Mengaji Hakikat Safar dari Alif

Ekspedisi darat menggunakan tiga kendaraan (bersama) plus 1 kendaraan yang sudah menunggu di Palembang. Masing-masing berisi: 1 perempuan + 3 lelaki (saya ada di dalamnya); 3 perempuan (dengan dua gadis belia) + 1 lelaki; 4 lelaki; dan 1 perempuan + 3 lelaki (yang berangkat lebih dulu). Hanya 3 lelaki berasal dari Minangkabau: 1 asal Padang Panjang dan 1 asal Solok – kesemuanya perantau sejak belia.

Catatan Bang Sem dari Jelajah Sumatra

Sungguhkah ‘hidup hanya sekadar mampir ngombé?’ Hanya sekadar kesementaraan berisi rangkaian jeda dalam proses perjalanan panjang kehidupan ideal yang abadi. Atau, hidup merupakan rangkaian pencapaian untuk sampai pada kondisi akhir, “bahagia di dunia dan di akhirat dan terbebas dari petaka.”

Untuk menjawab pertanyaan itu, manusia mengambil peluang dalam hidupnya memaknai hakikat jelajah, perjalanan dari satu negeri ke negeri lain, untuk mendapatkan berbagai informasi aktual suatu realitas kehidupan, agar mampu menimbang secara cermat fenomena kehidupan sesungguhnya.

Perjalanan semacam itu disebut safar atau jelajah, alias ‘ngumbara.’ Ada juga yang menyebutnya safari, meski maknanya berbeda.

Sejumlah pegiat jalan sehat (Darul Siska – anggota DPR RI 2019-2024, Sofhian Mile – Bupati Luwuk Banggai 2011 – 2016, Syarfi Hutauruk – Walikota Sibolga 2011-2021, Ferry Mursyidan Baldan – Menteri Agraria dan Tata Ruang 2014 – 2016) menggagas kegiatan Jelajah Sumatera menyambut pergantian tahun 2021 – 2022. Mereka adalah alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berbagai periode.

Untuk kali pertama, tujuannya adalah Sumatera Barat, berakhir di Padang. Gagasan tak biasa bagi mereka yang berusia 60 tahun plus, itu mendapat respon dari Tigor Sihite – eksekutif profesional yang sedang asyik melantai di antara angka-angka pasar modal.

Aktivitas itu, tidak sekadar menelusuri jalan darat dari Jakarta ke Padang. Lebih jauh dari itu, untuk melakukan refleksi nilai hidup, mengambil pemahaman esensial tentang prinsip ‘mangaji dari alif, babilang dari aso.’

Mengeja ulang dimensi sejarah kebangsaan untuk menemukan kembali cermin utuh kebangsaan. Sekaligus menemukan dimensi dan hakikat ke-Indonesia-an, yang dinilai mulai tergerus oleh pusaran zaman. Pendekatan sosio kultural menjadi pilihan dalam melakukan jelajah ini.

Kendaraan melaju di jalan tol Bakauheni – Palembang, dipandu kendaraan yang dikemudikan Anthonny | semHaesy

Tigor Sihite – alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) – mantan eksekutif BUMN, penggiat lari maraton, jalan sehat, dan pecinta alam, bersama istrinya, Farida Islahiyati Rukman – insinyur peternakan lulusan UNPAD (Universitas Padjadjaran) yang gemar mengemudi, berulangkali meyakinkan saya untuk ikut serta.

Saya belum menunjukkan sikap untuk ikut serta, meski keduanya menyatakan, Jelajah Sumatera, itu beroleh respon dari Antony Hilman, pengacara yang hobi berkelana dengan motor gede dan jeep. Ketika nama ini disebut, saya mulai tergoda.

Pun, ketika disebut nama Komaruddin Rakhmat – mantan aktivis mahasiswa dari UNPAD. Anak Betawi yang bangkit berjuang dan berhasil melawan stroke, dan membuktikan dirinya mampu berjalan kaki Jakarta-Bogor dan kemudian Jakarta-Bandung.

Belakangan Hanifah Husein – Koordinator Presidium Majelis Nasional FORHATI (Forum Alumni HMI-wati)  dan Ferry, yang karena berbagai agendanya memilih jalur udara, memotivasi saya dengan cara lain.

“Abang mesti ikut untuk menyegarkan kembali ingatan, betapa silaturrahmi tulus ikhlas, jujur, dan alamiah merupakan daya besar untuk memelihara dimensi kemanusiaan, kita,” kata Ferry.

Tigor dan Ida kembali meyakinkan saya. Ida mengirimkan ramuan yang biasa dia kirim untuk kesehatan saya. Pun, demikian dengan Sjahrir Lantoni – aktivis mahasiswa dekade 80-an asal Makassar. Jurnalis lugas, ini sebagaimana halnya Ade Adam Noch, mantan birokrat di Kementerian Tenaga Kerja, mengingatkan saya tentang perlu menyegarkan kembali ‘daya ingat sejarah’ kebangsaan yang berpangkal ke-Indonesia-an, ke-Islam-an, dan ke-Ilmu-an.

Keduanya tak bisa ikut karena harus menyelesaikan agenda domestiknya di penghujung tahun. “Kalau kau berangkat, artinya aku berada dalam jelajah itu,” hibur Ade.

Rehat pertama di salah satu Rest Area di wilayah Preovinsi Lampung | dok. AHil

Tigor kembali meyakinkan saya, sambil menyebut nama Ayub – mantan Kepala Kanwil Pemasyarakatan di Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Banten; Yuyon Ali Fahmi dan Farida – entrepreneur yang memang hobi mengembara di dalam dan di luar negeri; dan Surya Darma – Ketua Umum METI (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia) & Taman Iskandar Muda (TIM) dan Nelly istrinya yang biasa melakukan perjalanan darat Jakarta – Banda Aceh ulang alik. Tapi, kali ini keduanya bergabung via udara, bersama Ulla Nukhrawati – dokter – aktivis perempuan sekaligus pengusaha dan suaminya, Taufik – pengusaha perhotelan.

Saya bersedia. Pada dinihari 26 Desember 2021, Tigor, Ida dan Komaruddin menjemput. Di terminal dermaga penyeberangan Merak, selain Yuyon, bersama istri (namanya juga Farida), anak (Vinny) yang juga biasa ‘menjelajah’ dan kemenakan (Bella); tampak juga Uncu M. Natsir – mantan politisi / anggota DPR RI dan Asnawi Hamid – eksekutif profesional penggiat hidup sehat di hari tua, dalam tim Anthony Hilman dan Ayub. Sofhian Mille dan istrinya, sudah berangkat lebih awal, 25 Desember 2021.

Saya juga mendapat informasi, Gadih Ranti – kreator – desainer berlatar ilmu pasti dan suaminya, Dian Bhakti – eksekutif, akan gabung. Begitu juga dengan  sahabat lama saya Djamilius, akademisi yang perantau. Ia akan bergabung di Sumatera Barat bersama Octavianius, adiknya.

Darul Siska dan istrinya, Hilma beserta H.M Syarfi Hutauruk dan istrinya Delmeria Sikumbang – anggota DPR RI akan menjadi host dan menunggu di Sumatera Barat.

Babilang dari Aso

Istilah ‘jelajah’ memantik saya untuk ikut dalam ekspedisi ini. Saya memotivasi diri sendiri, sekaligus mengambil manfaat untuk ‘melawan’ kondisi fisik saya yang seringkali dihadang nyeri sendi dan tulang.

Sebelumnya, saya sudah coba melakukan perjalanan darat ke Surakarta – Yogyakarta (plus Purworejo) via Bandung (ulang alik) – meski Bandung – Jakarta menggunakan moda transportasi kereta api. Saya juga sudah mencoba perjalanan ulang alik Jakarta – Surakarta (saat menghadiri Majelis Tahkim SI). Tapi, ekspedisi ini lebih menantang. Terutama, karena tujuannya berbeda.

Banjaran pokok kelapa tertampak di beberapa area wilayah Provinsi Lampung | semHaesy

Seperti biasanya, saat meninggalkan rumah, saya sudah menyiapkan diri, terutama otak dan hati saya. Kali ini, saya set up, sepenuhnya untuk melakukan lite observation dalam menguji informasi dan data Jalur Lintas Sumatera – yang mengemuka di media sejak beberapa tahun terakhir. Termasuk mempertemukan beragam data historis, pengalaman empiris, dan realitas obyektif yang nampak secara kasad mata.

Selebihnya adalah menikmati segala suasana empiris selama perjalanan. Muaranya, bagaimana mengelola nalar dalam memaknai hakikat atas kata ‘jelajah,’ itu sendiri.

Ekspedisi darat menggunakan tiga kendaraan (bersama) plus 1 kendaraan yang sudah menunggu di Palembang. Masing-masing berisi: 1 perempuan + 3 lelaki (saya ada di dalamnya); 3 perempuan (dengan dua gadis belia) + 1 lelaki; 4 lelaki; dan 1 perempuan + 3 lelaki (yang berangkat lebih dulu). Hanya 3 lelaki berasal dari Minangkabau: 1 asal Padang Panjang dan 1 asal Solok – kesemuanya perantau sejak belia.

Pola perilaku ketiganya menjadi rujukan saya. Ketiganya nampak enjoy, dan memberikan resonansi positif, menebar atmosfir kegembiraan selama perjalanan. Sebagian terbesar kami, berpegang pada aplikasi geographic information system (GIS) yang memang tersedia dalam perangkat selular. Perhitungan jarak, waktu tempuh, dan menguji data – informasi berdasarkan parameter yang wajar, termasuk sumber informasi tentang rute plus akomodasi, dan lain-lain.

Indikator sosiologi Mochtar Naim (1974) tentang anak Minang di perantauan, mulai dari bagaimana meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama atas kemauan sendiri, untuk menuntut ilmu,  mencari penghidupan, dan pengalaman, terasa. Termasuk sukacita memaknai hakikat ‘pulang.’

Saya dan beberapa yang tidak berasal dari Minangkabau, memaknai jelajah dalam konteks lain. Termasuk, bagaimana meraba dalam terang esensi filosofi ‘Alam Takambang Jadi Guru,’ dan ‘Di mana Bumi di Pijak, di Situ Langit Dijunjung.’ Saya dan Farida Sihite, lebih memaknai esensi ‘jelajah’ dalam konteks ‘ngumbara.’ Dan, ini agaknya, yang membuat dia sangat taft dan kuat — meski sempat blank — saat mengemudi, menembus jalan yang tak sepenuhnya mulus, rimba, dan perkebunan gelap. Sekali sekala, suaminya, Tigor Sihite mengambil alih kemudi.

Jembatan Jalan Tol menjelang tiba di Palembang | semHaesy

Antara Jakarta – Palembang, dengan beberapa kali rehat, dan sambungan komunikasi yang tak sepenuhnya lancar, saya menangkap dengan seksama prinsip “nan rancak di awak, katuju dek urang,” enak di kita, nyaman pada orang lain, menjadi pengikat sambung rasa yang nyaman. Termasuk dalam mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan dalam melakukan jelajah, apalagi di malam hari.

Pada beberapa kali rehat di rest area jalan tol Bakauheni – Palembang, yang konstruksi bangunannya mengisyaratkan cara hidup ‘naik untuk turun,’ pertimbangan rute yang aman dan nyaman, mengemuka. Dari perbincangan, itu sudah terasa spirit Minang mengalir: “Mangaji dari alif, babilang dari aso.” Mengaji dari alif, berhitung dari (angka) satu.

Saya senang menyaksikan dialog Tigor, Anthony, Ayub, Asnawi, Yuyon, dan Uncu yang memadukan ragam sub kultur yang melatari masing-masing.

Etappe pertama Jelajah Sumatera ini, memberikan pelajaran berharga bagi saya tentang prinsip ‘jelajah’ dan ‘ngumbara.’ Pergerakan meniti jalan dari satu tempat ke tempat lain dengan capaian-capaian pengalaman dan pengetahuan yang menafikan  egosentrisma.

Tigor memandang penting focal concern capaian berbasis fungsi setiap orang, Anthony – Asnawi – Yuyon melihatnya dari sudut pandang efektivitas dan efisiensi, Ayub menghampirinya dari sudut pandang keamanan, Uncu dan saya memandangnya dari aspek kenyamanan. Komaruddin memandangnya lebih longgar, karena ada kepentingan mendapat obyek visual yang menarik untuk direkam.

Muaranya, tetap pada bagaimana menjaga kondisi untuk selalu segar dan sampai pada esensi jelajah itu sendiri. Yakni, mengartikulasikan jelajah sebagai cara mencapai tujuan dengan sukacita. Bukan pada bagaimana memacu kendaraan dengan memicu adrenalin, bak rally. |

 

[Artikel ini adalah bagian I dari beberapa tulisan]

 

Posted in ARTESTA.