Jangan Jual Surga Ini

Puisi puisi N. Syamsuddin Ch. Haesy

 

Jangan Jual Surga Ini

Fajar baru merekah

Mentari memancarkan cahaya

Kaki kaki tegap petani

Gegas melangkah

Sepanjang pematang

Lumpur sawah menyediakan hampar sajadah

Jemari petani menanam benih rangkaian ibadah

Peluh menggelontorkan keluh

Pada setiap benih yang ditanam

Selalu tersimpan hikmah

“Jangan sia-siakan surga ini !”

Di sawah ini kita tanam benih

Meski yang kita punya hanya setelempap saja

Di sawah ini kita tanam harapan

Meski mata-mata kaum lapar lahan

Terus mengintai

Mencari celah di balik tirai kemiskinan

Jaga sawah kita

Jaga lahan kita

Jangan biarkan lepas dari tangan !

“Jangan sia-siakan surga ini”

Matahari bergulir menebar hikmah

Kita duduk di sudut dangau

“Jangan pernah jual surga ini”

Karena di hampar sawah sedikit ini

Masih tertanam kedaulatan kita

Ingat.. ingatlah pesan Yang Utama

Haji Omar Said Tjokroaminoto

Kaum tani adalah khaira ummah

Menegak kemuliaan di atas tanah

Menegaskan kemuliaan orang-orang merdeka

Mengolah tanahnya sendiri

Maka peliharalah sawah-sawah kita

Hamparan sajadah bagi ibadah kita

Maka peliharalah sawah-sawah kita

Di sini kita tanam kemuliaan ilmu pengetahuan

Di sini kita beri makna teknologi

Di sini kita semai jiwa kita

Jiwa kaum Syarikat Islam

Penyubur utama pohon ke-Indonesia-an kita

“Jangan sia-siakan surga ini !

Jangan pernah jual surga ini !”

Cisaranten, November 2019

 

H. Thayeb M. Gobel dan radio Cawang | khas

Lukisan Pohon Pisang Itu..

[ Mengenang Allahyarham H. Thayeb M. Gobel ]

 

Lukisan itu sederhana. Dilukis entah oleh siapa. Jantung pisang menggantung di pohonnya.

Senyum lepas menyertai lukisan itu ketika berpindah ke tanganku, dari tangan orang ternama.

Tuan Thayeb Mohammad Gobel.

Lukisan itu mengkaribkanku lagi dengan Al Qur’an. Tak hanya soal regenerasi. Pun tak hanya soal keberanian bertumbuh.

Tapi keberanian mewujudkan hakikat:

“Hairun naas anfa’uhum lin naas.”

Sebaik-baik insan adalah yang paling banyak manfaat bagi khalayak.

Tuan Thayeb Mohammad Gobel

Pesona amsal pohon pisang bagi kaum Syarikat Islam.

Batangnya adalah lapisan-lapisan kaum beragam budaya.

Mempersatukan faham, tujuan dan ikhtiar umat.

Perlambang persekutuan-persekutuan korporasi berkait nilai atas tanah dan manusia.

Menggerakkan kreativitas dan inovasi. Memberi nilai atas industri, teknik, dan niaga.

Pelepah, jantung dan buahnya, perlambang kesadaran pemuliaan atas manusia.

Menggembirakan kaum pekerja penerima upah dan kaum mandiri: petani, nelayan dan pedagang.

Menghidupkan kecerdasan, ketangkasan, dan kemurnian laku cendekia dan politisi.

Lukisan pohon pisang itu mempengaruhi nalarku.

Menghidupkan nalar, nurani dan rasa ‘tuk memahami hakikat

“Melayani itu mulia.”

Kuungkap dengan mesin tik tua pada malam

setiap jelang tiba tenggat segala ihwal.

Tentang cara memaknai modal, membaca pasar, mendulang peluang di sela kesahihan data dan kefasihan informasi.

Lukisan pohon pisang tua dengan jantungnya itu

Lembaran kitab kehidupan. Tak selesai kubaca.

Hingga tiba masa kusaksikan gerak gerik puteranya.

Berdiri egaliter dalam sikap kosmopolit.

Pada petang, kala dingin mendekap Osaka.

Pada tengah hari, kala hakikat sejarah sungguh bermakna di Kadoma.

Lukisan pohon pisang itu terbayang lagi.

Ketika puteranya, dengan senyum khas seperti ayahnya.

Berbincang dalam kehormatan

dan penghormatan dengan sesama kaum tujjar

Kutemukan tariqah siyasah syi’ar muamalah

Daya mandiri kaum Syarikat Islam menggapai

sebesar-besar kekayaan umat untuk insan sesama.

Osaka, Februari 2013

 

Haji Agus Salim | khas

Tuan Haji Agus Salim

di zaman sungsang

ketika agama tak lagi jadi panduan

dan kesadaran kebangsaan

hanya jadi bunga kata di pulasan bibir

kala ideologi tak lagi penting dalam laku politik

kala Sumpah Pemuda diabaikan dan sumpah serapah pemuda

berbuncahan di telaga peradaban

kami rindu engkau

Tuan Haji Agus Salim

kami tercenung dalam hening di malam kelam

membaca sejarah silam

yang selalu cenderung hendak ditafsirkan ulang

kami rindu hadirnya sosok pemimpin

sebagaimana Tuan

bergerak dalam kesadaran kala belia

memancang palka masa depan

di hari-hari seputar kongres pemuda tahun 1928

kala Tuan menggerakkan Jong Islamiten Bond

kami ngembara ke masa silam

nelisik lembaran kusam sejarah

menemukan kembali ruh kemuliaan

ketika dasar negara dan konstitusi dirumuskan

kami rindu keberadaan Tuan

tidak untuk kembali ke masa lalu

kami ingin meminjam sedikit cahaya kecendekiaan

dan kejernihan akal budi Tuan

untuk terangi jalan kebangsaan yang terus redup

kami ingin meminjam ketangkasan Tuan

bertegak sebagai nahkoda, bertegas-tegas dalam sikap

tanpa kehilangan arah tujuan

kala kapal seringkali oleng dihempas topan

barat dan utara, dari timur dan selatan

Tuan Haji Agussalim

di zaman yang sungsang

kami ingin mengulang cerita terang benderang

ihwal ikhtiar Tuan di dunia internasional

beroleh pengakuan atas daulat Indonesia merdeka

Tuan telah teladankan di awal kemerdekaan

Dunia Barat, Timur Tengah, Asia dan negara-negara lain

mengakui eksistensi Indonesia sebagai bangsa berdaulat.

Kami ingin kecendekiaan Tuan tentang Islam dan kebangsaan

tentang modernisma dan kemurnian tauhid jadi rujukan

kala akademisi kian rimbun, tapi tak mengubah

kerontangnya kecendekiaan

Tuan Haji Agus Salim, kami rindu Tuan.

Jakarta, 30 Oktober 2019

 

Future Image | khas

Renung Masa

akan tiba masa

orang-orang berakal kehilangan nalar dan akalbudi,

membenam diri dalam autisme sosial,

mendahulukan perdebatan selilit di sela gigi

tanpa bisa mengendus bau

yang berembus dari mulut mereka.

akan tiba masa kepekaan penciuman dan rasa hilang

dan mata menjadi samar memandang sesungguh fakta

dan menafsir segala peristiwa

dengan presumsi yang dibayangkan sebagai kebenaran.

akan tiba masa orang-orang merendahkan dirinya

dengan menepuk dada dan mempertontonkan kuasa

yang terbungkus pencitraan

yang sesungguhnya hanyalah selongsong

yang ditinggalkan isinya.

akan tiba masa berjuta-juta orang

menambah bilangan pemakan jenazah saudaranya sendiri

dan menikmatinya dengan lahap,

sehingga lupa adzab mengetuk pintu kediamannya.

ketika itu.. akan di manakah kalian, saudaraku?

sedang apa dan bagaimana?

 

Bandung, Februari 2019

Posted in LITERA.