Teknologi Blockchain Menggoda Penulisan ‘Gelombang Transformasi’ Bandara Ngurah Rai

Tahun 2000, Stefan Konst menerbitkan teorinya tentang rantai aman kriptografi, dengan menambahkan gagasan untuk implementasi. Delapan tahun kemudian, Satoshi Nakamoto (diduga sebagai nama samaran) merilis buku putih yang menetapkan model untuk blockchain. Setahun kemudian, Nakamoto mengimplementasikan untuk pertama kali, blockchain sebagai buku besar publik untuk semua transaksi yang dilakukan menggunakan bitcoin. Termasuk transaksi di kafe-kafe. Membaca perkembangan dan implementasi teknologi blockchain, dari perspektif fungsi dan pemanfaatannya, ini dalam proses penulisan historical book perubahan pembangunan terminal dan tata kelola bandara Ngurah Rai, kami baca juga perkembangan cepat sistem keamanan – airport security system, baik untuk orang maupun barang. 

Catatan Bang Sém

Matahari mengembang di atas desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, Mei 2013. Kendaraan kami menepi, sebelum melintas di atas Tukad Bangkung, jembatan tertinggi di Asia dan terpanjang di Bali.

Hadi M. Djureid (almarhum), saya, dan Yogi turun dari mobil. Seketika kami menyaksikan tiang-tiang beton penyangga jembatan yang menghubungkan Badung dengan Bangli dan Buleleng.

Kami memang tak terburu-buru. Kami sedang memanfaatkan waktu dua hari rehat, untuk melakukan penyegaran, sebelum melanjutkan diskusi panjang hari-hari berikutnya dengan sejumlah pakar, Bupati Badung Anak Agung Gde Agung, dan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, ketika itu.

Dua hari sebelumnya kami berdiskusi dengan arsitek senior Bal,  I Wayan Gumuda dan Nalla Krishna, tentang rasa dan taksu Bali pada terminal baru internasional dan domestik Bandara Internasional Ngurah Rai, yang dapat segera terasakan melalui mata manusia. Namun modern dalam skala bangunan dan konteksnya pada kota Den Pasar dan keseluruhan Bali.

Di pangkal jembatan ini kami rehat dan diskusi ringan tentang aplikasi konsep logika blockchain untuk non uang | foto semHaesy

Arsitektur bali punya aturan dan kaidah-kaidah meskipun dalam bentuk baru. Pakem harus tetap dipegang. Sosok dan bentuknya harus jelas. Arsitektur Bali bukan kerja mesin. Ruhnya harus tetap ada. Konsep arsitektur menyatu dengan alam dan lingkungan, yang diciptakan sama dengan proses penciptaan manusia.

Analogi dalam bangunan dalam konsep arsitektur Bali menganalogikan korelasi manusia dan semesta, meski tak semua persyaratan bisa terpenuhi. Perlu terobosan inovasi yang mampu mengintegrasikan konsepsi arsitektural dalam bentuk bangunan dengan taksu dalam ruang.

Dari sinilah, kami menemukan istilah the wave of transformation, gelombang transformasi, yang kelak menjadi buku yang menggali berbagai pemikiran dan proses pembangunan terminal bandara internasional I Gusti Ngurah Rai, seperti yang nampak kini.

Berbagai data dan informasi, mulai dari dimensi budaya Bali mesti mengalir pada seluruh aspek tata kelola bandara internasional tersebut, tak hanya dalam konteks fisik, aksi korporasi (manajemen, bisnis, dan tanggungjawab sosial), juga terkait dengan pendidikan.

Kesemua ini menjadi perhatian kami, sesuai  gagasan visioneering pembangunan bandara internasional terpadat kedua — sesudah Soekarno – Hatta, Banten, tersebut — secara berkelanjutan. Khasnya terkait dengan upaya pengembangan modal insan tempatan.

Dari atas terminal Bandara Internasional Ngurah Rai ini pula Direktur Utama Tommy Soetomo dan manager menafsir hakikat ‘the wave of transformation’ | foto nick hanoatubun

Dalam suatu diskusi di kantor sementara (di salah satu lantai gedung parkir bandara berbentuk terasering a la pesawahan Ubud itu), tetiba saya mengutarakan pendekatan teknologi blockchain dalam skala sangat terbatas, dalam sistem pencatatan.

Belum semua peserta rapat sadar tentang blockchain yang sepenuhnya masih dipandang sebagai produk teknologi tatakelola sistem pembayaran.

Saya menggunakan pendekatan blockchain dalam keseluruhan konteks perumusan pemahaman tentang the wave of transformation dalam penulisan historical book bandara I Gusti Ngurah Rai.

Tim penulisan buku ini akhirnya sepakat mendalami teknologi blockchain yang terkonseptualisasi pertama oleh Satoshi Nakamoto (2008) dan terdesentralisasi oleh tim kerjanya, yang fokus dan diimplementasikan sebagai komponen inti dari bitcoin cryptocurrency.

Teknologi blockchain yang dilahirkan Nakamoto, memang berfungsi (difungsikan) sebagai buku besar publik untuk semua transaksi di jaringan. Saya dan tim penulisan, mengambil esensi fungsionalnya — dari perspektif imagineering — terkait integrasi dan persandingan data – informasi.

Proses pemasangan komponen tampak samping bandara internasional Ngurah Rai memerlukan integrasi dari rantai data dan informasi | foto semHaesy

Meski teknologi blockchain dibuat pertama kali untuk kepentingan transaksi bitcoin mata uang tunai online, teknologi ini juga memiliki potensi untuk tumbuh menjadi landasan sistem pencatatan di seluruh dunia.

Hal ini relevan dengan dinamika perkembangan tata kelola bandara yang terkoneksi dalam suatu jaringan mata rantai data dan informasi.

Di ujung Tukad Bangkung, itu kami berdiskusi untuk menyamakan perspektif, meski berbeda dalam persepsi. Sepanjang jalan, sampai ke Danau Batur di Kintamani, Bangli, kami diskusi ringan sambil sekali sekala tergelak oleh canda.

Kami sama melihat perkembangan blockchain fase pertama (1991), ketika rantai blok yang diamankan secara kriptografis diwawar pertama kali oleh Stuart Haber dan W Scott Stornetta. Tujuh tahun kemudian, ilmuwan komputer Nick Szabo berkonsentrasi mengerjakan ‘bit emas’, mata uang digital terdesentralisasi.

Technology Blockchain juga diperlukan dalam proses layanan dalam konteks Airport Services Quality | foto dok Riana

Tahun 2000, Stefan Konst menerbitkan teorinya tentang rantai aman kriptografi, dengan menambahkan gagasan untuk implementasi. Delapan tahun kemudian, Satoshi Nakamoto (diduga sebagai nama samaran) merilis buku putih yang menetapkan model untuk blockchain. Setahun kemudian, Nakamoto mengimplementasikan untuk pertama kali, blockchain sebagai buku besar publik untuk semua transaksi yang dilakukan menggunakan bitcoin. Termasuk transaksi di kafe-kafe.

Membaca perkembangan dan implementasi teknologi blockchain, dari perspektif fungsi dan pemanfaatannya, ini dalam proses penulisan historical book perubahan pembangunan terminal dan tata kelola bandara Ngurah Rai, kami baca juga perkembangan cepat sistem keamanan – airport security system, baik untuk orang maupun barang. Termasuk perubahan sistem pergerakan barang dan orang masuk dan keluar bandara.

Saya memberi perhatian juga pada pola arus orang dari zona nyaman, ke zona aman, stress dan depresi, lalu ke zona aman, dan nyaman dengan menggambarkan secara infografis perkembangan psikis dan psikologis seluruh pengguna bandara dan jasa penerbangan.

Hadi memberi perhatian pada arus transaksi barang dan orang yang menggunakan jasa bandara, termasuk kemungkinan dan ketidakmungkinan menggunakan bitcoin daslam transaksi pembelian tiket.

Di balik bentang atas yang menyiratkan gelombang transformasi dan rangkaian tiang baja itu terdapat dan informasi yang sesanding dan terintegrasi | foto semHaesy

Kala itu, kami membaca manifestasi teknologi blockchain yang sudah menggunakan kode awal sejak 2009, ketika Nakamoto menciptakan bitcoin menjadi bentuk uang tunai yang dapat dikirim peer-to-peer tanpa perlu bank sentral atau otoritas lain, untuk mengoperasikan dan memelihara buku besar, untuk mencatata transaksi dalam jumlah banyak, sebagaimana uang kartal dan uang giral dipergunakan dalam transaksi.

Pada masa itu, kami melihat, berbagai kendala sosio habitus dan budaya, belum memungkinkan hal tersebut dimasukkan ke dalam buku yang sebagian terbesar mengungkap proses gagasan dan manifestasi pembangunan bandara Ngurah Rai.

Di teras salah satu paviliun Istana Kintamani yang sejuk, kami sepakat untuk hanya mengambil sistem integrasi data dan informasi teknologi blockchain sebagai metode alur logika penulisan. Apalagi, ketika itu teknologi blockchain dalam praktik belum keluar dari ruang konsepsi berkaitan dengan transaksi.

Baru setahun kemudian (2014), teknologi blockchain dipisahkan dari mata uang dan potensinya untuk transaksi keuangan dan antarorganisasi lainnya dieksplorasi. Ini yang kemudian dikenal sebagai Blockchain 2.0. Terkait pula dengan diluncurkan dan dikembangkannya sistem blockchain Ethereum, yang memperkenalkan program komputer ke dalam blok, mewakili instrumen keuangan seperti obligasi. Ini yang kemudian dikenal sebagai kontrak pintar.|

Posted in ARTESTA.