Teknologi Blockchain dalam Perspektif Seniman

Teknologi ini kian diminati, karena memberikan berbagai jaminan yang selama ini menjadi keperluan asasi dalam melakukan transaksi. Yakni:  Kedaulatan pribadi sebagai pengguna untuk mengidentifikasi diri sendiri dan mempertahankan kendali atas penyimpanan/pengelolaan data pribadi; Kepercayaan (Trust) melalui infrastruktur teknis yang menawarkan operasi yang aman (pembayaran atau penerbitan sertifikat); Transparansi (kejelasan) yang memungkinkan transaksi dilakukan dengan mengetahui, bahwa masing-masing pihak memiliki kapasitas untuk melakukan suatu transaksi; Kepermanenan, karena catatan ditulis dan disimpan secara permanen, tanpa kemungkinan modifikasi; Disintermediasi, karena tidak memerlukan otoritas pengendali pusat (seperti bank dan lembaga keuangan lainnya) untuk mengelola transaksi atau menyimpan catatan; serta, Kolaborasi yang membuka ruang kemampuan para pihak untuk bertransaksi secara langsung satu sama lain tanpa perlu mediasi pihak ketiga.

 

Sejak Desember 2021, teknologi blockchain dalam konteks perdagangan dan investasi kembali dibincangkan orang.

Persisnya, ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan fatwa hukum, bahwa penggunaan mata uang kripto, haram dari sudut pandang syariat Islam.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, dalam diskusi dengan Transmedia Institute di auditorium Menara Bank Mega (Kamis, 2.12.2021) mengatakan, masyarakat harus melihat dasar penetapan haram oleh MUI.

Hal itu diungkapkan dalam orang nomor dua di Indonesia itu dalam kunjungan ke Trans Corp dalam acara diskusi Transmedia Institute di Auditorium Menara Bank Mega, Kamis (2/12/2021), seperti diberitakan CNBC Indonesia pada hari yang sama.

Wakil Presiden yang mantan Ketua Umum MUI, itu menjelaskan, penggunaan kripto sebagai mata uang itu dinyatakan haram dalam fatwa MUI, karena mengandung spekulasi, bahaya dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dan Peraturan Bank Indonesia 17 Tahun 2015 tentang Kewajiban Penggunaan Mata Uang Rupiah.

Senafas dengan pernyataannya, itu Ma’ruf Amin menyatakan,  kripto sebagai komoditas atau aset digital juga tidak sah untuk diperjualbelikan, karena mengandung unsur judi atau tidak masuk dalam syarat komoditi.

Namun, sikap itu terkesan mendua, ketika Ma’ruf menyatakan,  sebagai komoditas aset yang memenuhi syarat sebagai komoditi, atau jelas nilainya dan diketahui jumlahnya, memiliki underlying dan manfaat yang jelas, hukumnya sah untuk dijual belikan.

Menurut Kiai Ma’ruf, fatwa MUI itu adalah landasan syariah yang bisa ditindaklanjuti oleh otoritas lain. Selain itu menurut dia perdagangan kripto merupakan fenomena baru dalam ekonomi digital, bahkan beberapa negara juga melarang perdagangan mata uang ini.

Maknanya, perdagangan kripto diizinkan sebagai aset investasi bukan sebagai alat tukar atau sebagai mata uang. Padahal, kripto itu sendiri merupakan evolusi mata uang, dari mata uang kartal dan mata uang giral.

Mata uang kripto berbasis digital dan jejaring komputer sebagai bentuk transaksi, yang mulai menjadi bagian dari sosio habitus masyarakat, seperti transaksi pembayaran tol dan parkir kendaraan bermotor, dan lainnya, walaupun basisnya adalah mata uang resmi Rupiah.

Lukisan Leonardo Da Vinci bertajuk Salvator Mundi, laku sebesar 450,3 juta dolar Amerika Serikat dalam transaksi rumah lelang Christie via teknologi blockchain, 15 November 2017. | foto AFP.

Jauh masa sebelumnya, saya terlibat dalam diskusi pendalaman tentang teknologi blockchain, belakangan hari saya kerap terlibat dalam diskusi dengan beberapa kolega yang aktif secara intensif mendalami dan mempraktikan teknologi blockchain pada berbagai aktivitas — termasuk penelitian dengan beberapa perguruan tinggi di Belanda, Malaysia, dan Indonesia.

Saya sepakat untuk melihat sisi manfaat dari teknologi yang merupakan bagian evolusi transformasi menuju masyarakat digital, ini.

Antara lain, teknologi blockchain memungkinkan penciptaan ekosistem yang terdesentralisasi. Suatu lingkungan dimana transaksi dan data yang divalidasi secara kriptografis tidak berada di bawah kendali  pihak ketiga — baik lembaga maupun individu — mana pun.

Pada evolusi fase pertama (1991-2008) sejak Stuart Haber dan Scott Stornetta mengulik sistem blockchain pertama, dilanjutkan oleh Satoshi Nakamoto yang merilis ‘buku putih’ Bitcoin, serta berlangsungnya pembelian Bitcoin pertama sebesar 10.000BTC, teknologi ini memang mengguncang kalangan bisnis konvensional.

Di beberapa negara, khasnya di Amerika Serikat dan Eropa, penggunaan transaksi  menggunakan Bitcoin nyaris tak terbendung. Tahun 2013, ceruk pasar  melampaui $1 Miliar, sehingga Vitalik Buterin merilis ‘buku putih’ Ethereum, menyusul apa yang dilakukan Nakamoto.

Crowdsale lantas mendanai blockchain Ethereum dan menghimpun lebih 40 financial legacy company untuk mempercepat transformasi. Tahun 2014 terjadi dinamika percepatan teknologi blockchain, ketika Da Hongfei dan Erik Zhang meluncurkan Proyek NEO 2014 sebagai Antshares.

Tahun 2015 blockchain Ethereum II diluncurkan, disusul oleh Linux Foundation — yang memang terkenal dengan sistem komputasi open source — meluncurkan Hyperledger untuk mempercepat lagi pengembangan blockchain.

Perkembangan cepat blockchain dengan crypto currency bergerak cepat, karena setiap transaksi yang pernah diselesaikan dicatat dalam buku besar, dan tidak dapat diubah dengan cara yang dapat diverifikasi, aman, transparan, dan permanen, dengan time stamp dan detail lainnya.

Buterin mengemukakan, blockchain Ethereum yang dikreasikannya, menjamin keamanan transaksi dari  toleransi kesalahan, resistensi serangan dan resistensi kolusi.

Selain itu, teknologi blockchain, terdesentralisasi pada dua dari tiga kemungkinan sumbu desentralisasi perangkat lunak. Yakni: terdesentralisasi secara politik – tidak ada kekuatan politik yang mengendalikannya; terdesentralisasi secara arsitektur – tidak ada titik pusat infrastruktur yang rawan gagal; dan, terpusat secara logis – ada suatu keadaan yang disepakati bersama dan sistem berperilaku seperti satu komputer.

Prof. Dr. Ing. Carmen Holotescu (Universitas Ion Slavici – Timisoara, Romania) | foto ilustrasi khas

Teknologi blockchain yang semula merupakan sistem transaksi dengan proposal mata uang kripto Bitcoin, telah menunjukkan kemampuannya memecahkan beberapa masalah di lapangan dan sejauh ini dipromosikan sebagai versi yang paling sukses. Khasnya dalam menjalankan buku besar bitcoin yang dirancang Nakamoto, yang masih mengatur transaksi bitcoin sampai hari ini.

Teknologi blockchain terus berkembang dengan beberapa ratus “altcoin” – proyek mata uang serupa lainnya dengan aturan berbeda – dengan aplikasi yang benar-benar berbeda.

Kini kita mengenal Ethereum, yang merupakan implementasi blockchain terbesar kedua setelah bitcoin, dengan mendistribusikan mata uang eter, dengan kemungkinan penyimpanan dan pengoperasian kode komputer, sehingga memungkinkan kontrak pintar.

Selain itu, kini kita kenal juga Ripple, sebagai sistem penyelesaian bruto real-time, pertukaran mata uang dan jaringan pengiriman uang, berdasarkan buku besar publik.

Teknologi ini kian diminati, karena memberikan berbagai jaminan yang selama ini menjadi keperluan asasi dalam melakukan transaksi. Yakni:  Kedaulatan pribadi sebagai pengguna untuk mengidentifikasi diri sendiri dan mempertahankan kendali atas penyimpanan/pengelolaan data pribadi; Kepercayaan (Trust) melalui infrastruktur teknis yang menawarkan operasi yang aman (pembayaran atau penerbitan sertifikat); Transparansi (kejelasan) yang memungkinkan transaksi dilakukan dengan mengetahui, bahwa masing-masing pihak memiliki kapasitas untuk melakukan suatu transaksi; Kepermanenan, karena catatan ditulis dan disimpan secara permanen, tanpa kemungkinan modifikasi; Disintermediasi, karena tidak memerlukan otoritas pengendali pusat (seperti bank dan lembaga keuangan lainnya) untuk mengelola transaksi atau menyimpan catatan; serta, Kolaborasi yang membuka ruang kemampuan para pihak untuk bertransaksi secara langsung satu sama lain tanpa perlu mediasi pihak ketiga.

Dalam perspektif seniman, menurut Prof. Dr. Ing. Carmen Holotescu (Universitas Ion Slavici – Timisoara, Romania) dan Drd. Victor Holotescu (Politeknik Universitas Timisoara, menyatakan, teknologi blockchain dapat mendefinisikan kembali, bagaimana seniman dibayar dengan bertindak sebagai platform bagi karyanya (hak cipta) melalui hak atas kekayaan intelektual untuk menerima nilai atas pekerjaan mereka.

Seniman juga dapat menjadi pelacak asal transaksi di blockchain, serta kontrak pintar (smart contract) membantu seniman mengelola hak digital dan mengalokasikan bagi hasil kepada kontributor untuk proses kreatif.

Lepas dari semua itu adalah perolehan nilai rasa keseluruhan karya kreatifnya. Karena transaksi untuk karya kreatif bersifat publik, terlihat siapa yang mengakses karya tersebut dan berapa banyak pendapatan yang dihasilkan karya tersebut.

Dalam konteks ini, sangat perlu perubahan minda dan perspektif seniman atas proses kreatif, eksekusi kreatif, presentasi – pameran dan pemasaran atas karyanya. Di sini, dimensi artpreneur menjadi penting.

Untuk itu, seniman mesti terus memelihara dayacipta dan memburu pengetahuan tentang berbagai hal baru, termasuk evolusi senyap blockchain dalam tata kehidupan sehari-hari. | Marsya D’Watee

 

berbagai sumber

Posted in ARTESTA.