Anaa Uhibbullah Titik Balik Kesadaran Imani

“Ketika Anda menemukan cinta, Anda akan menemukan diri Anda sendiri. Ketika Anda memiliki pengetahuan tentang cinta, Anda akan merasakan kedamaian di dalam hati Anda. Berhentilah mencari ke sana kemari, Permata itu ada di dalam dirimu, ini, teman-temanku, adalah makna suci dari cinta.”  | Rumi

Catatan Lain Bang Sèm tentang PPT Jilid 16

Tembang bertajuk Anaa Uhibbullah karya musisi Yovial Virgi yang liriknya ditulis Nasruddin Anshory (Gus Nas) dan dinyanyikan dengan suara asli Cindy Nirmala, menjadi titik balik kesadaran imani kisah anak-anak Punk dalam film serial televisi Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 16, yang ditayangkan SCTV sepanjang Ramadan 1444 Hijriah lalu.

Syairnya merefleksikan kesadaran imani yang dalam tentang Cinta sesungguh cinta : MenghadapMu dalam sejuk sujudku/ Kalbu ini pun terpana/ Dengan apa kubalas cinta dariMu/ Takkan cukup istighfar merindu// Demi mencintaiMu / ku hijrahkan hidup ini/ Dari hulu ke hilir// Ana uhibbullah/ Ku cinta padaMu Allah. / Dekatkan hambaMu dengan indah cinta/ Jauhkan hamba dari tipu-daya// Ana uhibbullah/ Ku cinta padamu Allah/ akan ku serahkan… hidup matiku/ Mencintaimu adalah surga sesungguhnya //

Dalam cerita, lagu dan video clip lagu ini, diminta Isyana (Janis Aneira) puteri Haji Soleh (El Manik) sebagai mahar untuk pernikahannya dengan Sultan Nusantara (King) yang diperankan Renaga Tahier. Keberadaan tembang ini menjadi penting dalam seluruh konteks, dimensi, atmosfer, dramatika, dan pesan moral PPT Jilid 16.

Tak hanya karena keberadaan lagu dan video clipnya akan menentukan, bagaimana dramatika kisah cinta yang kompleks berakhir happy ending dengan pernikahan Haji Soleh dengan Bu Ira (Shahnaz Haque), serta King dan Isyana dalam memori imaji pemirsa. Sekaligus penyadaran dan kesadaran dakwah sebagai misi cinta untuk membawa anak-anak punk : King, Dobleh (Edbert Destiny,) Gembel – Eka Putra (Faiz Vishal,) dan Cupi – Palupi (Cindy Nirmala) ke jalan Tuhan – melalui kerja ikhlas dan tuntas Bang Jack (Deddy Mizwar), Bang Galak (Tio Paku Sadewo), Haji Soleh, dan Pak Jalal (Jarwo Kwat). Dalam satu tarikan nafas, menjungkirkan kerja keras dengan tendensi dan pretensi duniawi Udin Nganga yang tak tertaklukan oleh Asrul Dahlan.

King (Renaga Tahier) dan Cupi (Cindy Nirmala) | vc Anaa Uhibbullah

Deddy Mizwar selaku produser — yang saya pahami juga sebagai line supervisor konten — dan Tito Kurnianto selaku sutradara berhasil — dengan sangat cermat dan hati-hati — mengawal materi cerita yang relatif sensitif ini. Khasnya dialog-dialog terkait mateialisma, agnotisma, perlawanan nilai, pemberontakan atas kemapanan, ekspresi liberalisma, dialektika hal-hal empiris dan non empiris tentang agama dan Tuhan. Termasuk ‘membumikan’ pemikiran filosofis dalam realitas kehidupan yang dipenuhi oleh intuitive reason kaum punk.

Mengangkat subyek sekaligus obyek cerita tentang komunitas punk bukan soal sederhana, meski sudah dilokalisir dengan dimensi ke-disini-an. Sekaligus membebaskan dimensi punk dari silsilah dan presedennya. Tak terkecuali antisedennya yang ditelusuri Greil Marcus (dalam Lipstick Traces), yang membuktikan untuk pertama kalinya,  bahwa kemunculan punk, sebenarnya hanyalah perhentian peralihan dalam sejarah wacana anarkisma.

Punk telah bergerak cepat dari sub kultur ke gaya hidup, dan terekspresikan dalam ekspresi musikal punk rock di abad ke-20. Sesuatu yang dapat ditelusuri kembali melalui Dada, Situationsts, Beat Movement, dan Andy Warhol, dengan analogi yang diambil masing-masing. Punk tak lagi hanya komunitas generasi baru yang “sudah muak dengan norma-norma yang ditentukan di seberang garis kehidupan” mereka di tengah masyarakat, seperti ditulis Sarlo Akrobata.

Punk adalah sikap revolusioner yang eksistensinya terwujud dalam musik yang riuh, lirik yang tegang, dan gaya pakaian seperti kolase yang memberontak terhadap konformitas, otoritas, kemapanan, hirarki kelas, dan merayakan runtuhnya bentuk -bentuk nilai tradisi dan modernitas yang sudah menjadi tradisional.

Gembel (Fais Vishal) dan Dobleh (Edbert Destiny) | vc Anaa Uhibbullah

Adalah menarik — dengan pendekatan yang sama sekali berbeda — dalam PPT Jilid 16, ini skena punk New York dan London sebagai pemrakarsa, dengan pola ideologi yang berbeda ‘ditekuk’ dalam interaksi budaya dan sosial di tengah masyarakat mayoritas muslim, dengan keseimbangan aqidah, syari’ah, muamalah, dan akhlak. Namun, tetap menghadirkan deskripsi visual tentang realitas punk yang terkait dengan musik.

Khasnya konsep musik yang dianggap sebagai seni liberal – postmodern yang didasarkan pada perlakuan ironis terhadap subjek yang terfragmentasi, penghapusan batas antara seni dan musik yang tinggi dan rendah. Karenanya, menjadi seorang punk berarti menjadi seorang bohemian yang bereksperimen dengan bentuk-bentuk kecanggihan baru dengan cara yang berani dan luar biasa.

Dengan cermat, Deddy Mizwar dan Tito menghadirkannya dalam tembang Pesta Punk, yang menjauh dari akhlak dan kemaslahatan sosial. Termasuk dampaknya berupa penghancuran nalar khalayak. Tak hanya diwakili oleh reaksi tradisionalisma religi melalui kegusaran Bang Jack, Haji Soleh, Pak Jalal, Bang Galak, dan Bu Ira. Tetapi — dan terutama – Isyana yang menarik garis pemisah dengan King dan kelompok musiknya (God Less).

Tetapi, bahasa cinta, pola penyadaran aqidah dan akhlak dalam aksi dakwah bil hikmah yang soft, King, Dobleh, Gembel, dan Cupi secara gradual dibangunkan kesadaran imaninya melalui berbagai peristiwa dramatis dengan pola konflik yang dinamis. Termasuk peristiwa-peristiwa meluruhkan kekerasan hati dengan sentuhan cinta yang seimbang (Ilahiah – Insaniah).

Cupi (Cindy Nirmala) dan Isyana (Janies Aneira) | montage khas

Wacana punk tidak dibangun hanya di atas gema masa lalu, dengan citra pemberontakan yang ‘mengancam’ normalitas yang hegemonik. Produser dan sutradara mampu mengendalikan konten melalui dramatisasi cerita dan dramatika pemain dengan menempa kemampuan dramaturgi para pemeran.

Deskripsinya tak hanya beranjak dari persoalan dehumanitas dan geliat postpunk berbasis kepekaan rasa, melainkan latar sosial domestik yang tetap menyediakan persemaian cinta. Dengan peta sosiologis, demografis, dan psikografis kelompok punk dengan lokalitas ke-disini-an, King cum suis dengan kelompok God Less tidak dilepas hanyut mengikuti bingkai musisi punk (seperti Patti Smith, Jayne County, dan Ramones) yang mengembangkan teori estetika melalui suara. Tak juga diseret hanyut ke dalam eksplorasi musikal Velvet Underground dan Suicide. King membubarkan God Less dan mengganti nama band-nya menjadi God Best.

Melalui dialog-dialog cerdas dan merdeka antara dua kubu (ditampilkan secara tangkas oleh King dan Cupi, diekspresikan dengan pas oleh Dobleh dan Gembel, dieksplorasi dengan matang oleh Bang Jack, Bang Galak, Haji Soleh, Bu Ira, dan Isyana) terbuka ruang bagi pemirsa mengikuti alur kesadaran para punkies, kembali ke garis azimuth, jalan cinta.

Di sinilah, jalan cinta menuju titik balik kesadaran imani mendapat momen sangat proporsional. Antara l.ain, masuknya hakikat cinta seperti yang ditransformasikan oleh sufi besar Jalaluddin Rumi. Hal tersebut terasa pada dialog-dialog yang mengemuka dalam percakapan Bang Jack, Bang Galak, Haji Soleh, Bu Ira, dan Isyana dengan King cum suis.

God Best : Dobleh, Cupi, King dan Gembel | vc Anaa Uhibbullah

Agnotisisma punk tentang eksistensialisma dan eksistensi Tuhan, surga, neraka, dan konektivitasnya dengan dunia fana dalam kehidupan sehari-hari kemudian membentang sebagai jalan sufi yang cair. Yakni, jalan cinta.

Seperti yang diajarkan Rumi, “Cinta adalah melihat apa yang baik dan indah dalam segala hal. Cinta adalah belajar dari segala sesuatu, melihat karunia Tuhan dan kemurahan hati Tuhan dalam segala hal. Cinta adalah bersyukur atas semua karunia Tuhan. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan menuju kasih Allah.”

Pada episode 18, dialog keras Isyana dengan Cupi membangun kesadaran tentang hakikat keberadaan lagu, musik, dan cinta dan keterpengaruhannya atas khalayak, menjadi titik penting masuknya pemahaman tentang cinta. Pun, dialog Bu Ira dengan King pada episode yang sama. Juga dialog Bu Ira dengan Haji Soleh, dan do’a Bang Jack tentang kelembutan hati (manifestasi dari latiful khabiir).

Dalam perspektif Rumi, adegan-adegan tersebut menegaskan momen, “Ini hanyalah sebuah benih kasih. Pada waktunya, benih itu akan tumbuh dan menjadi pohon dan menghasilkan buah. Kemudian, siapa pun yang merasakan buah itu akan tahu apa itu cinta sejati. Akan berbeda bagi mereka yang telah merasakannya untuk menceritakannya kepada mereka yang belum merasakannya.”

Bu Ira (Shahnaz Haque) dan Haji Soleh (El Manik) | PPT Jilid 16

Adegan-adegan tersebut, dalam satu tarikan nafas, mengingatkan hakikat, “Ketika Anda menemukan cinta, Anda akan menemukan diri Anda sendiri. Ketika Anda memiliki pengetahuan tentang cinta, Anda akan merasakan kedamaian di dalam hati Anda. Berhentilah mencari ke sana kemari, Permata itu ada di dalam dirimu, ini, teman-temanku, adalah makna suci dari cinta.”

Berbagai adegan pada episode-episode berikutnya, memberi para pemain ruang untuk menunjukkan karakternya, sampai pada apa yang diucapkan Haji Soleh, “Saya bahagia di antara orang-orang yang saling mencintai.”

Dari adegan-adegan yang menjadi simpul cinta sekaligus marka jalan cinta, yang mengemuka melalui bahasa tubuh dan verbal dengan berbagai dialognya antara episode  ditingkah ilustrasi musik yang pas porsinya, itulah formula cinta insaniah bertemu dengan kesadaran cinta ilahiah (kasih dan sayang).

Cinta dengan segala pesona dan dimensinya yang beragam makna, membentuk rasa mahabbah. Romantisme menempatkan cinta sebagai imam, bukan asmara. Di sini, produser dan sutradara berhasil menjaga alur dan atmosfer cerita dalam fase rising moment yang panjang dan penuh makna.

Bang Jack (Deddy Mizwar) dan Bang Galak (Tio Pakusadewo) | PPT Jilid 16

Para aktor dan aktris (Deddy Mizwar, El Manik, Tio Pakusadewo, Ira Wibowo, Doni Damara, dan Shahnaz Haque)  dengan caranya masing-masing, menebar interaksi, sehingga setiap adegan memberi resonansi batin kepada khalayak pemirsa.

Kemampuan akting mereka, terasa menghidupkan kemampuan akting para aktor dan aktris muda berbakat (Cindy Nirmala, Janis Aneira, Renaga Tahier, Edbert Destiny, Fais Vishal). Sutradara dengan seluruh kru, termasuk produser dan tim manajemen produksi (tanpa kecuali tim seleksi saat casting) berhasil menempa potensi bakat mereka, menjadi sesuatu yang real.

Video clip Anaa Uhibbullah dengan suara asli Cindy Nirmala hadir bukan sebagai ‘insert’ dalam keseluruhan adegan. Melainkan menjadi bagian inti yang menggerakkan seluruh kerja kreatif, khasnya akting, bergerak dari rising action ke climax.

Saya mengirimkan pesan singkat kepada Deddy Mizwar, “terima kasih sudah selalu memproduksi film serial televisi dan film yang membangunkan kesadaran imani.” Dan, PPT Jilid 16, dapat menjadi titik balik yang tepat, setelah PPT Jilid 15, menggedor kesadaran awal tentang cinta dan pertobatan. |

Posted in ARTESTA.