Win [ Kepada Wina Armada Sukardi ]

Win !

menghampir kabar petang

engkau berpulang

pemantik semangat

penabung amal

husnul khatimah

Sêm Haêsy

Win.. petang ini aku kaget dan terdiam beberapa saat. Kabar kepulangan kau. Ya.. kepulangan kau ke haribaan Ilahi Rabby. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Kukirim do’a untukmu, “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.. wa akrim nuzuulahu.. wa wasi’ madhalahu. InsyaAllah husnul khatimah.”

Aku berkesaksian, kau orang baik dan selalu merawat kebaikan itu.. kau selalu membawa keceriaan, kabar sukacita, optimisme, dan kehangatan persahabatan.

Win.. Panjang masa dan cerita. Sejak masa belia. Di Salemba, selepas kubaca puisi tentang serdadu di Student Centre, mencari siasat adu tabah dengan intel melayu. Selepas itu, nyaris kita selalu sua, berbincang, berdiskusi tentang film. Pun tentang format kritik film.

Kecerdasan, kreativitas, kesungguhan berkarya menjadi yang terbaik selalu kau tampakan. Kau tak pernah lelah merawat dan menghidupkan kreativitas, inovasi., dan invensi. Selalu ada yang baru dari karya-karyamu, tak hanya terbatas karya jurnalistik yang menggelitik, puisi yang mengubah ilusi dan fantasi jadi imajinasi, esai yang tak pernah usai dan memberi ruang interpretasi, bahkan presumsi, persepsi, dan asumsi bagi pembaca.

Lantas kita berada dalam ‘rumah’ yang sama. Rumah yang mempertemukan jurnalistik, sastra, dan politik bersama Sutardji Calzoum Bachri, Remy Silado, Zulhasril Natsir (Prof), Masmimar Mangiang, Deded Er Moerad, Des Alwi, Rizal Pahlevi, Bahal Siregar, dan banyak yang lain.

Win.. kita berdebat setiap pekan, menyajikan informasi jernih selepas berkutat menguji fakta, data, dan informasi dengan melalui proses verifikasi dan konfirmasi. Tak sekadar cek & ricek. Tak sekedar memenuhi standar etik jurnalistik.

Fokus. Menempatkan berita bukan sekadar sesuatu yang mesti memenuhi keperluan pembaca ihwal informasi yang mengedukasi, sekaligus memantik re-kreasi (bukan sekedar rekreasi). Memuliakan pembaca sebagai manusia dengan perangkat kecerdasan, kearifan, dan rasa dengan beragam profesi, latar belakang, dan karakter. Kita tak lama di ‘rumah’ itu. Fokus  mengalami ‘pers breidel’ oleh rezim berkuasa yang represif..

Kita selalu tertawa acapkali mengenang ‘rumah’ itu. Lantaran beragam gagasan unik selalu mengemuka di ruang rapat redaksi. Selepas, itu kita tak pernah satu ‘rumah’ lagi. Kita mengembara ke beragam media.

Win.. tetiba kau hampiri aku. Kau sudah sedemikian aktif di organisasi wartawan, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Kau tak hanya mengurusi manajemen dan sisik melik organisasi dan konsisten menjaga konsekuen menegakkan code of ethic dan code of conduct.

Penulis bersama Wina Armada Sukardi. “Selalu menyenangkan dan mencerdaskan.” | doksem

Macam Wawancara Advokad

Kau meyakinkan aku, sehingga mau bersama para senior menjadi yang termuda di Dewan Penasehat. Melatih diri untuk bersikap takdzim di antara Bang Sofyan Lubis, Bang Sabam Sirait, Pak Syafik Umar, Bang Tribuana Said, Bang Mohammad Jazid.

Win.. Dalam kapasitasmu sebagai advokad, kau juga profesional, cerdas, trengginas, tangkas, dan gigih melakukan advokasi terhadap siapa saja wartawan yang menghadapi masalah hukum, termasuk sengketa. Kau tak mentolerir setiap pelanggaran etik dan hukum.

Kau terus berkiprah dan bergerak. Menjadi komisioner Dewan Pers. Pada Mei 2011, kulupa tanggalnya, berulang kali kau menelepon. Kita bertemu. Kau mewawancariku, terasa sebagai wawancara advokat katimbang wartawan. Agak lama dan ‘ngulik.’ Meski sebenarnya, semua yang kau tanya, kau sudah tahu..

Ternyata kau melakukan verifikasi sekaligus konfirmasi ihwal perjalanan karir jurnalistikku sejak paruh kedua 1970-an. Kau sodorkan sejumlah karya jurnalistikku, tanpa kecuali artikel kolom ku di berbagai media terbitan berbagai daerah dan Jakarta.

Belakangan baru kutahu, kau sedang menyeleksi banyak wartawan, di luar para senior. Sebagai komisioner Dewan Pers, kau sedang menjalankan Peraturan Dewan Pers No. 1/Perturan-DP/II/2010 tentang Standar Kompetensi Wartawan, dan SK Dewan Pers No. 06/SK-DP/I/2011 tentang Kriteria Tokoh Pers yang dapat ditetapkan memiliki Jenjang Kompetensi Wartawan Utama. Dan, layak menerima Sertifikat Wartawan Utama diberikan Dewan Pers.

Kau menjelaskan sangat rinci dan jelas. “Melalui kompetensi wartawan ini, secara sistemik Dewan Pers sesuai dengan Piagam Palembang, menata profesi wartawan. Diharapkan dengan penataan ini, tidak ada lagi penumpang gelap dalam profesi kewartawanan,” katamu.

25 Mei 2011, atas undangan Dewan Pers, kuterima sertifikat Wartawan Utama dari Ketua Dewan Pers Prof, Bagir Manan, bersama Bang Masmimar Mangiang. Hari itu, di Hotel Millenium Sirih – Jakarta, 100 tokoh pers menerima Indonesia menerima sertifikat yang sama. Mulai dari Ibu Herawati Diah, Pak Jacob Oetama, Tribuana Said, Masmimar Mangiang, Karni Ilyas, Ilham Bintang, dan lain-lain.

Wina Armada (paling kanan) bersama Bang Tribuana Said, Bung Eduard Depari dan penulis di ajang Kongres XXV PWI 2023. | doksem

Tabungan kebajikan

Win.. selepas itu kita sering jumpa pada berbagai kesempatan, tanpa kecuali perhelatan pernikahan putera para sahabat.  Di perhelatan ini juga kita jumpa dengan beberapa rekan lain, bahkan yang telah mendahului kepulangan ke haribaan Ilahi.

Win.. belakangan hari, acap jumpa kita bicara tak hanya isu-isu politik, jurnalistik, dan utak-atik sepak bola. Kita juga berbincang tentang puisi-puisi dan novelmu. “Puisi-puisi lu terbitin dong.. kan banyak banget tuh,” kata kau.

Ya.. sudah lama juga aku tak menerbitkan buku, karena banyak urusan yang membuatku mesti bergerak ke berbagai kota dan negara. Terakhir (2019), kuterbitkan eÇatri, buku pumpunan puisi cinta.

Ketika kita melipir sejenak dari ruang Kongres PWI XXV di Bandung (26 September 2023), lalu nongkrong di sebuah resto di sudut Jalan Braga, kau bicara banyak tentang sastra dan film. Tentu tentang Festival Film versi wartawan yang khas.

Lantas kita berbincang tentang pola pendidikan dan verifikasi wartawan, termasuk arah perkembangan profesi wartawan menghadapi tantangan Abad XXI. Tak hanya tentang artificial intelligent, melainkan singularitas. Realitas yang tak terhindarkan. Namun tetap pada prinsip manusia mesti menjadi subyek.

Win.. hari-hari terakhir, lewat WA dan WA Grup yang amat sedikit kusertai lagi, selain bicara tentang cucu dan hal-hal yang manusiawi..kau masih mengusikku untuk menerbitkan karya-karyaku. Khasnya, mauidzah, yang kudalami kini. InsyaAllah kulakoni.

Selamat jalan Win.. sudah banyak tabungan kebajikanmu.. keberadaanmu terasakan manfaatnya bagi banyak orang. Selamat jalan.. selamat melangkah memasuki dimensi lain kehidupan. Dimensi baqa.. Semoga tabungan kebajikan itu menjadi bekal yang membuatmu bahagia dalam baqa.. |

Posted in HUMANIKA.