Puisi-Puisi Gus Nas
DI LANGIT PALESTINA
Di langit Palestina kusaksikan kembang api menyala
Al-Aqsha seaman sedang merayakan orkestra
Lebih pesta dari pesta
Inikah wajah senjakala di langit Gaza?
Ketika rudal zionis Israel dan roket Hamas bersenggama di cakrawala
Saat kota suci tiga agama itu diperkosa bersama
Di langit Palestina bercipratan ratap duka
Riuh keruh bersetubuh dalam kibaran luka
Derap durjana berbaris gagah mengangkangi kota
Lebih pesta dari pesta
Kebiadaban yang membabi buta
Kemanusiaan yang diterkam taring serigala
Tel Aviv terus berpesta
Striptease dan anggur dihidangkan di atas meja
Saat tentara Israel menyalakan bola api dan ratusan rudalnya untuk membakar bocah-bocah Palestina
Inikah perjamuan terakhir umat manusia?
Manakala lebam dan luka bermandi darah dalam satu belanga?
Dengan bait-bait puisi berlumur duka dan cinta
Hari ini kukutuk Israel agar terjungkal dan tenggelam di kerak neraka!
Gus Nas Jogja, 16 Mei 2021
PALESTINA, AKULAH TAKBIRMU
Palestina, akulah takbirmu
Ketika Al Quds melambungkan asap ke cakrawala
Manakala Al Aqsha menjelma bara api di relung dada
Palestina, akulah takbirmu
Di Jalur Gaza ini berkali-kali kucari Nabi Musa
Kupanggil-panggil namanya dengan harum mawar di bibirku
Jangankan Nabi Musa
Tongkatnya pun kini tak lagi tersisa
Pada tembok ratapan yang penuh bara api
Kusebut nama Nabi Isa Al Masih dengan lidah yang perih
Dimanakah Kerajaan Surga itu kini berada?
Keadilan menjadi fatamorgana
Kedamaian hanya busa di bibir saja
Palestina, ampuni aku
Ruh para nabi telah kuhadirkan di sini
Agar terhidang cawan suci
Bersama anggur dan roti
Kini semua menjadi mimpi abadi
Bocah-bocah pejuang intifadah sudah terkapar di tanah
Sayap-sayap malaikat pun meneteskan darah
Marwah Palestina hanya tersisa di dalam doa
Gus Nas Jogja, 15 Mei 2021

Kezaliman ini kelak berbalas, seperti Abrahah pernah menerimanya | foto ilustrasi / istimewa
PALESTINA, MAAFKAN AKU
Suara-suara suci yang selalu menghimbau damai itu kini telah bungkam oleh deru mesiu
Bocah-bocah Palestina dengan ketapel di tangan
Telah lama tergeletak mati sebelum takbir Idulfitri
Di antara gema azan yang patah dan berlumur darah
Aku menyaksikan Benjamin Netanyahu sedang mengiris daging steak di atas piring panas
Bersama Joe Biden yang tua renta entah apa yang dibicarakannya
Inikah suara keadilan yang sering kudengar menghias di bibir dunia?
Diplomasi amunisi yang menjadikan hak-hak asasi lebih mati dan semakin mati
Maafkan aku, Palestina!
Idulfitri kali ini hanya ada lebam dan pilu dalam desing peluru
Sesudah Hamas meremas cemas di sekujur luka di kalbu
Tentara Israel menggilas Gaza hingga nyeri mengharu-biru
Manusia yang menjadikan kemanusiaan hanya comberan
Masih bisakah disebut manusia?
Mesin-mesin pembunuh yang diremote dari Tel Aviv
Jutaan peluru yang dikirim dari Washington
Hak-hak asasi manusia macam apa ini?
Maafkan aku, Palestina!
Idulfitri kali ini telah mati
Manusia dan kemanusiaan telah mati
Kasih dan perdamaian juga sudah mati
Gus Nas Jogja, 15 Mei 2021
PALESTINA, APA KABARMU?
Takbir berdarah muncrat dari suara senyapku
Luka di atas luka disiram air cuka
Menyalakan api purba di pelupuk mata Palestina
Atas nama apa anak-anak di Palestina harus terkoyak jantungnya
Apakah ada agama yang membenarkan kezaliman ini dan kebiadaban macam ini?
Kemanusiaan yang kian terlunta dan disayat-sayat hatinya
Tapi kenapa para pejuang hak-hak asasi manusia telah buta tuli tanpa suara?
Gaza merah membara
Suara tangis bayi dan takbir Idulfitri bercampur desing peluru
Puing-puing duka-cita janda-janda Palestina
Bercampur dengan kebrutalan Zionis Israel yang terus membabi-buta
Menjarah Tanah Air dan memperkosa kemanusiaan bangsa Palestina
Tak ada Idulfitri di bumi Aqsha
Suara takbir telah dilumat gemuruh mortir
Sementara bibir para pemimpin dunia tak kunjung buka suara
Lebaran adalah merayakan kesabaran
Lebaran adalah mentakbirkan kejujuran
Lebaran adalah suka-cita berbagi kemaafan
Tapi tidak bagi tentara Israel
Tidak bagi mereka yang memang telah dibutakan oleh kebencian dan tipudaya
Gus Nas Jogja, 14 Mei 2021

Hidup hanya pilihan. Hidup Mulia atau Mati Syahid | ilustrasi dan foto istimewa
MENCARI IDUL FITRI
Di penghujung ramadan seputih kapas ini
Yang tersisa dariku hanya puisi
Labirin lapar yang sebulan lamanya kuziarahi
Tak juga kujumpa arus tadarus pada serpih perihku
Bermuka-muka dengan lapar dahaga
Bermuka-muka dengan iktikaf dan doa
Raut wajahku tak kunjung menyala
Puasaku kali ini tak juga mempusakai jiwa
Kini kupekik Idul Fitri dalam takbir sunyi
Tapi yang kuucap hanya geliat lintah dalam lidahku
Aku menyaksikan bait-bait gurindam menikam diam
Ribuan seloka memekik luka
Pantun melantun menebas nestapa
Aha, dimana talibun menyalakan api pada sisa-sisa bara di dalam dada?
Idul Fitri menari di pucuk-pucuk duri
Pada puncak-puncak nyeri dan perih Ibu Pertiwi
Mengabarkan derita dan pilu para yatim-piatu di negeri ini
Kepada siapa banjir bandang takbir ini kualamatkan dalam hidup dan mati?
Gus Nas Jogja, 14 Mei 2021
Puisi Al Kadri Johan
MENANGIS UNTUK PALESTINA
Aku menangis untuk palestina
saat Masjidil Aqsha dibombardir
bersamaan kumandang takbir
menyambut hari raya.
aku menangis untuk palestina
ketika mayat-mayat itu; tak peduli tua, perempuan, atau anak-anak, tersungkur di atas sajadah berlumuran darah.
Masihkah kalian bisa berteriak; musnahkan para radikal itu, para teroris yang penuh kebencian itu, bersihkan bumi ini dari kehadiran mereka?.
lalu kalian bungkam untuk
sebuah fakta; bahwa kalianlah
sesungguhnya dajjal yang
penuh tipu-daya, fitnah,
dan angkara murka.
Aku menangis untuk palestina, juga untuk dusta sistematis yang kini mengharu-biru
setiap sudut dunia.
Aku menangis untuk suku
uighur di cina, untuk rohingya di myanmar, untuk aah….
hari ke hari kian gegap-
gempita teriakan musnahkan para radikal dan teroris
biadab yang penuh
kebencian itu….
masih perlukah tangisan
untuk semua itu, sementara maling teriak maling, sang
pelempar batu sembu-
nyikan tangan?.
airmataku
kini….
mengering
sudah.
bekasi 15 mei 2021.

Mujahidah dan mujahid yang mengungsi di tanah airnya sendiri – akibat ulah penjajah teroris zionis Israel | foto istimewa
Puisi N. Syamsuddin Ch. Haesy
KANDIDAT PENGHUNI SURGA DI PALESTINA
(1)
bandit-bandit itu
datang ke Yerussalem
kala nafsu kaum penjajah
bersekutu dengan dendam sejarah
selepas perang dunia usai
semangat merdeka menggelora
bersijingkat
lalu berjingkat
lali berjingkat-jingkat
aristokrat inggris
pegang kuasa
menyerahkan tanah ilahi
kepada bandit-bandit itu
(2)
bandit-bandit berkuasa
mengubah diri
dari peziarah jadi penjarah
dari penjelajah jadi penjajah
dari turis jadi teroris
menumpas penduduk asli
merangsek rumah-rumah harmoni
menggeledah ruang-ruang ruhani
menggelandang penduduk asli
mengungsi di tanah air sendiri
bandit-bandit berkuasa
memantik bisnis senjata
bandit-bandit itu Yahud berjubah bani Israil
teroris radikal berkemeja zionis
menebar petaka
pada 15 Mei 1948
(3)
bandit-bandit kian berkuasa
menjual sejarah dan daya bumi
di bursa gelap banque
meracik riba dalam semangat kapitalisme
mengolah racun berbisa
jadi alkohol bagi para pemabuk
kuasa dunia
mereka bermimpi
merampas Palestina
mereka lupa
ada monumen Illahi
di Baitul Maqdis
mereka abai
ihwal ruhul jihad tak pernah padam
(4)
kaum yang jahil
bertelingkah aristokrasi
kepongahan Yahud
meniru Ramses
mengabaikan Musa
menikam saudara sendiri
dengan senjata takfiri
daya umat terpecah
tak lagi bongkah batu hampar tanah Palestina
cuma batu serpih mainan para pecundang
mereka abai dan tak kenal
ruhul jihad di jiwa bangsa Palestin
tak gentar melawan
teroris sionis penjajah
hingga pecah perang
bulan Juni 1967
(5)
atas nama senjata
atas nama kalkulasi angka-angka riba
di jaring kapitalisme pasar modal,
pasar uang dan bank
memelihara perang
mencabik adab
berkemul dengan iblis
dan bandit-bandit itu
kian ganas dari masa ke masa
kian beringas menampakkan sosok diri
hewan-hewan berakal tanpa nurani dan rasa
menebar perang untuk birahi kuasa
penjajah laknat
kala penerima amanat
mengurus ummat
mabuk kesumat
melontar peluru takfiri
ke jidat saudara sendiri
tapi jangan pernah putus asa, saudaraku
nanomonster covid 19
kan berubah black death tujuh abad silam
mengoyak, mencabik mereka
lusa dalam bilangan masa
ketika mereka tak lagi kuasa
kala Allah
gerakkan insan-insan pemberani
dengan keberanian
menghidupkan lagi
ruh keberanian syuhada
menyediakan
darah
tubuh
dan nyawa
mencapai izzah
mengibarkan bendera tauhid
kalian adalah para pemberani, saudaraku
ku melihat gagah dan moleknya
kandidat penghuni surga tanpa hisab
wajah-wajah kalian
wajah-wajah barisan kaum dan bangsa
yang lantang berseru:
“kami tak akan tunduk pada kalian. kami tak kan tinggalkan tanah air kami. kami sediakan jiwa, raga dan nyawa, menyambut kalian..”
kita lawan mereka dengan kalimah tauhid
dengan rukuk dan sujud
dengan shaum
dengan infaq zakat dan shadaqah
hingga sempurna haji kita
semHaesy
jakarta, 16.05.21
