Baca Ulang Perjuangan Perempuan Hadapi Perubahan Budaya

Kita mesti membuang segala kebiasaan buruk masa lampau, “gemar bertikai, karena tak mampu mengelola cara berselisih, senang menerima simpati dan empati dari orang lain, sambil lupa bersimpati, berempati, berapresiasi dan respek terhadap orang lain.”

Koordinator Presidium Majelis Nasional Forum Alumni HMI-wati (FORHATI), Hanifah Hussein menyerukan, semua kalangan perlu membaca dan memahami ulang perjuangan Kartini dan para pejuang perempuan bangsa ini, untuk menemukan cara terbaik menghadapi tantangan besar perubahan zaman.

Hanifah mengemukakannya, ketika diminta pendapatnya tentang peran stategis perempuan, kini dan di masa depan. Khasnya menghadapi pandemi Covid 19 dengan segala dampak multidimensi-nya, Selasa (21.04.21)

Dikemukakannya, pandemi Covid-19 membawa serta berbagai hal terkait dengan percepatan perubahan budaya yang mengarah pada perubahan peradaban yang sangat cepat dan berlangsung dari detik ke detik. Suatu perubahan yang menuntut kita menjadi masyarakat pembelajar (learning society).

Hanifah mengemukakan, selain menyadarkan kita tentang nilai-nilai kebajikan tradisi dan keluhuran budaya masa lalu yang kita anggap kuno, seperti: cuci tangan dan etika interaksi sosial secara sehat, pandemi Covid-19 juga memantik kesadaran kita untuk melakukan lompatan budaya, dari peradaban tekstual dan analog ke peradaban audio visual dan digital.

Walaupun berbeda tantangan dengan perjuangan Kartini dan para perempuan pejuang di masa lalu, perjuangan perempuan kini dan di masa datang mestinya mempunyai spirit dan etos yang jauh lebih maju. Minimal sama. Yaitu, bagaimana mewujudkan kedaulatan bangsa dengan kemandirian ekonomi dan keluhuran budaya.

“Fokus perjuangannya tidak lagi bertumpu hanya pada kesetaraan dan keadilan gender dengan berbagai persoalan taktik dan strategi politik praktis, yang sudah ternoda oleh politik transaksional yang sangat pragmatis,” ungkapnya.

Lebih jauh dari itu lagi, menurut Hanifah, perjuangan kaum perempuan Indonesia bersifat multi dimensi. Sekurang-kurangnya, meliputi: Penguatan Ketahanan Pangan Nasional; Pemulihan kesehatan dengan menaklukkan pandemi penyakit; Penguatan Ketahanan Ekonomi dengan membalik kemiskinan, bertumpu pada penguatan akses rakyat terhadap modal dan pasar;  Penguasaan pendidikan yang mampu mengendalikan sains dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan dan keadilan; serta Penguatan ketahanan keluarga berbasis nilai-nilai agama dan budaya berkepribadian Indonesia.

Dengan demikian, kaum perempuan Indonesia wajib memainkan peran dan fungsi strategis sebagai ibu bangsa dan srikandi bangsa yang sesungguhnya di seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa.

“Alumni HMI wati yang secara otomatis merupakan anggota FORHATI, wajib berperan dan berfungsi strategis mulai dari sektor domestik sampai sektor global di seluruh aspek kehidupan di tengah transformasi cepat sebagai konsekuensi logis perubahan peradaban yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19,” serunya.

Hanifah berdialog dengan Ketua MPR RI Bambang Susetyo | forhati

FORHATI memandang, semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang mengemuka dari pemikiran Kartini masih relevan sebagai pemantik dan pemicu semangat perjuangan kaum perempuan kini dan nanti. Namun, harus dimanifestasikan dengan pemikiran, sikap, dan aksi yang lebih relevan dengan tantangan kini dan di masa depan.

“Mari kita membaca ulang, merenungkan, mengkaji ulang dan mengambil hakikat perjuangan Kartini dan para perempuan pejuang bangsa ini. Kita teliti dengan cermat dan kita gali lebih dalam,” ajaknya.  “Bukan untuk tenggelam dalam kehebatan perjuangan masa lalu, tetapi untuk memperoleh inspirasi berjuang lebih hebat menghadapi tantangan lebih dahsyat kini dan nanti,” sambungnya.

Menurut Hanifah, kita harus menghidupkan terus semangat membangun integritas diri kita sebagai bagian integral dari integritas perempuan pejuang Indonesia kini dan masa depan.

Kaum perempuan Indonesia, tegasnya, mesti bersatu menaklukkan tantangan perubahan zaman, mulai dari lingkungan sosial kita masing-masing.

Kita mesti membuang segala kebiasaan buruk masa lampau, “gemar bertikai, karena tak mampu mengelola cara berselisih, senang menerima simpati dan empati dari orang lain, sambil lupa bersimpati, berempati, berapresiasi dan respek terhadap orang lain.” Mungkin sudah terlalu lama kita tertambat di masa lalu, sehingga lupa cara memahami realitas hari ini dan tidak paham bagaimana mesti menghadapi jaman baru.

Untuk itulah, tegasnya, kita jangan pernah lelah merawat semangat dan mengasuh kesadaran diri kita. Jangan pernah bosan menempa diri kita menjadi srikandi dan ibu bangsa. Perempuan – perempuan pejuang yang selalu konsisten dan konsekuen memenuhi komitmen dan janji kepada Ibu Pertiwi.

Hanifah memungkas pandangannya, dengan menyatakan, bahwa kasih sayang kita kepada ibu pertiwi dan anak-anak bangsa ini, akan menjadi paduan integral pemikiran, sikap dan tindakan kita merawat bangsa ini.

“Untuk itu kita akan harus selalu memelihara integritas diri sebagai insan cendekia yang mau dan mampu melihat Indonesia dengan cinta. Kadangkala dengan sikap cerewet ketika menyaksikan perilaku yang melukai hati rakyat.” | haedar

Posted in LITERA.