H. M. Nasruddin Anshoriy CH [ GUS NAS ]
ORKESTRA NEGERI
Kado Milad ke-60 Bapak Ferry Mursidan Baldan
Meneguk mata air Indonesia Raya
Aku melihat darah Tjut Nyak mengalir deras
Di jantungmu
Dalam irama orkestra
Dengan partitur negeri
Indonesia adalah belahan jiwa
Dengan Rencong dan Kujang di genggaman tangan
Kaujaga Indonesia
Dalam gerak-gemulai Tari Seudati
Dengan jerit seruling Sunda
Dan suara merdu lengking Kecapi
Darah mudamu mendidih
Untuk berbakti pada
Ibu Pertiwi
Hanya karena berkacamata
Engkau pun rela melepaskan cita-cita
Menjadi pilot menjelajah udara
Menjadi diplomat menembus dunia
Tak ada yang perlu disesali
Pantang surut ke belakang
Dengan gelora di dalam dada
Engkau berguru pada tokoh-tokoh bangsa
Belajar siasat dengan suka-cita
Kepada tokoh-tokoh pergerakan
Yang melahirkan dan merawat Indonesia
Engkau belajar dan berguru
Menjadi politisi sepenuh jiwa
Menjadi politisi untuk menolong sesama
Dengan darah patriot Atjeh
Dan ilham keteguhan hati jawara Sunda
Engkau belajar di kawah candradimuka
Bahwa politik itu berbuat baik
Dengan politik kita adil-makmurkan Ibu Pertiwi
Berpuluh tahun menempa diri
Lahirlah kebulatan tekad di relung hati
Bahwa berpolitik itu
Pantang berkhianat pada bangsa dan negeri ini
Kini jejak juang itu telah terpatri di sanubari
Pada tanggal 16 di Bulan Juni
Bulan yang melahirkan para pemimpin hebat dan guru bangsa
Usiamu genap 60 tahun
Umur panjang penuh berkah
Sisa usia yang tak sia-sia
Menuju puncak watak arif dan bijaksana
Dengan secangkir kopi
Puisi ini ditulis sebagai doa
Agar pahit-getir di masa lalu
Menjelma senyum-bahagia di masa depan
Tak ada yang lebih indah melebihi cinta
Tak ada yang lebih mulia melebihi iman di dada
Teruskan perjuangan untuk mengharumkan Indonesia
Selama-lamanya
Gus Nas Jogja, 16 Juni 2021
BUKU
In Memoriam Toeti Heraty
Setiap kali kita bertemu
Tak cuma bertukar rindu
Tapi bertukar buku
Menakar cinta dan ilmu
Pada jalan terjal filsafat
Selalu ada yang kita catat
Tentang ilmu berliku
Bertemu jalan buntu
Logika yang dilecehkan
Benda-benda
Budaya yang tak berdaya
Menjadi panglima
Lalu kita bertukar buku
Bermufakat untuk memberi manfaat
Pada peziarah yang menemukan
Jalan sesat
Pada perindu yang kehabisan
Waktu
Entah sudah berapa kali kita
Bertukar buku
Berpendar ilmu
Bertakbir kalbu
Agar di surga tak jadi pemalu
Di akhirat tak jadi benalu
Di Hotel Shangri-la Jakarta
Kaupasangkan di padaku mahkota
Di kepala
Dan kausematkan mental juara
Di dalam dada
Dengan satu pesan
Jangan pernah jadi jumawa
Aku pun menunduk
Dan berjanji di dalam hati
Hidup indah adalah berbagi peluk
Hidup damai pantang menanduk
Gus Nas Jogja, 13 Juni 2021

Prof. Dr. Toety Herati Noerhadi binti Rosseno bersama Gus Nas | dok pri
BAIT TERAKHIR TOETI HERATY
Bait pertama tak pernah usai
Kubaca
Tak mungkin selesai
Puisi yang terlalu pagi
Mengusik mimpi
Kata-kata bergumul gemulai
Menggeliat di sepanjang trotoar kota
Bermula dan berakhir
Di jalan Cemara
Kutemukan puisimu di temaram senja
Dalam lanskap Jakarta
Para perempuan yang melukis tawa dan tangis
Perjuangannya
Aku membaca puisi-puisi itu
Hingga fajar tiba
Terus membaca hingga
Tak bisa berkata-kata
Mata air dan air mata mengalir
Sebatangkara
Filsafat dan makrifat
Saling berdebat mencari manfaat
Seni dan ilmu
Terus berpacu mengurai waktu
Tiba-tiba di hari minggu
Bait terakhir puisi itu
Gugur ke bumi
Bersama kesiur angin pagi
Di bulan Juni
Gus Nas Jogja, 13 Juni 2021
NYANYIAN CEMARA
Ode buat Ibu Toeti Heraty Noerhadi
Seusai matahari mengerling di minggu Pagi
Dan ayam berkokok masih menggema
Di relung-relung sunyi
Kabar duka datang dari jalan Cemara
Hidup tak semua seindah kupu-kupu
Tapi bertumpuk-tumpuk buku yang kita baca
Telah memperindah cakrawala
Meluaskan cara pandang
Segala yang kekal atau fana
Dalam hidup yang lebam
Filsafat dan seni
Selalu ingin menjernihkan
Tapi mesin ketik tua
Seringkali kehabisan tinta
Lalu kita bertemu dalam
Bait-bait puisi
Menyanyikan desau cemara
Perempuan-perempuan perkasa
Menuliskan cinta yang bersahaja
Gus Nas Jogja, 13 Juni 2021

Prof. Dr. Mochtar Kusumahatmadja | istimewa
WAWASAN NUSANTARA
Ode buat Prof. Mochtar Kusumaatmadja
Bandung lautan api membakar
Dadamu
Nyala api menari
Membaiat semangat
Meneguhkan janji
Gugusan pulau di negeri ini
Nusantara Ibu Pertiwi
Jalan panjang menunggu
Mendaki puncak
Terik terjal diplomasi
Tanganmu menggaris
Jengkal-jengkal tanah
Di negeri leluhur ini
Sesudah Gajah Mada bersumpah:
“Samana isun Amukti Palapa!”
Engkau hadir
Meneguhkan peta
Wawasan Nusantara
Timor-Timur bergoyang
Binagraha meradang
Tanganmu erat mencengkeram
Menggengam kedaulatan
Kini Ibu Pertiwi jalan sendiri
Di malam sunyi
Saat ragamu pergi
Jejakmu setia
Kucatat dalam puisi
Di sini
Gus Nas Jogja, 6 Juni 2021
SYAIR SIWALAN
Kepada Kyai Zawawi Imron
Kesiur angin ini seakan syair
Padahal dzikir
Pohon-pohon siwalan bertasbih
Sepanjang musim
Menabung hening
Aku mengintipmu di antara pelepah resah
Riwayat makrifat
Tarikh senja membuai jiwa
Begitu khusyuk menapis gerimis
Di ujung timur Madura
Rindu itu kian mendera
Membara penuh cinta
Menderu dalam doa
Berderai membasah jiwa
Di reranting pohon kemuning
Kita harus bertanding
Agar hati tetap bersanding
Berpuluh tahun kita berunding
Tanpa menuding
Tanpa berjarak dinding
Agar jiwa semakin membening
Sembari menggenggam amar ma’ruf
Kita tanam beribu huruf
Agar sawah-sawah puisi
Subur seloka
Agar syair siwalan
Menyemerbak di cakrawala
Gus Nas Jogja, 12 Juni 2021
