Anak Anak Peradaban
[ kepada anak-anak Palestina ]
anak-anak peradaban dengan nyali besar
menyeruak di antara letusan senjata
desing bom pemusnah manusia
dentam mortir, bau mesiu
sisa permukiman lantak merata bumi
mereka menentang kezaliman
iblis bersenjata dan berseragam
di tanah kelahiran agama samawi
anak-anak Palestina
patriot sejati
merekalah kemanusiaan dan keberanian
yang tersisa
anak-anak peradaban dengan nyali besar
melawan barisan iblis ganas
dengan sepatu lars dan laras senjata
menghancurkan masa depan
dunia bisu, dunia tuli
nikmat berubah laknat
umat tersesat di antara kiat dan siasat
anak-anak peradaban dengan nyali besar
berteriak lantang memaknai kemerdekaan
di Yerussalem, Gaza, Syatila, Ramalah dan seluruh pelosok negeri Palestina yang terampas
masa silam kita bersama mereka
ketika kini
kita tak lagi bisa membuktikan
pernyataan lantang masa lampau:
“Kemerdekaan adalah hak segala bangsa”
anak-anak peradaban dengan nyali besar
hanya tersambangi dengan ratap
puisi sendu, do’a pilu dan nyanyian duka
kita bagian dari dunia yang bisu
disibukkan sentak-sengor menyoal mazhab,
buih yang diombang-ambingkan kaum takfiri,
dihanyutkan sengketa qobliyah dan ba’diyah,
dihanyutkan kalkulasi pahala ubudiyah

Foto-foto dari berbagai sumber
di malam-malam penghujung ramadan
aku terhenyak di ruang sunyi
membaca surah-surah al itaq dan tiladi
anak-anak peradaban dengan nyali besar itu
sisa keping cermin melihat wajah kusam
berlumur noktah kedhaifan
di atas tumpuan pilar tauhid yang terkulai
anak-anak peradaban dengan nyali besar
tak lagi menghitung bilangan pahala ubudiyah
karena hidup seringkali hanyalah
hitungan waktu persekutuan maut dan ajal
aku merunduk di ruang khalwat
penghujung ramadan
dalam i’tikaf menderas ayat-ayat
lembaran kitab suci yang koyak ujungnya
aku malu
cucu-cucuku
tengoklah saudara-saudara sebayamu
menentukan arah jalan peradaban kalian
berteguhlah pada tauhid dan ilmu
hingga tak tersesat dalam siasat
arus besar kaum pencari selamat
lihat.. lihatlah
anak-anak peradaban di Palestina
memaknai hakikat kemanusiaan
menegak keadilan
meski ujung laras bedil anak cucu da’jal yang kerdil
mengarah ke dada mereka
anak-anak peradaban dengan nyali besar
aku berguru kepadamu
memaknai hakikat hidup
sebagai manusia
bukan hewan yang berakal
(Bonjer – Srengseng – 28 Ramadan 1442H)

Foto TRTWORLD
Tahiyat
tahiyatmu saudaraku tahiyat mujahid
tahiyat tenang di malam-malam
laylatul qadar
menjumpai mukminin dan mukminat
bersih jiwa raganya
bersinar rupa dan ruhnya
tahiyat
insan kamil
tak tegoda amarah
bergandengan tangan lawwamah
melangkah menjemput muthmainnah
menjangkau mulhamah
menyesali segala khilaf dan alpa
menghilangkan rasa gentar dan takut
hingga mencapai radhiyah dan mardhiyah
tahiyatmu saudaraku tahiyat tanda tawaddu’
tenang menghadapi congkak dan takabbur
tak tergoda iblis
memainkan lakon sandiwara
memutar balik ayat-ayatNya
memaknai segala yang tersirat dari yang tersurat
aku cemburu kepadamu
(Bonjer – Srengseng – 27 Ramadhan 1442 H)
Rembulan
rembulan mabuk. tersungkur.
jatuh di pangkuan ibu pertiwi.
malam gelap menebar senyap.
jembalang mengendap-endap.
mengintip orang-orang pandir.
pemburu kuasa.
jembalang berkisik memanggil dhemit dan suwanggi.
merdeka bergerak berderap.
lalu nyelinap ke jiwa dan batin orang-orang pandir
“kita mesti bergerak lebvih cepat dari nanomonster corona,” teriak dhemit.
“ya.. kita mesti bergerak cepat.
aku akan semayam dan merasuk ke jiwa mereka,” jawab suwanggi.
jembalang meliukkan tubuhnya, memantik birahi.
melayang di udara.
“aku akan masuk ke otak mereka,
melumat nalar dan nurani
melumpuhkan kesadaran,
agar kejahatan kita segera menyebar
dan semayam di jiwa jutaan manusia,” seru jembalang.
lalu terbang ke langit kelam.
rembulan mabuk. tersungkur.
jembalang, dhemit dan suwanggi keluyuran
menebar kepandiran, hasad, hasud, iri, dengki
dan fithan.
(Bonjer – Srengseng, 19 Ramadan 1442 H)
Iqra’ [1]
pada malam
ketika dengan kalam
Engkau mengajarkan Muhammad
Rasul pilihan
membaca tapak-tapak kuasa-Mu di semesta raya
Ooo Allah.. Engkau pandu juga ia
memahami hakikat ada-Mu
sebagai Maha Superkreator.
Setelahnya, 300 purnama berlalu.
Engkau berikan ilmu-Mu
hingga insan yang berfikir dengan akalbudi
paham dan mengerti
tentang keadilan, peradaban, dan kemanusiaan
mengalir ilmu dan teknologi di sungai-sungainya
tapi kami teramat gagap dan pandir
untuk memahami
bagaimana isyarat-Mu agar insan tahu diri
berhenti merusak tatanan semesta
dan bertobat sesungguh tobat kepada-Mu
Iqra.’ Kubaca, dan aku malu.
Betapa sebagai insan
Belum juga fasih membaca isyarat-Mu
Ooo.. Allah
Ma’afkan hamba
(Bonjer – Srengseng, 15 Ramadan 1442 H)

Nama-nama Itu
nama-nama itu berkurang bilangannya
dalam do’a malamku
aku tak mampu mengingatnya kembali
meski kucatat di dinding khalwat
aku terbata
setiap menyebut nama yang masih tersisa
ada apa gerangan
Allah
dengan asma-Mu
dengan cinta dan kasih sayang-Mu
mudahkan hamba mengingat lagi
nama-nama yang semula ada
dalam do’a – do’aku
mengapa ada jarak
aku ingin nama-nama itu
kembali ada dalam do’a malamku
Yaa Lathiful Khabir
lembutkan segala hati yang membatu
lembutkan hati yang terbakar prasangka
lembutkan hati yang terpanggang
hasad dan hasud
perkaya lagi ingatanku
mudahkan aku mengingat
dan menyebut nama-nama itu
dalam do’a-do’a malamku
mudah-mudahkanlah mereka
hingga tak menyulitkan yang mudah
ringan-ringankanlah beban mereka
hingga tak memberatkan yang ringan
Allah Ya Muqallibal Qulub
balikkan hati kami
agar senantiasa runduk tunduk
di hadapan kuasa-Mu
senantiasa ada di laluan-Mu
Allah Ya Maliqul Kabir
tetapkan daku
dalam kesadaran
teramat kecil di hadapanMu
jangan biarkan di antara kami
ada yang mencuri selendang-Mu
Engkaulah hanya yang pantas mengenakannya
Allah Ya Rahman Ya Rahiim
mudahkan ingatanku
mengingat lagi
nama-nama
yang semula ada
dalam do’a do’aku
(Bonjer – Srengseng, 10 Ramadhan 1442 H)
