Budaya populer yang berangkat dari seni tradisi rakyat yang disampaikan melalui media massa dan media sosial secara multi media, multi channel, dan multi platform adalah medium sikap oposisi yang “sehat secara politik” dan bertentangan dengan budaya yang dikomersialkan atau budaya massa.
Catatan Haedar Mohammad
Menciptakan mitos diri dengan rekayasa dan membangun citra dalam kampanye politik adalah sesuatu yang lumrah. Namun, seringkali mitos-mitos tersebut bertolak-belakang watak asli yang sesungguhnya.
Eksplorasi mitos diri dengan citra positif yang hendak dibangun, seperti : sederhana, baik hati, merakyat, dan selaras dengan watak kebanyakan khalayak, pada satu titik tertentu, akan sampai ke titik nihil, bersamaan dengan hadir dan mengalirnya watak asli yang kontras.
Penciptaan citra diri yang berlebih dan berkembang sebagai mitos, akhirnya lantak dan luruh begitu saja, ketika disadari dan dipahami sebagai suatu jebakan fantasi (fantacy trap).
Belakangan hari kenyataan demikian menghiasi berbagai media massa, termasuk media sosial. Antara lain, melalui sebagian besar ekspresi pendukung dan penyayang fanatik Joko Widodo (Jokowi) yang terpikat dan terseret ke dalam jebakan fantasi sejak masa kampanye politik Pemilihan Presiden – Wakil Presiden (Pilpres) 2014.
Nasihat para konsultan politik yang mengemas strategi rekayasa citra dan melahirkan berbagai mitos tentang Jokowi, tak lagi mampu menahan luruh dan lantaknya mitos dan citra positif tersebut. Paling tidak, bersamaan dengan peristiwa keputusan Mahkamah Konstitusi yang memberi jalan bagi puteranya menjadi calon Wakil Presiden dalam kontestasi Pilpres 2024.
Apalagi, ketika para konsultan komunikasi politik bagi pasangan Prabowo Subianto dengan putera Jokowi masih bermain dengan siasat kampanye media yang hilang konteks dan tidak sinkron dalam mengelola gimmick.
Pesona Persona Gemoy dan Nandak Bagongan
Khalayak segera melihat, gimmick dalam kampanye politik yang dirancang sebagai cara menutupi berbagai kekurangan dan kelemahan mengartikulasikan gagasan, antara lain dengan menciptakan pemimpin pesona persona ‘gemoy’ dan nandak ‘bagongan’ dari budaya populer.
Secara teoritis, budaya populer, khalayak (konstituen) dan media radikal (khasnya media sosial) saling terkait satu dengan lainnya dalam mengartikulasikan citra populis modes. Namun, menjadi boomerang ketika dihadirkan sebagai core campaign model. Khasnya, ketika khalayak justru sedang dalam keadaan tertekan secara ekonomi.
Khalayak yang semakin cerdas, tak sepenuhnya bisa dihampiri dengan cara-cara taktis membungkus keadaan mereka dengan jalan pintas yang bersifat hanya sesaat. Mulai dari bagi-bagi sembako, susu, makan siang gratis, disertai dengan pesona persona ‘gemoy’ dan nanda ‘bagongan’ yang diharapkan lucu dan mengkaribkan kontestan dan konstituen. Apalagi dengan porsi berlebih.
Dalam situasi berada di tengah tekanan ekonomi, solusi taktis yang sangat bersifat sesaat, sering dianggap para konsultan komunikasi politik sebagai cara jitu untuk merekayasa citra dan menghidupkan mitos. Namun, ketika kemasan berbeda dengan watak asli subyek yang dikemas, hasilnya dapat diprediksi negatif.
Salah satu nasihat lama yang berlaku secara kontemporer adalah, “jangan berikan alasan, apalagi intuitive reason, ketika khalayak (konstituen) sedang memerlukan cara.” Karena, seelok apapun alasan dikemas tak akan menjawab keperluan khalayak mendapatkan informasi tentang cara mengatasi dan menanggulangi masalah secara substantif.

Capres Prabowo nandak Bagongan usai mengambil nomor undian Pilpres 2024 di KPU | khas
Budaya Massa, Budaya Populer
Adalah John Downing (2001) yang mengingatkan, bahwa budaya populer yang dalam banyak hal saling berkaitan dengan budaya massa, mesti diperkuat dengan kesadaran untuk harus lebih akurat memahami budaya populer dalam bentuk jamak. Lantaran khalayak (konstituen) dalam momen-momen dan peristiwa politik yang menyangkut kehidupan jangka panjang, bukan lagi khalayak yang sama dengan target utama pemasaran produk komersial.
Dalam ajang politik, khalayak atau konstituen harus dikenali melalui ‘pengenalan realitas’ yang jernih dan fokus. Hal ini diperlukan untuk memahami dan mengerti apa saja hal yang utama dan diperlukan terhadap dampak media. Dengan demikian, produksi budaya populer yang dilekatkan sebagai citra (bahkan mitos) positif sungguh akan teruji pada realitas sosial.
Apalagi, media alternatif (media sosial), merupakan bentuk paling aktif dari khalayak aktif dan mengekspresikan aliran spirit dan sikap oposisi, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung, dalam budaya populer.
Kata Downing, hal ini merupakan permasalahan mendasar, karena berbagai bentuk media alternatif yang radikal jelas merupakan bentuk ekspresi budaya populer dan oposisi. Memang benar, seperti yang akan kita lihat, perbedaan tajam antara ekspresi media yang radikal dan bentuk ekspresi budaya oposisi lainnya tidak masuk akal.
Melihat kontestasi dalam Pilpres 2024, saya melihat konsultan komunikasi politik Prabowo dan pasangannya, tak tuntas melakukan penelitian obyektif tentang khalayak. Apalagi hanya mengandalkan survei dari lembaga-lembaga survei politik komersial yang lebih suka menyajikan ‘data menyenangkan’ kepada kliennya. Bukan realita dan fakta obyektif yang sesungguhnya.
Jebakan Fantasi
Konsultan komunikasi politik pasangan tersebut, hanyut dengan pemahaman bahwa budaya massa dan budaya populer satu wujud satu nyawa. Padahal, berbeda menurut Adorno (1975) bersama Max Horkheimer, mitranya.
Budaya massa adalah produk industri komersial periklanan, penyiaran, media massa pada umumnya,dan media sosial sebagai wahana penyampaian kebutuhan publik yang palsu, sehingga melemahkan semangat khalayak bertanya dan mempertanyakan. Sebaliknya, budaya populer merupakan ekspresi otentik dari visi dan aspirasi masyarakat, seperti dalam eksporesi kesenian rakyat, dan memiliki potensi oposisi yang melekat.
Budaya populer yang berangkat dari seni tradisi rakyat yang disampaikan melalui media massa dan media sosial secara multi media, multi channel, dan multi platform adalah medium sikap oposisi yang “sehat secara politik” dan bertentangan dengan budaya yang dikomersialkan atau budaya massa.
Ketika produk budaya, seni tradisi atau seni rakyat, seperti ‘joged bagongan’ dihadirkan sepotong-sepotong sebagai medium ekspresi kegembiraan di tengah kehidupan nyata yang pahit, justru menjadi sesuatu yang menyebalkan.
Khalayak, sebagaimana penelitian yang mengidentifikasi respon khalayak sebagaimana dilakukan John Fiske, akan merespon balik dengan parodi dan perlawanan dengan produk-produk kreatif sebaliknya, yang dihasilkan aktivisme khalayak sebagai respon atas situasi sosio ekonomi yang menekan.
Beranjak dari pandangan dalam tulisan ini, saya melihat nasihat konsultan komunikasi politik di balik kontestan Prabowo dan pasangannya justru sedang menuntut menuju bibir jebakan fantasi kampanye politik. |
Foto Cover : Goyang Gemoy Trio Macan – tangkap gambar ProAktif Musik
