HM Nasruddin Anshoriy Ch
JIKA KEMERDEKAAN TIDAK DIJAGA
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Banyak pencopet dalam negara
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Ribuan tikus akan berpesta
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Proklamasi hanya slogan tanpa makna
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Penjahat berdasi akan mengeruk pundi-pundi negara
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Merah-putih setengah tiang kibarannya
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Ketuhanan Yang Maha Esa hanya sebatas fatwa
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Keadilan sosial menjelma fatamorgana
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Jual-beli hukum akan menepuk dada
Jika kemerdekaan tidak dijaga
Kemanusiaan kita bangkrut sebangkrut-bangkrutnya
Gus Nas Jogja, 17 Agustus 2021
TIRAKATAN
Malam ini kuheningkan cipta
Kubentangkan sayap-sayap mata batinku
Memandang jauh 76 tahun yang lalu
Kuhitung dengan hati-hati luka di hati
Berapakah pejuang yang sudah berbaring
Yang menyedekahkan jihadnya untuk negeri ini
Gugur dengan syahid di perang suci
Kuhitung juga patriot bangsa
Para veteran yang hidup hingga kini
Tapi dilupakan dan dianggap mati
Ternyata gugur satu tumbuh seribu
Juga berlaku bagi pecundang
Mereka yang mengkhianati proklamasi
Mereka yang melecehkan kemerdekaan
Dengan kekuasaan yang mewariskan ketimpangan
Dengan syahwat dan nafsu korupsi
Malam ini aku kembali mengheningkan cipta
Membaca jutaan luka anak-anak bangsa
Yang berbaring di antara desing dan bau pesing
Wakil rakyat yang hidup manja dan foya-foya
Tanpa keringat dan sibuk berpesta
Gus Nas Jogja, 16 Agustus 2021

MERDEKA OH MERDEKA
Anak-anak korban pandemi itu bertanya pada semburat senja
Tentang kemerdekaan yang penuh luka
Anak-anak korban pandemi itu melukis gerhana
Menulis di puing-puing bangunan yang roboh oleh gempa
Dipaksa sehat
Di negeri yang sakit
Begitulah ia mencoretkan sepotong arang
Pada sisa-sisa tembok yang nyaris runtuh
Anak-anak korban pandemi
Menitipkan duka di pelupuk mata
Tapi tak tampak oleh para penguasa
Gus Nas Jogja, Agustus 2021
MERAH PUTIH
Bendera Pusaka itu bertanya padamu
Merah yang merahmati bangsa
Putih yang mendidih di relung dada
Kukibarkan sangsaka dwi-warna itu di cakrawala
Dengan alunan tiga stanza Indonesia Raya
Di puncak kening bambu runcing
Kasematkan bait-bait puisi para pujangga
Gurindam rindu para pejuang yang gugur entah dimana
Merah Putih Negeri ini siapa kini yang merawatnya?
Saat Proklamasi disuarakan setengah hati
Tapi disiarkan di layar kaca sembari berpesta
Ribuan martir pengharum bangsa
Yang gugur tanpa tabur bunga
Menjadi rabuk kemerdekaan dengan sedekah nyawa
Untuknyakah bendera merah-putih itu mewartakan kibarannya?
Sementara ribuan veteran tua yang dulu menyabung nyawa
Kini tertatih-tatih menapaki nestapa
Di trotoar kemerdekaan bertabur jelaga
Dalam ratap duka jerit biola
Kugesek-gesek dawai renta ini
Sajak Merah-Putih yang menagih janji pada penguasa
Yang abai dan lalai pada tulang-belulang para pejuangnya
Gus Nas Jogja, 7 Agustus 2021

BERI AKU PEMUDA
Beri aku pemuda
Maka telur kemerdekaan akan kuerami bersama
Hingga menetas keadilan dan kemakmuran di negeri Indonesia
Beri aku pemuda
Maka kemerdekaan aku raih dan kubagi rata
Sebab di tangan anak-anak muda
Negeri ini akan menjelma macan dunia
Di atas papan catur merah-putih
Sangsaka dwi-warna kita kibarkan bersama
Berdiri sama tegak
Duduk sama khusyuk
Tak ada diktator dan provokator di antara kita
Kapal-kapal kebangsaan akan gagah membelah samudera
Mencacah dan meremukkan batu-batu karang kepongahan
Dan tahta kekuasaan yang penuh jumawa
Beri aku pemuda
Maka ribuan pulau Indonesia Raya kujadikan orkestra
Hutan rimba kujaga
Bumi dan seisinya dilestarikan dan dimakmurkan untuk kesejahteraan bersama
Pancasila menjadi pusaka dengan gotong-royong seluruh bangsa
Di tangan anak-anak muda
Kemerdekaan adalah jalan raya
Poros peradaban di kancah dunia
Kemerdekaan adalah sawah-ladang kemakmuran seluruh bangsa
Kesejahteraan dan kebahagiaan bergandeng mesra dalam ikatan cinta
Menanam lima sila dengan tangan-tangan cinta
Memupuknya dengan keringat dan air mata
Memanen bersama dalam peradaban yang memanusiakan manusia
Beri aku pemudi
Maka puisi tak cuma sebait mimpi
Gus Nas Jogja, 11 Agustus 2021
DI GERBANG BANDUNG
Kuketuk kembali gerbang ini
Gerbang yang dulu kita masuki
Gerbang yang kini lengang dan membuka nyeri
Kutulis puisi di gerbang ini
Antara nyata dan mimpi
Mengulang kembali rindu yang lama
Saat kaukenalkan aku pada dunia
Di gerbang ini ada tangis pecah
Ada rindu yang patah
Saat mengenang kisah lama
Ketika kau titipi aku sebuah cerita
Menggapai mimpi dan mengepakkan sayap ke cakrawala
Begitulah caramu mengucap cinta
Hari ini aku datangi gerbang ini
Nikmat hidup yang telah lama kulalaikan
Kini kutanam kembali
Dengan tetes air mata ini
Telah kusiram nikmat rindu
Kelak anak-cucu kita akan memetiknya
Menjadi puisi
Gus Nas Jogja, 2013
HM Nasruddin Anshoriy Ch, yang biasa dipanggil Gus Nas, menulis puisi sejak 1978 saat masih santri di Pesantren Al Muayyad, Solo, Jawa Tengah. Tahun 1984 dia mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, difasilitasi KH Yusuf Hasyim. Sejak tahun 80-an, puisi-puisinya dimuat di Majalah Sastra Horison, Panji Masyarakat, Amanah, dan secara khusus diterbitkan Majalah Solidarity Philippines dengan ulasan mendalam oleh F Sionil Jose sebagai New Voice of Asia atau Penulis Puisi Terbaik Asia. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan puisi tingkat nasional, terkait Lingkungan Hidup, dan Memperingati 50 Tahun Indonesia Merdeka, dan lainnya. Tahun 1987, Gus Nas jadi pembicara Forum Puisi Indonesia dengan makalah berjudul ‘Sastra Engagement: Titiktemu antara Poetika, Komitmen Sosial, dan Dimensi Transenden’. Pada tahun yang sama menghadiri undangan Southeast Asian Writer’s Conference di National University of Singapore bersama Sulak Sivaraksa, Edwin Thumbo, F Sionil Jose, dilanjutkan perjalanan sastra di sejumlah negara ASEAN dengan sponsor Mendikbud Fuad Hassan. Tahun 2013, Gus Nas menjadi pembicara pada World Culture Forum di Bali dan berbagai forum kebudayaan nasional dan internasional lainnya. Dia juga menjadi produser dan sutradara berbagai film dokumenter, antara lain, ‘Mata Air Kebangsaan: Pergumulan Sejarah Ki Hadjar Dewantoro’ dan ‘Jejak Juang Sang Rais Akbar: Kepahlawanan Kyai Hasyim Asy’arie’. Saat ini, selain menulis buku, Gus Nas juga menjadi Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri di Jogjakarta |
