IAI Bogor Suar Transformasi dari Parakan Muncang

Persis seperti lirik lagu Mars IAI Bogor : “Institut agama Islam Bogor/Derap Langkah Mantap menggapai cita/Yang Berakhlak mulia/Harus kreatif harus normatif/Berwawasan kebangsaan/ Kembangkan saya ilmu sepanjang hayat kita/Wujudkan perguruan tinggi yang unggul mandiri/ Dan berkarakter/ Majulah Institut Agama Islam Bogor/ Jayalah Institut Agama Islam Bogor/” Dengan mentransformasi nilai-nilai baru terkait pengendalian singularisma — terkoneksi dengan anasiranasir Society 5.0, khasnya internet on thing dan artificial intelligent — dengan memadukan nilai agama – sains – teknologi sebagai pilar nilai religi – nasionalisma – keadilan.

Pekan lalu (Selasa, 7/4/26) bersama Agustanzil Sjahroezah (Ibong) – Wakil Presiden Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam (SI) – salah seorang cucu Haji Agus Salim dan Agustian – pendiri Sekolah Raya, kami bertandang ke desa Pasir Muncang – Nanggung, Kabupaten Bogor.

Kami menghadiri Seminar Nasional bertajuk Reaktualisasi Pemikiran HOS Tjokroaminoto ihwal Moslem National Onderwijs di kampus Institut Agama Islam (IAI) Bogor. Institusi pendidikan tinggi yang diinisiasi dan dibangun oleh H. Usep Nukliri dan kawan-kawan. Kini, Nukliri menjabat Rektor IAI Bogor tersebut.

Wakil Rektor, Awaluddin menjelaskan, perguruan tinggi tersebut beroperasi sejak 15 September 2022. Perkembangan lembaga pendidikan tinggi agama Islam, ini terbilang cepat.

Mengelola 4 Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan Islam, dengan dua program studi (Prodi), masing-masing Manajemen Pendidikan Islam dan Pendidikan Bahasa Arab; Ekonomi dan Bisnis Islam dengan 2 Prodi masing-masing Perbankan Syari’ah dan Ekonomi Syari’ah; dan Hukum Islam dengan 2 Prodi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Asy Syakhiyyah) dan  Hukum Ekonomi Islam (Mu’amalah).

Dengan mahasiswa berjumlah ratusan dan terdiri dari beragam latar secara psikografis dan demografis dan perkembangannya yang cepat, menurut Awaluddin secara evolutif, kelembagaan lembaga pendidikan tinggi ini menyiapkan diri menjadi universitas.

Dari aula terbuka tempat Seminar Nasional digelar secara hibrid, terasa antusiasme para mahasiwa — dengan jaket almamater warna ungu –, pensyarah (dosen), dan civitas academica yang ‘kuat.’

Binar mata mereka menunjukan kesungguhan menyiapkan diri sebagai intelektual yang dengan titik pandang yang jauh. Dari percakapan dengan sejumlah mahasiswa dan pensyarah, tata kelola manajemen pendidikan yang dinamis.

Rektor IAI Bogor, Dr. Usep Nukliri dalam suatu upacara civitas academica di laman kampus yang lega | foto IAIB

Pemajuan Sosio Budaya

Kesadaran dan atusiasme berpendidikan, bertumpuan dengan simpati, empati, apresiasi, respek, cinta, dan manusiawi. “Realitas ini dapat menumbuhkan sikap mutual respect, yang sedang sangat perlu dihidupan di zaman kini dan mendatang,” ujar Ibong.

Akan halnya Agustian lebih melihat, bahwa pada saatnya lembaga pendidikan tinggi ini dapat berperan sebagai suar yang mengisyaratkan desa akan kembali menjadi simpul pergerakan intelektualisma yang mengakar kuat.

Bagi saya, proses pendidikan yang sedang berlangsung di kampus IAI Bogor pada masanya akan menjadi penggerak energi transformasi. Khasnya dalam menggerakkan desa sebagai pusat pertumbuhan dan pemajuan sosio budaya (berpangkal religi, sains, teknologi, ekonomi, dan politik).

Prodi ‘Hukum Islam Keluarga dan Mu’amalah,’ misalnya, dengan penajaman-penajaman tertentu, secara sosiologis dapat diharapkan sebagai pondasi dalam keseluruhan konteks dan dimensi perubahan dramatik (transformasi).

Apalagi, kala dipahami, lokasi kampus ini berada di wilayah yang secara historis (masa Tarumanagara) diyakini sebagai salah satu pelita kesadaran patrotik. Khasnya, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Pasir Jambu (Koangkak) yang ditemukan Jonathan Rigg (1854).

Pada era Pajajaran, khasnya pada masa kepemimpinan Prabu Surawisesa — yang melakukan hubungan dagang antara bangsa dengan Portugis di Melaka, daerah lokasi kampus ini, merupakan salah satu andalan produk pertanian tanaman keras dan hasil tambang (emas).

Keandalan tersebut bertahan dan berkembang pada masa kemudian, ketika arkeolog Belanda Nicolas Johannes Krom (awal abad 20) kian mendalami situs temuan prasasti Pasir Jambu dan melakukan diseminasi informasi ke berbagai kolega dan jaringannya.

Parakan Muncang, kemudian menjadi destinasi penelitian bagi para arkeolog, sejarawan, dan sosiolog dari mancanegara, oleh kolonial Belanda ditempatkan sebagai tumpuan produk unggulan perkebunan besar pada masa kolonial Belanda, sebelum akhirnya berkembang menjadi area pemukiman dan pertanian.

Performa mahasiswa IAI Bogor (kiri) dan Wakil Rektor, Dr. Awaluddin | foto IAIB

Kemajuan Berkeadilan

Kini, di Abad 21 — dengan beragam tantangannya, keberadaan — IAI Bogor dengan sendirinya mesti mengemban fungsi. Setidaknya menjadi institusi pendidikan tinggi yang mesti memusatkan perhatian pada penguatan modal insan (human capital dan human investment) dengan nilai dan habitus sosial Abad 21.

Desa harus dilihat ulang keberadaannya dalam seluruh konteks. Desa berkemajuan dengan pengembangan potensi dan kemampuan warganya yang berhak mendapatkan kemajuan secara berkeadilan.

Sebagai pusat pertumbuhan, desa – kota sepatutnya hanya dibedakan secara fungsional dan bukan struktural. Dalam konteks ini, intelektualisma, keberadaan lembaga pendidikan tinggi didesa merupakan keperluan prioritas.

Modernisma harus dipandang dari dua sisi: minda dan jiwa, setarikan nafas, tradisionalisma mesti dilihat sebagai bagian dari kecerdasan budaya.

Merujuk pada Prasasti Pasir Jambu yang menggambarkan secara jelas tentang struktur pemerintahan, sistem sosial, dan nilai-nilai budaya yang menjadi nafas keseharian warga.

Tergambarkan bagaimana warga desa hidup dan berinteraksi memicu dan memacu perkembangan intelektualisma,  budaya kreatif dan inovatif, gaya hidup berkelanjutan, merawat ekologi dan ekosistem berdampak sosio ekonomi dan membalik kemiskinan,

Warga desa ditopang oleh tranformasi yang bersumber dari lembaga pendidikan tinggi guna menemukan kembali atmosfer budaya semula, yang berbilang tahun mengalami perubahan orientasi sejalan dengan operasi penambangan di Pongkor.

Mahasiswa, pensyarah dan pimpinan IAIB pada seminar “Reaktualisasi Pemikiran HOS TJOKROAMINOTO, Moslem National Onderweijs’ | fotodok ibong

Membangun Peradaban Lanjut

Dalam konteks ini, IAI Bogor nampak berkomitmen kuat sebagai pemaju generasi intelektual Muslim yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, menjadi penting maknanya.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan penguasaan ilmu modern, IAI Bogor melalui program tridharma perguruan tinggi dapat menyediakan peluang melakukan lompatan inovasi dan invensi sesuai zamannya.

Muaranya adalah membangun peradaban lanjutan berlandaskan nilai-nilai Islam. Sebagaimana dikemukakan Rektor Usep ketika membuka Seminar Nasional ‘Reaktualisasi Moslem National Onderwijs.’

Persis seperti lirik lagu Mars IAI Bogor : “Institut agama Islam Bogor/Derap Langkah Mantap menggapai cita/Yang Berakhlak mulia/Harus kreatif harus normatif/Berwawasan kebangsaan/ Kembangkan saya ilmu sepanjang hayat kita/Wujudkan perguruan tinggi yang unggul mandiri/ Dan berkarakter/ Majulah Institut Agama Islam Bogor/ Jayalah Institut Agama Islam Bogor/

Dengan mentransformasi nilai-nilai baru terkait pengendalian singularisma — terkoneksi dengan anasiranasir Society 5.0, khasnya internet on thing dan artificial intelligent — dengan memadukan nilai agama – sains – teknologi sebagai pilar nilai religi – nasionalisma – keadilan.

Buhul integralisma minda dan jiwa yang sebersih-bersih tauhid (tumpuan aqidah, syariah, muamalah, akhlaq), ilmu pengetahuan (sains dan teknologi), dan siyasah (transformasi narrow nationalism menjadi mondial nationalism) menjadi kata kunci dalam mewujudkan visi realistis.

IAI Bogor sebagai perguruan tinggi unggul, mandiri, berkarakter, berkualitas di tingkat regional Jawa Barat 2045. Sekaligus mitra terdepan negara dalam menghidupkan desa sebagai sentra pertumbuhan dan pemajuan bangsa ! | Bang Sem

Posted in LITERA.