Catatan Bang Sèm
Belakangan hari, kini dan nanti budaya Betawi pun kian lebar dalam konteks wilayah, karena gagasan Jabedetabog (Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor) tak hanya bakal memandu pemahaman kita tentang Kota Global, mulai dari kesadaran membangun kota metropolitan, kosmopolitan, megapolitan, dengan upaya adaptasi budaya selepas pertarungan kapitalisme global dan sosialisme mondial kian kehilangan daya.
Saya tak sepenuhnya memanjakan ekspektasi imajinatif demikian, namun saya meyakini, imajinasi kreatif semacam ini perlu disemai untuk dihadirkan pada tahun mendatang, atau jelang peringatan 500 Tahun Jakarta.
SEJAK beberapa tahun terakhir, di Jakarta selalu digelar peristiwa budaya bertajuk “Lebaran Betawi.” Format keriaan peristiwa tersebut menarik, karena selalu menghadirkan ekspresi kecerdasan dan kearifan budaya satu tarikan nafas.
Beragam aspek dan produk budaya (seni, sastra, istiadat, resam, tradisi, ritus, gastronomi) hadir di hadapan khalayaknya sebagai ekspresi integrated culture (bukan sekadar blended culture) yang memumpun — lantas melebur — beragam produk dan atraksi budaya bumantara yang sangat kaya.
Sejak abad ke 16 — sehingga menguat pada abas ke 20 — lebaran kaum Betawi tak hanya mengekspresikan ‘kemenangan’ dalam konteks ibadah shaum Ramadan. Jauh dari itu, peristiwa budaya ini hadir dan dihadirkan potret transformasi (perubahan dramatik) sosio budaya yang dinafasi oleh inisiasi dan aksi artistika, estetika dan etika yang sungguh mencerminkan kebudayaan Indonesia.
Bila peristiwa Lebaran Betawi hendak dikemas dengan format dan formula Jakarta sebagai ‘pusat perekonomian nasional dan kota global berbudaya’ — sebagai ‘beranda ke-Indonesia-an,’ boleh diyakini, perhelatan itu mesti disiapkan pula sebagai ruang katarsis di tengah pengapnya negara ‘pokoknya ada,’ ini.
Rencana menggelar Lebaran Betawi di Lapangan Banteng (10 -12/4/26) perlu disambut dengan gairah, sekaligus ghirah (dengan mengambil Pekan Kebudayaan Bali dan Pekan Kebudayaan Aceh) menghidupkan semangat egaliterian dan penguatan kosmopolitanisma bagi warga Jakarta dan Indonesia sebagai bagian integral dari kosmopolitanisma yang diperkuat oleh cara pandang sedondon dan inklusif.
Kawasan Lapangan Banteng yang menjadi salah satu wujud warisan simbol pembebasan Irian Barat (kini Papua), relevan dengan dialektika kebangsaan (penggerak perubahan dari narrow nationalism menapak ke global nationalism).
Dengan semangat ini, tujuan penyelenggaraan Lebaran Betawi sebagai ikhtiar terwujudnya silaturahmi dan persatuan yang disangga oleh pemajuan budaya Betawi — dalam makna mikro dan makro, mesti memberikan kesegaran baru kaum dan budaya Betawi dalam memosisikan dirinya secara strategis di tengah transformasi global, khasnya terkait dengan ekonomi budaya.

SILATURRAHMI | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wagub Rano Karno, Ketua Dewan Adat (mantan Gubernur) Fauzi Bowo dan Ketua Majelis Kaum Betawi Marullah Matali (mantan Sekda). Lebaran Betawi ajang silaturrahmi | foto SS_DisbudDKI
Poros Lapangan Banteng
Saya memuji panitia yang memilih Lapangan Banteng sebagai lokasi peristiwa budaya ini. Lokasi yang dapat dipahami sebagai buhul masa, tempat simpul budaya terkepang kuat. Menghubungkan memori historis masa lalu, luah inspirasi dan aksi budaya masa kini dengan beragam tantangan zaman yang harus dihadapinya. Pula, momentum melakukan creativity kick off sekaligus innovation breakthrough.
Dalam konteks simpul ruang budaya: Poros Lapangan Banteng – Monas, akan melintas kembali renjana yang meninggalkan referensi budaya ihwal Lapangan Ikada, tempat komitmen kaum Betawi meluahkan aksi perjuangan kemerdekaan, tanpa kecuali Pasar Gambir; Poros Lapangan Banteng – Rawabelong mengulang ingatan perihal perjuangan nida Syekh Junaid al Batawi dan Pitung.
Selingkung Lapangan Banteng memandu ingatan ihwal relasi Kathedral – Istiqlal, Post Block – Passer Baru – Anak Ciliwung dan Pasar Baru Permai; Poros Pasar Senen – Kramat – Kwitang – Matraman menyegarkan ingatan tentang peran kaum Betawi dalam menghidupkan ‘mind and soul’ bangsa ini, via Islamic Centre Habib Ali Kwitang, buncah daya cipta seni Syarif Bastaman Raden Saleh, kesadaran kebangsaan via STOVIA, Sumpah Pemuda, Proklamasi 17 Agustus 1945, kreativitas Ustadz Ali al Hamidi dalam lembaran ‘Mimbar Jum’at,’ dan lainnya.
Poros Lapangan Banteng – Tenabang menyegarkan ingatan kita ihwal Silat Sabeni dan beberapa aliran kemudian, beragam Orkes Melayu yang mampu mendorong rekonsiliasi selepas konfrontasi Indonesia – Malaysia, pun ihwal gerakan kesadaran transformasi yang dipantik Jami’at al Kheir.
Berbagai poros dan koneksi dengan Lapangan Banteng, banyak renjana terhubung. Di Lapangan Banteng sendiri berbuncah ingatan tdengan sistem pelatihan – sekolah sepakbola MBFA (Merdeka Boys Football Associations). Dengan poros Jatinegara terlintas ingatan tentang klub sepakbola Indonesia Muda. Dengan Pancoran masih terbayang anggota klub Angkasa berlatif.
Dari perspektif imagineering, penyelenggaraan Lebaran Betawi boleh diandaikan, sebagai garis awal langkah transformasi Gigi Balang Betawi dan Jakarta sebagai modal insan (saya lebih peduli dengan istilah ini, katimbang istilah ‘sumberdaya manusia’) terdepan bagi Indonesia.
Transformasi Gigi Balang (kaum) Betawi (Good governance Initiative to Good Indonesia : Betawi Action to Long Achievement to Nation Growth) yang saya maksudkan adalah poros perubahan yang diawali oleh kesadaran tanggung jawab melakukan tata kelola inisiatif perencanaan kebijakan, program dan penguatan kontrol operasional manajemen pemerintahan, berorientasi khalayak untuk berkontribusi bagi Indonesia lebih baik.

MUSIK BETAWI | Salah satu musik Betawi dengan Tekyan, Gendang, dan Kenong, ekspresi integralisme budaya. | foto: SS_DisbudDKI Jakarta.
Segarkan Cara Pandang Ihwal Betawi
Dalam konteks ini, cara pandang terhadap Kaum Betawi juga harus berubah menjadi lebih jernih, tepat, aktual. Kaum Betawi (abad XXI) — khasnya diwakili Majelis Kaum Betawi dan Dewan Adat — berkomitmen kuat, konsisten dan konsekuen memainkan peran budaya (dalam makna luas) untuk melakukan aksi kongkret pemajuan kebudayaan yang kian bermakna bagi bangsa ini. Khasnya, selari dengan upaya kongkret menggerakkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dengan demikian, mesti kian tangkas dan luas wawasan dalam melihat Kaum Betawi, yang tak melulu terbabit dengan etnis atawa suku belaka. Melainkan keseluruhan konteks budaya Betawi — nilai, norma, daya cipta, seni, sastra — bahasa, adat resam, tradisi, pengetahuan.
Focal concern-nya, paling tidak meliputi aspek pendidikan, agama dan budaya, ekonomi, dan kesehatan — yang tangkas berinteraksi dengan berbagai fenomena dan paradigma penguatan kualitas ‘modal insan.’
Penyelenggaraan Lebaran Betawi dalam perspektif Transformasi Gigi Balang Betawi, semestinya menghunjam dalam hingga ke titik kesadaran dan tanggung jawab kaum Betawi sebagai mitra utama dan terdepan (partisipatif dan kritis) bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta).
Di sisi lain, penyelenggaraan Lebaran Betawi mesti berorientasi pada penguatan eksistensinya sebagai kaum dengan integralitas budaya yang menggambarkan perpaduan berbagai referensi budaya dan berbagai kecerdasan budaya yang membentuknya dengan empirisma pengalaman internasional yang tercermin dalam daya kreatif.
Sejak hampir lima alaf, kaum Betawi telah hidup dengan dinamika fleksibilitas dan negosiasi kreatif, menciptakan identitas hibrida baru yang tak bergantung pada kerangka budaya tunggal.
Kaum Betawi kini, bahkan kian kaya dengan perpaduan antara kaum Betawi pituin dan kaum Betawian (yang terbentuk karena interaksi migran yang memadukan berbagai perspektif Betawi dan ke-Betawi-an).

KEGEMBIRAAN | Lebaran Betawi juga berperan sebagai katarsis, tempat warga Jakarta mengekspresikan kjegembiraan | ss disbudDKI
Memetika Singularitas
Kini, ketika proses difusi budaya kian cepat meluas (sebagai konsekuensi logis cepatnya menjalar memetika singularitas yang dibawa produk teknologi budaya – khasnya gawai), peristiwa budaya Lebaran Betawi dapat dikembangkan sebagai pesona pemikat dalam pengembangan atraksi, wisata, dan industri budaya berbasis industri kreatif, dengan durasi penyelenggaraan lebih lama.
Setarikan nafas, Majelis Kaum Betawi (dengan Dewan Adat-nya) dapat lebih intens merumuskan dan merncanakan Lebaran Betawi sebagai ajang unjuk budaya dengan ciri identitas khas sebagai kaum atau bangsa yang fleksibel, adaptabel, dan inovatif. yang dilandasi. Kaum yang piawai dan kompeten melakukan negosiasi budaya kreatif.
Saya membayangkan menuju ke lokasi Lapangan Banteng, kaum Betawi serendo-rendo dan sedondong khalayak sudah mendengar irama musik gambang keromong (dan cokeknya), keroncong, tanjidor, rebana + hadrah + rampak bedug (dan salawatnya) dari mobil terbuka yang mengangkut mereka.
Lantas, setibanya di lokasi, disambut dengan ekspresi musik gambus dan orkes Melayu Betawi dengan satu dua lagu Betawi hit, ekspresi palang pintu dengan pilihan pantun, kembangan silat tradisi dan sihke yang menambah nilai suasana Lebaran Betawi terasa sukmanya.
Beragam atraksi budaya boleh jadi sudah disiapkan matang untuk memeriahkan dan menjadikan Lebaran Betawi sebagai sentrum atraksi budaya yang menyadarkan ulang ihwal relasi ekologi, ekosistem, dan ekonomi budaya.
Selain itu, Lebaran Betawi dalam perspektif kelakar ihwal ‘lebar-an Betawi’ mengusik kita untuk selalu menyegarkan dan memperbarui persepsi dan perspektif budaya Betawi yang memang kian lebar, sejak Van Mook memasukkan Jatinegara sebagai bagian dari DKI Jakarta.
Belakangan hari, kini dan nanti budaya Betawi pun kian lebar dalam konteks wilayah, karena gagasan Jabedetabog (Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor) tak hanya bakal memandu pemahaman kita tentang Kota Global, mulai dari kesadaran membangun kota metropolitan, kosmopolitan, megapolitan, dengan upaya adaptasi budaya selepas pertarungan kapitalisme global dan sosialisme mondial kian kehilangan daya.
Saya tak sepenuhnya memanjakan ekspektasi imajinatif demikian, namun saya meyakini, imajinasi kreatif semacam ini perlu disemai untuk dihadirkan pada tahun mendatang, atau jelang peringatan 500 Tahun Jakarta. |
