Uni Yutta Seniwati Multitalenta Pranatacara ‘Citra Srikandi Indonesia’

( Dari Balik Sisik Melik Webinar Hari Kartini 2021 )

Lengkaplah Uni menyandang gelar ‘Seniman Multitalenta,’ selain jadi pembawa acara, seniman Ketoprak, Sinden Jawa, penari Wayang Wong Kraton Yogyakarta, dosen tari Jawa, ditambah lagi sebagai Dosen tari Sunda  Kreasi & Jaipongan di ISI Yogyakarta.

Catatan Endang Caturwati 

Suksesnya suatu acara, tidak hanya karena materi yang menarik, yang juga dapat membuat kenangan tersendiri untuk dipahami dan dimengerti, tetapi juga karena ada beberapa  pendukung lain. Terlebih suatu kegiatan virtual,  yang kini sedang trendi,  merebak ke seluruh dunia, bisa diakses siapapun dan  di manapun, yang terekam dan memungkinkan setiap saat orang bisa melihat ulang kapan dan dimana saja.

Kegiatan Hari Kartini yang digelar oleh Citra Srikandi Indonesia (CSI) berkerjasama dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, berupa webinar Internasional bertajuk “ Kartini as Inspiration: repositioning womens role in Contemporary Indonesia” menghadirkan para pembicara perempuan berpretasi, dan mendapat apresiasi dari para pemirsa, karena materinya dinilai  menarikdan  tidak membosankan. Tak kurang dari  500 lebih peserta, hingga akhir acara masih menyaksikan.

Acara Webinar Kartini yang diselenggrakan CSI, sebetulnya hanya disiapkan dalam waktu relatif singkat, ditangani panitia sejak dari pra kegiatan sampai acara berakhir. Mulai dari ketua pelaksana, administratur, penghubung  nara sumber, pengurus pendaftaran peserta, pembuat publikasi flyer, penanggungjawab penerbitan buku puisi, baca puisi, seminar, editing musik dan video, serta woro-woro pengisi acara dan peserta.

Juga para penanggung jawab pada pelaksanaan kegiatan, mulai dari ‘penjaga gawang’ sebagai host zoom, pengendali presentasi danvideo, petugas check and re check para pengisi acara, dan lainnya.

Pasca kegiatan, masih harus mengerjakan laporan hasil kegiatan berupa tulisan -tulisan di mass media, editing hasil acara, memilah dan memilih untuk dipublikasikan melalui chanel youtube (CSI), dan pembuatan sertifikat. Akhir dari kegiatan Webinar, atau acara apapun, primadona acara  adalah sertifikat, yang  menyedot perhatian khusus, mulai dari desain, hingga penulisan nama, gelar, instansi, yang beberapa hal harus dilakukan berulangkali karena persoalan-persoalan teknis, terutama soal pencantuman gelar yang dianggap penting oleh peserta.

Kegiatan suatu acara atau kegiatan, biasa dilakukan oleh siapapun. Begitu juga CSI mempunyai ciri khas, bahwa pada setiap acara kegiatan selalu menampilkan pertunjukan tari, puisi, dan musik daerah, sebagai implementasi pewarisan dan pengembangan kebudayaan yang selaras dengan Undang Undang No 5/17 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Setiap acara, selalu berbeda gaya, sesuai kreativitas dari panitia, sehingga memantik apresiasi tersendiri, berupa materi kegiatan dan seni yang ditampilkan. Buah kreativitas itu, yang membuat kangen para anggota dan peserta webinar yang selalu menanyakan, ‘kapan kegiatan CSI akan diadakan lagi, jangan lupa diundang lagi ya”.

Semua itu karena peran para pengurus dan anggota CSI, yang ingin menampilkan kegiatan secara maksimal. Walaupun merupakan komunitas sosial yang mengabdikan karena rasa cinta dan kasih sayang melalui silaturrahmi sesama perempuan, dengan latar belakang pendidikan, lingkungan sosial, dan karakter yang beragam.

Rasa persaudaraan yang tinggi, mengatasi jarak tempat yang berjauhan, lintas daerah, lintas pulau, juga lintas perguruan tinggi,  dengan prinsip silih asih, asah, dan asuh, sewrta tidak menghalangi kreativitas para perempuan CSI untuk selalu berkreativitas.

Di balik suksesnya acara Webinar Internasional mengenang Kartini,  yang juga melibatkan peran serta para mahasiswa dan operator IT Pascasarjana ISBi dan Setpim ISBI Bandung, yang membantu di balik layar,  ada sosok  penting, yaitu pembawa acara atau pranatacara, yang memandu rangkaian acara dengan menarik,.

Uni Yutta bersama Monologer Butet Kartaradjasa dan istrinya yang penari | foto instagram Uni Yutta

Pembawa acara yang luwes gendes membawakan acara demi acara tersebut, adalah sosok yang dikenal di Yogya dengan panggilan Uni Yutta, di Kampus ISI Yogyakarta dikenal sebagai ibu Daruni.

Uni Yutta membawakan narasi yang apik dalam mengantar acara. Mulai  dari menginformasikan senarai acara, siapa penyelenggara, siapa yang menjadi focus interest dalam acara , seakan sedang tampil di atas panggung, berdialog dengan penonton.

Dengan senyum  yang tersungging, Uni Yutta berusaha mengendalikan tempo acara, dengan beragam cara, kadang menghadirkan lelucon atau anekdot dengan ceria sambil menggerakan tangan, seolah sedang menari. Rangkaian acara menjadi hidup, dan banyak yang memuji melalui komnikasi personal dengan saya.

Mereka mengatakan, ” pembaca acaranya keren dan kece abis” Tidak terkecuali, mahasiswa Pascasarjana ISBI kelas ‘Kreativitas Seni,’ yang saya minta mengikuti webinar, memuji kepiawaian Uni Yuta dalam membawakan acara. Menarik, tidak bertele-tela, bisa menjaga waktu dengan tepat, dan tidak lahmen (salah momen).

Uni Yutta yang saya kenal berpuluh tahun yang lalu sebagai ‘adik kelas’ di jurusan tari ISI Yogyakarta,  selalu aktif dengan berbagai jenis seni. Dia dikenal sebagai sosok perempuan multi talenta,  antara lain di bidang Seni Tari, Seni Teater, Pemandu Acara, Fahion, dan Nyinden.

Setiap saya berkunjung ke Yogya, hampir di setiap kegiatan yang saya hadiri selalu bertemu dengan dia. Kadang saya tampil bersama di TVRI Yogyakarta. Kadang saya jumpa di acara komunitas remaja, Komunitas masyarakat Tionghoa, hingga komunitas lansia., Uni Yuta aktif  bergabung dalam berbagai acara tersebut, baik sebagai seniman – pelaku, atau sebagai pelatih tari, pelatih teater, dan juga fashion.

Bahkan saya sering menjumpainya dalam pertemuan akademik, pertemuan Ketua LPPM Tingkat Nasional dia hadir mewakili Prof. Sumandyo, serta pada pelatihan Jurnal Ilmiah Nasional, dan acara lain. Pada acara-acara tersebut Uni Yutta, bahkan sudah kelihatan senyumannya yang selalu merabak, dari kejauhan.

21 April 2021, usai menjadi pembawa acara Webinar CSI, Uni Yutta masih  mengikuti ‘Lomba Foto Berkebaya dan Berkain Nusantara,’ yang diselenggarakan oleh ‘Video Radio SaltNPepper ke-21 (Washington DC)’, dengan Juri, antara lain, Titik Puspa, Rahmi Hidayati, dan Lana T Kuncoro.  Dari  penampilan berbagai foto yang ia kirimkan, Uni Yuta mendapat Juara Kedua.

Berkebaya bagi Uni Yuta, bukanlah hal yang asing. Hampir di setiap kesempatan. Dia selalu nampak berkebaya.

Bagi Uni Yuta, nyaris, tiada hari tampa kebaya yang disesuaikan dengan tren mode atau kepraktisan. Ia mengenakan kebaya, mulai dari yang paling klasik tradisional sesuai dengan pakem kebaya tradisional Jawa gaya Yogyakarta, hingga kebaya moden yang dipadupadan dengan kain batik model jarik atau celana komprang. Penampilan Uni Yuta pada setiap kesempatan, selalu fashionable, enak dipandang ditambah dengan gesture-nya yang  nampak luwes, seakan selalu dalam sikap dan gerak menari.

Uni Yutta nyaris tiada hari tanpa kebaya | foto instagram uni Yutta

Melihat sosok Uni Yutta, saya terkenang peristiwa pada tahun 2007, saat mengadakan ‘Pergelaran Seni Pertunjukan’ di  Gedung Sanusi Harja Somantri Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ketika itu, saya membawa rombongan seniman dari Kota Bandung dan Subang (anak-anak Ronggeng), yang menarikan karya saya bertajuk ‘Ronggeng Midang’.

Uni Yutta saya undang tampil sebagai bintang tamu bersama Didik Nini Thowok dan Nena Cunara.  Penampilannya membuat panggung kadang semarak, kadang mencekam, dan kadang heboh, membuat penonton terhibur. Penampilan Uni mampu membuat suasana hening, kala dia muncul dari bawah sisi panggung (wing) sebelah kanan, berjalan ala penari bedoyo, berbusana kebaya dengan mata menatap ke depan, melantunkan lagu macapat dengan sangat merdu, kemudian berceloteh berbahasa Jawa, berkolaborasi dengan tembang bahasa Sunda oleh Nena Cunara.

Kehebohannya berlanjut, saat menari bersama Didik Ninik Thowok.  Suatu sinergi spontanitas yang sangat  profesional, sehingga panggung menjadi lebih hidup, menarik, dan mengundang decak kagum penonton.

Tak cukup hanya sampai di panggung pertunjukan saja. Keesokan harinya, di arena Workshop Jaipongan — yang saya selenggarakan bekerjasama Jurusan Tari ISI Yogyakarta, dengan membawa instruktur Wawan Metro, murid Sang maestro Tari Sunda, Gugum Gumbira — saya dikejutkan oleh tingkahnya.

Mulanya saya membayangkan workshop itu hanya diikuti 50 orang mahasiswi jurusan Tari. Ternyata workshop itu diikuti oleh sekitar 200-an orang penari, sehingga  studio tari  yang letaknya di lantai dua, seakan ‘bergoyang.’

Saya bertanya, “kok  bisa sebanyak ini pesertanya? ” Ternyata, begitu ada publikasi akan diadakan  workshop Jaipongan, sebagai  rangkaian dari Seminar Tari Sunda dan Pertunjukan Tari ‘Ronggeng Midang’ di Universitas Gadjah Mada (UGM), banyak peserta yang daftar. Selain mahasiswa dan alumni jurusan tari yang tersebar di Yogya, Solo, Purwokerto, Banyumas, dan sekitarnya, juga diikuti oleh mahasiswa ISI Surakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Luar biasa, silaturahmi dengan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (kala itu dijabat Prof. Triyono Bramantyo, Ph.D, dan Ketua Jurusan Tari, Heni Wahyuningsih, M.Hum). Diawali dengan ‘the power of SMS,’ dilanjut dengan surat resmi, langsung beraksi di lapangan dengan begitu dasyat.

Dari ruang workshop, terlihat para peserta begitu semangat mengikuti intruksi Wawan Metro dengan memberikan contoh tari ‘Kembang Boled’, buah karyanya yang kala itu sedang populer di Kota Bandung.

Lebih uniknya, gerakan Uni Yutta tidak terkalahkan dengan para mahasiswanya, malah terlihat Uni Yutta paling atraktif. Ia menari di garda paling depan.

Usai latihan, Uni Yutta saya perkenalkan dengan sang Maestro Jaipong, Gugum Gumbira. Tiba-tiba, ia  berteriak histeris menangis kegirangan, suaranya terbata-beta. Dia berucap, “Seperti dalam mimpi.” Sesuatu yang selama ini tak pernah dia bayangkan, bisa bertatap muka dengan sosok Gugum,. tokoh yang punya nama besar, tapi sedemikian ramah dan humble.

Uni Yutta dengan gayanya yang lain | Foto Instagram Uni Yutta

Sebelumnya, Uni Yutta hanya mendengar nama Gugum Gumbira dari cerita dosennya dan orang lain. dari ceritera dosennya, dan orang lain. Akan tetapi pada hari itu, Gugum berdiri di hadapannya, bersalaman erat dengannya. “Ingin rasanya saya memeluk erat,” bisiknya.

Sebelum pergelaran Ronggeng Midang dan workshop tari di ISI Yogya, Gugum bersama Toto Amsar Suanda dan saya di Ruang Sidang Pascarjana UGM sebagai nara sumber seminar bertajuk “Tari di Tatar Sunda’,” yang dihadiri para Dosen, Guru Besar, serta Mahasiswa Magister dan Doktoral Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM.

Saya sangat bangga dan terharu, seminar yang diselanggarakan oleh Pascasarjana UGM yang dihadiri sekitar  200 orang, dari mulai awal hingga akhir, para peserta tidak bergeming. Mereka sangat mengapresiasi makna dari seminar. Selesai seminar, mereka menyambut nara sumber, terutama Gugum Gumbira yang baru pertamakalinya menjadi nara sumber dengan peserta para Guru Besar, Doktor dan para mahasiswa program Magister dan Doktoral. Uni Yutta tampaknya tidak mempunyai kesempatan untuk mendekat Sang Maesto, ketika di Gedung Pascasarjana. Wajar apabila dia sangat histeris ketika bertemu Gugum yang sengaja saya bawa untuk hadir di tempat Workshop ISI Yogya.

Setelah selesai acara seminar, pertunjukan, worskhop tari Jaipongan yang saya selenggarakan di UGM, ISI Yogya, dan Kraton Yogyakarta Hadiningrat, sebagai rasa terimakasih saya kepada Almamater ISI Yogya dan UGM,  juga kepada kota Yogya yang telah menggembeleng saya di kawah Candradimuka,

Uni Yutta ternyata melanjutkan petualangannya, berguru Tari Jaipongan langsung kepada sang maestro, Gugum Gumbira di sanggar tari-nya, Jugala di Kota Bandung.  Beberapa tari Jaipongan ia pelajari, yang kemudian menjadi bahan ajar tari Sunda di jurusan Tari ISI Yogyakarta.

Lengkaplah Uni menyandang gelar ‘Seniman Multitalenta,’ selain jadi pembawa acara, seniman Ketoprak, Sinden Jawa, penari Wayang Wong Kraton Yogyakarta, dosen tari Jawa, ditambah lagi sebagai Dosen tari Sunda  Kreasi & Jaipongan di ISI Yogyakarta.

Sangat layak apabila Uni Yutta, dengan bekal yang banyak pada dirinya sebagai sumber kreativitas untuk melakukan aktivitas seni,. Menurut Teori investasi yang dikembangkan oleh Robert  J. Stemberrg (1999), “According to the investment theory, creativity requires a confluence of six distict  butinterrelated resources: intellectual abilities, knowledge, styes of thingking, personality, motivation, anf environment.” Kreativitas membutuhkan kesatuan dari enam sumber yang berbeda,, namun saling terkait satu sama lain, yakni kemampuan intelektual, pengetahuan, gaya berfikir, kepribadian, motivasi dan lingkungan.

Uni Yutta memiliki keenam sumber daya  tersebut,  sebagai bekal daya kreatif yang tak henti bagi dirinya. Sehat terus Uni Yutta, menginspirasi generasi mileneal, kini dan esok. |

 

Endang Caturwati, Guru Besar Seni Pertunjukkan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Posted in HUMANIKA.