Hanyalah Dia

Kala mentari turun senja / Gema azan mengusik kalbu / Dia memanggil  kekasihnya  / Datang melepas rasa rindu // Kala rembulan datang malam / Jiwa runduk merendah hati / Dia mendengar doa-doa / Tulus melambung langit tinggi // Wahai insan janganlah lupa / Kunjungi Dia di waktu malam / Mohon maaf dari segala alpa / Sebelum fajar menghapus kelam // Kala fajar menjelang tiba / Alam raya sediakan nikmat / Buka mata lekaslah jaga / Derai air mata lancarkan nikmat // Kala mentari datang pagi / Hati terbuka menyambutnya / Hanyalah Dia sumber rezeki / Sumber segala suka cita //

 

n. syamsuddin ch. haesy

Beberapa bulan jelang penghujung 2019, dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Jakarta, usai pesawat mengalami guncangan ringan di atas Kepulauan Bangka Belitung, ketika mentari senja tampak bergerak turun menuju malam, saya membayangkan hakikat senja.

Begitu banyak empirisma hidup saya tentang senja, seolah datang beriringan. Apalagi, sehari sebelumnya, agak lama saya berbincang tentang senja, termasuk dalam makna konotatif, sebagai amsal usia, di ruang kerja sahabat saya — Natsir — Kantor Berita Bernama (Berita Nasional Malaysia), bersama Sabaruddin, mantan host temubual (talkshow) TV1 – RTM (Radio Talisiyen Malaysia).

Sambil sekali sekala melihat suasana senja di luar jendela pesawat berhias gumpalan awan, saya menulis puisi sederhana bertajuk Hanyalah Dia.

Begini :  Kala mentari turun senja / Gema azan mengusik kalbu / Dia memanggil  kekasihnya  / Datang melepas rasa rindu // Kala rembulan datang malam / Jiwa runduk merendah hati / Dia mendengar doa-doa / Tulus melambung langit tinggi // Wahai insan janganlah lupa / Kunjungi Dia di waktu malam / Mohon maaf dari segala alpa / Sebelum fajar menghapus kelam // Kala fajar menjelang tiba / Alam raya sediakan nikmat / Buka mata lekaslah jaga / Derai air mata lancarkan nikmat // Kala mentari datang pagi / Hati terbuka menyambutnya / Hanyalah Dia sumber rezeki / Sumber segala suka cita //

Beberapa hari kemudian, Endang Caturwati, Guru Besar Seni Pertunjukkan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) – Bandung, menelepon, terkait rencana penulisan buku kompilasi tentang perempuan Indonesia.

Usai perbincangan, spontan saya cerita tentang puisi itu.

“Kalau ada sisa waktu luang, boleh puisi itu diubah-suai menjadi lagu,” ungkap saya.

“Kirimlah.. nanti kucoba alih-mediakan menjadi lagu,” ujarnya.

Tanpa tunggu waktu, saya kirim puisi itu. Beberapa hari kemudian, Endang mengirim lagu yang diubah-suai dari puisi itu. Saya mendengarkannya beberapa hari, sambil  menyelaras audionya. Karena lagu itu direkam bukan di studio.

Senja sangat pendek dan terbatas waktunya, tapi luas maknanya | foto ilustrasi khas

Selesai menyelaras  audio lagu itu, saya kontak lagi Endang.

“Aku suka lagunya. Pilihan nada dan komposisi iramanya, persis seperti yang kubayangkan. Hubungan manusia dengan Tuhan, dan alam dalam dimensi sesungguh cinta,” ungkap saya.

“Aku juga suka puisi, itu. Menggugah kesadaran yang selama ini terabaikan, tentang hakikat cinta dan kasih sayang Allah kepada manusia,” respon Endang.

Lama kami berbincang seputar syair dan lagu itu.

Anak bungsu saya berkomentar atas puisi dan lagu itu. “Alhamdulillah.. InsyaAllah kesadaran tentang hakikat hubungan manusia dalam konteks siklus waktu yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, kian menguatkan hubungan ayah dengan Allah,” katanya.

Saya meng-amiin-kan ujaran itu.

Manusia Bukanlah Sesiapa

Dalam pusaran waktu, senja sebagaimana halnya dengan subuh dan fajar, merupakan waktu yang sangat pendek, namun saya rasakan sangat panjang dan luas maknanya.

Orang tua saya, sejak saya kecil selalu membuka ruang kesadaran dan pemahaman semua anak-anaknya tentang hakekat subuh dan fajar sebagai momen untuk mengecek agenda aktivitas harian (rutin maupun tak rutin), akan halnya senja, sebagai momen untuk melakukan evaluasi atas capaian aktivitas sepanjang siang.

Ayah dan Ibu juga memberi contoh bagaimana memaknai malam, mulai dari bercengkerama dengan anak-anak dan anggota keluarga; melaksanakan salat fardhu berjama’ah sambil menggilir anak laki-lakinya untuk adzan, iqamat; memandu dan menemani kami menderas al Qur’an; belajar, menghabiskan waktu untuk bersenandung lagu Melayu, atau sekali sekala ketika dikunjungi Abdillah Harris (pencipta lagu Kudaku Lari Kencang, sutradara film Panji Tengkorak) dan istrinya, Junaedah (mantan istri pertama P. Ramlee) berbincang tentang banyak hal. Pun, demikian dengan tamu lain.

Manusia terus bergerak mengikuti ‘pusaran waktu’ di dalam atau di luar ruang | foto ilustrasi khas

Proses edukasi di dalam keluarga berlangsung intensif dengan dinamika dan iramanya sendiri. Setiap kami, punya pengalaman dan kesan yang berbeda satu dengan lainnya. Namun, focal concern-nya sama.

Pertama, “Bergantung hidup hanya kepada Allah, jangan kepada manusia, karena Allah al Khaliq – yang menciptakan manusia, maka Allah juga – sebagai Rabb — yang memelihara apa yang diciptakan-Nya.”

Kedua, “Nasib manusia bergantung kepada ikhtiar-Nya, ilmu pengetahuan adalah tools – perangkat ikhtiar, itu. Ikuti jenjang pendidikan paling tinggi, hanya untuk mendapatkan ilmu seluas-luasnya supaya berkualitas dalam beribadah dan beramal. Jangan hubung-hubungkan jenjang pendidikan dengan pekerjaan. Sebaiknya tidak menjadi pegawai.”

Ketiga, “Manusia berilmu itu manusia mulia, karenanya sangat rendah hatinya, jangan congkak, sombong dan takabbur, karena yang berhak takabbur hanya Allah. Tempatkan hatimu pada posisi paling rendah, namun tetap jaga integritas diri.”

Keempat, “Hanya Allah pemberi rezeki, dan setiap rezeki yang diberikan Allah dalam bentuk harta, ada hak saudaramu dan orang lain, di dalamnya. Jangan pelit dan jangan memakan harta yang bukan hakmu. Dapatkan harta dengan cara yang benar.”

Kelima, “Pahami salat sebagai cara Allah memberi peluang untuk membalas cinta dan kasih sayang-Nya. Karena Allah tak pernah lengah dan bosan mendengarkan serta mengabulkan do’a. Pelajari caranya, supaya do’a kalian terkabul.”

Enam, “Semakin dekat hubungan dengan Allah, tak ada sesuatupun yang perlu ditakuti. Konsisten menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Jangan pernah lari dari kewajiban menegakkan hal itu.”

Sampai akhir hayatnya, ayah dan ibu konsisten untuk selalu mengingatkan anak-anaknya tentang enam hal tersebut. Semuanya, mesti diwujudkan dengan sikap qana’ah. Menerima dan mensyukuri realitas hidup.

Dengan sikap qana’ah itu manusia terpandu untuk menuju jalan mencapai kualifikasi sebagai insan terbaik. Ukurannya? Kemanfaatan diri untuk kepentingan orang banyak.

Belakangan, saya menyadari, bahwa puisi yang diubah-suai menjadi lagu bertajuk Hanyalah Dia — yang sekaligus dinyanyikan oleh Endang, itu sesungguhnya, terlahir dari proses tempaan orang tua dalam proses tubuh kembang sejak masa kanak-kanak.

Lagu itu saya share ke ibu asuh yang beroleh amanah dari (Allahyarham) ayah dan ibu memandu (dan sampai kini masih menjadi) kritikus paling awal atas pemikiran dan karya-karya saya.

Mereka berkomentar, acap mendengar lagu, itu selalu terbayang wajah (Allahyarham) ayah dan ibu saya.

“Jangan pernah lelah berkarya, meski usiamu sudah senja,” ujar ibu asuh saya.

Manusia bukanlah sesiapa tanpa Dia. Karenanya, Hanyalah Dia (Allah) yang Maha Absolut, Maha Distinct, dan Maha Unique yang menjadi Sumber segala sumber cinta dan kasih sayang, yang tak pernah sekejap pun alpa mengasihi dan menyayangi manusia, hamba-Nya. |

 

Padu – Bonjer, 31 Mei 2021

Posted in LITERA.