Kakikakakukaku

BUAH cinta paling dinanti pasangan pengantin adalah anak. Itulah yang diperoleh Donny, sejak ia berjodoh dengan Ning, rekan sekerjanya di salah satu perusahaan tambang multinational. Namun, karena sesuatu dan lain hal, Ning dan puterinya tak bisa ikut tinggal di site.

Sehari-hari Donny hidup layaknya seorang bujangan, tinggal dormitori khusus bujangan. Acapkali turun dari area penambangan dan melewati taman dengan perlengkapan bermain anak-anak, dia selalu teringat puteranya.

Komunikasi melalui telfun memang selalu dilakukan Donny dengan Ning, sehingga informasi tentang perkembangan puterangan selalu ter-update. Saat berkomunikasi melalui telefun selularnya itulah, hati Donny terhibur.

Apalagi, melalui komunikasi itu, ia juga dapat merasakan perkembangan puteranya. Apalagi, ketika sang buah hati mulai bisa berkata-kata sekenanya di ujung telfun.

Belakangan hari, sejak ditugaskan ke lokasi penambangan lain, komunikasinya dengan Ning agak terganggu. Selain karena di lokasi penambangan baru itu operator seluler belum membangun antenna penguat sinyal.

Hubungan melalui fixphone, seringkali banyak gangguan. Nyaris lebih dari empat bulan, Donny mengalami situasi komunikasi semacam itu.

Ia bersukacita ketika superintendent yang mengepalainya menyampaikan kabar baik. Selain mendapat promosi menjadi asisten superintendent, Donny beroleh fasilitas rumah tinggal, dan boleh memboyong Ning dan puteranya ke site. Tak alang kepalang gembira hati Donny.

Suasana psikologis semacam ini, dalam banyak hal, sering dialami para pekerja tambang yang setiap saat menghadapi beragam risiko.

Donny memaknai kesempatan yang diperolehnya itu sebagai peluang untuk lebih meningkatkan kualitas kinerjanya. Karena bagaimanapun juga, di perusahaan pertambangan internasional, promosi merupakan penghargaan yang harus disertai dengan kerja lebih cerdas dan lebih berkualitas.

Apa yang dialami Donny, bukan sekadar kelaziman dari suatu prosedur reguler perencanaan karir dan pengembangan potensi sumberdaya manusia di lingkungan pertambangan.

Hal itu, bila disikapi dengan cermat dan jernih, sesungguhnya merupakan bagian dari upaya perusahaan menempatkan potensi modal-insannya sebagai energizer manajemen perusahaan.

Sebaliknya, dari sisi Donny dan karyawan pertambangan, apresiasi perusahaan dalam bentuk promosi, merupakan bagian strategis yang akan menentukan bagaimana rekam jejak profesionalnya di kemudian hari.

Karyawan di perusahaan pertambangan, memang mesti berpacu di tengah dimensi ruang dan waktu yang sedemikian homogen, kompetisi terbuka, dan unjuk kerja yang jelas, dan terang benderang.

Apresiasi semacam itu, tak bisa diperoleh hanya dengan menambah jumlah lembaran ijazah dan sertifikat sebagai penguat latar belakang akademiknya. Karena lebih banyak ditentukan oleh kualitas kinerja, termasuk kontribusi karyawan terhadap perusahaan. Baik melalui peningkatan produksi, maupun melalui ruang-ruang aktualisasi prestasi kerja lainnya.

Itulah sebabnya, Donny memandang penting untuk berbagi dengan Ning, isterinya. Tentu saja, Ning menyambut sukacita kabar baik itu. Bahkan, Ning amat bersyukur, lantaran inilah kesempatan baginya untuk menjalani kehidupan rumah tangga seutuhnya. Satu atap dengan suami dan anak.

Dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda, Donny dan Ning mengembarakan pikirannya sendiri-sendiri.

Ning membayangkan bagaimana sukacita hidup berumah tangga, dan bisa berkumpul lebih kerap dengan suami dan anak-anak.

Maka terbayanglah di benaknya, bagaimana dia akan memberikan sajian breakfast yang amat disukai suaminya. Dan ketika sore tiba, bersama putera terkasihnya, menyambut kedatangan suami yang baru saja pulang mengucur peluh di area penambangan. Suatu kerangka idealistika yang sangat wajar mengembara di benak seorang isteri. Sebaliknya dengan Donny.

Meskipun bersukacita dan membayangkan hal-hal menyenangkan seperti yang dibayangkan Ning, dirinya dihadapkan oleh beragam pertanyaan.

Sanggupkah Ning yang biasa hidup di Jakarta, tinggal di site yang sedemikian sepi? Berapa lama Ning harus bersosialisasi dan beraktualisasi diri, sehingga betah tinggal di site? Dan banyak lagi pertanyaan subyektif.

Pada saatnya, Donny pergi menjemput Ning. Sukacita bagai memeluk dirinya, saat berjumpa dengan puteranya, dan mendengar kata-kata lucu yang keluar dari celah bibir mungil buah cintanya: Kakikakakkukaku… Kakikakakkukaku..

Ning sendiri kaget mendengar ocehan puteranya itu. Ia baru mafhum, anaknya yang sudah pandai berjalan, itu sering bermain-main di rumah tetangga, yang kebetulan mempunyai dua anak.

Rupanya, putera Donny dan Ning telah pandai merespon percakapan dari luar dirinya, yang menandai kecerdasannya sebagai bocah. Donny memeluk hangat puteranya.

Kebahagiaan tampak di wajahnya. Apalagi, sukacita itu juga dirasakan oleh ibu, mertua, adik, dan iparnya. Ketika tiba waktu untuk hijrah ke situs, keluarga baru orang tambang ini melakukanya dengan sukacita.

Bukan main senang hati Donny dan Ning, ketika pramugari mengagumi puteranya. Sukacita itu masih terasa, ketika Donny memboyong Ning dan puteranya ke rumah baru yang akan ditempatinya.

Apalagi, mendapat sambutan hangat dari keluarga teman dan atasannya, para tetangga. Donny optimistis, dan tak terasa ia sering mengulang ucap ocehan anaknya: kakikakakkukaku.. Hmmhh.. | N. Syamsuddin Ch. Haesy

[Tulisan ini pernah dipublikasi di Majalah EKSPLO]

Posted in HUMANIKA.