Marapulai

Bang Sém

[ Menjadi marapulai laksana menjadi raja sehari. Diiring hantar para tetua, sanak keluarga. Berjalan beriringan, bahkan seringkali ditingkah suara rebana dan musik tradisional. Segala yang biasa tiba-tiba menjadi luar biasa. ]

 

SETIAP lelaki akan menjadi marapulai. Calon pengantin. Selain mesti mantap mempersiapkan diri untuk melakukan ijab kabul dengan wali calon isterinya, biasanya ia dibekali dengan aneka nasihat.

Kegelisahan sering merambati diri marapulai di hari-hari menjelang berlangsungnya akad nikah dan perhelatan pernikahannya.

Tak sedikit marapulai yang tiba-tiba kehilangan rasa percaya diri menghadapi hari-hari paling bersejarah bagi hidupnya dan hidup kekasihnya, itu.

Meski demikian, yang paling menarik adalah begitu banyak pelajaran hidup sangat berharga yang diberikan para tetua kepada para marapulai.

Ada yang disampaikan secara langsung, ada yang lewat petatah petitih, ada pula yang disampaikan lewat pantun.

Beberapa orang teman yang didapuk menjadi pengantar marapulai dan tak mengerti bagaimana mesti berpetatah-petitih dan bagaimana berpantun, sering gelagapan.

Apalagi, pihak perempuan, biasanya telah menghadang dengan pemantun senior.

Menjadi marapulai laksana menjadi raja sehari. Diiring hantar para tetua, sanak keluarga. Berjalan beriringan, bahkan seringkali ditingkah suara rebana dan musik tradisional. Segala yang biasa tiba-tiba menjadi luar biasa.

Berjalan yang biasanya sesuka hati, kini harus diatur berhati-hati. Agar nampak segak dan gaya. Maklum saja, lantaran marapulai menjadi pusat perhatian siapa saja. Termasuk yang berkisik-kisik di tengah kerumunan handai dan taulan.

Dalam tradisi Minangkabau, Rao, dan Maya-maya, marapulai – sampai perhelatan nikah usai – tak boleh bertindak sesuka hati. Karena semua tingkah laku dan perangainya dinilai banyak orang. Tak hanya keluarga pengantin perempuan. Bahkan, selama menyandang status sebagai marapulai, memilih pakaianpun, seringkali harus dipilihkan orang.

Adat yang sering dikesampingkan, kali ini mesti dipatuhi sepenuh hati. Petatah petitih dan pantun yang selama ini tak pernah diingat-kenang, mesti dicari dan dikumpulkan, karena menjadi bagian dari prosesi yang harus mengesankan.

Bila Anda, sekali waktu didapuk menjadi pengantar marapulai dan mesti berpantun, pilih saja yang mudah diingat semua orang. Umpamanya:

Rambut panjang sering dibelai.

Sirih ditata di atas peti.

Kami hantarkan sang marapulai.

Membawa hasrat sucinya hati.

Bila Anda yang harus menerima sang marapulai, bisa mencari pantun yang lain. Misalnya:

Helai-helai daun kelapa.

Tegak ditepi pohon buni.

Marapulai untuk siapa.

Mengapa tuan hantar ke sini..

Selanjutnya, silakan saling berbalas pantun, biar marapulai tegak tertegun, sebelum dipersilakan masuk untuk dinikahkan. |

Posted in HUMANIKA.