Transformasi Minda Seni Pertunjukan Merespon Media Baru

Catatan Bang Sém

Para pelaku seni pertunjukan dan pelaku seni visual berkolaborasi dalam media baru, mengembangkan eksistensinya dari homo faber – homo sapiens menjadi homodigitalis. Media Baru (new media) juga memberikan tawaran-tawaran menari bagi pelaku seni pertunjukan untuk menafsir ulang jarak fisik panggung – pertunjukan – penonton dengan segala kelemahan dan keunggulan artistik – estetiknya dengan jarak budaya (melalui platform).

Saya beruntung, beberapa hari lalu (Sabtu: 25/6/22) sempat ‘hadir’ dan menyimak perbincangan menarik tentang Seni Pertunjukan dan Media Baru, dalam webinar yang digelar mahasiswa Pasca Sarjana – Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Dua pembicara memaparkan pemikirannya yang segar, aktual, dan amat bermanfaat. Keduanya alumni Sekolah Pasca Sarjana ISBI, masing-masing Alfiyanto, SSn., MS. – dosen ISBI Bandung dan Dr. Teddy Hendiawan., S.Ds., M.Sn. – dosen Universitas Telkom Bandung dan praktisi media baru.

Hadir juga Prof. Dr. Endang Caturwati – Guru Besar Seni Pertunjukan dan Prof. Dr. Arthur S. Nalan – Guru Besar Sosiologi Seni – ISBI Bandung. Keduanya menyampaikan pemikiran yang menjadi bingkai percakapan.

Dari keseluruhan percakapan yang berkembang pada webinar yang juga diikuti sejumlah dosen dan mahasiswa ISBI Bandung, ISBI Aceh, dan ISI Surakarta, itu kedua pembicara memantik transformasi minda seni pertunjukan dalam merespon media baru sebagai produk produk transisi dari era informasi – era konseptual (termasuk budaya digital) ke era Society 5.0.

Kedua pembicara memantik kesadaran, tak hanya dalam konteks wake up call bagi mahasiswa – akademisi – praktisi seni pertunjukan dan media baru di tengah zaman sungsang (ketidak-pastian, kegamangan, keribetan dan kemenduaan) pasca pandemi nanomonster Covid-19. Tetapi sekaligus membuka mata tentang tantangan nyata abad 21, terkait dengan singularitas dan transhumanitas.

Tantangan yang juga menyajikan peluang bagi siapa saja, khasnya yang berkiprah di dunia seni pertunjukan dan media baru, untuk memikirkan ulang dan merancang proses transformasi minda dari creativity kick offinnovation breakthroughhuman and cultural reinventing.

Termasuk memetakan ulang bingkai pikir seni pertunjukan yang dikemukakan Prof. Endang (Panggung, Pertunjukan, Penonton) plus Platform dengan perluasan ruang kreatif dan peluang konvergensi. Khasnya, pergerakan orientasi pelaku seni pertunjukan dari kebebasan ke kemerdekaan, seperti dikemukakan Alfiyanto. Tak lagi dibatasi oleh ruang yang dikondisikan oleh post modernisma dan post industrial society.

Alfiyanto dalam karyanya “Orang Orangan Orang” dan dalam proses kreatif | IG@alfiyanto_wajiwa

Alfiyanto mengingatkan hal yang menurut saya penting, yakni pertanyaan dasar: Bagaimana menempatkan seni pertunjukan di tengah perubahan (dalam konteks yang luas), antara lain perubahan dari globalisme ke universalisme. Karena terbukti, globalisme relatif rapuh, dan bahkan tak berdaya menghadapi pandemi.

Dalam konteks ini, terlintas pandangan Boris Groys tentang Art Power dalam konteks risiko ekspresi seni di ruang publik (yang meluas menjadi peoples space – melalui media baru). Di mana berbagai batasan – termasuk fire wall terkait dengan nilai, norma, adab, tak terkecuali nilai ekonomi dan etika bisnis di dalamnya.

Deddy membuka ruang pikir pemahaman tentang media baru yang mengkoneksi tiga dimensi dalam kehidupan dan ruang kreatif, antara konseptualisasi tentang sesuatu yang immaterial, dan menjelma dalam karya virtual.

Di sini, dreams yang melahirkan ilusi, fantasi, dan imajinasi bertemu. Gagasan-gagasan abstrak dalam ketiganya yang dalam seni pertunjukkan dihadirkan dalam gerak, narasi, nada, irama, birama (yang sebelumnya dideskripsikan dalam skenografi, skenario, naskah panggung, dan segala yang terkoneksi) menemukan ruang konvergensi menarik.

Seni, sains, teknologi, bahkan ekologi dan kosmologi dapat dipertemukan melalui media, saluran (channel) dan platform. Seni pertunjukan berinteraksi dan bahkan bisa berintegrasi dengan seni visual, yang dengan perkembangan teknologi – melalui metaverse, dapat mempertemukan realitas pertama yang diubah menjadi realitas kedua dengan realitas ketiga.

Intuitive reason dengan creative way, menjadi daya kuat dalam menggerakkan ilusi dan fantasi menjadi imajinasi dalam satu formula.

Salah satu karya kreatif kolaborasi Seni Pertunjukan dengan Media Baru | screenshot YouTube

Seni pertunjukan yang semula memerlukan panggung, pertunjukan, dan penonton, melalui platform dalam media baru mempunyai fleksibilitas ruang. Terutama, karena nalar, naluri, rasa dan dria terpumpun menjadi daya kreatif dengan berbagai kemungkinan inovasi – sekaligus invensi dan reinvensi karya yang lebih kaya. Terutama, karena media baru memberi ruang interaksi yang lebih berdimensi.

Tak hanya itu, melalui media baru sebagai konseptualisasi implikasi teknologi (digital) seni pertunjukan bergerak dinamis.

Konfigurasi sosio budaya yang di era sebelumnya menjadi jiwa seni pertunjukan, disuburkan oleh komunikasi, melalui mediasi komputasi.

Pemahaman tentang artistika – estetika dan etika pun menjadi lebih kaya, ketika media baru memberikan peluang lahirnya budaya digital.

Seni pertunjukan yang semula disuburkan oleh material art, melalui media baru disemai-kembangkan dengan immaterial art. Sesuatu yang semula berada dalam wilayah architectonic bergerak ke wilayah non architectonic, sesuatu yang semula berada dalam ruang visual inbox bergerak ke ruang visual outbox.

Para pelaku seni pertunjukan dan pelaku seni visual berkolaborasi dalam media baru, mengembangkan eksistensinya dari homo faber – homo sapiens menjadi homodigitalis.

Dr. Teddy Hendiawan., S.Ds., M.Sn. – dosen Universitas Telkom Bandung dan praktisi media baru. | screenshoot

Media Baru (new media) juga memberikan tawaran-tawaran menari bagi pelaku seni pertunjukan untuk menafsir ulang jarak fisik panggung – pertunjukan – penonton dengan segala kelemahan dan keunggulan artistik – estetiknya dengan jarak budaya (melalui platform).

Dalam konteks ini, korelasi raga, rasa, dan imajinasi dalam seni pertunjukan, melalui platform media baru, dapat dijaga dengan ideologi dalam proses kreatif, sebagaimana disinggung Alfiyanto.

Apa yang dikemukan Teddy dan Alfiyanto dalam keseluruhan konteks perkembangan dinamisnya, memberikan peluang untuk mengenali berbagai kelemahan dan keterbatasan seni pertunjukan dengan segala formulanya, guna mendapatkan kekuatan baru beradaptasi dengan media baru yang berkembang sangat pesat.

Selaras dengan itu, menurut Prof. Arthur, pemahaman dan pendalaman tentang proses, menjadi sangat penting untuk mendapatkan empirisma kreatif.

Dalam pandangan saya, dalam hal proses, perbedaannya terletak pada kesadaran, bahwa imajinasi bersifat planable, manageable, aplicable, dan evaluable.

Pencapaian nilai artistik, estetik, dan etik dalam seni pertunjukan ketika beradaptasi dan bermigrasi ruang ke dalam media baru mengantarkan kesadaran tentang disiplin, efektivitas, dan efisiensi dalam proses kreatif.

Transformasi minda seni pertunjukan dalam merespon media baru di era digital, membuka lebih luas pemahaman hakikat insanih manusia sebagai pengendali utama keseimbangan nalar, naluri, rasa, dan dria sebagai simpul kreativitas.

Dalam berbagai perspektif akan menegaskan kesadaran insaniah, bahwa seni, sains, ekologi, dan bahkan kosmologi terkoneksi satu dengan lainnya, dan tak terpisahkan. Karenanya kemauan dan kemampuan untuk berubah dan beradaptasi dengan perkembangan budaya baru, adalah keniscayaan. “Berubah atau ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri,” ungkap Prof. Endang Caturwati. |

Posted in LITERA.