JOHAN JAAFFAR
Ahad, 30 Mei 2026, malam Tan Sri Johan Jaaffar — Wartawan Negara, dramawan, penulis naskah teater podkaster yang sempat memimpin Dewan Pusataka dan Bahasa, Pemimpin Redaksi Utusan Malaya, Kolomnis dan terakhir sebagai Chairman Media Prima Bhd yang mengelola beberapa stasiun televisi, surat kabar, radio FM, dan biro iklan — menyampaikan pidato di Majlis Pelancaran dan Apresiasi (buku puisi) Viva Poesie karya Abdul Ghafar Ibrahim, di Pentas Utama WTC (World Trade Center) – Kuala Lumpur. Isi pidato itu menarik, karena mengemas baik cerita, resensi dan esai retoris yang khas. Abdul Ghafar Ibrahim (AGI) sendiri. Redaksi memandang penting pidato tersebut dimuat dan dipublikasikan dalam bahasa aslinya (Bahasa Melayu Malaysia). Silakan membaca | Redaksi eÇatri
Malam ini, tepat pukul 8:00 pagi, Sabtu, 30 Mei 2026, Abdul Ghafar Ibrahim atau AGI genap berusia 82 tahun, 6 bulan, 30 hari. Atau berdasarkan perhitungan yang lebih akurat, beliau telah berada di Bumi ini selama 992 bulan dan 30 hari, atau 4.317 minggu dan 4 hari, atau 725.352 jam, atau lebih tepatnya 45.521.120 menit atau 2.611.267.200 detik.
Apa arti angka-angka tersebut? Dengan izin, age is just a number (usia hanyalah angka). Mengutip Mark Twain, age is an issue of mind over matter, if you don’t mind, it doesn’t matter (usia adalah masalah pikiran atas materi, jika Anda tidak mempermasalahkannya, itu tidak masalah). Dengan demikian, orang-orang yang kita rayakan malam ini dan buku-buku yang akan diluncurkan dan dibahas bukanlah sembarang orang.
Bagi saya, AGI adalah sebuah institusi. Beliau adalah seorang pelukis, penyair, ideolog, guru, pemikir, kritikus, dan yang lebih penting bagi saya, seorang Saudara Istimewa, seseorang yang telah memengaruhi kreativitas saya sampai batas tertentu, juga membantu membuka cakrawala artistik dan ilmiah saya.
Seperti yang pernah saya catat melalui sebuah artikel di SeniMalaya berjudul “Dari Tak Tun Ke Kaleidoskop: Pengembaran Seorang Troubadour,” AGI adalah ikon saya di dunia seni.
Saya selalu berhutang budi kepada AGI. Beliau memperkenalkan saya pada makna baru dari “eksperimentasi” atau “percobaan”, pada konsep “improvisasi”, pada “dramatisasi puisi” di awal kegiatan artistik saya di Kuala Lumpur pada tahun 1970-an.
Saya berasal dari desa, tumbuh dengan tradisi Opera Cina (potehi), Bangsawan dan Sendiwara. Saya terpapar teater eksperimental di UM, melalui Teater Keliling dari Jakarta yang dipimpin oleh Rudolp Puspa yang awalnya menampilkan “Kapai-Kapai”, teater Nordin Hassan, karya Dinsman dan lain-lain. Ketika pertama kali melihat AGI membacakan puisinya, tentu saja saya terpesona. AGI mendramatisasi puisinya. Puisi-puisi didramatisasi atau dipentaskan.
Saat berada di kampus Universitas Malaya (UM), saya sering mengunjungi DBP, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan – juga bertemu dengan nama-nama besar di dunia sastra saat itu, terutama di Divisi Pengembangan dan Pengembangan Sastra (BPPS).
Dan saya menemani Anak Alam meskipun saat itu para penggerak awal seperti Latiff Mohidin, AGI, Siti Zainon, Zulkifli Dahlan, Ali Mabuha dan lainnya tidak lagi bercokol di sana, tetapi membawa semangat dan jiwa Anak Alam ke mana-mana. Hanya Mustafa Hj Ibrahim yang ada di sana, menjadi Bapak Alam, mengawasi generasi kedua Anak Alam.
Dan saya melihat, mendengarkan, dan mencoba memahami AGI dengan gaya dan pendekatannya yang “berbeda”, seorang yang kontrarian dengan karya dan gaya deklamasi yang sangat “berbeda”. Orang-orang teater seperti saya melihat AGI sebagai sosok artistik yang bergerak, melangkah, hidup, bergerak dengan penuh semangat dan unik. AGI tidak hanya membacakan puisi, AGI mementaskan puisi, mendramatisasi puisi, membawa seni deklamasi ke tingkat yang lebih tinggi.
Dan AGI juga seorang pelukis. Ia membuat sketsa, merekam, menerjemahkan, menafsirkan, membawa subjeknya ke panggung verbal dari citra di atas kanvas. Kanvas itu tidak mati di tangannya. Puisi tidak statis. Tidak beku. Dari kanvas ke puisi, kanvas yang mati bukanlah mati, puisi yang beku bukanlah beku. Di tangan AGI, puisi dan lukisan menjadi hidup, bernapas, dengan denyut nadi. Melihat AGI membaca puisi seperti melihat AGI menampilkan teater, bereksperimen, berimprovisasi – dengan gerakan, langkah, intonasi suara, akting, penuh apresiasi dan meyakinkan.
Saya menyukai AGI karena itu. AGI memberi makna baru pada dunia saya – dunia teater saya saat itu.

Tan Sri Johan Jaaffar sedang menyampaikan pidato (Ucapan)-nya | khas
‘Membiakkan” dan “Menyuburkan” Sajak?
Bayangkan perpaduan lukisan dan puisi yang digabungkan dalam satu pernyataan atau ekspresi artistik. Jadi, apa yang ia ungkapkan sebagai Tri-V – Vokal, Verbal, dan Visual – sangat menonjol. Verbal, katanya, adalah isi puisi, vokal adalah suara, dan visual adalah tekniknya. Mudah diucapkan. Semudah ABC. Tetapi sulit dicerna.
Bagi saya, ini sama sulitnya dicerna seperti teater “Waiting for Godot” karya Samuel Beckett. Atau karya Luigi Pirandello, “Six Characters in Search of An Actor.” Atau drama “Bukan Bunuh Diri” dan “Di Pulau Sadandi” karya Dinsman. Atau drama saya, drama Nordin Hassan, drama Hatta Azad Khan yang konon mempelopori gerakan teater absurd di Malaysia.
Beberapa orang mengatakan bahwa ada sesuatu dalam karya tersebut yang samar, kompleks, dan dapat membingungkan.
Ini seperti “puisi samar” yang pernah diperdebatkan dengan sengit dalam sejarah sastra Melayu modern. Macam juga AGI yang mahukan kompleksiti itu mencabar – agar sajak itu dibaca, didengar, dilihat. Hanya dengan itu kita akan dapat “suatu pengertian yang nikmat” katanya Bukankah itu cara terbaik “membiakkan” sajak? “Menyuburkan” sajak?
Lama sebelum itu, pada kira-kira tahun 1972, beliau sudah mempopularkan konsep sajak “audio-visual” – audio dan visual – pendengaran dan penglihatan. Beliau memberikan keutamaan pada “abjad” – abjad yang menurutnya “individu yang konkrit” yang membina maknanya masing-masing.
Orang boleh menuduh bahawa semua “keganjilan” itu sengaja dibikin-bikin. AGI pernah menulis begini, “kesenghajaanku meletakkan kata-kata dan penyusunan baris yang unconventional, itu bukan suatu keganjilan. Itu satu tugas sajakku.”
Maka itu sajak-sajak AGI “ganjil” – atau lebih tepat dalam konteks seninya – unik, luar biasa namun istimewa (“Istimewa” dengan huruf “I” besar). Maka itu saya dan peminat puisi eksperimental tersentak, terhentak, terpukau, terpesona oleh “Tak Tun” pada kita-kita tahun 1974. Itu tahun saya masuk ke UM. Itu tahun saya mencari diri, cuba membina kesenimanan saya dari “kecelaruan indah” dunia kreatif KL tahun-tahun 70-an.
Semua itu berlatarbelakangkan gerakan mahasiswa yang panas, ganas dan sentiasa berkocak. Itulah langkah mula pendedahan saya pada KL. Puisi AGI menjadi sebahagian daripada backdrop “kecelaruan indah” dunia pelajar, politik dan seni yang saya harungi pada masa itu.
Saya melihat “Tak Tun” sebagai signature AGI. Buah tangan, air tangan, bekas tangan AGI. Macam Latiff Mohiddin menemui “Pago-Pago”nya atau Muhammad Haji Salleh menemui Si Tanggangnya atau Salleh ben Joned dalam proses mencari the sacred and the profane dalam sajak atau mencari diri, entah-entah Si Tegang yang pulang.
Selepas itu saya dipersona dan dicabar oleh “Tan Sri Bulan”.
Itulah AGI. Bezanya AGI tidak mati kreativitinya dan eksperimentasinya pada “Tak Tun.” “Tak Tun” sekadar jadi pintu gerbang kreativitinya. Bukan sekadar totem pole kesenimananya tapi pembuka gelanggang pada dunia pelbagai dimensinya.

Tan Sri Johan Jaaffar dan Abdul Ghafar Ibrahim beserta rekan-rekannya | khas
Hak Penyajak Mempertahankan Sajaknya
Inikah sajak? Atau sajakkah ini? Atau inikah AGI yang melampaui sajaknya? Apakah AGI yang menjadi simulacra persajakannya, maka persona yang tertonjol adalah keAGIan sajaknya?
Maka teringatlah saya kenyataan AGI pada kira-kita tahun 1979 yang membawa judul “Sajak Ingin Berberber dan Beryangyang”. Bukanlah AGI mahu mempertahankan keAGiannya atau ke Ghafarannya. Sekadar menyatakan pendiriannya tentang percubaannya, tentang kreativiti yang melampaui garis kuning konvensional, tentang “keganjilan” karyanya, sekalipun dia dikritik. Tulisnya, adalah hak penyajak mempertahankan sajaknya, macam penyair A.D. Hope yang harus menjawab tulisan tiga orang kritikawan yang menurutnya tidak berlaku adil padanya.
Tulis AGI lagi, “mempertahankan sajak itu adalah membetulkan yang sipi dan mengetengahkan yang menepi.” Dalam sajak itu “ada akuku. Masing-masing cuba mengeluarkan akuku apabila mencipta karya masing-masing.”
Menurut AGI lagi, “ambiguiti dan misteri perlu digali dari diri sajak. Dengan Tri-V, aku balik kepada diri sajak.” Sajak membawa persoalan, bukan jawaban. Tulisnya, “sesebuah sajak akan berhenti menjadi sajak apabila ia telah menyediakan jawaban dalam dirinya.”
Kata AGI, dia “lari dari belenggu konvensi menuju jalan yang baharu dengan maksud tidak untuk meninggalkan yang lama. Yang lama ada sejarahnya. Aku tidak dapat lari dari sejarah. Tetapi sejarah baru tidak akan lahir kalua tidak berlaku sejarah yang lebih baru.”
Tentunya AGI bukan menulis sejarah melalui sajak-sajaknya atau berlagak mendekati sejarah sebagai seorang revisionist. Beliau seorang wordsmith – tukang buat abjad, tukang ukir kata, penukul kata. Tapi kata-kata yangyangyang dalam batas terhad – bukan mabuk meminum kata-kata yang besar-besar dan gagah-gagah.
Itulah AGI.
Pada bulan Julai dan Ogos 2019, AGI mengadakan pameran solo di Galeri Aswara. Saya bersama-sama beliau pada satu pagi bercakap tentang “Tak Tun” dan hal-hal lain. Hasil perbualan dan kesan pemerhatian saya terhadap pameran itu saya rakamkan dalam rencana yang tersiar dalam akhbar The Star berjudul “Feel the Tak Tun Pulse In Veteran Poet-Painter AGI’s Abstract Works” yang tersiar pada 13 Ogos 2019. Dan saya rakamkan juga dalam SeniMalaya kemudiannya.
Dalam buku cenderamata itu AGI menulis:
“Sajak tidak habis dan tidak tamat dalam tulisan, tidak mencungap-cungap dan tidak terpengap dalam buku; tidak hapak; dan tidak menyombong dalam kota akademik. Sajak ingin melontar, bersilat, berenang, berterbangan, berlari, bertepuk-tampar, berdoa, beratip, berzanji, berqasidah, bernasyid dan berberber dan beryangyang.”
Lalu saya terbayangkan apa yang saya pelajari tentang folk literature (sastera rakyat) khususnya di Perancis Selatan dan Utara Itali pada abad ke-11 hingga ke-13. Kelompok lyric-poets (penyair lirik) dan poet-musicians (penyair pemuzik) yang berkembang sebagai seniman yang dihormati. Mereka berkeliling membawakan puisi dan lagu. Mereka dikenal sebagai troubadours.
Dalam konteks lebih moden penggunaan konsep troubadour dihidupkan kembali sebagai seniman yang membawa puisi dan lagu kepada khalayak. Perkataan itu secara slanga dikaitkan dengan gerakan seniman yang mendidik dan menghibur serta turut mencorakkan kesenian rakyat atau folk tradition.

Tan Sri Johan Jaaffar bersama AGI dan khalayak | khas
Selebrasi Pencapaian Baru AGI
Bagi saya Agi adalah troubadour kontemporari dengan ciptaan puisi dan melodi puisi yang membentuk korpus yang mendefinisikan personanya.
Maka bagi saya, perjalanan Agi sebagai seniman adalah pengembaraan seni seorang troubadour moden di rantau ini. Beliau mencipta, mencorak, mewarnai, memberi digniti dan harga diri pada dunia kesenimananya.
Saya melihat ke-troubadour-an seorang AGI, yang tulen, asli, jujur, bersahaja. Maka saya mula berjinak-jinak untuk memahami apakah yang menggelodakkan seorang penyair-pelukis menggunakan ruang sebagai ekpresi vokal dan puitiknya. Dan cuma meletakkan dirinya pada sangkar kesenimanan yang istimewa.
Di Galeri Aswara pagi itu, AGI menunjukkan pada saya sebuah lukisan yang luar biasa – kanvas bermuat dua buah puisi Muhammad Yassin Makmur atau lebih dikenal sebagai Pungguk berjudul “Ibuku” dan “Selalu Merayu.” Kedua-dua buah puisi itu pernah tersiar dalam Majalah Guru pada tahun 1934. Menurut cerita AGI pada satu hari pada tahun 1970, Pungguk datang sendiri ke rumahnya di Kampung Sesapan Batu Minangkabau di Beranang, Selangor.
Pungguk menulis semula kedua-dua buah puisi itu di atas kanvas dalam tulisan jawi. AGI mengisi ruang yang kosong di antara dua sajak itu dan melakar wajah Pungguk. Maka terakamlah lakaran wajah Pungguk, orang yang dianggap Bapa Puisi Moden Melayu, bersama-sama dua buah puisinya yang ikonik.
Pungguk adalah lepasan Maktab Perguruan Sultan Idris (MPSI) Tanjung Malim yang tersohor itu. Selain menjadi guru beliau adalah Pengarang Majalah Guru. Pungguk adalah sasterawan-guru dalam sejarah sastera Melayu.
Menurut AGI, Pungguk datang lagi ke rumahnya pada 1 Februari 1971, kali ini untuk menurunkan tandatangannya pada lukisan itu. Lukisan itu berukuran 110 kali 104 sentimeter.
Pada tahun 2019, sudah 48 tahun usia lukisan itu.
Sehingga hari ini catan itu masih dalam simpanannya.
Malam ini kita merayakan dan menghargai kelahiraan Viva Poesie, koleksi terbaru AGI. Koleksi ini dalam dua bahasa. Prolognya ditulis oleh Dr Mohd Saipuddin Suliman dari Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (IIUM).
Viva Poesie adalah satu celebration pencapaian terbaru seorang AGI. Viva membawa maksud “long live” atau panjang umur, atau sorakan “hooray” atau “cheers.” Mengapa Viva Poesie? Mengapa tidak? Ini peristiharan kegembiraan – exultation – seorang penyair luar biasa yang masih menganggap eksperimentasi itu caranya, dirinya, manifestasi kesenimanannya. Walaupun beliau sudah berada di muka bumi ini selama 2,611,267,200 saat.
Kata orang putih “Experiment” is his middle nama. Abdul Ghafar (Experiment) Ibrahim, begitulah kira-kira namanya.
Saya tidak mahu mengulas koleksi ini, ada orang yang akan membahaskanya.
Melawan Konvensi
Seperti puisi dalam koleksi sebelum ini, Kaleidoskop, Viva Poesie disusunselia oleh seorang anak muda pengagum AGI bernama Jack Malik. Beliau kebetulan anak kawan saya, ibunya Puan Mek Asiah Hamzah sama-sama di UM, masukan tahun 1974, graduan 1977.
Beliau juga melakukan terjemahannya. Tugas yang bukan mudah.
Dalam Kaleidoskop Jack menulis, “Apa yang Abdul Ghafar Ibrahim tawarkan adalah sebahagian daripada kanon persajakan Melayu Malaysia. Kebiruan langit Abdul Ghafar Ibrahim mungkin berlainan daripada apa yang biasa kita tatap. Tetapi jika kita sudi mendongak barangkali kita nampak dunia persajakan kita hanya terbatas oleh keterbukaan diri kita. Sajak dari Tan Sri Bulan, Tak Tun dan Yang Yang, Abdul Ghafar Ibrahim sudah menghamparkan kepada kita rangka tindakannya untuk menggerakkan sajak Melayu Malaysia ke ufuk baharu.”
Saya bersetuju penuh pemerhatian cerdik ini.
Untuk penterjemahan koleksi ini, Jack menyatakan penghargaannnya pada usaha Harry Aveling yang menterjemah tiga koleksi AGI, My Lord Moonkite, Tak Tun dan That’s That. Kerja-kerja Harry Aveling banyak membantu beliau untuk mencari titik tengah dalam menterjemahkan AGI.

Tan Sri Johan Jaaffar selepas melancarkan buku puisi AGI | khas
Beliau menyamakan AGI dengan penyair Edward Estlin Cummings, penyair, pelukis, eseis, penulis dan dramatis Amerika yang terkenal khususnya dengan puisi-puisi eksperimennya. Beliau dikaitkan dengan mordenist free-form poetry. Seorang penelaah puisi menyebutkan bahawa “the chief effect of Cummings’ jugglery with syntax, grammar, and diction was to blow open otherwise trite and bathetic motifs through a dynamic rediscover of the energies sealed up in conventional usage…”
Saya setuju dengan perbandingan yang dibuat oleh Jack Malik di antara AGI dengan Cummings.
Jack Malik anak muda yang luar biasa – ilmuan, seniman, penyair. Tidak banyak orang yang melihat keluarbiasaan secara akademik, secara ilmu, secara tuntas, macam beliau. Macam beliau melihat Salleh ben Joned dalam “Matahari yang Tak Daya Kita Hentikan” (Dewan Sastera, Ogos 2023” dan “Dari Mana Datangnya Cinta” (Dewan Sastera, Julai 2024).
Salleh dan AGI kedua-duanya contrarian. Melawan konvensi. Menentang konservatisme dalam seni. Cara dan pendekatan mungkin berbeza. Tapi sama-sama rebel, penderhaka, penentang seni konvensional. Sama-sama troubadours.
Saya tanyakan juga apakah cabaran menterjemah buku Viva Poesie? Cabaran paling besar tentulah tentang sintaks dan semantik, juga untuk setia pada “bentuk” teks. Ada kalanya beliau terpaksa mengorbankan “kesetiaan” visual untuk mengetengahkan vokal dan verbal. Benarlah kata orang, penterjemahan karya sastera ibarat wanita, “if they are beautiful they are not faithful, if they are faithful, they are certainly not beautiful.” Kaum wanita mengatakan kenyataan ini berbau misogynist. Maaf, bukan saya kata begitu, kononnya Yevgeny Yevtushenko, penyair tersohor Rusia yang buat kenyataan itu, nama penyair ini ada dicatat pada halaman 108 koleksi ini.
Bagaimanapun saya tabik hormat pada Jack Malik dan terjemahannya.
Demikianlah malam ini kita hargai dan raikan AGI, Si Troubadour Tua yang masih tetap berbisa dan bersengat yang akan terus melakar kanvas dengan ketekunan luar biasa dan melahirkan puisi yang menjelaskan persona artistiknya. Perjalanan itu belum selesai sekadar Viva Poesie. Perjalanannya masih panjang selagi nyawa dikandung badan.
Sama-samalah kita doakan kesejahteraan dan kesihatan AGI agar beliau terus “berberber dan beryangyang.” Juga berpuisi, melukis dan berbunyi-bunyi terus tentang seni dan budaya.
Saya juga berdoa semoga AGI dihargai oleh establishment sastera negara sekalipun dia tidak mengikut kayu ukur dan penanda aras konvensional. Sebab AGI itu AGI. AGi macam Benjamin Peret, surealis Peranchis yang dipinggirkan oleh establishment kesusasteraan Peranchis semasa hayatnya kerana beliau tidak tunduk kepada konvensi dan suara establishment
Apakah AGI sekadar layak menerima Hadiah Sastera Nasional atau menjadi penerima S.E.A. Write Award? Apakah experimentalist tidak layak dinobatkan Sasterawan Negara? Bukankah Nordin Hassan menjadi penerima kerana drama-drama eksperimentalnya, demikian juga sedikit sebanyak Allahyarham Mana Sikana?
Sekadar melontar fikiran beryangyang.
Maka dengan lafaz Bismillah, saya dengan ini melancarkan buku istimewa karya manusia istimewa yang Bernama A Ghafar Ibrahim yang berjudul Viva Poesie. |
