Sensitivitas Kreatif Endang Caturwati

sèm haèsy

Syair dan lagu Kasih tak Bertepi dan Hanyalah Dia, menjadi pemantik awal untuk mendekati dinamika perkembangan wabah dari sudut pandang spiritual dengan cara pandang inward looking ke dalam diri.

 

Pengalaman melakukan kolaborasi kreatif dengan Endang Caturwati, Guru Besar Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) – Bandung, memberikan pembelajaran khas dan bermakna bagi saya.

Salah satu yang sangat rasakan adalah ihwal sensitivitas kreatif atau kepekaan yang ditimbulkan oleh intuisi atau daya mampu untuk memahami sesuatu tanpa harus dipikirkan berlama-lama, karena adanya gerak hati melakukan suatu karya.

Benar apa yang dikemukakan Deborah Ward, salah seorang jurnalis dan novelis Inggris, yang — antara lain — terkenal lewat karyanya bertajuk, “Sense and Sensitivity: Why Highly Sensitive People are Wired for Wonder,” (2011) bahwa pikiran dan gerak hati sensitif merupakan pikiran dan daya kreatif itu sendiri.

Sensitivitas kreatif tak ‘terjebak’ dalam dimensi ruang dan waktu, karena kuatnya intuisi menggerakkan nalar, naluri, nurani, dan rasa dalam suatu proses peciptaan karya seni yang sangat cepat. Walaupun kolaborasi dilakukan pada ruang yang berjarak secara fisik, dan bertemu dalam ruang kreatif yang dihubungkan oleh kemajuan teknologi informasi.

Sejak pandemi nanomonster Covid-19 merebak, saya relatif tidak pernah bertemu secara fisik. Komunikasi dan dialog berlangsung melalui komunikasi audial, tekstual,. dan audiovisual (telepon, whatsapp messanger, video call, dan video meet / conference) di tengah kesibukan — agenda kerja yang padat — masing-masing. Pada kesempatan komunikasi itulah, proses interaksi gagasan, termasuk berbagai faktor yang melatari gagasan tersebut, dan cara mengeksekusinya melalui suatu proses kreatif.

Sensitivitas kreatif itu, setidaknya meliputi proses kreatif beberapa karya seni (lagu, tari, dan video clip atas keduanya). Ada yang mengalir begitu saja dalam proses kreatif yang berlangsung cepat, di bawah 24 jam, seperti lagu Swara Insani dan Senandung Palestina, ada yang memerlukan pengendapan lebih dari 48 jam (Hanyalah Dia, Rahmat Cinta, dan Pualam Cinta), ada juga yang memerlukan waktu lebih dari 36 jam (tari topeng Purbasari & Purbararang) karena perlu mempertemukan perspektif artistik, estetik, teknis, dan teknik.

Pada karya Swara Insani yang merespon fenomena awal pandemi nanomonster Covid-19 yang terinspirasi oleh karya tunggal Endang (Kasih tak Bertepi, Katineung) dn karya kolaborasi (Hanyalah Dia), proses sublimasi dari gagasan menjadi puisi, berlangsung relatif sangat cepat. Terutama karena sejak meledaknya wabah di Wuhan sampai WHO (world health organization) menyatakan sebagai pandemi global, telah begitu banyak informasi dan data tentang wabah mengemuka.

Syair dan lagu Kasih tak Bertepi dan Hanyalah Dia, menjadi pemantik awal untuk mendekati dinamika perkembangan wabah dari sudut pandang spiritual dengan cara pandang inward looking ke dalam diri.

Endang Caturwati | Sensitivitas dan kreativitas dalam satu tarikan nafas – foto dok Hapsari

Kecenderungan ini kian mempengaruhi, ketika komposisi musikal tembang Katineung mengisi suasana batin. Lantas dikuatkan dengan cerita ‘hati ke hati’ ketika merebak berita tentang orang pertama yang menjadi suspek virus Covid-19. Endang bercerita secara ekspresif dan kaya dengan ragam informasi serta segala atmosfir psikis yang menyertainya.

Spontan saya memperoleh inspirasi untuk melihat nanomonster Covid-19 sebagai suatu cermin besar yang diletakkan Tuhan di dunia. Dengan begitu, dimensi ‘kesemestaan’ menjadi pilihan. Termasuk egosentrisma manusia yang menempatkan diri sebagai ‘penguasa’ katimbang ‘pemelihara’ semesta. Juga tentang jauhnya jarak manusia dengan alam dan Tuhan secara spiitual.

Tak lebih dari satu jam, puisi bertajuk Swara Insani saya tulis, lalu saya kirim via whatsapp messanger pada tengah hari. Malam harinya, saya sudah menerima alih media puisi tersebut menjadi lagu. Satu jam kemudian saya mulai mengerjakan penyelarasan lagu yang direkam di rumah, mulai dari memisahkan vokal dengan musik, menyuntingnya kembali melalui proses mixing untuk mendapatkan basis format lagu. Keesokan paginya, saya mengirim lagi lagu yang sudah diselaraskan, itu. Setelahnya baru kami diskusikan.

Endang menjelaskan bagaimana harus melakukan ‘rekonstruksi’ bagian akhir puisi sesuai dengan keperluan komposisi nada, termasuk memberikan aksentuasi pada keselarasan syair dan nada. Setelah sepakat, baru saya garap draft video klip, menerjemahkan bahasa audial ke dalam bahasa visual.

Dari informasi yang dikemukakannya sejak puisi diterima, memilih nada untuk mewadahi lirik di setiap larik, membuat komposisi dasar lagu, penyusunan komposisi musikal yang dilakukannya bersama Dodo, sampai jadi lagu, saya teringat pandangan Pearl S. Buck, novelis Amerika – penerima hadiah Pulitzer dan hadiah Nobel, yang dikutip Ward.

Buck mengemukakan, pikiran yang sungguh kreatif menyerap beragam hal sebagai atmosfir kehidupan, mulai dari tragedi, kegembiraan, kekuatiran, ketakutan, kegembiraan, penderitaan, kematian, harapan, dan hal lainnya yang menggambarkan eksistensi manusia sebagai makhluk yang sesungguhnya rapuh, ketika menyadari seluruh kedigjayaannya terbatas.

Kerapuhan insaniah itulah memang yang saya masukkan ke dalam setiap kata dalam puisi yang oleh Endang diubah suai dengan nada, sehingga menjadi ekspresi kegamangan. Namun tak semua manusia — bergantung pada kesadaran spiritualnya — menyadari realitas itu.

Nada pilihan Endang dan komposisinya dalam proses keatif alih media dari puisi ke lagu, dieksekusi oleh Dodo secara musikal. Endang menyanyikannya dengan dominasi rasa sebagai medium ekspresi.

Endang dalam tarian ‘Purbasari Purbararang.’ Sensitivitas melihat peran antagonis dan protagonis | foto. dok. Hapsari

Meminjam pandangan Buck, proses kreatif Endang merupakan kesadaran naluriah untuk memberikan suatu gambaran, bahwa manusia yang rapuh secara organisme, akan beroleh daya baru yang kuat, yaitu harapan. Harapan yang lahir dari kesadaran introspektif, bahwa ada Mahadaya di luar empirisma manusia,  yaitu Allah Maha Pencipta dan Maha Pemelihara sumber dari segala sumbercinta dan kasih sayang, yang selalu menyediakan kema’afan dan membuka pintu pertobatan.

Endang dan saya, sama menangkap realitas pertama fenomena pandemi sebagai suatu desakan batin yang memantik kecepatan kreatif dalam ‘penciptaan’ atau penggubahan lagu melodius dengan pesan kesadaran batiniah. Ketika lagu itu didengarkan berulang-ulang, kemudian mengubah kesadaran batiniah menjadi kesadaran ruhaniah.

Lagu itu, kemudian, dirasakan berbagai kolega yang mendengar dan menyimaknya, sebagai ruang katarsis untuk melakukan kontemplasi, menemukan kembali keseimbangan nalar, naluri, nurani, dan rasa – mind and soul.

Proses yang relatif mirip dengan pemantik dan pola rekacita yang berbeda berlaku juga pada Senandung Palestina. Puisi saya yang diubah suai oleh Endang menjadi lagu, lebih merupakan gumaman hati insan dengan segala ketidakberdayaan merespon perampasan hak dasar hidup manusia: kemerdekaan sejati, hak beroleh eksistensi yang kemudian mengurai menjadi beragam hak, termasuk hak atas tubuh dan hak hidup.

Proses rekacita dan aktualisasinya ke dalam lagu, menjelma menjadi kidung dan do’a, dzikir – pengenalan diri dalam format dan formula lain, menghidupkan kesadaran tentang simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta yang keseluruhannya bersublimasi menjadi nilai kemanusiaan (humanity value). Karenanya, hasil akhir dari proses kreatif dalam Senandung Palestina, teramat jauh jaraknya dengan politik (apalagi politik praktis), berseiringan dengan ajaran agama (samawi dan ardhi) tentang cinta, tentang triangle of life, karena manusia dicipta Tuhan sebagai rahmat atas semesta.

Endang melalui proses kreatif mengubah puisi menjdi lagu dalam Senandung Palestina, bila sama didekati dengan akalbudi, sebagai instrumen insaniah yang menjadi creative tools dalam mengharmonisasi mind and soul yang merespon realitas pertama, peristiwa pilu dalam hidup manusia.

Apa yang dilakukan Endang dalam proses kolaborasi menggubah lagu ini, tak hanya fokus pada ‘penciptaan lagu,’ sebagaimana dimaksudkan dalam pandangan Buck. Tapi, jauh dari itu, menegaskan hakikat, sebagaimana yang dikemukakan Ward, bahwa hidup bukan hanya ilusi, fantasi, dan imajinasi. Hidup adalah realita. Nyata. Di situ, kepekaan akalbudi manusia dengan atmosfir kehidupannya yang nyata, menurut Ward, berkaitan dengan cara merasakan dan mengalami hidup. Sensitivitas kreatif, lantas menjadi daya untuk menegaskan sensitivitas akalbudi sebagai berkah, dan ‘memberi asupan’ bagi pengembangan kreatif dalam berkesenian, bahkan berkebudayaan. Termasuk, misalnya untuk karya kolaborasi yang bersifat sangat personal dengan inward humanity, seperti dalam lagu Rahmat Cinta.

Pada lagu Rahmat Cinta, Endang laiknya penari yang ‘menari mengikuti gendang’ – menyerap renjana — atau setidaknya rindu — yang menjadi esensi dalam syair. Di sini, apa yang dilakukan Endang dalam proses kreatif melakukan konvergensi dari puisi ke lagu, relevan dengan pandangan Ward, yakni: “Kreativitas adalah katup penekan untuk semua data emosional dan sensorik yang terkumpul.”

Endang Caturwati | Proses kreatif bisa berlangsung cepat | dok. pribadi

Hal ini membuka pintu dan membiarkan energi mengalir keluar dari dalam diri dan masuk ke dalam proses teknis dan teknik memformulasi kreativitas. Dalam proses itu, dan juga hasilnya (seperti respon banyak kolega) mengalir kedamaian dan perasaan yang sulit dideskripsikan.

Namun, tak semua orang bisa merasakannya, terutama yang tak menyimak lagu ini dengan baik, hanya menggunakan mata melihat teks dan visual semata. Karena tidak semua orang memiliki kepekaan akalbudi, kepekaan kreatif, dan mampu mengharmonisasi nalar, nurani, dan rasa dengan baik.

Akibatnya naluri lain yang mencelat liar. Inilah, yang menurut Ward, kerap memicu satu dua orang, mempertengkarkan pikiran dan energi kreator, yang tidak terikat dalam kandang yang kohesif, yang tidak mampu membaca, menemukan sedikit wawasan, dan serapan pengetahuan lain tentang dimensi insaniah. Penyebabnya adalah kecenderungan ‘bertanding’ dan bukan ‘bersanding.’

Sensitivitas kreatif Endang Caturwati, bila hendak dihampiri dengan pandangan Lisa A. Riley (2008), Creativity Coach dari Pasadena, Amerika Serikat, menegaskan, bahwa ketika orang yang kreatif memiliki sesuatu untuk diandalkan, khasnya untuk memberdayakan mengelola kepekaan tinggi dengan lebih baik.

Mereka, secara produktif bergerak maju dan terus memfokuskan ikhtiar untuk mencapai kehidupan yang paling sehat dan seimbang. Kehidupan di jalan cinta menuju kesadaran spiritual, karena sudah tak perlu lagi simbol-simbol dan embel-embel. Karena dia sudah selesai dengan dirinya.

Saya senang dan bersyukur bisa berkolaborasi dengan sosok insan multi talenta dengan kecerdasan akalbudi yang sabar dan rendah hati, ini. Termasuk dalam mengemukakan sikap kreatif dan integritas akademiknya.|

[Kadu Bonjer, 29.05.21]

Posted in HUMANIKA.