Teladani Pahlawan Sekaligus Kuasai Ilmu dan Teknologi

Ibong mengingatkan, kekurang-siapan kita menghadapi arus globalisasi membuat semakin menurunnya daya saing dan produktivitas bangsa sehingga meyebabkan makin jauhnya kita dari cita-cita kemandirian. Ini adalah tantangan terberat untuk generasi muda yang terdidik, suatu kesempatan mulia terbentang di depan mata asal kita siap. Dalam konteks itu, generasi muda mesti berusaha menumbuhkan dan melatih karakter mulia dalam diri setiap individu maupun kelompok masyarakat. “Mulailah dengan hal-hal kecil,  seperti satunya kata dengan perbuatan, menghormati orang yang lebih tua, mengayomi orang yang lebih muda, dan disiplinkan diri untuk tepat waktu,” ujar Ibong.

Generasi muda kini mesti menetapkan tujuan hidup yang berguna bagi Bangsa dan Negaranya; Menarik pelajaran dari sejarah dan mengantisipasi masalah di masa depan; Selalu berusaha menjadi bagian yang aktif dan konstruktif bagi bangsanya.

Pernyataan ini dikemukakan Wakil Presiden Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam – Pusat, Agustanzil Sjahroezah yang juga cucu Haji Agus Salim, sebagai pembicara dalam Seminar Nasional “Moslem National Onderweijs” di kampus Institut Agama Islam (IAI) Bogor – Parakan Muncang – Kabupaten Bogor, Selasa (7/4/2026).

Lebih lanjut, Agustanzil yang populer dipanggil Ibong menegaskan, generasi muda adalah calon pemimpin di masa mendatang dan harus  menumbuhkan kesadaran kebangsaannya dan mengasah jiwa kepemimpinannya.

Karenanya, generasi muda kudu memahami, mendalami, dan mempraktikan nilai-nilai kepahlawanan, antara lain Ikhlas, Jujur, Berani, Rendah Hati, Cinta Tanah Air, Peduli Nasib Bangsa dan Siap memberikan pengorbanannya bagi masyarakat luas, Bangsa dan Negara.

Menurut Ibong, lima aspek penting patut diteladani dari para pejuang, yaitu kekuatan atau kapasitas intelektual yang luar biasa; Kemampuan dalam berorganisasi dan kepiawaian dalam menyampaikan pendapat; Kesadaran yang tinggi dalam nasionalisme, politik dan demokrasi; Integritas Moral dan Karakter yang kuat; serta, Wawasan dan pandangan yang jauh kedepan, bahkan melampaui zamannya.

Berbagai langkah kongkret mesti dilakukan. “Kuasai dasar-dasar Ilmu dan Teknologi dengan sebaik-baiknya sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Tapi juga perluas wawasan dengan membaca literatur dan berdiskusi ilmu-ilmu humaniora seperti filsafat, sejarah, ekonomi, psikologi dan kesusasteraan,” paparnya.

Selari dengan hal tersebut, Ibong mengemukakan, generasi muda mesti menjalankan langkah kongkret sesuai perkembangan berbagai aspek kehidupan.

“Ikuti dengan seksama perkembangan kehidupan politik, ekonomi dan sosial di dalam negeri maupun di luar negeri dengan aktif memantau media-media yang sekarang sangat mudah di peroleh. Yang paling penting adalah gunakan kacamata ilmiah dengan daya analitis maupun kritis untuk tidak begitu saja menerima konsep-konsep yang ditawarkan apapun juga namanya,” jelas Ibong lagi.

Agustanzil Sjahroezah dan moderator Abdul Azis, M.Pd | gusti

Gali Hikmah Sejarah

Selain itu, generasi muda pun kudu mempelajari dengan serius sejarah nasional kita dan sejarah Bangsa-Bangsa lain. “Ambil dan gali hikmah dari setiap peristiwa sejarah, baik itu keberhasilan ataupun kegagalan. Pahami dengan sungguh-sungguh pilar-pilar pokok yang menjadi unsur pemersatu kita yaitu Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ke-Bhineka Tunggal Ika-an. Tanamkan kesadaran dan kecintaan terhadap Tanah Air, Bangsa dan Negara,” lanjut Ibong.

Dalam konteks demikian, menurut Ibong generasi muda perlu melakukan percakapan intens, sehingga terjadi dialog pemikiran. Tanpa kecuali langkah kaderasi melalui berbagai aksi pelatihan.

“Bentuk kelompok diskusi dan latih diri untuk berorganisasi dengan taat dan disiplin mulai dari hal-hal yg sepele misal hadir tepat waktu, tunduk kepada peraturan organisasi, lakukan pemilihan yang demokratis, siap menerima perbedaan pendapat,” ujarnya.

Ibong juga mengingatkan, “Latihlah intelektualisme kita dengan berdiskusi ide dan solusi atas permasalahan yang ada di masyarakat dan menulislah terus menerus di berbagai media untuk mengkomunikasikan dan bertukar ide dan mematangkan  pemikiran yang tumbuh dengan komponen bangsa yang lain.”

Melalui percakapan dan pelatihan kader, generasi muda secara sadar mempelajari dan memahami dengan sungguh-sungguh tantangan zaman dan problema nasional maupun dunia yang sekarang sedang dihadapi dan akan semakin menjadi-jadi nanti, antara lain Krisis multi dimensi: Energi, Pangan, Air bersih, Lingkungan dan Kesempatan Kerja, Kemiskinan dengan segala implikasinya.

Agustanzil Sjahroezah bersama mahasiswa usai seminar | gusti

Mulai dari Hal-hal Kecil

Ibong mengingatkan, kekurang-siapan kita menghadapi arus globalisasi membuat semakin menurunnya daya saing dan produktivitas bangsa sehingga meyebabkan makin jauhnya kita dari cita-cita kemandirian. Ini adalah tantangan terberat untuk generasi muda yang terdidik, suatu kesempatan mulia terbentang di depan mata asal kita siap.

Dalam konteks itu, generasi muda mesti berusaha menumbuhkan dan melatih karakter mulia dalam diri setiap individu maupun kelompok masyarakat. “Mulailah dengan hal-hal kecil,  seperti satunya kata dengan perbuatan, menghormati orang yang lebih tua, mengayomi orang yang lebih muda, dan disiplinkan diri untuk tepat waktu,” ujar Ibong.

Tentu, menurut Ibong kemudian,  “Tidak larut dalam keinginan untuk meraih kenikmatan hidup secara instan dan melalui jalan pintas. Patuhi dan laksanakan ajaran agama secara konsekwen, konsisten dan  terus memperbaiki diri.”

Setarikan nafas, yang mesti dilakukan adalah melatih karakter mulia dalam diri setiap individu dan kelompok masyarakat. Yaitu, harkat dan martabat kemanusiaannya, kehormatan keluarganya dan kemuliaan Bangsanya.

“Dengan memiliki sikap mental ini insya Allah akan terhindar dari tindakan tercela, dan layak menjadi pemimpin di masa depan,” ungkap Ibong lagi, seraya terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, terbuka pada hal-hal baru ataupun kritik.

Karenanya, pesan Ibong kemudian, generasi muda perlu memiliki kemampuan komunikasi, rasa hormat pada sesamanya, konsekwen dan memiliki komitmen, sehingga memiliki Integritas.

Memungkas paparannya, Ibong mengatakan setiap kita kudu memiliki akseptabilitas yang tinggi, sehingga selalu dapat diterima di berbagai lingkungan dan terpilih untuk dipercaya. “Untuk memajukan Bangsa tidak dibutuhkan orang-orang jenius, tetapi anak-anak Bangsa yang ber-Tekad Kuat, Jujur dan Mau Kerja Cerdas.” | sèmbang

Artikel Terkait : Hidupkan Kembali Pendidikan yang Bermartabat

Posted in LITERA.