Yulian Warman dan Komunikasi Korporat Radikultur

Model komunikasi korporat yang dikembangkan Yulian dan Astra Group (tak terkecuali Astra Finance) melampaui tahapan-tahapan baku komunikasi korporat, seperti identifikasi dan prioritas tujuan, tilik pemangku kepentingan (intra – ekstra), monitoring (review – evaluasi) aplikasi strategi, dengan segala diagnosanya.Yulian secara personal dengan human relations-nya, melampaui teori tentang identifikasi metrik dalam strategi komunikasi korporat.

Catatan Bang Sém Haésy

Komunikasi korporat Radikultur atawa Radiculture Corporate Communication, begitu saya menyebutnya. Bila hendak dipahamkan, yang saya maksud dengan model komunikasi korporat ini adalah seluruh proses visioneering dari gagasan sampai aksi komunikasi perusahaan di atas landasan akar budaya yang kuat di tengah masyarakat.

Satu dari sedikit tokoh Komunikasi Korporat Radikultur ini adalah Yulian Warman, Astra Internasional Group yang kini — mengisi hari-harinya dengan memimpin korporat komunikasi anak perusahaan Astra Financial Group.

Yulian Warman (kelahiran 1 Juli) yang pernah dinobatkan sebagai “Iconomics Indonesia Top 40 PR Persons Award 2020,” dan berbagai penghargaan sebelumnya, berhasil memberi makna atas esensi komunikasi insaniah. Yakni: menghimpun yang tersera, mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, untuk sama konsisten dan konsekuen atas komitmen saling memuliakan.

Komunikasi yang tetap memelihara daya kritis sekaligus daya publikasi diseminatif, ala rumah makan Minang: “Anda tak puas beritahu kami, Anda puas beritahu khalayak ramai.”

Komunikasi yang bertumpu pada prinsip kesetaraan, egaliter dan kosmopolit, di atas kesadara, bahwa setiap manusia tidak terjebak dengan kelemahannya. Melainkan mengenali kelemahan itu  untuk mendapatkan formula kekuatan dalam menjawab cabaran (tantangan) dan mengelola peluang secara baik dan prduktif.

Don Bosco Selamun menyampaikan testimoni | semhaesy

Komunikasi korporat Radikultur juga memberi nilai atas nilai dan norma persaudaraan, yang senantiasa menghidupkan kesadaran. Lantas mengelola kesadaran itu secara antusias guna menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek dan akhirnya, cinta.

Itulah nilai dan norma, yang dalam konteks tanggungjawab (ekstra) korporasi atas ekosistem sosio budaya menjadi daya gerak perubahan dari corporate social responsibility menjadi coporate community responsibility, dan akhirnya corporate cultural responsibility.

Sejak masih di Astra Internasional Group (bersama Bang Amin), Yulian tak henti memanfestasikan relasi – komunikasi – interaksi sebagai silaturrahmi, mahabbah, hubungan cinta insaniah yang di dalamnya mengalir dimensi kedalaman: tanggungjawab.

Pada kesempatan Silaturrahmi Astra Financial Group dengan Pemimpin Media, (Rabu, 22.06.22) malam, daya cinta model komunikasi korporat Radikultur, ini terasa sekali.

Hampir seluruh pemimpin media (kecuali yang ada acara lain di luar kota) dan para wartawan senior sudah purna tugas sebagai pemimpin media, hadir.

Begitu juga halnya dengan pimpinan dan anggota (dan mantan anggota) Dewan Pers, Ketua Umum PWI – Atal S. Depari, Penasehat Forum Pemred / Wakil Ketua Dewan Penasehat PWI – Kemal, Anggota Dewan Kehormatan PWI – Asro Kamal Rokan, Ketua Umum Jaringan Media Saiber Indonesia (JMSI) – Teguh Santosa, dan organisasi jurnalis lainnya.

Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Azyumardi Azra memberi aksentuasi atas kata silaturrahmi dan mewawar tentang Jurnalisme Damai | semHaesy

Ketua Dewan Pers, Prof. Azyumardi Azra – yang juga cendekiawan ternama, mengurai esensi silaturrahmi sebagai relasi dan komunikasi berbasis kasih sayang, tanggungjawab sosial. Dalam kesempatan itu juga, ia menyampaikan kabar, Dewan Pers yang dipimpinnya sedang memulai langkah, memainkan peran utama melaksanakan check and balance via jurnalisme damai (peace journalism).

Sejumlah wartawan senior yang memberikan testimoni malam itu (Kemal, Arif Zulkifli, Budiman Tanurejo, Don Bosco Selamun, Asro Kamal Rokan, Ninuk Pambudi, dan lainnya) sama mengemukakan, ada sesuatu yang khas dan terasakan dalam relasi – komunikasi – interaksi antara Astra Group / Astra Finance dengan media. Komunikasi kesetaraan di atas etika (nilai dan norma) yang saling menjaga satu dengan lainnya. Khasnya dalam sama memelihara kode etik jurnalistik dan code of conduct profesi.

Yulian Warman dan Astra dengan model komunikasi korporat Radikultur-nya, tak hanya memecah masalah komunikasi dalam bisnis. Jauh dari itu, memberi makna komunikasi dalam nafas budaya khas Indonesia.

Komunikasi yang menyelaraskan keseimbangan nalar, naluri, nurani, rasa dan dria. Bukan komunikasi artifisial, meski dinamika sosial telah banyak menyeret masyarakat ke dalam pola komunikasi berbasis presumsi-presumsi negatif.

Saya memandang model komunikasi korporat yang dikembangkan Yulian Warman dan Astra Group, selain tetap berpegang pada bingkai kerja yang digunakan organisasi untuk merencanakan komunikasi dengan khalayak (karyawan, pelanggan, distributor, dan investor), dalam konteks pencapaian kualitas layanan (services), juga dihidupkan oleh dimensi kemanusiaan (khasnya human approach).

Yulian dan Astra, terasa sekali (dengan prinsip fairness, transparancy, responsibility, accountability, dan independence) menerapkan model komunikasi korporat ini sebagai kunci untuk terus membangun pemahaman tentang perusahaan dan kostumernya. Sekaligus sebagai cara melakukan aktualisasi atas nilai dan budaya korporatnya.

Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Yulian Warman (bermisai) di antara penulis dan Teguh Santosa | dok.pribadi

Muaranya adalah penambahan daya tanpa henti dalam meningkatkan reputasi dengan elemen korporasi yang sikap dan tindakannya memengaruhi pencapaian bisnis korporat. Terutama dalam mempertemukan akselerasi mencapai kualitas layanan, kepuasan dan loyalitas pelanggan, profit dan benefit perusahaan, dalam pertumbuhan bisnis berkelanjutan.

Model komunikasi korporat yang dikembangkan Yulian dan Astra Group (tak terkecuali Astra Finance) melampaui tahapan-tahapan baku komunikasi korporat, seperti identifikasi dan prioritas tujuan, tilik pemangku kepentingan (intra – ekstra), monitoring (review – evaluasi) aplikasi strategi, dengan segala diagnosanya.

Yulian secara personal dengan human relations-nya, melampaui teori tentang identifikasi metrik dalam strategi komunikasi korporat.

Aksi yang dilakukannya, tentu untuk dan atas nama korporat, menghadirkan, setidaknya prinsip-prinsip budaya kolaborasi. Antara lain, yang pada budaya Bugis dikenal dengan prinsip pada idi pada ilok sipatua sipatokong (saling menghidupkan kesadaran berinisiatif untuk menghormati dan menguatkan).

Dimensi nilai yang dalam kultur Sunda, dikenal dengan Sacangreud pageuh sagolek pangkek (konsistensi pada komitmen melayani), di atas purwadaksi (integritas di atas norma dan etika). Sesuatu yang dalam prinsip komunikasi korporat, ibarat pepatah Minang: Alua samo dituruik, limbago samo dituang (mentaati aksi dengan konsisten mewujudkan komitmen kerjasama, bersama). Sesuai dengan prinsip budaya Jawa, urip iku urup (hidup – pribadi dan korporasi – mesti mencerahkan – dan menyejahterakan semesta). |

Posted in LITERA.