Zakriyatan Jamiila

BULIR airmata itu mengalir bersama tahlil yang kau gumamkan melintasi detik-detik berlalu, pada hening di penghujung waktu.

Kamu mendengar setiap ayat-ayat di surah Yaasiin yang dibacakan putera kita sambil terbata.

Di dalam ayat-ayat itu, mengalir firman – firman Nya yang memandu Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memberi peringatan bagi insan di semesta.

Dan ketika kamu sebut nama-Nya berulang-ulang : “Allah.. Allah.. Allah..,” pada hening di penghujung waktu, di awal Jum’at penghulu hari, nafasmu berangsur melambat.

Sebulir air mata jatuh di atas sajadah, usai sujud malamku.

Pada sujud itu, kubaca larik panjang doá yang selalu kau minta setiap kujenguk di pembaringan hospital :

Bismillahir Rahmanir Rahim. Bismillahi Rabbil aakhirati, wa ulalladzii la ghayata lahu wa la muntaha lahu fissamawatil ula. Arrahmanu alal arshistawa.’ Mafissamawati wa ma fil ardhi wa ma bainahuma wama tahtassara. Wa in tajhar bilqauli fa innaha ya lamussirra wakhfa.”

Dengan nama Allah Mahadaya kasih sayang. Dengan nama Allah yang awal dan yang akhir, yang tiada sesuatupun mengetahui, Dia-lah yang mengawali dan mengakhiri, semua milik-Nya yang tersimpan di ketinggian langit. Maha pengasih di atas kekuasaan-Nya di langit dan di bumi yang firman – firman-Nya (membuktikan) Dia maha tahu segalanya..)

Allahu laa illaha illa huwa lahul asmaaúlhusna. Allahu azimul  uzama daimun namaa qahirul aada. Arrahmanul aatifu ala khalqihi birizqihi ma’ruufu biluthfihi al’aadilu fi hukmihi al aalimu fil mulkihi rahimam bikhalqi rahiimur aaliimul ulamaa’ basiir.

(Allah, tiada tuhan kecuali Engkau, pemilik nama-nama yang indah lagi baik. Allah yang mahaindah dan mahabesar atas segala yang besar, dan kekal dengan berkah-Nya, penak-luk segala musuh, mahapengasih, pemberi rezeki dan berkah bagi ciptaan-Nya. Di dalam ketentuan-Nya mengalirkan welas-asih, karena mengetahui segala ihwal dengan kekuasaan-Nya. Maha penyayang dari semua penyayang, maha cendekia yang memperlihatkan luas cakrawala)

Sungguh tak sanggup kubaca seluruh do’a itu dalam bahasa aslinya nan teramat merasuk sukma, karena bulir – bulir air mata terus mengalir. Tapi terus kubaca.. Kau selalu suka menyimak larik panjang do’a itu dalam bahasa kita:

Allah..

Engkaulah nan Mahasejati dan murni, teramat berkuasa atas segala sifat mulia, Engkaulah nan Mahamulia, Maha-terpuji, pemilik arsy nan luas ter-bentang, tinggi tak terjangkau nalar insani. Engkaulah yang pasti atas segala kehendak-Nya dan melakukan apa yang telah dirancang atas kehendak-Nya. Allah, Engkaulah sumber darisegala sumber cinta dan kasih sayang, pengingat sebab atas setiap akibat, Engkaulah sumber penyembuh atas segala penyakit, meski penyebabnya datang dari diri manusia sendiri.

Allah..

Engkaulah nan Mahatahu makna segala derita, karena hanya Engkaulah yang memberi sukacita di sebalik dukacita. Engkau memilih hamba-hamba-Mu, melalui deritanya se-bagai cara mencapai bahagia, melalui dukacitanya menggapai suk-acita nan tak mampu kami bayangkan.

Engkaulah penentu akhir dari segala awal, penentu derita sakit sebagai pembuka pintu bagi ajal, sehingga terbuka jalan menuju alam abadi, menuju-Mu. Kami bersyukur atas ketentu-an dan takdir-Mu.. Mohon dengan sangat berikan kami takdir terbaik menurut-Mu, karena hanya Engkau saja yang Mahatahu segala yang rahasia.

Allah..

hanya Engkaulah penentu takdir terbaik bagi manusia.. Mohon dengan sangat berikan kami takdir-Mu, sebagai obat atas seluruh derita sakit yang diderita isteriku. Takdir-Mu saja yang amat menentukan, seperti Engkau menentukan setiap benih tumbuh dan hidup, seraya memberi manfaat bagi insan semesta.

Allah..

Engkau saja yang tahu bagaimana bulir airmata di sujud jelang persinggahan malam ini, adalah permohonan untuk beroleh takdir terbaik-Mu.. Takdir yang menjadi dermaga untuk melarung jauh ke samodera kemaafan dan keampunan-Mu, dermaga untuk melayari segara luas kasih sayang-Mu…

Allah..

Segara luas kemaafan dan keampunan-Mu adalah semesta menuju husnul khatimah kami.. hamba-Mu, makhluk-Mu. Mohon dengan sangat ampuni dosa-dosa kami, maafkan salah dan khilaf kami. Biarlah bulit air mata ini, menjadi tetes permohonan dan harapan di segara luas kemaafan dan keampunan-Mu.

Waktu terus bergerak. Putera kita mengusik. Suaranya tenang. “Dokter mau bicara,” katanya.

Aku bercakap dengan dokter yang merawatmu, yang mengabarkan, kondisi fisikmu semakin melemah. Tinggal lagi jalan spiritual, penyerahan diri kepada Allah yang bisa kami lakukan.

Putera kita memintaku istirah barang sejenak. Karena dia akan meneruskan membaca ayat-ayat Surah Yaa Siin, yang kau minta.

Innaa nahnu nuhyilmawtaa wa naktubu maa qaddamuu wa aatsaarahum wa kulla Syai’in ahshainaahu fii imaamim mubiin.”

(Sesungguhnyalah Kami menghidupkan orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan. Dan segala ihwal Kami himpun dalam Kitab Utama yang nyata (Lauh Mahfuzh), segala yang rahasia.

Putera kita bercerita. Ketika itu, kamu bertahlil, saat dia terus melanjutkan membaca ayat demi ayat di Surah Yaa Siin.

Kamu pun menarik nafas, kala ia sampai pada ayat ini :

Wasy syamsyu tajrii li mustaqarril lahaa, dzaalika taqdiirul Áziizil Áliim. Wal qamara qaddarnaahu manaazila hatta áadakal úrjuuil qadiim. Laa syamsu yambaghii lahaa an tudrikal qamara, wa lal lailu ssabiqun nahaari, wa kullun fii falakiy yasbahuun.

(Dan mentari berjalan di orbitnya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan rembulan, manzilah-manzilah, sehingga – setelah mereka sampai pada manzilah terakhir – kembalilah dia berupa tandan nan tua. Tiada mungkin mentari mendapatkan rembulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada orbitnya).

Putera kita terus membaca dalam isak tangis tertahan, sehingga bibirnya gemetar kala membaca ayat-Nya:

Salaamun, qaulam min Rabbir Rahiim..”

(“Salaam..” – sebagai – ucapan selamat dari Tuhan – Mahapemelihara dan sumber segala sumber kasih sayang).

Dan kau.. dalam tenang, dengan nafas lembut, menyebut nama-Nya: Allah.. Allah.. Allah…, bersambung syahadat: Asyhadu an la ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.., lalu nafasmu terhenti.

Dengan suara menyimpan sedih, putera kita tak banyak berkata-kata…, dia masih belum menguasai diri.. Pembicaraan terhenti sesaat, karena dia mesti memanggil perawat dan dokter jaga.

Sesaat di detik pergantian waktu, dia memberitahu, “Kita harus pindahkan mama ke ruang lain, biar bisa segera bergegas. Mama sudah di awal waktu berangkat pulang menuju al Khaliq. Segeralah ayah ke sini.. Sekarang !”

Aku bergegas ke hospital. Kulihat ia, didampingi dua perawat, mendorong tandu jenazah, di koridor panjang yang remang.

Di kamar jenazah, ketika waktu bergerak menjelang shubuh, kami (aku, anak-anak kita, menantu kita, adik-adik kita) memandikanmu, dan seorang ibu, petugas pemulasaran jenazah yang mendampingi kami, tak henti membacakan shalawat dan do’a-do’a, sehingga jenazahmu siap kami bawa pulang ke rumah..

Bergantian, kami kecup keningmu..

Selepas salat shubuh dan menegakkan salat jenazah-mu, ketika mentari perlahan merambat naik.. para tetangga, kerabat, dan sahabat satu-satu datang memenuhi halaman rumah kita yang hanya setelempap. Hamdan Zoelva tiba lebih awal, lalu memimpin salat jenazah pertama di rumah, di ruang tempat kita biasa bersenda. Ruang yang menjadi zona paling nyaman bagimu.

Bersama kerabat, sahabat, tetangga kita, termasuk seluruh tim dokter, aku, anak-anak dan menantu kita menghantarkanmu ke mushalla Baiturrahman – yang bermakna rumah kasih sayang – untuk mensalatkanmu. Bergantian khalayak berjamaah mensalatkanmu.

Lantas, kami hantar kamu ke pemakaman, tak jauh dari rumah ibunda yang tak pernah henti mengayomi perjalanan keluarga kita.

Putera sulung kita memeluk akhir jenazahmu, membisikkan bahasa sukmanya.  Meski menahan tabah di liang lahat, kutengok dia tak bisa menyembunyikan duka.

Sahabat-sahabat kita lengkap. Juga keluarga kita, kakak-kakak dan adikmu, kakak-kakak dan adikku, berada di makammu. Dan aku yakin, kamu menyaksikannya dari alam maya..

Agussalim datang di makam lebih awal, karena hari itu tak ada persidangan khas mengadili perasuah. Ia memberi kata pengakhiran, selesai makammu ditimbun. Surya Darma, yang biasa keliling mancanegara, hari itu pas sedang berada di Jakarta. Ia memimpin do’a.

Dan kami berdo’a untukmu.. :

Allahummaghfirlaha warhamha wa afihi wa’fu anha wa akrim nuzulaha  wa wasi’madkhalaha..” Ya Allah, ( mohon dengan sangat) ampunilah dia, kasihilah dia, terimalah kedatangannya, dan luaskanlah persemayamannya..

Di rumah.. berhari-hari kami berhimpun, mengaji dan mengkaji segala yang tersurat dan tersirat di dalam ayat-ayat dalam Surah Yaa Siin yang selalu kau minta dibacakan di jelang kepulanganmu ke haribaan Illahi Rabby.

Dan hari ini, setahun kepergianmu.. kembali kami berhimpun, mengaji dan mengkajinya, melengkapi do’a-do’a kami untukmu..

Di sela-sela hari sejak pemakamanmu.. hening menemani kami.

Usai menyimak do’a dibacakan selepas pemakaman, kugumamkan syair sederhana dalam hati :

Di makam damai doá kami panjatkan.

Angin berembus menghantar mega

Ke pintu waktu, ….

Kami hantarkankan kamu

Melangkah tenang menuju surga..

Insya Allah… | [nsch]

Posted in HUMANIKA.