Menyimak Musik Karya Suhendi Afryanto untuk Tari “Purbasari Purbararang”

Catatan Bang Sèm

Suhendi memasukkan syair filosofis dengan berbagai simbol sebagai telangkai – menghubungkan jarak ‘pandang’ dengan ‘dengar.’  Syair yang terdengar berbunyi : kembang melati sebagai ekspresi kesucian dan harumnya amanah; wong becik ketitik, wong ala ketara’ pernyataan hukum alam, yang baik nampak – yang jahat kelihatan; gedong anyar, kuncen anyar.., dan tutup kayon.. bersublimasi dengan alunan suling disambut deru pawana dan ritme gamelan.

 

Salah satu pengalaman melakukan kolaborasi kreatif seni di masa pandemi yang saya alami, mengisyaratkan perlunya energi besar untuk melakukan harmonisasi – sèmak imbang — suatu karya yang mengalami konvergensi media dari seni pertunjukan murni ke dalam format audio visual dengan platform yang hasil akhirnya adalah auvi multifungsi.

Pengalaman itu saya rasakan saat melakukan penyuntingan auvi – pandang dengar – tari Purbasari & Purbararang karya Endang Caturwati. Suatu karya yang disiapkan untuk kepentingan webinar internasional tentang topeng (International Webinar on Mask of Global Society and The Dance of Maestro – 15/8/20) dengan durasi pendek.

Dalam proses desain kreatif, relatif tidak ada masalah. Sebagai guru besar seni pertunjukan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung berbasis ilmu karawitan, tari (termasuk sebagai penari dan koreografer), dan sejarah, Endang mempunyai  pengetahuan dan pengalaman yang panjang.

Perdebatan agak pelik baru muncul, ketika materi visual tari Purbasari & Purbararang, saya terima. Saya meminta dilakukan pengambilan gambar ulang, karena ada bagian-bagian dari rekaman video itu yang datar, tak mengeksplorasi pesan esensial tari itu tentang suksesi kepemimpinan. Padahal tarian ini ditarikan oleh dua guru besar (Endang dan Een Herdiani – yang juga Rektor ISBI).

Endang bertahan dengan prinsip-prinsip pokok seni tari, sedang saya bertahan dengan prinsip-prinsip audio visual, yang selain mesti medium size, dynamic, dan synchronize, terutama ketika produk akhir akan dipublikasikan dalam media beragam platform. Saya tidak memandang produk audio visual sebagai media baru, dan bertahan pada prinsip, media audio visual – termasuk film – adalah citra begerak dan merupakan bagian seni rupa secara menyeluruh.

Setelah agak lama berdiskusi melalui sambungan telepon, akhirnya tercapai kesepahaman, ketika kami sama berpegang pada musik hasil komposisi Suhendi  Afryanto yang memasukkan efek suara dan lirik filosofis dengan ritme yang terjaga, sebagai faktor ‘penggerak’ tari.

Berangkat dari basis musik, itulah dimensi mind and soul, menghantar seluruh produk kreatif tari ini, mesti menghadirkan artistika, estetika, etika secara integral. Termasuk menjadi medium penyampaian pesan filosofis dari komposisi musiknya.

Suhendi Afryanto – bicara pendidikan musik dalam Hari Musik Nasional

Belakangan, Endang dan saya memberi perhatian khas pada basis konsep musik ilustrasi yang karya Suhendi Afryanto, ini. Sebagai komponis kontemporer berbasis karawitan Sunda, Suhendi terbilang konsisten dalam pengembangan instrumentasi gamelan Sunda, yang tak terbatas pada organologi dalam komposisinya. Termasuk dalam memasukkan anasir-anasir musikal alam, seperti pawana.

Dalam komposisinya untuk tari Purbasari & Purbararang –yang menghadirkan tari topeng Cirebon berlatar cerita legenda Sunda — anasir pawana yang serasi dengan sound berkarakter  inner base manusia (nalar, nurani, rasa) yang juga menjadi basis kreatif Endang dalam merumuskan bentuk dan komposisi gerak sesuai skenografi yang disiapkannya.

Suhendi juga menempatkan musik gamelan Sunda dalam komposisinya, bukan sekadar sebagai musik latar, karena fitur musiknya ‘berdialog’ dengan pola dan komposisi gerak tari.

Ritme dan melodi berinteraksi seimbang lewat musik gamelan dan suling, juga gendang, sebagai ‘panduan gerak.’ Watak Purbasari dan Purbararang yang mewakili watak Panji dan Kelana dalam topeng Cirebon, mendapatkan ‘ruh’ atau spirit batin, ketika metalofon saron hadir sinergis dengan suling dalam komposisi.

Di tangan Hendi, musik gamelan — yang telah berabad-abad menjadi sistem keseimbangan ritme dan melodi — hadir penuh memberi daya dramatik yang menguatkan dramaturgi gerak tari, menggantikan dramatisasi artifisial, karena satu-satunya sumber tata cahaya adalah matahari, dan properti set tarian adalah alam asli hutan pinus. Ini yang memantik saya menjadi rewel dalam konteks visualisasi videotik-nya.

Apalagi, ketika mendengar dan menyimak komposisi musik Suhendi dan pola koreografi Endang pada tarian itu. Endang mengubah narasi cerita dengan segala pesan filosofinya tentang suksesi kepemimpinan, penyerahan kekuasaan kepada manusia berkarakter Panji, selalu ada upaya dari kalangan manusia berwatak Kelana yang berusaha menghambat.

Suhendi memasukkan syair filosofis dengan berbagai simbol sebagai telangkai – menghubungkan jarak ‘pandang’ dengan ‘dengar.’  Syair yang terdengar berbunyi : kembang melati sebagai ekspresi kesucian dan harumnya amanah; wong becik ketitik, wong ala ketara’ pernyataan hukum alam, yang baik nampak – yang jahat kelihatan; gedong anyar, kuncen anyar.., dan tutup kayon.. bersublimasi dengan alunan suling disambut deru pawana dan ritme gamelan.

Salah satu adegan tari Purbasari & Purbararang

Pesan dalam seluruh rangkaian gerak pada tari Purbasari & Purbararang menegaskan, bahwa koreografi dan dramaturgi terkait konsisten dengan pesan simbolis bahasa dan retorika tubuh, yang dinamikanya menjadi sesuatu yang dramatis, ketika musik mengartikulasikannya.

Interaksi musik karya Suhendi dengan gerak rekacitra karya Endang mengingatkan kita tentang pentingnya transmisi nalar, nurani, rasa, dan dria dalam keseimbangan musik dan gerak dalam presentasi kreatif tari sebagai seni pertunjukan.

Komposisi kontemporer berbasis musik tradisi yang disinkronkan dengan teknologi efek suara, serta diperkuat oleh pesan filosofi kehidupan akhirnya mempertemukan ruang adaptasi kreatif penciptaan karya seni dengan berbagai nilai, norma, dan komponen estetik dalam ritual-ritual tradisional yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Komposisi musik Suhendi dalam Purbasari & Purbararang, ini berbeda, misalnya dengan komposisi karyanya yang menjadi basis tari virtual Munajat Tubuh.

Dalam konteks konvergensi pertunjukan tari dari medium realis ke medium visual – virtual yang membuka ruang pengembangan gagasan hibriditas, lintas disiplin dan otonomi kreator dalam praktik kreatif, meminjam ungkapan Jonathan Burrows (2010), perlu menemukan titik temu gagasan baru dalam ruang konvensi yang mungkin sudah terkontaminasi.

Suhendi berhasil mengambil gagasan Endang yang beralih dari narasi menjadi gerak tari, dan menghadirkannya sebagai telangkai fungsional melalui aksentuasi bahasa musikal yang pas.  Kolaborasi kreatif semacam ini, perlu terus dilakukan untuk tetap menjaga posisi karya seni tetap berada di ruang realitas kedua dari realitas pertama kehidupan. |

 

Posted in ARTESTA.