Selamat Memasuki Alam Abadi, Bung Radhar

Sém Haésy

KABAR duka mengusik, ketika putera sulung saya menyampaikannya, (Kamis, 22/4/21) pukul sebelas malam. Malam itu, sekira pukul 19.30 wib, pemikir konsisten, Radhar Panca Dahana (RPD, 56), wafat.

Saya biasa menyebutnya ‘Bung Radhar,’ dan lebih mengenali allahyarham sebagai ‘pemikir konsisten,’ yang melayari kebudayaan Indonesia, kadang lewat sastra dan drama.

Banyak Pemikiran RPD, sebagaimana pemikiran Mochtar Lubis, Rendra, Taufiq Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri menjadi rujukan pandangan dan sikap anak sulung saya, itu. Terutama, acap ‘diskusi’ dengan saya tentang fenomena dan realitas sosial, yang kemudian menjadi referensinya dalam mengambil jarak dengan realitas sosial pertama.

Berbeda dengan anak kedua saya yang lebih karib dengan pemikiran Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Kuntowijoyo, dan Sudjiwo Tedjo.

Seketika saya berdo’a untuk allahyarham, RPD yang selalu bersikap baik, sopan, dan rendah hati, tanpa kehilangan integritas pribadinya yang jernih dan jelas dalam memandang suatu masalah.

RPD tak hanya lelaki cerdas dengan wawasan luas dan punya cara pandang khas dalam berinteraksi dengan fenomena dan paradigma budaya (termasuk sosial, ekonomi, dan politik di dalamnya) yang terus berkembang dinamis.

Belakangan, ketika media massa lebih suka dengan ‘kegenitan akademik’ dan ‘intelektualisme’ RPD yang konsisten dengan ‘sikap intelektualitas’ jarang tampil, menyampaikan pemikirannya yang jernih dan asasi.

RPD dan banyak kalangan intelektual yang konsisten lebih banyak ‘bicara’ melalui tulisan-tulisannya di berbagai media yang masih memandang idealisme sebagai sesuatu yang penting. Tidak terjebak oleh industrialisasi yang disalah-pahami hanya sebagai sesuatu yang berhubungan dengan angka-angka untung dan rugi bisnis.

RPD memilih jalan konsisten dan menemukan kampus sebagai medium untuk terus memelihara kesadaran untuk mengembangkan kebudayaan dalam ruang yang lebih luas.

Radhar Panca Dahana dalam suatu pergelaran [ Indexnews ]

Ketika sedang mengalami kelelahan virtual sejak sebulan terakhir yang dibaluri simpang siur beragam pernyataan non substantif tentang vaksin, beberapa pemikiran RPD tentang raibnya negara dalam jagad kebudayaan hadir dalam benak saya.

Pun, pemikiran dan pandangannya tentang jarak kekuasaan dan kebudayaan yang menyebabkan realitas pertama kehidupan sosial sehari-hari menjadi kerontang, kehilangan substansi.

Kebudayaan dengan huruf “K” kapital tak dipahami atau terpahami dengan baik oleh sebagian terbesar para pengambil keputusan dalam kekuasaan. Satu dua pemimpin yang menyadari, memahami, dan mempraktikan Kebudayaan dengan “K” besar, bahkan tak jarang menjadi bulan-bulanan cerca.

Di tengah situasi itu RPD secara pribadi berjuang dengan sabar (dan kesabarannya menunjukkan sikap gigih dan konsisten) dan mesti berkompromi dengan diri sendiri.  Khasnya, ketika allahyarham harus melintasi masa, bertahun-tahun melakukan proses hemodialisa.

RDP dan mendiang Arie MP Tamba (AMT) – penyair jurnalis, yang memilih jalan proses hemodialisa menjadi semacam referensi bagi saya dalam berkompromi dengan diri sendiri.

Perjuangan RPD dan AMT bagi saya merupakan perjuangan insaniah yang sangat luar biasa, meski berbeda medan dan fokusnya. Terutama dalam mengharmonisasi nalar, naluri, nurani dan rasa, dan menempatkan daya sukma (soul) sebagai penentu ketahanan raga.

Perjuangan RPD meyakinkan saya, bahwa ketika harmonisasi nalar – naluri – nurani dan rasa bekerja fungsional dan saling bersinergi, dengan terus menjaga proses lahirnya pemikiran dan gagasan bernas, daya raga akan tetap terjaga, meski tidak sempurna.

RPD dengan perjuangannya yang sangat luar biasa dan konsisten, secara tak langsung memberi isyarat nyata tentang dimensi ragawi dan sukmawi – jasad dan ruh, sebagai tata ruang fana dan kekal yang menentukan waktu.

Kematian, akhirnya merupakan titik pisah, antara kefanaan yang berakhir di ujung batas ragawi dengan keabadian yang tak berakhir di jagad tanpa batas. Dari realitas ini, budaya ( ilmu pengetahuan, bahasa, teknologi, ekonomi, dan seni) yang membentuk kebudayaan, menegaskan hakikat iman (lebih dari sekadar agama) dan nilai-nilai yang menyertainya, terabadikan melalui pemikiran – kreativitas – inovasi yang bersifat abadi.

Dari sudut pandang ini, RPD telah memberi makna atas kehidupannya yang fana sebagai bekal penting menelusuri kehidupannya yang kekal. Karya pemikiran – kreativitas – inovasinya menjadi dokumen penting dalam keseluruhan konteks pembelajaran. Khasnya bagi yang masih hidup sebagai pembelajar. Itulah eksistensi.

Radhar, selamat memasuki alam abadi dengan dimensi yang tak sepenuhnya bisa terdeskripsikan. Terima kasih telah meninggalkan berbagai karya pemikiran, kreativitas dan inovasi yang menjadi bagian dari berbagai bahan pembelajaran penting bagi siapa saja yang mau berfikir. | Paduboruk 23.04.21

Posted in HUMANIKA.