Saya memanfaatkan suasana semesta, salat di beranda villa ini. Mencoba merasakan interaksi dengan Allah dan semesta dalam ritual ibadah yang tenang dan damai. Parapat sendiri merupakan tempat kedamaian dan kerukunan insan dan lingkungan yang sangat indah. Tempat kontemplasi yang pas, khasnya bagi mereka yang sudah melampaui usia enam dekade. Khasnya untuk melakukan introspeksi diri untuk melangkah ke jalan spiritual. Paling tidak, begitu yang saya rasakan.
Nota Perjalanan Bang Sém
Senja berangsur pergi dan malam merambat membawa remang. Saya masih duduk di beranda kamar villa menikmati udara segar. Langit kemerahan terhampar di atas danau Toba yang airnya tenang.
Hutan pinus di tebing-tebing yang menjorok dan mengelilingi danau Toba mulai tertlihat gelap. Di hadapan saya, terdapat perkampungan hingga ‘bibir Toba.’ Nampak menara masjid di kejauhan (keesokan harinya, ketika turun ke tepian danau Toba, baru saya tahu, masjid itu adalah masjid jamik At Taqwa).
Villa di kawasan hotel Niagara tempat kami bermalam, sangat strategis posisinya, dan merupakan salah satu hotel destinasi wisata di Parapat yang berada di wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolong, Kabupaten Simalungun.
Parapat terletak sekira 48 kilometer dari kota Pematang Siantar, merupakan salah satu akses menuju ke Pulau Samosir. Terletak di Jalur Lintas Sumatera bagian Barat antara Medan (Sumatera Utara) – Padang (Sumatera Barat). Kota kelurahan berpenduduk sekitar 9 ribu jiwa lebih ini, terdiri dari lingkungan Bangun Dolok, Buntu Pasir, dan Parapat.
Malam kian merambat membawa remang. Adzan Maghrib kumandang. Suara muadzin memantul dari tebing-tebing, seolah merayap di atas Danau. Adzan nan lirih. Iramanya khas, langgamnya mirip adzan Kashmir. Mengalun hingga jauh. Menggugah rasa batin. Panggilan syahdu.

Sesudut keindahan Danau Toba | semHaesy
Langgam alunan adzan seperti ini yang menggugah saya menulis lirik untuk lagu Hanyalah Dia, yang digubah oleh Prof. Endang Caturwati.
Adzan dengan langgam semacam ini, pertama kali saya dengar jelang salat shubuh di Masjid Baiturrahman – Banda Aceh, tahun 1994, ketika menggelar acara Safari Budaya Nusantara. Sangat indah dan menggugah.
Saya memanfaatkan suasana semesta, salat di beranda villa ini. Mencoba merasakan interaksi dengan Allah dan semesta dalam ritual ibadah yang tenang dan damai.
Parapat sendiri merupakan tempat kedamaian dan kerukunan insan dan lingkungan yang sangat indah. Tempat kontemplasi yang pas, khasnya bagi mereka yang sudah melampaui usia enam dekade. Khasnya untuk melakukan introspeksi diri melangkah ke jalan spiritual. Paling tidak, begitu yang saya rasakan.
Dalam suasana semacam itu saya merasa, munajat semesta dengan rinonce do’a dan rasa syukur yang menghidupkan cinta. Munajat yang menghimpun serta kerinduan kepada orang-orang terkasih yang sudah tiada, juga kepada anak, mantu, dan cucu.

Air Terjun Sipiso-piso di desa Tongging | semHaesy
Saya terus manfaatkan suasana di persinggahan waktu tersebut sambil duduk menggumamkan wirid dan dzikir, hingga malam kian kuat menghadirkan kelam. Hanya cahaya lelampuan bak ‘kunang-kunang’ nampak di kejauhan.
Udara sejuk merasuk ketika saya melangkah ke dalam kamar. Terdengar suara kamar diketuk. Begitu saya buka, nampak sosok Asro Kamal dan Faris. Bersama Prof. Saidin dan Ilham Bintang, mereka akan keluar hotel dan turun ke resto Minang di Perapat. Karena saya harus rehat, saya tidak ikut.
Sambil menggoda dan tersenyum khas, Faris bertanya, saya akan pesan makanan apa. Mereka lantas pergi. Agak malam mereka kembali dengan membawa aneka makanan.. dan air minum dalam kemasan.
Keesokan hari, dalam perjalanan ke Tongging, kami singgah sejenak di air terjun Sipiso-piso yang bentuknya bak pisau runcing. Saya masih masih menyimpan kesan mendalam ihwal adzan maghrib yang lirih itu.
Memperhatikan setiap dinding tebing yang ‘menjepit’ air terjun ini, saya membayangkan suara muadzin yang dilantangkan melalui pengeras suara di atas menara, pantul memantul, sehingga terkesan ‘merayap’ di atas danau Toba.

Penulis dengan latar belakang air terjun Sipiso-piso | dok. pribadi
Hari itu pemandangan danau Toba, termasuk dari point of view lokasi wisata air terjun Sipiso-piso tertutup asap, yang menurut beberapa fotografer di situ, berasal dari pembakaran semak belukar untuk membuka ladang.
Laman web Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, hanya memuat informasi singkat tentang air terjun yang merupakan salah satu objek wisata andalan Propinsi Sumatera Utara. Namun, ekologinya nampak tak terawat baik. Sejumlah gazebo nampak tak terawat, meski setiap pengunjung dikutip retribusi.
Air terjun Sipiso-piso di desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo itu ‘jatuh’ dari ketinggian 120 meter. Air keluar dari salah satu sungai kecil, melewati gua di plato Karo. Indah. Tak jauh beda dengan air terjun yang bisa kita saksikan di kawasan geopark berbagai daerah lain, seperti beberapa air terjun di kawasan geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat. Bedanya, air terjun ini nampak lebih ramping.
Air terjun ini melengkapi keindahan kawasan danau Toba dari sisi lain. Asro nampak serius menggunakan smartphone-nya untuk merekam video air terjun ini. Sejumlah pengunjung, nampak pasang aksi ketika dipotret para fotografer yang memang menjual jasa memotret pengunjung. Faris, nampak berjalan ke sisi lain, ke arah danau Toba, sambil menikmati jagung rebus.
Kami bergegas kembali ke mobil. Saya sempat menyaksikan seorang pedagang, melepas lelah di dalam mobilnya. Di bagian lain, seorang anak dengan wajah lesu, bersandar di tembok penghalang. Ia sedang rehat. Wajahnya mengundang belas.

Musalla Nurmina di Jalan Besar Simarjarunjung | semHaesy
Di lokasi ini beragam kalangan, termasuk pengunjung, membawa hasratnya masing-masing. Terutama menikmati lingkungan Danau Toba yang menampakkan berkah Tuhan, yang perlu dikelola lebih baik.
Kami meninggalkan lokasi air terjun Sipiso-piso, melintasi jalan berkelok, lahan yang sudah dipagari dengan tembok oleh mereka yang ‘menguasai’-nya.
Saya menikmati alam lingkungan itu, seraya membayangkan, bagaimana kawasan ini dulu sebelum terjamah hasrat dan (tentu) kepentingan ekonomi.
Saya juga membayangkan, bagaimana azan kumandang di sekitar danau Toba wilayah Parapat pada abad 19 (sekitar 1850-an), bermula dari Bandar yang berbatasan dengan wilayah Melayu. Boleh jadi bersamaan waktu, dengan masuknya para da’i dari Batu Bara, seperti Toean Sjech Machmoed.
Pula, masuknya para da’i dari Deli dan Serdang, terutama dari Kerajaan Bedagai dan Kerajaan Padang yang berbatasan langsung dengan wilayah Simalungun. Atau, boleh jadi, adzan pertama di kawasan Simalungun, juga Tongging datang bersamaan dengan masuknya pengaruh Kesultanan Aceh di wilayah itu.
Setelah melewati jalan berliku, kendaraan yang dikemudikan Faris, membawa kami tiba di puncak Tongging, persisnya Semalem Resort yang sejuk dan indah… |
