Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM dan Sori Siregar dalam Puisi Gus Nas

H. M. Nasruddin Anshoriy CH [ GUS NAS ]

NEGERI PUISI

Kepada SCB

 

Di negeri puisi tak ada pohon duri

Kasih dan doa bertahta

Salam dan sunyi menyemai jiwa

Diri yang Fitri

Mewakafkan cintanya

 

Di negeri puisi

Mutu manikam jiwa memendar di langit

Berkilau di bumi

Di kedalaman ruh

Kejahatan kata-kata punah

Luka pada puisi tiada

 

Aksara demi aksara gagah berdiri

Sama tinggi

Kalimat demi kalimat lumat

Dalam kasih setara

Menyalakan suluh dan bara

 

Di haribaan Kalam Sejati

Kelam beranjak pergi

Sajak mengucap sejuk

Yang Maha Diksi hanya Ilahi

 

Di negeri puisi

Pantun mengucap santun

Gurindam menghalau dendam

Syair tak lagi mencibir

Kalam Suci mengalir

Bermuara di Mihrab Hati

 

Sujud kata-kata berlinang Cahaya

Sembah syahadat

Bertahmid mengucap Sunyi

 

Allahul Kafi tulisku

Robbunal Kafi sapaMu

Di negeri puisi tak ada lagi fitnah menyampah

Kerak dan daki kotoran benci

 

Gus Nas Jogja, 24 Juni 2021

 

ZIKIR SAMUDERA

Untuk Abdul Hadi WM

 

 

Berderai debur ombak

Berdarah-darah zikir ini

MenyapaMu

 

Wahai Zat yang melesat kilat

dalam langit taubat

Lenyapkan aku dengan

dentuman rindu

Satu kali saja

Ledakan ampunanMu

 

Pada gelombang pasang

sujud sembahyang

Gairah terindah

desah jiwaku

Kupinta pintuMu kubuka

 

Di gerak gemulai

gelombang samudera

Telah kugelar tikar istighfarku

Dalam hangat attahiyat

Pada peluk suluk

para perindu

 

Kugelar orkestra

jutaan doa

Kurayakan zikir samudera

Hingga ke dasar

karang kerinduanku

 

Tak lagi kuminta

kata-kata

Pada para penyembah puisi

Tak lagi kuharap

rindu-rindu

Pada berhala di diriku

 

Seluruh tengik dalam sajakku

Seluruh nyinyir dalam

syairku

Telah kuceburkan dalam

Laut ampunan itu

Samudera zikir

 

Yang membersihkan

zakarku

Samudera zikir

 

Yang menjernihkan

pikirku

Samudera zikir

 

Yang menyucikan

cintaku

Kun!

 

Gus Nas Jogja, 24 Juni 2021

Selamat Milad ke-75

 

 

JAKARTA HAMIL TUA

 

Menyusuri bantaran sungai Ciliwung

Aku melihat keringat mengalir deras

Mengguyur rindu pada sesak nafasku

 

Kota siapa ini

Bergegas di antara puing-puing duka

Bergumul dalam deru nafsu

Telentang tanpa busana

 

Seusai diperkosa bersama

Keringat Jakarta membanjir di bola mata

Menjelma air mata dalam riuh luruh

Derai duka dimana-mana

 

Jakarta hamil tua

Di Taman Suropati Malam ini

Aku menangis tak henti-henti

Tengadah dalam duka dan doa

Memeluk Jakarta

 

Kutanya pada biru lebam gurindam

Kutanya pada seloka luka

Kutanya pada lekuk kutuk syahwat menderu

 

Jakarta hamil tua

Berjalan sendiri di rawa-rawa

Dikepung asap polusi dan kerak jelaga

Mencari cinta yang setulusnya

 

Esok atau lusa

Jakarta akan melahirkan

Dengan ketuban keruh

Atau cipratan darah di jalan raya

 

Gus Nas Jogja, 22 Juni 2021

Merayakan ulang tahun Ibukota

 

TITIK TEMU

Ode buat Sori Sutan Sirovi Siregar

 

Kutemukan titik temu

Pada arus dan aras waktu

Bukan dalam cerita pendek kehidupan

Tapi pada ziarah panjang  kesunyian

 

Medan yang melahirkanmu

Adalah Medan Perjuangan

Menjadi Batak yang punya watak

Menulis sastra agar hati sehalus sutera

 

Di Puri Kembangan kita pertama bersua

Rumah yang ramah

Keluarga yang memuliakan cinta

 

Kujejaki kisah-kisah risaumu

Pada riuh resah

dan nyeri yang tabah

Jadilah karya mendedah luka

 

Di bawah pohon Jambu

Daerah Slipi di masa lalu

Kau dan aku menembus bisu

Di Balai Budaya jalan Gereja Theresia

Kata-kata itu kini sebatangkara

 

Gus Nas Jogja, 21 Juni 2021

 

SISI LAIN JAKARTA | Suasana malam di Ancol. Foto dok.eCatri

AKU MENCINTAIMU, JAKARTA

 

Aku mencintaimu, Jakarta

dengan rasa cemas dan gemas

Mengganas meremas dada

 

Jakarta kenapa dusta?

Vonis kepagian ini mengetuk meja hijauku

Kuketik kutuk atau kutulis tangis sama saja

Jakarta kenapa dusta?

 

Menatap lidah api di puncak Monas

Memperpahit secangkir kopi

Hitam dan tanpa susu

Pada bait-bait puisi

 

Kuseruput panas Jakarta

Mendidih lidahku

Kumuh bongkaran Tanah Abang

Bau amis di Kalijodo

Kini menjelma ribuan kupu-kupu

 

Yang tak berubah hanya Senayan

Gedung kura-kura berkubah hijau itu

tetap tengkurap seperti dulu

 

Juga suara merdu di dalamnya

Tak jauh beda dengan zaman orde baru

 

Aku mencintaimu, Jakarta

Walau puisi hanya anak tiri

Walau kesenian hanya di ujung jari

Walau kebudayaan dikepung pagar berduri

 

Jakarta kenapa dusta?

Banjir dan macet bersetubuh

tak henti-hentinya

Korupsi dan narkoba

Berselingkuh entah siapa

Dalangnya

 

Aku mencintaimu, Jakarta

Biarlah para penyair hanya sibuk merangkai kata

Tapi kota ini akan tetap menjadi ibu

Bagi rindu yang menggelora

 

Gus Nas Jogja, 20 Juni 2021

 

JAKARTA MENGANCAM

 

Jakarta mengancam rindu

Ibukota yang sedang mencari cinta

Pada tumpukan mimpi

Pada jelaga angkara

 

Kutafsirkan Jakarta dari kitab-kitab tua

Batavia masih perawan tanpa gincu

Ciliwung dan Condet merekah senyumnya

Kemayoran dan Kwitang berkain kebaya

 

Kini Jakarta mengancam rindu

Jalan tol dan jembatan layang

Membelah bait-bait sajakku

 

Kucari Tanah Abang dan Kebon Kacang

Tapi yang memelukku hanya kelu

Doa-doa membisu

Nafasku berkubang nafsu

 

Hujan rebah di jalan Cikini

Jiwaku basah

Kucari HB. Jassin di antara ratap puisi

Trotoar menjamur bunga-bunga liar

 

Bertanya pada Ismail Marzuki

Suaraku hilang dirampok klanpot

Kubentangkan payung hitam

Lazuardi mengirim gerimis di sanubari

 

Jakarta mengancam

Aku berlindung di Serambi Istiqlal

Kuseka keringat yang membanjir

Tanpa sapu tangan

Dengan punggung tangan

 

Tuhanku

Kemana harus kutemukan Jakarta

Yang tak menggoda

Yang tak menyiksa

 

Gus Nas Jogja, 16 Juni 2021

Posted in LITERA.