Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch. Haesy

Anak Anak Peradaban

[ kepada anak-anak Palestina ]

 

anak-anak peradaban dengan nyali besar

menyeruak di antara letusan senjata

desing bom pemusnah manusia

dentam mortir, bau mesiu

sisa permukiman lantak merata bumi

mereka menentang kezaliman

iblis bersenjata dan berseragam

di tanah kelahiran agama samawi

anak-anak Palestina

patriot sejati

merekalah kemanusiaan dan keberanian

yang tersisa

anak-anak peradaban dengan nyali besar

melawan barisan iblis ganas

dengan sepatu lars dan laras senjata

menghancurkan masa depan

dunia bisu, dunia tuli

nikmat berubah laknat

umat tersesat di antara kiat dan siasat

anak-anak peradaban dengan nyali besar

berteriak lantang memaknai kemerdekaan

di Yerussalem, Gaza, Syatila, Ramalah dan seluruh pelosok negeri Palestina yang terampas

masa silam kita bersama mereka

ketika kini

kita tak lagi bisa membuktikan

pernyataan lantang masa lampau:

“Kemerdekaan adalah hak segala bangsa”

anak-anak peradaban dengan nyali besar

hanya tersambangi dengan ratap

puisi sendu, do’a pilu dan nyanyian duka

kita bagian dari dunia yang bisu

disibukkan sentak-sengor menyoal mazhab,

buih yang diombang-ambingkan kaum takfiri,

dihanyutkan sengketa qobliyah dan ba’diyah,

dihanyutkan kalkulasi pahala ubudiyah

 

Foto-foto dari berbagai sumber

di malam-malam penghujung ramadan

aku terhenyak di ruang sunyi

membaca surah-surah al itaq dan tiladi

anak-anak peradaban dengan nyali besar itu

sisa keping cermin melihat wajah kusam

berlumur noktah kedhaifan

di atas tumpuan pilar tauhid yang terkulai

anak-anak peradaban dengan nyali besar

tak lagi menghitung bilangan pahala ubudiyah

karena hidup seringkali hanyalah

hitungan waktu persekutuan maut dan ajal

aku merunduk di ruang khalwat

penghujung ramadan

dalam i’tikaf menderas ayat-ayat

lembaran kitab suci yang koyak ujungnya

aku malu

cucu-cucuku

tengoklah saudara-saudara sebayamu

menentukan arah jalan peradaban kalian

berteguhlah pada tauhid dan ilmu

hingga tak tersesat dalam siasat

arus besar kaum pencari selamat

lihat.. lihatlah

anak-anak peradaban di Palestina

memaknai hakikat kemanusiaan

menegak keadilan

meski ujung laras bedil anak cucu da’jal yang kerdil

mengarah ke dada mereka

anak-anak peradaban dengan nyali besar

aku berguru kepadamu

memaknai hakikat hidup

sebagai manusia

bukan hewan yang berakal

 

(Bonjer – Srengseng – 28 Ramadan 1442H)

 

Foto TRTWORLD

Tahiyat

tahiyatmu saudaraku tahiyat mujahid

tahiyat tenang di malam-malam

laylatul qadar

menjumpai mukminin dan mukminat

bersih jiwa raganya

bersinar rupa dan ruhnya

tahiyat

insan kamil

tak tegoda amarah

bergandengan tangan lawwamah

melangkah menjemput muthmainnah

menjangkau mulhamah

menyesali segala khilaf dan alpa

menghilangkan rasa gentar dan takut

hingga mencapai radhiyah dan mardhiyah

tahiyatmu saudaraku tahiyat tanda tawaddu’

tenang menghadapi congkak dan takabbur

tak tergoda iblis

memainkan lakon sandiwara

memutar balik ayat-ayatNya

memaknai segala yang tersirat dari yang tersurat

aku cemburu kepadamu

 

(Bonjer – Srengseng – 27 Ramadhan 1442 H)

Rembulan

 

rembulan mabuk. tersungkur.

jatuh di pangkuan ibu pertiwi.

malam gelap menebar senyap.

jembalang mengendap-endap.

mengintip orang-orang pandir.

pemburu kuasa.

jembalang berkisik memanggil dhemit dan suwanggi.

merdeka bergerak berderap.

lalu nyelinap ke jiwa dan batin orang-orang pandir

“kita mesti bergerak lebvih cepat dari nanomonster corona,” teriak dhemit.

“ya.. kita mesti bergerak cepat.

aku akan semayam dan merasuk ke jiwa mereka,” jawab suwanggi.

jembalang meliukkan tubuhnya, memantik birahi.

melayang di udara.

“aku akan masuk ke otak mereka,

melumat nalar dan nurani

melumpuhkan kesadaran,

agar kejahatan kita segera menyebar

dan semayam di jiwa jutaan manusia,” seru jembalang.

lalu terbang ke langit kelam.

rembulan mabuk. tersungkur.

jembalang, dhemit dan suwanggi keluyuran

menebar kepandiran, hasad, hasud, iri, dengki

dan fithan.

 

(Bonjer – Srengseng, 19 Ramadan 1442 H)

 

Iqra’  [1]

 

pada malam

ketika dengan kalam

Engkau mengajarkan Muhammad

Rasul pilihan

membaca tapak-tapak kuasa-Mu di semesta raya

Ooo Allah.. Engkau pandu juga ia

memahami hakikat ada-Mu

sebagai Maha Superkreator.

Setelahnya, 300 purnama berlalu.

Engkau berikan ilmu-Mu

hingga insan yang berfikir dengan akalbudi

paham dan mengerti

tentang keadilan, peradaban, dan kemanusiaan

mengalir ilmu dan teknologi di sungai-sungainya

tapi kami teramat gagap dan pandir

untuk memahami

bagaimana isyarat-Mu agar insan tahu diri

berhenti merusak tatanan semesta

dan bertobat sesungguh tobat kepada-Mu

Iqra.’ Kubaca, dan aku malu.

Betapa sebagai insan

Belum juga fasih membaca isyarat-Mu

Ooo.. Allah

Ma’afkan hamba

 

(Bonjer – Srengseng, 15 Ramadan 1442 H)

 


Nama-nama Itu

nama-nama itu berkurang bilangannya

dalam do’a malamku

aku tak mampu mengingatnya kembali

meski kucatat di dinding khalwat

aku terbata

setiap menyebut nama yang masih tersisa

ada apa gerangan

Allah

dengan asma-Mu

dengan cinta dan kasih sayang-Mu

mudahkan hamba mengingat lagi

nama-nama yang semula ada

dalam do’a – do’aku

mengapa ada jarak

aku ingin nama-nama itu

kembali ada dalam do’a malamku

Yaa Lathiful Khabir

lembutkan segala hati yang membatu

lembutkan hati yang terbakar prasangka

lembutkan hati yang terpanggang

hasad dan hasud

perkaya lagi ingatanku

mudahkan aku mengingat

dan menyebut nama-nama itu

dalam do’a-do’a malamku

mudah-mudahkanlah mereka

hingga tak menyulitkan yang mudah

ringan-ringankanlah beban mereka

hingga tak memberatkan yang ringan

Allah Ya Muqallibal Qulub

balikkan hati kami

agar senantiasa runduk tunduk

di hadapan kuasa-Mu

senantiasa ada di laluan-Mu

Allah Ya Maliqul Kabir

tetapkan daku

dalam kesadaran

teramat kecil di hadapanMu

jangan biarkan di antara kami

ada yang mencuri selendang-Mu

Engkaulah hanya yang pantas mengenakannya

Allah Ya Rahman Ya Rahiim

mudahkan ingatanku

mengingat lagi

nama-nama

yang semula ada

dalam do’a do’aku

 

(Bonjer – Srengseng, 10 Ramadhan 1442 H)

 

 

Posted in LITERA.