Pemimpin dan Kepemimpinan

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SALAH satu hal menonjol yang membedakan pemimpin berkualitas dan tidak, bukanlah seberapa besar penerimaan rakyat kepadanya. Melainkan seberapa tangkas dan benar logikanya dalam memimpin, dan seberapa sering dia mempermainkan perasaan rakyat.

Ketangkasan dan kebenaran logikanya, tak hanya terlihat dari dirinya sendiri, melainkan juga dari bagaimana logika para pendukungnya dalam menyikapi aksi yang dilakukannya.

Faktor utama pembedanya sederhana:  Pemimpin berkualitas berorientasi pada cara, pemimpin tak berkualitas berorientasi pada alasan.

Pemimpin berkualitas memilih cara terbaik dalam proses pengambilan keputusan. Tidak grasa-grusu. Ada policy design. Tidak pula memandang remeh ekspektasi dan reaksi negatif berbagai kalangan – rakyat dalam beragam formasi — atas suatu keputusan yang diambil. Ia berpijak pada obyektivitas yang melatari sikap dan keputusannya.

Pemimpin yang tak berkualitas sibuk mencari alasan dan menggerakkan para pendukungnya mencari alasan subyektif untuk melakukan pembenaran atas keputusan yang diambilnya.

Bagi Benjamin Disraeli, pemimpin yang berkualitas, adalah pemimpin yang berfikir, dirinya wajib mengikuti aspirasi rakyat, dan kerap bertanya pada diri sendiri: Apakah saya bukan pemimpin mereka?

Bukan pemimpin yang sibuk memproduksi citra, seolah-olah dia mengikuti dan sedang berjuang menyejahterakan rakyat. Padahal, yang sedang dia lakukan hanya sekadar mengemas diri, agar rakyat melihat dirinya seolah-olah sedang berjuang untuk rakyat.

Seorang imagineer, Jack Welch yang berhasil melakukan perubahan besar pada General Electric dan beberapa perusahaan, mengingatkan: “Sebelum menjadi pemimpin, kesuksesan adalah semua hal yang berkaitan dengan ikhtiar mengembangkan diri sendiri. Ketika Anda menjadi pemimpin, kesuksesan adalah bagaimana mencapai tujuan mengembangkan orang banyak.”

Artinya, tidak seperti yang diyakini Napoleon Bonaparte, bahwa pemimpin bertugas mendistribusikan harapan. Karena, ketika harapan itu tumbuh menjadi ekspektasi tak terkendali, dan kemudian tak terwujud, rakyat akan meninggalkannya dengan berbagai cara.

Dalam hal penyelenggaraan negara dan pemerintahan, hal pertama yang dilakukan oleh seorang pemimpin adalah menyimak dan merasakan derita rakyatnya, bukan mendengar apa yang dibisikkan orang-orang terdekatnya atau orang-orang yang dituakannya.

Tidak mudah mendapatkan pemimpin semacam itu. Sir Winston Churchill, mengatakan, “The nation will find it very hard to look up to the leaders who are keeping their ears to the ground.” Bangsa ini akan merasa sangat sulit mencari pemimpin yang mampu menjaga telinganya ke bumi.

Pemimpin yang mau menyimak, lantas menemukan serta melaksanakan cara mewujudkan aspirasi rakyat. Pemimpin yang logikanya lurus. Jalan pikirannya benar, diikuti oleh naluri yang tepat, perasaan yang terkendali, dan indria yang terorganisasi baik.

Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh pemimpin teladan hingga kini. Pikirannya lurus, cara pandangnya obyektif, keputusan yang diambilnya tepat dan dapat diterima berbagai kalangan kalangan, kecuali pembencinya.

Artikulasi kebijakannya mengalirkan kasih sayang : simpati, empati, apresiasi, respek dan cintanya kepada umat yang dipimpinnya.

Ketika menghadapi masa sulit, Rasulullah Muhammad SAW menjauhi alasan pembenaran. Dari berbagai riwayat, kita ketahui, pada masa sulit yang dilakukannya adalah mencari, menemukan, dan melaksanakan cara menyelesaikan masalah dengan membuka ‘ruang – peluang musyawarah dan muzakarah.’ Misalnya, memberikan penguatan akses umat terhadap modal dan sumberdaya ekonomi (baitul mal wat tamwil) dan penguatan akses umat terhadap jaminan sosial (baitul mal wal ihsan).

Rasulullah Muhammad SAW memberi teladan, bagaiamana melaksanakan cara terbaik, mulai dari mengelola perencanaan untuk mengelaborasi niat yang baik, dengan cara (sistem dan kebijakan) yang baik, kiat (teknis operasional) yang baik pula. Yaitu cara dan kebijakan yang dilakukan simultan secara jujur dan benar, disosialisasikan dan didiseminasikan secara cerdas, dan mendorong umat menggerakkan potensi dirinya. Antara lain dengan — tanpa henti — memelihara optimisme dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan.

Cara yang ditempuh Rasulullah Muhammad SAW dalam menghadapi kesulitan, diikuti oleh banyak pemimpin dunia. Terutama dalam menghadapi ancaman nanomonster Covid-19. Mereka menentuka cara yang dimanifestasikan dalam strategi dan kiat operasional yang tepat. Termasuk dalam melaksanakan prinsip, “jangan meninggalkan dan mendatangi kluster wabah.” Termasuk mengambil kebijakan tegas tentang lockdown dengan menghitung cermat dampak ekonomi yang akan terjadi, sekaligus merumuskan peta jalan solusi keluar dari masalah.

Para pemimpin itu menunjukkan cara dan bukan alasan, apalagi sekadar intuitive reason.  Salah satu cara yang ditempuh adalah menyimak dan mengakomodasi kritik, membangun kolaborasi sebagai cara menghidupkan sinergi dengan berbagai kalangan, dan partisipasi rakyat. Menghidupkan kesadaran kolektif tanggungjawab bersama dalam prinsip, “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”

Para pemimpin yang meneladani kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW, mengutamakan kemanfaatan daripada kesia-siaan, Mendahulukan yang lebih mendesak sebagai prioritas. Mementingkan rakyat daripada citra diri dan citra pemerintahannya. Termasuk menempuh jalan tidak populer dan berat bagi dirinya, tapi memudahkan rakyatnya. Benar, tidak dusta,  konsisten, konsekuen atas semua komitmen yang sudah diucapkannya.  Mendahulukan tujuan akhir yang membawa kemaslahan umat, daripada kepentingan sesaat.

Tidak mudah menjadi pemimpin sedemikian. Karena mesti berbekal kepercayaan rakyat, katimbang kepercayaan partai dan para penunggang kepentingan sesaat. Sekali lagi. Tidak mudah, tapi bermanfaat bagi rakyat ! Kuncinya, berpijak pada budaya melayani sebagai indikator peradaban unggul. |

Posted in HUMANIKA.