Burasak Halimah

Tahun ini, bila kedai burasaknya berkembang terus, Halimah berencana mengambil masa cuti (liburan). Dia ingin ke Jakarta. Selain membayar rindu kepada kakaknya, ia juga ingin belajar mengolah masakan lamang Betawi. Dia menabung, supaya bisa ke Jakarta. “Bila tabungan cukup, saya sudah ambil rencana melancong ke Jakarta,” tuturnya. Sudah lama sekali dia tak jumpa saudaranya

Burasak — di Indonesia disebut burasa (Bugis) dan buras (Sunda) — itu nyaris tak beda rasanya dengan Burasak yang lain. Kenyal dengan rasa santan yang sangat terasa. Cara mengolahnya pun sama dengan burasak yang lain.

Menjadi istimewa karena burasak Halimah, selain berpadu serasi dengan serunding dan bumbu asam pedas khas masyarakat pesisir Parit Bugis – Batu Pahat, Johor.

Burasak Halimah sangat laku dan digemari banyak kalangan, meski di daerah domisilinya banyak kedai menjual burasak, ketupat, lamang, dan nasi lemak.

“Burasak Halimah ditanak dengan keikhlasan dan cinta,” ujar seorang sahabat masa kanak-kanak, pelanggan dan penikmat burasak dengan tekstur lembut itu.

Sejak suaminya wafat dan memulai bisnis Burasak sepuluh tahun lalu,  Halimah melakukannya tidak sungguh untuk bisnis.

Ia memilih berjualan burasak, karena tak punya keahlian lain.

Halimah serius menjalani bisnis burasak, karena dia harus mempunyai penghasilan tetap untuk melanjutkan kehidupan dirinya dan dua anaknya.

Spirit itu yang membuatnya melakukan bisnis itu dengan sukacita. Selebihnya, Halimah terbuka menerima saran dari Sabaruddin, putera sulungnya, yang selalu membantunya membuat burasak selepas subuh.

Itulah modal pertama yang dimiliki Halimah. Keyakinan, bahwa apapun masakan yang diolah dengan keikhlasan dan cinta, akan mengundang selera konsumen.

Bila konsumen puas dan selesa (nyaman), kelak akan menjadi pelanggan.

Halimah bernasib baik, salah seorang familinya, tertarik membantu usahanya. Ia dibuatkan kedai dan tambahan dana untuk menguatkan modal.

Perlahan-lahan, banyak konsumen yang singgah dan menikmati burasak Halimah. Ketika ramadan dan hari raya Idul Fitri tiba, konsumennya bertambah ramai.

Halimah mensyukuri perkembangan usahanya, dengan menguatkan kemauan, kemampuan dan keyakinannya, ditambah dengan berbagai varian menu, sehingga burasak olahannya menjadi produk andalan di kedainya. Begitulah, sampai akhirnya kini, ia mampu berkembang lebih pesat.

“Burasak Mak, istimewa rasanya, sangat khas,” komentar Sabaruddin di akun media sosialnya.

Burasak dalam proses sajian | foto khas

Dalam banyak hal,  saudara yang membantu memberi bantuan modal, juga memotivasi Halimah. Saudaranya itu membuatkan dia rancangan pengembangan usaha. Antara lain, menyokong Halimah mengembangkan gagasan berdasar kebolehannya dalam hal masak memasak masakan leluhur. Halimah dan Sabaruddin, juga dipandu dalam hal promosi burasak dan kedainya.

Kini, usaha kedai makan Halimah dengan menu utama burasak sudah mempekerjakan sepupunya yang lain. Halimah perlahan menjadi motivator dan pemandu usaha bagi para ibu, sepupu-sepupunya dengan berbagai keahlian memasak, termasuk memasak kuih muih.

Halimah memperluas silaturahimnya, hingga beberapa saudaranya yang berdomisili di Muar dan Pagoh, sudah berani juga membuka kedai dengan menu burasak.

Halimah mengatakan, “Burasak ini tak hanya memberi saya uang dan materi untuk terus mengembangkan kualitas hidup saya dan keluarga, tetapi juga silaturahmi dan pengetahuan niaga yang luas.”

Ia setengah berteriak, ketika hendak difoto. “Oooi jangan awak petik gambar saya. Petik gambar burasaknya sahaja,” ungkapnya.

Kepada Sabaruddin, anaknya, Halimah mengatakan, hendak mengembangkan terus kedai burasaknya. Sabaruddin kini bercita-cita berbisnis di industri pangan, bila kelak selesai studi.

Dia tak ingin menjadi kaki tangan kerajaan (pegawai negeri) seperti sepupu-sepupunya.

Halimah senang dengan cita-cita Sabaruddin yang akan meneruskan usaha burasak-nya itu.

Gaya hidup sederhana dan hemat Halimah, juga melekat kuat pada diri anak-anaknya. Bahkan menjadi nilai hidup keluarga yang tidak lepas dari hati mereka.

Halimah tersenyum, aa katakan, kebanyakan orang mencari status selepas suaminya tiada, kemudian mencari suami baru untuk melanjutkan hidupnya. Halimah tak mau seperti itu.

“Bagi saya, hidup dijalani sahaja, sehingga kita bisa menikmatinya sebagai selesa dan puas hati.”

Burasak tak semata hanya produk pangan olahan yang bernilai bisnis. Melainkan bagian dari cara Tuhan menyelamatkan hamba-Nya.

Tahun ini, bila kedai burasaknya berkembang terus, Halimah berencana mengambil masa cuti (liburan). Dia ingin ke Jakarta. Selain membayar rindu kepada kakaknya, ia juga ingin belajar mengolah masakan lamang Betawi.

Dia menabung, supaya bisa ke Jakarta. “Bila tabungan cukup, saya sudah ambil rencana melancong ke Jakarta,” tuturnya. Sudah lama sekali dia tak jumpa saudaranya. |  Syienna

Posted in HUMANIKA.