tinggal Hussein Bawafi, Mashabi, Boim chaltè, Amak akordeon yang kreatif mengembangkan orkes Melayu, juga penyanyi dangdut A. Rafiq.

Di situ juga berdomisili Babah Oei yang menghidupkan gambang kromong dan cokek; Seniman Said Kelana – orang tua kelompok musisi bocah The Kids dan mendidik anak-anaknya dengan cara home schooling, antara lain Linda, Imaniar, dan Iwang. Juga biduan populer Yulia Yasmin.

Di wilayah itu juga tinggal Sineas dan sutradara Syumandjaja dan istri (pertamanya) koreografer Farida Oetojo dengan studio tari ballet-nya; Sutradara Teguh Karya dengan teater Populernya, sutradara Nawi Ismail, pun aktor dan aktris film Boy Iskak, Indriati Iskak, Irwan Iskak, Mieke Widjaja, Rita Zahara, Mansyur Syahdan dan lainnya. Pula, komedian Betawi tempatan yang beken dipanggil Bang Papan.

Penyelenggara, Penyaji dan Penanggap, Sekretaris dan Kepala Bidang Pengembangan Budaya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta | foto Disbud DK jakarta

Pemantik Apresiasi

Kawasan Tenabang — yang berseberangan dengan kawasan Menteng — masa itu merupakan salah satu spot budaya, tempat domisili para penggerak pemajuan kebudayaan, khasnya kesenian di Jakarta. Khasnya, karena lokasi itu berada di jalur utama Sudirman – Thamrin.

Disitu pula tinggal kalangan petinggi negeri, seperti Yusuf Ronodipuro – Sekretaris Jendral Kementerian Penerangan. Kapolri — yang kemudian menjabat Menteri Tenaga Kerja — Jendral (Pol) Awaluddin Djamin, Menhankam / Pangab Jendral Maraden Panggabean, Gubernur Sulawesi Utara GH Mantik, Gubernur Kalimantan Barat Soedjiman, Oditur militer Anwar Bey, dan lain-lain.

Musik dan lagu Keroncong, musik Melayu, — sebelum populer menjadi dangdut, mengikuti transformasi dari teknologi tabung ke teknologi transistor — masa itu terbilang musik yang sangat digemari khalayak.

Sesanding dengan Gambang Rancak, Gambang Kromong, Latin, Populer, Hawaiian,  Hadhrah, boleh dikata merupakan produk budaya seni pertunjukan. Terbilang musik rakyat yang sepanjang tahun mempunyai ruang presentasi langsung kepada khalayak, berpuncak pada perayaan Agustusan – memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi saya dan belia bertumbuh masa itu, keroncong dan musik Melayu menjadi pemantik apresiasi seni. Sebelum kemudian berinteraksi dengan dunia seni dan sastra di Taman Ismail Marzuki, yang menjadi ‘rumah seniman dan budayawan,’ selain Balai Budaya yang menyemai apresiasi seni rupa dan sastra.

Keberadaan musik keroncong (dan musdik khas lainnya) dalam seminar Kajian Peta Jalan Kebudayaan Jakarta dan aktivitas – program lain tempat memumpun pemikiran dan gagasan kritis tentang budaya, merupakan kebijakan yang pas.

Pemusik Keroncong menghantar seminar dengan lagu khas Aryati, Bandar Jakarta, dan Aryati yang memantik apresiasi | foto bangsem

Idealistic Frame

Kebijakan menghadirkan produk budaya – karya seni — tanpa kecuali sajian musik lain dan tarian — juga merupakan cara baik dalam menghidupkan atmosfer seni yang relevan dan kontekstual dengan peristiwa dialektika pemikiran budaya yang digelar.

Apalagi penyelenggaraannya berlangsung di tempat yang meletakkan kata heritage – pada namanya.

Relasi presentasi karya seni dengan fokus utama dialektika pemikiran seni dan budaya, juga relevan sebagai suatu langkah kecil yang tak terintegrasi dengan gagasan besar pelestarian, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan seni budaya.

Kehadiran musik ‘live’ keroncong pada kesempatan seminar tersebut, paling tidak, menjadi sisi penting bagi saya dalam berkontribusi pendapat dan gagasan untuk melihat substansi kajian peta jalan kebudayaan tersebut dengan perspektif yang lebih beragam.

Atmosfer yang terbangun oleh musik keroncong di awal seminar, memungkinkan saya — sebagai salah seorang penanggap — memantik saya untuk memperkaya perspektif.

Termasuk dalam melihat peta jalan  dari masa lalu ke masa depan. Menganggit kesadaran untuk memberi aksentuasi pada pandangan transformatif dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. Tanpa kecuali untuk berkontribusi — memberikan gagasan yang relevan — untuk melihat idealistic frame hasil kajian. Sekaligus melihat dimensi ruang aksi untuk mengisi idealistic frame tersebut.

Mudah-mudahan hasil seminar tersebut dapat menjadi salah satu rujukan penting dalam policy design pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bidang kebudayaan dalam keseluruhan konteks Kebudayaan Jakarta. Tabek ! | [ Bang Sem ]

Posted in LITERA.