Menyimak ulang cerita deskriptif tentang relasi surau – lepau – balai dan salat – silat – salawat dalam budaya Minangkabau, saya membayangkan para koreografer dapat mengolah daya kreatif dan inovatif seni mereka. Apalagi bila menggunakan pendekatan hiperaktif sebagai pilihan formula kreatif melakukan pengembangan produk budaya tempatan yang terhubung dengan perubahan zaman dari alam realitas ke alam fantasi via teknologi metaverse, misalnya.
Catatan Bang Sèm
Pawana sejuk bagai membelai wajah, menjelang senja di Pariangan – Tanah Datar, Minangkabau. Salah satu desa terindah di lereng gunung Marapi, ini terbilangh desa tertua di alam Minangkabau.
Singgah sejenak sambil menyeruput kopi kawa daun di salah satu kedai persinggahan, menjadi bagian cerita kembara yang menjadi salah satu simpul kenangan panjang dalam menjalani kehidupan.
Seorang rekan, asal Solok bercerita, pesona alam Minangkabau sangat kaya dengan pertalian alam dan budaya. Ia menyebut Nagari Paninggahan di lingkung desa, di atas danau Singkarak.
“Abang mesti ke Solok, dan luangkan waktu, singgah ke rumah gadang orang tua kami,” cetusnya.
Ihwal Nagari Paninggahan, saya teringat cerita sobat yang lain, Bung Karmin Durin. Juga Allahyarham Saifullah Sirin dan kawan-kawan yang menginisasi pembangunan pondok pesan Darussalam di Sulit Air.
Dari banyak cerita yang saya terima, Paninggahan tak hanya negeri tempat eksotika alam, sebagaimana halnya Sungayang, ‘membumikan’ cinta dan kasih sayang Tuhan pada semesta. Menegaskan hakikat eksistensi-Nya yang Maha Indah dan amat mencintai keindahan.

Salah satu gerak jurus silek tuo berlatar Danau Singkarak | khas
Rumah Keabadian
Nagari Paninggahan juga dikenal sebagai ‘rumah keabadian’ salah satu produk budaya – silat tradisi, silek tuo, seperti silek luluak yang biasa digelar di sawah subur dengan belok (lumpur), selepas panen. Tapi juga silek harimau (dari bukit Gagoan). Pula, tari piriang dan adok.
Silek tuo Paninggahan sebagai produk budaya memadu harmoni kearifan dan kecetrdasan budaya, yang dialiri oleh kesadaran asasi atas filosofi asasi: adat basandi sara,’ sara’ basandi kitabullah (maksudnya Al Qur’an). Filosofi ini memberi nafas kuat pada budaya Minang dalam keseluruhan konteks budaya (makro dan mikro). Di dalamnya, nilai dan norma budaya sangat kuat dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar agama (Islam). Khasnya: aqidah, syari’ah, muamalah, dan akhlaq.
Bila hendak dihampiri dengan pespektif tasawuf, budaya Minangkabau, sebagaimana berlaku dan dijaga kuat di Nagari Paninggahan, jalan panjang pendakian dari syari’at – thariqat, hakikat, dan ma’rifat terbentang dalam seluruh konstruksi budaya, khasnya adat resam Minang.
Melalui beragam produk budaya Minang, tanpa kecuali yang hidup di Nagari Paninggahan, relasi korelasi dan koneksi antara manusia, semesta, dan Tuhan tak terintegrasi kuat. Semesta atau alam Minangkabau adalah juga ayat-ayat Tuhan yang mesti ‘dibaca’ dengan seksama. Puncaknya adalah kedalaman ilmu kalam untuk memahami paduan tagak Alif, tagak Lam, tagak Lam, dan tagak Hu sebagai suatu kesatuan dalam kalimah Allah.
Kalimah Allah adalah pencapaian ma’rifat, yang ketika gugur tagak Alif akan menjadi Lillah atau gugur satu tagak Lam, menjadi Ilah (Tuhan), bila gugur tagak Alif dan satu tagak Lam menjadi Lahu yang mengandung makna eksistensial diri-nya pada semesta. Ketika gugur dua tagak Lam, maka terlafadz AH (al awwal wal akhir) – Dia yang pertama dan yang akhir.
Silek tuo yang kemudian berkembang ke berbagai belahan dunia, baik yang lahir di titik Alif maupun yang lahir di Pariangan, Paninggahan atau nagari-nagari lain, inti geraknya tetap sama : Alif, Lam, Lam, dan Ha.

Salah satu gerak dalam jurus silat tuo Paninggahan | screenshoot endriyunus
Kesadaran Harmoni
Khas pada gerak silek harimau Paninggahan bila hendak diolah sebagai basis dalam gerakan tari, dalam iringan harmoni randai, melalui proses rekonstruksi dan pengembangannya — baik dalam, konteks presentasi dan eksibisi konvensional maupun penyesuaian dengan alih media ke media baru, struktur keseimbangan jasmaniah (raga), ruhaniah (rasa) akan tetap melahirkan paduan harmoni artistika – estetika – etika.
Tagak Alif memberikan tawaran adaptasi pada gerak konvensional yang mengharmonisasi pikiran, naluri, rasa dan raga, termasuk intuisi. Dua Tagak Lam memberikan tawaran formula keseimbangan intuisi dengan eksplorasi dalam membentuk komposisi gerak.
Demikian juga halnya dengan Tagak Hu yang memberi ruang bagi kedaulatan tubuh dalam menggerakkan seluru anasirnya, seperti tangan (lengan hingga jemari) dan kaki pada posisi gerak raga dan ekspresi batin menghadirkan komunikasi tubuh.
Keseluruhannya bila dideskripsikan ke dalam skets skenograf akan memberikan rancang gerak yang sangat kaya. Sebagaimana kayanya nilai-nilai spiritual yang dikemas dalam keseluruhan konsep koreografi yang menggambarkan relasi triangle of life : kesadaran lingkungan – semesta dalam komposisi harmoni.

Gerakan dalam silek tuo yang diadaptasi dalam karya Romy Nursyam bertajuk “Basurah.” | ss ISI Surakarta Official
Mancari Kawan, Mancari Tuhan
Saya membayangkan integrasi nalar, nurani, naluri, rasa, dan raga sebagai suatu kesatuan jasmani terintegrasi dengan nilai spritual ruhani, sehingga dalam keseluruhan konteks karya tari yang dikembangkan, seluruh organ, termasuk gerak kepala, gerak mata, kepekaan telinga, mimik, gestur lengan, gerak tubuh dan kaki, menjadi penampang menarik untuk memahami capaian hakikat dan ma’rifat yang terdapat dalam silek tuo.
Khususnya dalam mengekspresikan prinsip silek tuo : “Lahie silek mancari kawan nan batin silek mancari Tuhan.” Prinsip pencapaian tentang nilai hidup manusia yang serasi dalam gerak artistik – estetik – etik, seperti yang diajarkan Syekh Abdurrahman Al Khalidi (Datuk Majoindo, 1850) yang konon melahirkan silek kumango, meski ada yang mengatakan silek lintau.
Nagari Paninggahan sebagai pangkal inspirasi, antara lain dengan mencermati perubahan suasana dan efek cahaya dari Danau Singkarak, bukit Gogoan, dan alam sekitar dalam keseluruhan konteks koreografi, memberikan varian impuls secara dimensional.
Desain kostum, konsep ragam suasana melalui pencahayaan ( antara lain dengan lumen dan fluks cahaya selaras dengan pilihan warna dan jenis: mulai dari ellipsoidal spotlights, PAR lights, HMI (hydrargyrum medium-arc iodide lamp), LED pixel tube lights, Wall Washers, dan lainnya ) dan tata suara (music dan sound effect).
Menyimak ulang cerita deskriptif tentang relasi surau – lepau – balai dan salat – silat – salawat dalam budaya Minangkabau, saya membayangkan para koreografer dapat mengolah daya kreatif dan inovatif seni mereka. Apalagi bila menggunakan pendekatan hiperaktif sebagai pilihan formula kreatif melakukan pengembangan produk budaya tempatan yang terhubung dengan perubahan zaman dari alam realitas ke alam fantasi via teknologi metaverse, misalnya.
Terutama melalui tinjauan kritis atas obyek silek tuo dan relasinya dengan surau dalam realitas, yang dihampiri dengan sikap sosial masyarakatnya yang egaliter. Pun, pada hal-hal penting lainnya, seperti harmoni kebersatuan dengan alam, embeddedness (simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta ), social obedience atas adat resam yang hidup di Nagari Paninggahan khasnya dan Minangkabau pada umumnya, termasuk traditional authory relationship humble (anak dipangku, kemenakan dibimbing, urang kampung dipatenggangkan).

Fasa awal tari “Basurah” | ss ISI Surakarta Official
Integrasi Lahir Batin
Tentu tak ketinggalan menghadirkan karya sebagai ekspresi kreatif untuk mencapai kesenangan – kebahagiaan, yang menjadi daya bagi luasnya pandangan dan pikiran yang menyemai rasa ingin tahu.
Dengan demikian, kerja-kerja kreatif seperti interpretasi obyek dan kemasan (rekonstruksi dan ubah suai komposisi gerak di studio) akan memandu capaian karya yang berkualitas, adaptable – bersesuaian dengan ruang dan waktu presentasi dan eksibisinya, sekaligus memberi dampak besar dalam menghadirkan Nagari Paninggahan sebagai destinasi budaya, dan wisata kreatif.
Melakukan rekonstruksi atau melahirkan baru karya kreatif tari berbasis silek tuo, memang tak mudah. Apapun dan siapapun yang berusaha menghadirkannya sesuai dengan perkembangan zaman, mesti diapresiasi. Karena seluruh proses kreatif yang dijalani mencerminkan sikap tak gentar menjawab tantangan. Romy Nursyam sudah melakukan untuk ujian terbuka promosi doktor Institus Seni Indonesia (ISI) Surakarta di Plaza kampus Universitas Negeri Jakarta, Jum’at 25 Agustus 2023, malam.
Ya.. kerja kreatif, ibarat menjerat burung di tengah ilalang, benang diikat kayu dihentak. Sakitnya hidup tak membuat gentar, pada Yang Maha Kuasa kita meminta.
Mamikek buruang di tangah ilalang,
Banang di kabek kayu dihantak,
Sakiknyo hiduik indak tagamang,
Ka nan kuaso awak mamintak.
Kedalaman dan ketinggian makna silek tuo ketika dialih-wahanakan menjadi karya tari, selain tetap memberi informasi cara bersilat yang lazim (berdiri tegak, dengan posisi rendah, dengan posisi merayap di tanah, dan dengan posisi duduk). Tentu memberikan gambaran koneksi ruang antara silek dengan surau sebagai tempat berlangsungnya proses belajar agama dan filosofi hidup, sebagai sesuatu yang tak terpisahkan. Sebagaimana Alif, Lam, Lam dan Hu terintegrasi utuh |
Foto cover screenshot dari ditorafeliochannel
