Al Kautsar dan Al Abthar

KAMI memperingati maulid nabi Muhammad SAW dengan tradisi yang biasa berlangsung di tengah keluarga. Kali ini, yang memberi tadzqirah adalah kakak saya, Abi. Sudah lama memang dia tak kumpul bersama kami. Kediamannya lumayan jauh dari Jakarta.

Cuaca mendung. Meski begitu, pengajian yang agak istimewa ini tetap berlangsung. Seluruh sanak famili datang. Melebihi pengajian rutin setiap pekan. Selepas menguraikan hikmah maulid, seperti biasanya, saya membuka ruang dialog.

“Om, cerita dong tentang al-kautsar yang dulu sering diceritakan jidah (nenek)?” tanya Nina. Al-kautsar yang dia maksudkan adalah kebaikan yang banyak, dorongan untuk selalu menegakkan salat dan membiasakannya, serta ikhlas dalam melakukannya. Lalu bersedekah kepada kaum dhu’afa, terutama fuqara dan kaum miskin.

Abi pun bercerita. Al Kautzar yang juga surah di dalam al Qur’an itu mengurai banyak hal tentang eksistensi Rasulullah Muhammad SAW. Kala memulai syi’arnya menegakkan tauhid, Rasulullah sering mendapat ejekan dari kaum kafir dan musyrikin.

Ejekan itu antara lain, pengikut Rasulullah adalah kaum dhu’afa, kaum yang lemah, sebaliknya, yang menetang beliau adalah para pembesar dan petinggi Quraisy. Abi menjelaskan, cercaan yang diterima Rasulullah Muhammad SAW pernah dialami Nabi Nuh, seperti dijelaskan Allah dalam al Qur’an, surah Hud (11):27 : Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) manusia (biasa) seperti kami dan kami tidak melihat orang-orang yang hina dina di antara kami, yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bajwa kamu adalah orang – orang yang dusta.”

Allah sendiri berfirman kepada Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu Al Kautsar. Maka salatlah kamu, dan berkurbanlah. Sesunggunya, pembencimu itulah yang akan binasa.” (QS al Kautsar 1-3). Dalam konteks ini bisa dipahami, Rasulullah diberikan banyak kebaikan dan menyebarkan kebaikan itu bagi umat manusia.Al Kautzar dalam konteks ini juga dapat dipahami sebagai harkat dan sifat kenabian, agama yang benar, petunjuk dan apa yang ada di dalamnya. Pun tentang kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Karena itulah, Rasulullah Muhammad SAW insan mulia yang namanya terus berlanjut hingga ke akhirat kelak, jejak indahnya memberikan cahaya bagi seluruh umat manusia. Sebaliknya, para penentang dan pencercanya, adalah kaum yang disebut al abtar. Alias, ‘binatang terputus ekornya.’

Setiap pemimpin yang selalu merasa dimensi kepemimpinannya sebagai amanah dari Allah dan kaumnya, akan menyadari, baginya Allah telah memberikan begitu banyak kebaikan. Bilangan kebaikan itu melebihi cercaan dan hujatan dari mereka yang tak menyukainya. Dan para pencerca, juga mereka yang selalu mendera, adalah bagian dari kaum yang disebut al-abtar.

“Pilihan kita adalah: menjadi al kautsar yang mulia dengan perangai dan akhlak yang baik, atau mau menjadi al abtar manusia yang buruk laku dan hidup dalam kegelapan prasangka,” ungkap Abi.

Kami menyimak dengan tekun apa yang disampaikan Abi, dan menyadari, setiap saat kita bisa bisa beroleh begitu banyak kebaikan dan berpeluang menebar kebaikan, atau sebaliknya. Menjadi bagian dari kaum yang gemar bergunjing, mencerca, mencurigai siapapun, dan berperangai buruk. | Haédar

Posted in RELIGIO.