Bara Islam dan Kebangsaan SI Nyalakan Ukhuwah Iqtishadiyah

Menyematkan Islam sebagai nama perkumpulan, ini menandai SI sebagai organisasi Islam yang dikhidmatkan untuk rakyat dan bangsanya. Kata ‘islam’ itu sendiri mengandung makna universal. Karenanya SI bertegas-tegas menghadirkan dirinya sebagai organisasi terbuka bagi manusia merdeka, berpikir dan bertindak merdeka, berorientasi pada keadilan, kesejahteraan.

Catatan Bang Sém

Gubernur Jendral Belanda Idenburg di Batavia rungsing. Ia nyaris tak bisa duduk pongah di kursi kekuasaannya. Pikirannya sering tak leluasa. Ia digambarkan, kerap meletup secara emosional.

Sewindu masa tugasnya (1909 – 1916), tak ada yang lebih memusingkan kepalanya, kecuali Sarekat islam – kini Syarikat islam (SI).

Sebagai organisasi modern kaum pribumi, sejak awal Abad XX, SI memupuk dan menebar spirit kebangsaan yang tak hanya mengurusi lingkungan dalaman. SI membentang wawasan kebangsaan: narrow nationalism dan global nasionalism — yang bertumpu pada Ke-Islaman-an, Ke-Ilmu-an, dan Ke-Rakyat-an (ke-Umat-an).

Organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan manusia sejati, ini  digerakkan para pemimpinnya (HOS Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, Haji Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara, Soerjopranoto, Sosrokardono, Abdul Muthalib Sangadji, Ki Bagoes Hadi Kusumo,  yang tak terputus tambo dengan KH Samanhudi – pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) – Surakarta , Bahkan dengan Tirto Adhisoerjo – pendiri Sarekat Dagang Islamiyah – Bogor.

Wawasan kebangsaan SI dibentangkan oleh kaum cendekia dan para patriot, yang menggunakan ujung pena dan ujung lidah mengalirkan dan menebar kesadaran kebangsaan asasi bagi seluruh rakyat (umat), yang berkhidmat pada peningkatan muru’ah manusia.

Dengan metode khas ‘bercakap-cakap’ dan diskusi lepas dengan generasi lebih muda, kaderisasi tak langsung dilakukan HOS Tjokroaminoto kepada anak-anak muda yang kelak memimpin bangsa ini, seraya mengalirkan ideologi politik, yang satu dan lainnya tercatat dalam sejarah, tak seiring jalan.

Anak-anak muda yang yang kos di kediamannya (Gang Penèlèh Surabaya), itu antara lain: Soekarno – Bung Karno yang konsisten menjadi nasionalis; Raden RS Marijan Karto Suwiryo yang konsisten dengan ideologi Islam progresif dan lantang mendeklarasikan Darul Islam – Negara Islam Indonesia; dan Semaun yang kelak terpincut dengan Sneevlit, kudu hengkang keluar dari SI.

Pendidikan adalah istimewa bagi SI. HOS Tjokroaminoto menuangkan gagasannya pada karyanya Moslem National Onderweijs. Konsep pendidikan yang memaduserasi kecerdasan akal dan akhlak. | illustrasi imajinatif chatGPT

Merdeka dan Otonom

Pada masanya, massa anggota SI — sebagai organisasi perjuangan kebangsaan — berbilang 2,5 juta orang dan menjadikannya sebagai organisasi Islam kebangsaan terbesar di Hindia Belanda sampai penghujung tahun 1919.

Ketika Kongres Nasional – National Congress (NATICO) – I Sarekat Islam berlangsung (16-18 Juni 1916) di Societaat Concorde (kini Gedung Merdeka) Bandung, anggota SI dari seluruh Indonesia ‘tumplek bleg’ hingga ke alun-alun, yang diisi dengan berbagai produk hasil industri olahan.

Pada forum tersebut, HOS Tjokroaminoto menyampaikan pidato yang menggugah dan meluahkan spirit kemerdekaan di tingkat nasional dan otonomi daerah di tingkat wilayah dan desa.  Pidato itu bertajuk Zelfbestuur yang menularkan kesadaran, bahwa kaum pribumi di Hindia Belanda sudah masanya untuk berpemerintahan sendiri.

Menyematkan Islam sebagai nama perkumpulan, ini menandai SI sebagai organisasi Islam yang dikhidmatkan untuk rakyat dan bangsanya. Kata ‘islam’ itu sendiri mengandung makna universal. Karenanya SI bertegas-tegas menghadirkan dirinya sebagai organisasi terbuka bagi manusia merdeka, berpikir dan bertindak merdeka, berorientasi pada keadilan, kesejahteraan.

Setarikan nafas, kaum SI dicirikan oleh watak egaliter, inklusif, kosmopolit, tegas dan kokoh dalam bersikap (pendirian), cerdas dalam berpikir, dan sigap – tangkas dalam bertindak.

Pada masa banyak kalangan mempersoalkan pertentangan sosialisme dengan Islam, HOS Tjokroaminoto menulis dan menyatakan pemikirannya dalam Sosialisme Islam. Basisnya tauhid. Berbeda dengan sosialisme yang ditawarkan Karl Marx yang dibawa oleh Sneevlit.

Iluustrasi rekayasa imajiner. HOS Tjokroaminoto berbincang dengan AM Sangaji, H. Samanhudi, Haji Agus Salim, dr. Abdul Moeis dan Presiden SI Hamdan Zoelva | chatGPT

Masuknya faham sosialisme Marx dan memengaruhi sejumlah pengurus dan arus ketrbukaan terhadap berbagai pandangan dan pemikiran, menyebabkan SI berulang kali ‘digempur’ dari luar dan ‘dirongrong’ dari dalam. Semaun, Muso, dan kawan-kawan yang dipengaruhi pemikiran Machiavellian. Akhirnya mereka terkena disiplin organisasi yang diterapkan oleh Haji Agus Salim dan dr. Abdoel Moeis — kelak dikenal sebagai sastrawan dengan karya monumentalnya “Salah Asuhan.”

Pribumi dengan Kesadaran Kebangsaan

Karena kuatnya kesadaran berbangsa dan bernegara dengan filosofi asasi “Sebersih-bersih Tauhid, Ilmu Pengetahuan dan Siyasah,” Belanda berusaha sekuat tenaga menghadang arus besar SI.

Penguasa penjajah Hindia Belanda menghendaki SI (1909 – 1912) cuku menjadi organisasi lokal yang tersebar ke seluruh wilayah Hindia Belanda. Hambatan menjadi organisasi yang bersifat nasional baru tersingkir tahun 1912 ketika terbit izin dari Penguasa penjajah Hindia Belanda.

Lamanya terbit izin dari penguasa penjajah Hindia Belanda tersebab mereka memandang, SI merupakan organisasi modern yang mampu dan berhasil mengintegrasikan nilai-nilai Islam, kecerdasan budaya lokal, dan modern.

Selain itu SI dipimpin oleh kaum cendekia yang ‘sadar hakikat manusia, masyarakat, dan bangsa’ merdeka. Pribadi muslim kaffah dengan pemikiran merdeka dan visioner. Para pemimpin dengan integritas pribadi yang konsisten dan konsekuen atas satunya kata dan aksi dalam setarikan nafas.

SI dan para pemimpinnya (sampai tingkat desa) dinilai oleh penguasa penjajah Hindia Belanda selalu diintai dan dicurigai sangat kuat memelihara bara perjuangan dan perlawanan kepada penguasa.

Sebagai organisasi kaum pribumi berkesadaran kebangsaan, SI menjadi salah satu musuh yang kuat menghadang nilai asasi yang diwariskan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) perusahaan dagang kolonial Belanda yang kapitalistik, secara agresif menguasai, menduduki, dan merompak sumberdaya  — komoditas utama rempah sejak awal alaf ke 19.

VOC telah mendapat untung dan manfaat, karena sentra-sentra produksi dan pasar yang ditinggalkan kaum kapitalis kolonial sebelumnya (Inggris dan Portugis) dan sosilisme yang tercemar (Prancis). Suatu sistem ekonomi dan penghidupan yang menempatkan rakyat – umat sebagai obyek dalam kebiadaban L’exploitation de l’homme par l’homme. Suatu kebudayaan kanibal zionistik yang sesuka hati menjalankan kekuasaan.

Idenburg bahkan ‘boleh duduk santai’ di kursi kekuasaannya, karena para pendahulunya, melalui perjanjian Inggris – Belanda (1824) telah menukar wilayah jajahan Inggris (Jakarta dan Bengkulu) dengan wilayah jajahan Belanda (Melaka).

Presiden LT DPP SI Hamdan Zoelva dan Ketua Dewan Pusat SI A. Ferial terpilih di Majelis Tahkim di Surakarta – Desember 2021. Gedung biru di belakangnya, lokasi Majelis Tahkim ke 33 di Majalaya yang memutuskan SI kembali menjadi ormas | chatGPT

Ukhuwah Iqtishadiyah

SI menghadapi persoalan kebudayaan yang ditinggalkan penjajahan Belanda :  masyarakat kelas, feodalisme, inferioritas struktural (minderwaarde high complex) dengan menghidupkan penggunaan kata ganti ‘tuan – hamba’ yang mencerminkan patron – client relationship dalam percakapan resmi, menjadi ‘saudara’ yang lebih demokratis, ekuitas – ekualitas.

Sebagai organisasi kemasyarakatan, SI telah menunjukkan daya yang kokoh dan berpengaruh, terhubung langsung tanpa sekat. Kekuatan itu, ditanggalkan ketika pemikiran mengubah SI dari organisasi kemasyarakatan menjadi partai politik. Yakni Partai Serikat Islam (PSI – 1920, Partai Sarekat Islam Hindia Timur (PSIHT – 1923), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII – 1929). Selama menjadi partai politik sampai terjadi fusi dan menjadi anasir Partai Persatuan Pembangunan (PPP), organmisasi ini mengalami degradasi yang ironik, sebagai ‘organisasi yang memperjuangkan persatuan umat, namun tak pandai dan punya cara bagaimana bersatu.’

Akhirnya, melalui Majelis Tahkim / Kongres ke 33 (1973) di Majalaya, organisasi ini kembali menjadi organisasi Syarikat Islam (SI). Keputusan itu lantas diperteguh dan dikukuhkan pada Majelis Tahkim / Kongres ke 35 di Garut (2003).

Kendati demikian ‘pola pikir dan perilaku partisan ‘orang partai’ yang gemar konflik masih mengontaminasi organisasi, sampai akhirnya pada tahun 2016 memilih Hamdan Zoelva – Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (2013-2015) sebagai Presiden SI (2016).

Di bawah kepemimpinan Hamdan Zoelva SI menentukan focal concern SI sebagai gerakan keumatan dengan ‘Catur Program’ : Ekonomi, Pendidikan, Konsolidasi, dan Politik (dalam makna luas – high politic) penggerak Dakwah Ekonomi.  Dalam hal politik praktis, kader SI boleh berada di partai politik apapun yang sah di Indonesia, sebagaimana secara profesional, kader SI mengembangkan potensinya di berbagai bidang.

Gubernur Jendral Belanda Idenburg sudah lama mati. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (17.08.45) sudah pula akan mencapai masa 81 tahun.

Bara kebangsaan dan kemerdekaan sejati masih bergelora memelihara semangat para kadernya menjadikan SI sebagai wadah utama dan terbuka sebagai bagi gerakan amar ma’ruf nahyi munkar, dengan menyuburkan ukhuwah iqtishadiyah. Berbasis ta’awun – jaringan gotong royong, membersihkan riba, gharar dan maisir. Basisnya aqidah, syari’ah, mu’amalah, dan akhlaq.  Tak mudah memang. Tapi dapat diwujudkan. |

Posted in LITERA.