Batok Bulu Eusi Madu

Inggai situlu-tulung lao di apiangan, mappepondo’I inggannana adaeang, alesei adaeng, tinro’I apiangan, situlu-tulung paratta rupa tau. Mari kita tolong menolong dalam kebajikan, membelakangi seluruh kejahatan. Hindari kejahatan, kejar kebaikan, tolong-menolonglah antar sesama manusia.

 

sèm haèsy

Saya tidak punya kapasitas untuk berharap – apalagi memaksa – semua orang percaya pada keberadaan Covid 19. Ilmu palemburan atau kampongologi — begitu saya meyakini — yang saya pelajari tak pernah usai, memandu, untuk sampai ke simpul keyakinan, kudu melalui proses uji kebenaran atas fakta.

Paling tidak, dari ilmu palemburan mengingatkan saya tentang beberapa hal asasi. Antara lain:  Boga panon ulah satempo-tempona – punya mata jangan selihat-lihatnya. Berlakukan prinsip uji kebenaran atas fakta dengan berbagai indikatornya. Boga ceuli ulah sadèngè-dèngèna – punya telinga jangan sekadar mendengar. Perlu uji informasi melalui proses verifikasi dan klarifikasi.

Dengan kebenaran yang meyakinkan melalui proses uji fakta, data, dan informasi, tak pula sembarang menyatakan kebenaran yang kita yakini. Apalagi sekadar copy paste yang lantas menjadi virus baru Covid (Confused of Verbal Information Destructive) 20 yang mudah nèpa (viral) berupa wadul alias hoax atau fake information. Prinsipnya jelas, nyaur kudu diukur-ukur, nyabda kudu diunggang-unggang, artinya bicara setelah mikir (dengan pertimbangan masak), menyatakan pendapat mesti menimbang dampak yang bakal ditimbulkannya.

Ilmu palemburan atau kampongologi, memandang penting prinsip-prinsip dasar tersebut uji kebenaran dan pola komunikasi sosial tersebut. Karena, sebagai manusia yang diberikan perangkat keseimbangan menjalani hidup — berupa nalar, naluri, nurani, dan rasa – setiap manusia mesti memiliki batok bulu eusi madu, kecerdasan yang baik – cerdas sekaligus bijak dalam harmoni skill dengan wisdom, agar perkembangan sains dan teknologi menjadi manusiawi.

Saya meyakini, setelah mencoba menelusuri perjalanan panjang peristiwa-peristiwa pandemi dan endemi, sejak masa Rasulullah Muhammad SAW di Madinah, lalu Black Death, dan berbagai virus lainnya sampai pandemi nanomonster Covid-19.

Usai takziah dan pengajian virtual terkait wafatnya istri seorang sahabat, Selasa (13/7/21) malam, saya berbincang dengan Prof. Thib Raya dan teman lain.  Kita sama meyakini, keberadaan nanomonster Covid-19. Wabah itu ada dan sedang menyerang kita saat ini.

WHO — apapun alasannya — tak sembarang menyatakan pandemi global Covid-19. Di Indonesia, fakta menunjukkan, sejak Maret 2020 ribuan orang terdeteksi ketepaan, banyak yang dirawat, banyak yang pulih kembali dan sembuh, banyak juga yang wafat.

Dengan prinsip batok bulu eusi madu, kita dihadapkan oleh fakta yang bisa diuji kebenarannya kapan saja, bahwa pandemi nanomonster Covid-19 adalah realitas dan tidak dengan serta-merta harus dikatakan sebagai ‘plandemi.’

Soalnya lagi tinggal bagaimana pemerintah mengambil langkah penanggulangannya secara keilmuan dan spiritual. Dari sisi keilmuan, perlu penelitian intens tentang virus itu sendiri dengan segala varian dan pola mutasinya. Sekaligus bagaimana mencegah dan mengatasi perluasannya. Di sini para ilmuwan – cendekiawan mesti memainkan peran strategisnya secara nyata. Khasnya pada epidemiolog.

Prof. Dr. Thib Raya – Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah | semHaesy

Dari berbagai perkembangan realitas dunia, antara lain semakin menurunnya daya dukung alam, perubahan iklim, pemanasan bumi, penyempitan ruang planet bumi, mencairnya gletser, anomali musim, yang disebabkan, antara lain, oleh alih fungsi lahan berlebihan yang menimbulkan deforestasi (baik melalui penebangan atau kebakaran hutan), tata kelola penambangan yang buruk, dan aksi lainnya banyak persoalan yang harus dihadapi di abad ke 21.

Persoalan-persoalan tersebut antara lain : menaklukkan pandemi dari hulu ke hilir (mencegah kerusakan berlanjut, memulihkan dan konservasi ekologi – ekosistem); membalik kemiskinan; menjaga keseimbangan skill dan kearifan; dan, merancang peradaban baru. Termasuk pengendalian singularitas terkait dengan kebiasaan baru internet on think dan berkembangnya artifisial intelligent; dan melayari transhumanisma yang berkembang bersamaan dengan kemampuan rekayasan genetik, pergeseran pola konflik global dari perang ideologi – proxy war, ke biological warfare – yang berujung pada kehancuran manusia dan semesta. Tak terkecuali mengembangkan sistem universe properity berbasis alam di lpangan ekonomi, menggantikan kapitalisme global yang terbukti merusak dan memelihara ketimpangan hidup antar manusia. Khasnya dengan mesin riba yang nyaris tak terkendali.

Secara spiritual  – merujuk pada pandangan Prof. Thib Raya, para ilmuan dan cendekiawan muslim, amat sangat perlu mendalami hakikat wabah thā’ūn yang terjhadi di Syam (Syria) pada masa Rasulullah Muhammad SAW yang gejalanya sama dengan Covid 19 symptoms. Guru Besar bahasa Arab di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Banten – yang mendalami hadits. Khasnya terhadap ikhtiar spiritual yang dilakukan Rasulullah.

Prof. Thib mengemukakan, dalam suatu hadits riwayat Ahmad, Rasulullah diuraikan kekhawatiran Rasulullah akan masuknya sisa-sisa penyakit thā’ūn – dengan gejala yang sama dengan gejala Corona — itu di Madinah. Rasulullah sendiri berdo’a, memohon kepada  kepada Allah agar masyarakat kota Madinah terhindar dari wabah thā’ūn itu.

Salah satu strategi Rasulullah adalah menerapkan total lockdown, yaitu  tidak mendatangi tempat yang sudah terkena (episentra) wabah, tidak meninggalkan tempat kalau wabah sedang melanda di tempat kita, dan jangan melakukan kontak jasmani dengan penderita penyakit thā’ūn – penjarakan fisik dan sosial. Dari sumber lain juga diperoleh informasi, pemanfaatan herbalia – habatussauda, madu, dan lainnya.

Secara spiritual, secara khusus Rasulullah memohon kepada Allah agar Kota Madinah tidak kemasukan penyakit itu, dan masyarakat Madinah aman dari penyakit tersebut.

Doa Rasulullah itu dapat dilihat hadis riwayat Ahmad bin Hambal yang menjelaskan, “Abu Abdillah menceritakan kepada kami bahwa dia pernah mendengar Sa’d bin Malik dan Abu Hurairah,  berkata bahwa Rasulullah pernah berdoa, dengan doa berikut: “Ya Allah berkatilah penduduk Madinah dan Kota Madinah, berkatilah mereka dalam ukuran dan takaran mereka, dan berkatilah mereka dalam literan mereka. Ya Allah. Sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu dan kekasih-Mu, dan sesungguhnya aku juga adalah hamba-Mu dan utusan-Mu. Sesungguhnya Ibrahim telah meminta kepada-Mu untuk kebaikan dan keselamatan penduduk Makkah, dan aku sesungguhnya juga meminta kepada-Mu untuk kebaikan dan keselamatan masyarakat Madinah dan Ibrahim telah meminta kepada-Mu segala sesuatu yang sama dengan itu. Sesungguhnya kota Madinah dilindungi (dikurung) oleh para malaikat dengan jaring, di setiap pintu masuk kota Madinah ada dua malaikat yang menjaga sehingga penyakit thā’ūn, itu tidak dapat memasukinya, tidak pula dajjal dapat memasukinya. Barangsiapa yang menginginkan kejahatan untuk kota Madinah, maka dia akan hancur bagaikan hancurnya garam ketika dimasukkan ke dalam air.” (HR. Ahmad)

Gubernur Anies Baswedan menghidupkan prinsip kolaborasi. Atasi Covid-19 bersama | FB ARB

Total lockdown adalah pilihan. Disiplin untuk menjalankan prosedur kesehatan secara syari’at adalah keharusan. Perawatan, pengobatan, dan pemulihan adalah niscaya. Akan halnya kematian sebagai takdir, nilainya syahid. Di balik semua itu tersampaikan pesan, bahwa menghadapi wabah, jangan panik, tidak juga menantang.

Persoalan-persoalan muamalah yang ditimbulkan (resesi ekonomi dan ikutannya) kembali berpulang pada garis aqidah, bahwa hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan manusia. Syari’atnya, ikhtiar. Kesemua itu diikuti dengan perubahan pola dan gaya hidup yang mengacu pada akhlak mulia – termasuk akal budi di dalamnya – dalam konteks hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.

Dalam kecerdasan dan kearifan Mandar, kata kuncinya adalah kesadaran diri dalam memahami konstelasi manusia dan budayanya pada semesta, “Alawe membolong di nawang, nawang membolong di alawe, alawe membolong di akkeadang, akkeadang membolong di alawe, alawe membolong di atuang, atuang membolong di alawe.”  Diri manusia merupakan bagian dari semesta (sama diciptakan Tuhan),  alam merupakan bagian dari diri manusia, diri manusia adalah bagian dari adat istiadat (sistem sosial),. sistem sosial berpangkal diri manusia, diri manusia adalah bagian dari pribadinya sendiri dan diri pribadi manusia adalah bagian dari keinsaniannya.

Kesadaran ini merupakan  tuntunan untuk melakukan aksi yang dalam konteks pilemburan – kampongologi Sunda, disebut sebagai ulah bengkung bekas nyalahan, keberhati-hatian dalam melakukan aksi (mulai dari rancang pemulihan) agar hasilnya tidak akan sia-sia.  Eksekusinya dimulai dari diri sendiri, ibda’ bi nafsik –  ulah elmu ajug, seia sekata, satunya kata dalam perbuatan.

Hal ini merupakan prinsip asasi sacangreud pageuh sagolek pangkek, yang terbebas dari pikiran dan laku buruk ulah gindi pikir belang bayah (jangan memiliki pikiran buruk atau dengki kepada orang). Modal utama dalam menghidupkan kolaborasi (berpangkal partisipasi, berorientasi sinergi), disangga oleh kesadaran kudu leuleus jeujeur liat tali, bahwa hidup itu harus kuat, jangan menyerah sekejap pun dalam menanggung beban sebarat apa pun. Dalam ilmu Mandar, dikenal seruan, Inggai situlu-tulung lao di apiangan, mappepondo’I inggannana adaeang, alesei adaeng, tinro’I apiangan, situlu-tulung paratta rupa tau. Mari kita tolong menolong dalam kebajikan, membelakangi seluruh kejahatan. Hindari kejahatan, kejar kebaikan, tolong-menolonglah antar sesama manusia.

Di tengah situasi kritis pandemi Covid 19 kini, inilah yang harus dilakukan. Atasi dengan merujuk pada ilmu pengetahuan, aksi spiritual, dan aksi sosial tolong menolong dalam kebajikan. |

Posted in LITERA.