Penghargaan Akademi Jakarta untuk Seni Penyadaran dan Bertaring

[Komunitas Taring Padi dan Moelyono Penerima Penghargaan AJ 2023]

Sebagai aktivis seni budaya, TP mempunyai dua peran yang sangat menarik dalam landasan organisasinya. Pertama, melancarkan agitasi terhadap wacana elit dengan mempromosikan seni kerakyatan. Kedua, mengorganisasi asosiasi -asosiasi kebudayaan dan kerakyatan yang berwatak progresif di tengah-tengah masyarakat. Akal halnya Moelyono, melakukan kerja budaya seperti ini membuat seni tak lagi eksklusif dan pendidikan nasional secara umum kapasitasnya cukup terbatas untuk menangkap denyar-denyar keliaran kreatif di luar sistem..

Moelyono dan Komunitas Taring Padi terpilih sebagai penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2023. Penghargaan tersebut diberikan dalam suatu perhelatan di Teater Kecil – Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki, Rabu  (4 Oktober 2023) petang.

Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma dalam sambutan singkatnya menyatakan, penghargaan tersebut diberikan kepada Moelyono dan Taring Padi, karena di tangan keduanya, seni tidaklah tidaklah manis dan jinak, tetapi menyadarkan dan bertaring.

“Agar siapapun terbuka matanya, atas segala ketidakberesan terselubung, dalam dedikasi dan konsistensi teruji,” ungkap Seno, tegas.

Seno juga mengemukakan, bukan kebetulan bila Penghargaan Akademi Jakarta diberikan kepada Moelyono dan komunitas Taring Padi. Menurutnya, pertimbangan sekaligus juga menjadi alternatif bagi dua kutub ekstrem: seni yang esoterik, yang hanya bisa dipahami senimannya sendiri; dan seni yang terjerat hukum dagang, tempat selera pasar menjadi panglima.

Tentu tak jarang, lanjut Seno, kedua gejala ini ternyata melebur: walau seninya menghindar untuk dimengerti, tetap terjual dengan harga mahal sekali. Dengan kata lain, sekutu kesenian yang eksklusif, elitis, dan tidak merakyat.

“Dalam kegiatan Saudara Moelyono dan Saudara-saudara dari komunitas Taring Padi, seni dan publik berinteraksi, tidak berjarak, bahkan dengan berbagai cara melibatkan publik dalam proses penggubahan seni,” jelas Seno.

Akademi Jakarta menilai, dalam pendekatan keduanya, seni hadir selalu dalam konteks, lepas dari sindrom adikarya (masterpiece) yang universal dan abadi. Prosedur dialog dan diskusi menjadi ciri berkeseniannya, dalam proyek sosial yang persuasif maupun menggebrak.

Seno Gumira Ajidarma – Ketua Akademi Jakarta | khas

Menentang ‘Seni untuk Seni’

Taring Padi (TP) dikemukakan Tisna sebagai komunitas seniman yang sangat penting di era reformasi Indonesia. Komunitas ini lahir di awal era reformasi di kota kreatif seni budaya Yogyakarta. Kelahirannya dikukuhkan sebagai organisasi seni progresif pada 21 Desember 1998 di kantor LBH Yogyakarta.

Sikap dan keberpihakan TP pada rakyat, menurut Tisna, diwujudkan dengan membangun kembali budaya kerakyatan dengan cara Pendidikan untuk Semua sebagai  jalan utama.

TP menentang ‘Seni untuk Seni,’ sebagaimana disampaikan dalam credo ‘Lima Iblis Kebudayaan.’ Pandangan ‘Seni untuk Seni’ tersebut terus dipertahankan oleh lembaga-lembaga negara maupun swasta selama kurun waktu rezim orde baru berkuasa.

Tisna mengemukakan, kebudayaan Indonesia menurut naskah ‘Lima Iblis Budaya’, telah dibelenggu demi keuntungan modal, sehingga rentan masuknya kekuatan Neo Imperialisme dan pasar Internasional yang tidak adil.

“Sikap, proses kreatif TP sangat unik, di era seni rupa, terutama praktik seni lukis cenderung berlomba ke hasrat seni yang menghamba pada pasar, misalnya di era booming seni lukis. TP menentang perilaku budaya seni yang tujuannya hanya untuk tujuan kepentingan pribadi,” jelas Tisna.

TP bersikap, karya-karya seni yang langsung dapat memberikan dampak yang baik bagi perubahan pada lingkungan akan tumbuh, jika seniman berupaya melebarkan kreativitasnya tidak hanya bagi ekspresi untuk kepentingan diri sendiri belaka, melainkan untuk kebermanfaatan orang banyak.

Sebagai aktivis seni budaya, TP mempunyai dua peran yang sangat menarik dalam landasan organisasinya. Pertama, melancarkan agitasi terhadap wacana elit dengan mempromosikan seni kerakyatan. Kedua, mengorganisasi asosiasi -asosiasi kebudayaan dan kerakyatan yang berwatak progresif di tengah-tengah masyarakat.

Dikemukakan oleh Tisna, TP merupakan seni kolektif yang sangat produktif dan berkualitas dalam berkarya, dengan metode seni kolaborasi, gotong royong menciptakan karya seni rupa, performance art (seni pertunjukan), dan lain-lain. Terutama dalam bentuk seni sebagai alat advokasi, agitasi yang artistik, seperti seni baliho, poster, spanduk, kartu pos, penerbitan, performance, musik, serta ragam medium yang mampu menumbuhkan inspirasi seni sebagai daya untuk perubahan ke arah pemikiran, tumbuhnya spirit untuk berdialog, mencari solusi dari kebuntuan budaya status quo.

Tisna memperhatikan salah satu contoh aktivitas kerja kreatif TP pada momen Documenta 15 di Kassel, Jerman 2022. TP punya intuisi, strategi jitu dengan melakukan pameran, display di dua tempat berbeda. Satu di ruang pameran gedung Bettenhausen (berdiri tahun 1929 di Hallenbad Ost) – Gedung bekas kolam renang yang direnovasi menjadi tempat pameran TP. Satu lagi dengan memasang Baliho raksasa di sekitar Gedung museum Fridericianum, gedung utama setiap perhelatan Documenta.

Ratusan karya Documentasi TP dipamerkan di gedung Bettenhausen dengan sangat rinci, baik film tentang proses kreatif, kerja budaya yang dipasang di pintu masuk sebagai informasi yang jelas perihal TP, serta ratusan ragam karya seni dengan kemampuan medium yang canggih, seperti seni grafis cukil kayu, cetak saring, lukisan lukisan karya kolaborasi dengan ukuran ukuran besar.

Taring Padi menghadirkan seni yang bertaring menyuarakan aspirasi kemanusiaan | khas

Karya-karya tersebut disajikan dengan kemampuan teknik melukis yang rinci, penuh narasi yang sangat menarik, kontekstual dengan situasi dan kondisi sosial, politik, budaya kehidupan sehari hari.  Terutama ragam permasalahan di Indonesia.

Selain itu, karya-karya seni partisipatoris ditampilkan di halaman taman depan gedung pameran berupa ratusan seni kerajinan tangan boneka wayang kardus yang membuat para apresiator langsung bersentuhan dengannya.

“Metode, bentuk, format dan tujuan dari karya seni TP sangat berhasil, telah mengajak publik untuk masuk pada dua metode pendidikan seni,” ungkap Tisna.

Ratusan boneka wayang kardus telah menjadi medium seni interaktif. Bisa dipinjam dan dipergunakan oleh komunitas anti penindasan sebagai alat demonstrasi menentang penjajahan Israel pada Palestina.

Seni dengan medium temuan kardus bekas yang dieksplorasi secara kreatif oleh TP telah mampu memberikan dampak artistik, etik dan pedagogik dalam konteks seni di acara demonstrasi komunitas aktivis Palestina untuk perdamaian dunia, yang tampil pada pawai iring-iringan di sepanjang jalan di kota Kassel dengan membawa ratusan boneka wayang-wayang seni kardus TP.

Lalu, Tisna memperhatikan karya seni wayang kardus yang artistik itu juga menjadi oleh-oleh yang menarik dari perhelatan Documenta 15. Banyak warga Kassel maupun turis dengan suka cita menenteng wayang kardus TP untuk dibawa pulang.

“Seni yang dipamerkan tidak beku, hampa tersendiri, melainkan mampu berinteraksi dan menjadi medium yang spontan, dipergunakan, bermanfaat untuk warga, komunitas masyarakat yang sejalan dengan TP yaitu komunitas anti penindasan, perlawanan terhadap kolonialisme,” ungkap.

Demikian pula halnya dengan baliho berjudul ‘People Justice’ yang penempatannya sangat strategis di sekitar lapangan depan museum Fridericianum, sangat monumental, baik konten yang dilukiskannya, maupun ukuran balihonya yang gigantik.

Dari dampak yang telah menyita perhatian publik Documenta, terutama setelah baliho TP itu diberangus, diturunkan dengan alasan politis, yang sepihak tanpa dialog karena dianggap memicu rasisme, antisemith.

“Inilah kecerdasan intuisi TP dengan strategi budayanya yang telah teruji, konsisten, fokus dalam berkarya seni dalam konteks seni di ruang publik. Bersama masyarakat telah berhasil menciptakan praktik karya seni yang memberikan daya untuk perubahan berpikir, berdialog dalam ruang lingkup wawasan seni budaya dunia,” jelas Tisna.

Contoh model TP di perhelatan Documenta 15 adalah salah satu dari ribuan karyanya-karyanya sebagai contoh seni yang berdampak positif untuk pendidikan seni.

Tisna mengemukakan, “Telah banyak ragam metode, bentuk, format, medium, tema serta eksperimen-eksperimen berkarya seni yang sudah dikerjakan secara kreatif oleh TP, telah menumbuhkan energi kebaikan bagi perkembangan seni.”

TP hadir di era reformasi sebagai wujud mencintai negeri ini dengan cara kerja kolektif, kreativitas telah menginspirasi kita supaya tidak lengah hari ini pada perilaku budaya KKN (kolusi, korupsi, nepotisme) yang ditentangnya sejak era Orba ydan disuarakan sejak awal dari kehadiran TP di medan sosial seni budaya Indonesia.

Tisna Sanjaya – Anggota Akademi Jakarta. Melihat daya Taring Padi di Kassel – Jerman | khas

Moelyono dan Seni Rupa Penyadaran

Tentang Moelyono, Seno Gumira Ajidarma mengemukakan, bahwa  “Peristiwa hari ini sebetulnya berawal 38 tahun lalu, dengan ditolaknya rencana tugas akhir perkuliahan seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi seni, bertopik Kesenian Unit Desa (KUD) pada 1985.”

Apakah KUD itu? Hari ini sudah termapankan sebagai seni instalasi: hamparan 23 tikar pandan, tempat diletakkannya pincuk daun pisang berisi sejumput tanah dengan semaian biji jagung, bayam, tangkai kangkung dan ketela rambat jenis bibit tanaman ladang apung di atas rawa.

Sesosok dangau didirikan di atas selembar tikar, dengan sebuah buku gambar berisi drawing tokoh konglomerat. Pada ujung sudut kiri jejeran tikar, berdiri podium lengkap dengan corong mikrofon bersuara berisik siaran berita radio transistor.

“Pameran itu digelar di lapangan badminton kampusnya, tetapi ditolak karena kriteria yang berlaku adalah seni lukis, sesuai jurusan mahasiswa bersangkutan. Padahal konsep instalasi KUD itu adalah tawaran dialog dengan warga kampus tentang kemiskinan petani Maung, Tulungagung, yang hidup di daerah rawa-rawa,” ungkap Seno.

Penolakan itu, berbunyi “tidak memenuhi syarat akademis, dan gugur sebagai peserta ujian,” tentu sangat beralasan, tetapi juga segera dapat dipergoki, bahwa dalam skala yang luas, sistem pemberdayaan masyarakat miskin berarti pula mengubah nasibnya, dan ini hanya mungkin jika masyarakat terlibat di dalamnya.

Maka apa yang disebut pendidikan bagi guru gambar ini berlaku sebagai jalan masuk, sebagai tahap awal bagi tujuan akhir pemberdayaan, dalam arti mengubah konstruksi berpikir masyarakat.

Pendidikan kesenian dengan begitu tidak terutama untuk mencetak seniman, yang melakukan presentasi gubahan, melainkan melalui seni mengubah masyarakatnya.

Dengan pendekatan partisipatoris, yakni bermukim di kampung-kampung terpencil dan terpinggirkan, yang dianggapnya sebagai pemahaman paling bertanggungjawab, menurut Seno, guru gambar ini mengutamakan pendidikan bagi anak-anak balita. “Karena penyadaran masyarakatlah yang diutamakannya. Seni, begitulah, diarahkannya menggubah manusia. Kerja budaya seperti ini membuat seni tak lagi eksklusif dan pendidikan nasional secara umum kapasitasnya cukup terbatas untuk menangkap denyar-denyar keliaran kreatif di luar sistem, yang justru kontekstual dengan kebutuhan zamannya,” ungkap Seno lagi.

Tak jelas, bagaimana mahasiswa bersangkutan kemudian dapat lulus, tetapi sebagai seorang guru gambar ia mengembangkan konsep pendidikan seni rupa yang jelas melawan wacana pendidikan seni kelompok dominan.

Disebutkan bahwa media seni rupa baginya adalah media dialog non-jenjang, non-hierarkis dan sepenuhnya dikuasai, dihidupi, dibutuhkan, dikembangkan, dikendalikan oleh kepentingan rakyat bawah guna mengungkapkan aspirasi komunitasnya ke arah kemandirian, keadilan dan demokratisasi. Tujuannya adalah memperbaiki nasib dan hak lewat kreasi kesenian.

Mulyono membawa angin segar seni penyadaran | khas

Dalam konsep yang disebutnya Seni Rupa Penyadaran, setiap orang adalah subyek penggubah kebudayaan, sebab jika setiap orang ditempatkan sebagai objek yang pasif, maka setiap orang hanya terbatas dapat melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri maupun kelompoknya; sedangkan sebagai subjek, setiap orang mempunyai potensi untuk berpikir kritis, mencipta dan menguasai media ungkap, yang mudah digunakan untuk berdialog dan menyampaikan persoalan yang dialami masyarakat miskin.

Dalam praktek, bagi kaum nelayan yang tidak mampu membeli alat dan buku gambar, di pasir pantai anak-anak diajarinya menggambar pakai kaki atau ranting, untuk mengungkap kehidupan mereka yang dirundung malaria, maupun dunia yang penuh konflik karena persoalan remeh, seperti berebut selang air.

Dalam kasus Brumbun, Jawa Timur, gambar-gambar yang dipamerkan dan disaksikan bupati, walau dua tahun kemudian, mendorong perubahannya untuk menjadi desa wisata. Perubahan sosial ekonomi telah didorong gambar gubahan anak-anak.

Pemberdayaan masyarakat miskin berarti pula mengubah nasibnya, dan ini hanya mungkin jika masyarakat terlibat di dalamnya. Maka apa yang disebut pendidikan bagi guru gambar ini berlaku sebagai jalan masuk, sebagai tahap awal bagi tujuan akhir pemberdayaan, dalam arti mengubah konstruksi berpikir masyarakat. Pendidikan kesenian dengan begitu tidak terutama untuk mencetak seniman, yang melakukan presentasi gubahan, melainkan melalui seni mengubah masyarakatnya.

Dengan pendekatan partisipatoris, yakni bermukim di kampung-kampung terpencil dan terpinggirkan, yang dianggapnya sebagai pemahaman paling bertanggungjawab, guru gambar ini mengutamakan pendidikan bagi anakanak balita, karena penyadaran masyarakatlah yang diutamakannya. Seni, begitulah,

diarahkannya menggubah manusia. Kerja budaya seperti ini membuat seni tak lagi eksklusif dan elitis, karena pendidikan seni penyadarannya lebih memberi perhatian pada interaksi sosial keseharian.

Fitriani : Penghargaan Akademi Jakarta menambah optimisme, bahwa aktivisme seni akan terus hidup | khas

Jadi menggambar tidak merupakan aksi representasi, melainkan jalur aktivisme yang menangani masalah di tempatnya, melalui kegiatan bersama, dengan membuka kemungkinan penyelesaian yang luput disadari, jika ditangani dari ruang lain. Guru gambar ini mendidik anak-anak agar berpikir dengan bermain, dalam pengertian menciptakan sesuatu untuk digunakan bersama, yang menuju ke suatu tindakan.

Dalam kata-katanya sendiri, “Seni komunitas sebagai gerakan daya hidup, upaya hidup, posisinya berada di pinggiran, bukan pada arus mainstream kesenian negeri ini. Dengan posisi di pinggiran, dia akan ulet dan terus bergulir makin melebar.”

“Nama guru itu adalah Moelyono. Apa yang dilakukannya memperlihatkan persoalan pendidikan nasional hari ini, yang lebih menyediakan peluang bagi sukses individual, kemewahan dan kehormatan, daripada berpihak kepada orang-orang kalah. Posisi yang diambilnya menunjuk terdapatnya padan kuasa kelompok dominan dalam pendidikan nasional, dan perlawanan terhadapnya,” urai Seno.

Hasil yang dicapainya, walau kecil secara kuantitatif, maknanya besar, dan membuktikan betapa sekolah liar di luar sistem adalah perlu, bukan untuk meruntuhkan sendi-sendi pendidikan nasional, tetapi untuk menebus kesalahan-kesalahannya, ketika setiap kesuksesan berdiri di atas kegagalan dan kemalangan para pecundang, dan kemakmuran di satu pihak hanya mungkin dengan pemiskinan lebih banyak orang di pihak yang lain.

Sebagaimana keberlangsungan kebudayaan, apa yang disebut pendidikan memang merupakan salah satu faktor determinan konstruksi kuasa, dalam hubungan-hubungan kuasa tempat berbagai faktor determinan saling mendukung dan berjejaring membentuk sekutu kuasa—yang selalu memberi kita perasaan sedang diawasi, apakah kita itu layak berbahagia atau tidak, berdasarkan standar sosial yang semu.

Betapapun, di mana ada kekuasaan, di sana ada perlawanan, sebagaimana berlangsungnya kebudayaan. Kasus Moelyono menunjukkan betapa posisinya justru dihadirkan oleh kuasa wacana pendidikan seni rupa, ketika Kesenian Unit Desa ditolak sebagai gubahan yang diajukannya.

“Kiranya seorang Moelyono tidak hanya terdapat dalam pendidikan seni rupa, karena Moelyono-Moelyono lain, artinya gagasan-gagasan yang menyeruak: yang kreatif-subversif, tentunya juga terdapat dalam dunia pendidikan ilmu-ilmu pengetahuan lain, dari kehutanan sampai keuangan, dari kedokteran sampai fisika, dari matematika sampai susastra, dari filsafat sampai pendidikan ilmu agama. Dalam semangat itulah Akademi Jakarta memberikan penghargaan tahun ini kepada Moelyono,” pungkas Seno.

Dendang Kampungan, bagian dari Taring Padi. Mengekspresikan aspirasi rakyat lewat musik | khas

Agenda Tahunan Akademi Jakarta

Pada kesempatan penyerahan Penghargaan AJ, Fitriani – wakil dari Taring Padi mengucapkan terima kasih. Ia memandang, penghargaan tersebut sebagai pengakuan atas aktivisme seni yang berangkat dari realitas kehidupan rakyat senyatanya. Hal yang senada juga dikemukakan Moelyono yang menceritakan pengalamannya mengembangkan wawasan seni parsipatoris yang tak berlangsung mulus. Acara petang itu dimeriahkan oleh orkes Dendang Kampungan, bagian dari Taring Padi.

Penghargaan Akademi Jakarta merupakan agenda yang diberikan tahunan  untuk seniman, sastrawan, budayawan yang konsisten memperjuangkan visinya dan berkontribusi atas perkembangan seni dan kebudayaan.

Pertama kali penghargaan ini bernama “Hadiah Seni Akademi Jakarta” yang pernah diberikan kepada WS Rendra (1975) dan Zaini (1977).

Program ini kemudian vakum untuk sekian lama, dan mulai lagi tahun 2003, diberikan kepada Gregorius Sidharta Soegijo (2003), Nano S (2004), Gusmiati Suid (2004).

Tahun 2005 program ini berganti nama dari “Hadiah Seni Akademi Jakarta” menjadi “Penghargaan Akademi Jakarta” yang digunakan hingga kini.

Penghargaan Akademi Jakarta diberikan kepada Retno Maruti (2005), Amir Pasaribu (2006), Raden Pandji Soejono (2006), Tenas Effendy (2006), Sutardji Calzoum Bachri (2007), Slamet Rahardjo Djarot (2008), Putu Wijaya (2009), Taufik Ismail (2010), Rahayu Supanggah (2011), Sapardi Djoko Damono (2012), dan I Gusti Kompiang Raka. (2013), Ratna Riantiarno & Nano Riantiarno (2014), Ali Audah (2015), Trisutji Kamal (2016) Sunaryo (2017), Jim Supangkat (2018), Umbu Landu Paranggi & Yori Antar (2019)

Sejak tahun 2021, program ini menambahkan satu kategori lagi, yaitu untuk lembaga, komunitas maupun kolektif yang tidak hanya bergerak di bidang seni budaya, melainkan juga lingkungan, pendidikan, gerakan untuk kehidupan yang demokratis dan setara, maupun penelitian dan bidang-bidang kajian.

Penghargaan untuk komunitas dan perseorangan diberikan kepada: Masyarakat adat Laman Kinipan & Remy Sylado (2021), Didik Nini Thowok & Komunitas Dialita (2022), kemudian kepada Moelyono & Taring Padi (2023).

Kepada para penerima penghargaan diberikan tanda jasa berupa piagam, natura, dan untuk pertama kalinya mendapat patung gubahan seniman Dolorosa Sinaga, berupa sosok dengan tangan kanan menunjuk ke langit dan tangan kiri menunjuk ke bumi.

Sosok mendekati sempurna mengungkap kesempurnaan penciptaan Sang Maha Pencipta; lingkaran tempat berpijak adalah bumi dan segala isinya, tempat kehidupan sesama manusia; tangan menunjuk ke bumi berarti pembumian kepedulian, gagasan, dan kreativitas yang bermanfaat bagi manusia; tangan menunjuk ke atas menegaskan kedudukan manusia sebagai bagian dari alam semesta. Pertama kali diserahkan sebagai Penghargaan Akademi Jakarta tahun 2021. | fathema

Posted in ARTESTA.