Puisi Puisi Gus Nas Ihwal Pendidikan, Buruh dan Kematian

H. M Nasruddin Anshory Ch

 

Do’a di Hari Pendidikan

 

Kepada mereka yang merundung bumi

Yang membabat hutan dengan keji

Yang mencemari sungai dan laut tanpa hati nurani

Aku ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional  di pagi ini

 

Kepada mereka yang melecehkan guru dan ilmu

Yang merendahkan martabat kemanusiaan

Yang menyunat dan korupsi dana pendidikan

Yang meludahi kejujuran dengan dusta dan tipudaya

Kuucapkan Selamat Hari Pendidikan

 

Kepada mereka yang menjual gelar dan ijazah

Yang menyematkan pangkat tanpa keringat

Yang menyandangi robot dengan baju toga

Aku ucapkan Selamat Hari Pendidikan

 

Kepada mereka yang tumpul rasa pada kebodohan

Yang buta-tuli pada keterbelakangan

Yang berdiri pongah di tengah kemiskinan

Aku ucapkan Selamat  Hari Pendidikan

 

Juga kepada mereka yang menjual nama Tuhan

Yang menjadikan agama sebagai mata dagangan

Yang menyebut dirinya paling beriman

Yang mulutnya nyinyir dan gampang mengkafirkan

Aku ucapkan Selamat  Hari Pendidikan

 

Sembari terbatuk-batuk karena polusi

Kutafakurkan gelisah hati di dalam diri

Mencari ruh sejati dan kebeningan iman di kedalaman hati

Hari ini terus kucari makna kecerdasan dan akal sehat di musim pandemi

 

Tak sempat menepuk jidat

Tak sempat menggaruk-garuk kepala

Sukmaku hijrah melampaui semesta

 

Ingin merenung di puncak gunung

Ingin semadi di gua sunyi

Memetik marwah dalam iman dan ilmu di Mihrab Suci

 

Aku mencari Guru Sejati

Yang mengajarkan akhlak mulia tanpa kata-kata

Yang menghadirkan budi pekerti tanpa basa-basi

Yang menebar keteladanan dengan perilaku rendah hati

 

Guru yang telah melampaui rasa pamrih

Pendidik yang tak pernah mencela atau menghardik

Pengajar yang menyedekahkan akar nalar

Hamba Tuhan yang menggembalakan jiwanya menemukan ilmu semesta

Menjadi Khalifah Tuhan di muka bumi

 

Atas nama cinta dan keluhuran budi

Hari Pendidikan Nasional kali ini kurayakan dengan Ibadah Puisi

 

 

Gus Nas Jogja, 2 Mei 2021

 

Mencari Ki Hadjar

 

Menapaki Peta Jalan Pendidikan yang penuh liku

Aku tersandung batu-batu

Hamparan kerikil dan debu bertabur di karpet merah ziarahku

 

Di Joglo Tamansiswa hanya ada senjakala

Aku mencari jejak Ki Hadjar Dewantoro

Tapi yang kutemukan hanyalah suara bising yang mengganggu tafakurku

Kidung Maskumambang menjeritkan suara pilu

 

Apakah Peta Jalan Pendidikan sudah sejalan dengan Panca Dharma

Yang merumuskan Tamansari Nusantara yang sesungguhnya?

 

Hanya bunyi jangkrik yang berkesiur di telingaku

Birokrasi dan politik biaya tinggi mengharu-biru dan melecehkan akal sehatku

 

Pendidikan yang hanya mengigau tentang kecerdasan

Tapi buta-tuli pada akal-budi dan hati nurani

Hanyalah pendidikan akal-akalan para amtenar yang duduk manis di meja kerja

Tapi memunggungi realitas sosial yang ada

 

Pendidikan yang hanya membeo kaum kapitalis global

Yang bertaburan gemerlap iklan

Yang berkiblat pada kelihaian dalam mengeksploitasi bumi

Hanya melahirkan akal busuk bagi pembangunan manusia dan kemanusiaan

 

Pendidikan yang hanya menghasilkan makelar dan calo

Yang tergagap-gagap merumuskan peradaban

Lupa tatakrama karena disibukkan dengan tatatertib

Adalah pendidikan ornamental bermazhab sinetron di layar kaca

Pamer kemewahan tapi krisis prestasi dan jati diri

 

Pendidikan yang tanpa dibingkai sejarah

Yang memalingkan muka pada jasa para pahlawan

Yang malu-malu menuliskan kata akhlak pada tujuannya

Yang tak setia menggandeng agama

Yang setengah hati memajukan kebudayaan

Adalah pendidikan yang tak melecehkan kemanusiaan

 

Dalam labirin dusta di senjakala ini

Aku merindukan Ki Hadjar Dewantara

Yang menjadikan pendidikan untuk kemerdekaan

Yang menjadikan pendidikan untuk pembebasan

Yang menjadikan pendidikan untuk kemuliaan

 

Dalam silang sengkarut peta jalan pendidikan

Aku merindukan Kyai Ahmad Dahlan

Yang menjadikan ilmu pengetahuan untuk mencerahkan

Yang menghadirkan agama untuk menuntun orang-orang yang buta

Yang dengan gesekan biola menghibur luka dan nestapa umat manusia

 

Dalam simpang-siur peta jalan pendidikan

Aku merindukan kehadiran Hadratussyeikh Hasyim Asy’arie

Yang dengan agama menyatukan perbedaan

Yang dengan iman menggelorakan jihad kemanusiaan

Yang dengan akhlak dan kearifan menumbuhkan kebangsaan

 

Hari ini tanggal 2 Mei

Dengan dukacita kukibarkan doa

Dengan menziarahi sejarah kudekap luka menganga

Apakah peta jalan pendidikan akan mengajakku menuju iman dan takwa

Dengan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi yang kian digdaya

 

Ataukah aku hanya fasih mengucap kata merdeka belajar

Tapi bingung membumikan Pancasila?

Dan membiarkan korupsi dan narkoba menjadi tsunami yang menghancurkan bangsa?

 

Gus Nas Jogja, 2 Mei 2021

Memperingati Hardiknas 2021

Ilustrasi modifikasi foto Kapal Selam KRI Nenggala 402

 

Buruh

 

“Buruh Dinista

Upah Dibelah!”

 

Begitulah bunyi perih bahasa

Saat para majikan kian tak berdaya

Melawan gaya hidup

Menghadapi kerakusan dimana-mana

 

Ketika upeti harus disetor ke kanan-kiri

Manakala pungutan liar menjalar hingga di luar nalar

Maka buruh-buruh adalah korban paling rapuh dalam hukum yang penuh selingkuh

 

Hari ini tanggal 1 Mei

Kukenang Marsinah dengan nyeri di ulu hati

Perempuan penuh luka di sekujur tubuhnya

Buruh yang jatuh lalu ditimpa tangga

Jiwanya terkoyak karena diperkosa

 

Pada mesin raksasa kapitalisme

Dengan majikan besar yang tak punya wajah

Buruh hanyalah pelengkap penderita

Dan investor adalah Maha Berhala

 

Maka bernyanyilah wahai kaum buruh yang teraniaya

Dengan orkestra doa

Dalam partitur cinta

Dimanapun kalian berada

Biarkan keringat dan air mata yang akan mengamininya

 

Gus Nas Jogja, 1 Mei 2021

 

Kematian itu Menghidupkan

 

Kepada jiwa yang menapak di jalan Cinta

Yang merindu keindahan Cahaya

Puisi ini menjadi tarikh kata

Memprasasti di palung jiwa

 

Kematian itu menghidupkan sukma

Saat raga kian remuk dan renta

Maka jiwa akan berdiri gagah dengan Talbiyah Cinta

Sukma akan bernafas di kedamaian surga

 

Dengan iman yang tegak lurus

Dengan ilmu bersinar suluh

Dengan amal yang ikhlas dan tulus

Raga hanya tengkorak yang akan sirna

Sedangkan Ruh akan semakin riuh menyanyikan orkestra

Sukma akan menyatu pada amal sejatinya

 

Dengan jejak iman seterang purnama

Dengan jejak ilmu sedalam samudera

Dengan jejak amal seluas cakrawala

Maka Prasasti Cinta akan terpahat di pintu surga

 

Kematian itu pintu

Saat jiwa mengharap cinta

Kematian itu gapura

Bagi ruh yang rindu Cahaya

 

Gus Nas Jogja, 27 April 2021

Posted in LITERA.