Pendakian di negeri fithan bukanlah pendakian biasa. Hutan bambu yang tersedia pun beraneka jenis. Mulai dari bambu betong yang kuat dan kokoh sebagai soko untuk tenda, atau sebagai lingga dan titian, sampai bambu dengan ranting yang bagus untuk seruling. Termasuk menyediakan rebung yang lezat untuk diolah menjadi santapan tengah hari.
Catatan Haédar Muhammad
Di negeri fithan, sejumlah orang dengan akal budi yang terbatas, sibuk mengemas fantasi lewat hasil aneka poling dengan merujuk pada berbagai opini dari beragam sumber kalangan penguasa dan yang berpihak pada kekuasaan.
Secara sistemik untuk kepentingan ‘bisnis’ lima tahunan, mereka mengutip aneka teori sebagai pembenaran. Mereka sedang menciptakan aneka kesan: siapa kelak yang akan membawa kita ke masa depan yang jauh lebih baik.
Bermodal kepeng yang ditabur, sebagian mereka nampak asyik membelah bambu dengan cara peradaban lampau: Menginjak yang satu, mengangkat yang lain.
Di antara sebagian yang lain, di ruang lain, dengan kepeng yang masih dalam kocek, nampak sekelompok yang lain, yang lumayan besar bilangan kaumnya, sedang susah payah menegakkan bambu. Lantas berharap, kelak sosok idolanya akan memanjat bambu itu tinggi-tinggi.
Di sudut lain, di tepian sungai, mereka yang tak cukup punya kepeng, nampak susah payah membentang bambu di atas sungai yang deras, supaya sosok yang diidolakan segera memimpin mereka mengayunkan kaki serempak dan serentak, bermodal kesadaran akal budi, menyeberang dari masa kini ke masa depan.
Pada jelang pergantian musim. Kita memang akan dihadapkan pada kesibukan orang-orang dengan cara pandangnya masing – masing memperlakukan bambu.
Mereka yang sibuk membelah bambu memang tak punya pilihan lain, kecuali mengangkat dan menginjak. Berbagai cara dilakukan untuk itu.
Mereka adalah para campers yang sudah nyaman berkemah di punggung bukit. Lupa jalan turun, tak tahu pula cara bagaimana melanjutkan pendakian. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah membelah bambu untuk menambah rasa nyaman.

Jalan di sela hutan bambu | bambou en france
Mengubah Diri
Bambu-bambu yang mereka belah, menjadi bagian dari fantasi, akan dipergunakan untuk membangun pagar pengaman, agar hidup di dalam tenda semakin nyaman.
Di musim panas, ilusi dan fantasi tentang kenyamanan dan keamanan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi mereka.
Mereka yang sedikit berjiwa hicker, akan selalu berjuang untuk menegakkan bilah-bilah bambu. Lantas memanjatnya tinggi-tinggi untuk melihat posisi yang lebih tinggi. Tak peduli sudah berkali-kali memanjat bambu, itu dan jatuh. Lantas, untuk dan atas nama fantasi, melompat dari ujung atas bambu yang melenting dan melompat ke laman tenda yang nyaman.
Mereka yang membentang bambu menjadi titian melintasi sungai deras, menanggalkan ilusi dan fantasi, dan bernas merumuskan imajinasi tentang hidup yang harus bergerak. Tak cukup hanya berkemah di punggung bukit, sambil menikmati gemericik air sungai. Menyantap ikan sungai dan melahapnya. Tak pula cukup hanya menikmati angin sepoi-sepoi basah.
Imajinasi menuntun mereka untuk memberi nilai lebih atas bilah-bilah bambu menjadi titian untuk menyeberangi sungai, sehingga perjalanan mencapai jalur pendakian untuk mencapai puncak yang dicita-citakan dapat ditelusuri lagi. Meskipun harus menerobos belukar dan rimba dengan segala tantangan yang menyertainya.
Bila mendapatkan rintangan sulit, tebing cadas, harus selalu siap mengubah diri dari sekadar ‘alpinistes et voyageurs de la jungle’ – pendaki gunung dan penempuh rimba, menjadi climbers. Meski tantangannya sangat berat. Termasuk keluar dari tenda yang bocor kala hujan dan melewati puting beliung, seperti nasihat Jalaluddin Rumi.
Caranya? Selalu mengubah diri, memberi nilai lebih yang kokoh atas ranting-ranting bilah yang dilengkungkan sebagai bilah, yang senarnya ada di tenggorokan. Agar kelak, ketika busur terbentang lurus, sesuai nasihat Rumi, ‘kita akan melesat seperti anak panah ke tujuan kehidupan.’

Hutan Bambu | khas
Pilihan-Pilihan
Kala hidup adalah pilihan-pilihan, setiap kita punya pilihan dalam memperlakukan bambu.
Sebagai manusia kita telah ditakdirkan untuk memilih, menjadi pembelah bambu karena telah merasa nyaman namun merasa tak aman di ujung musim, lalu berjuang menjadi campers.
Atau menjadi hickers yang memanjat bilah hingga ke ujungnya, lalu memanfaatkan ujung bambu yang lentur untuk melenting dan mendarat di punggung bukit lebih tinggi atau terjerembab ke laman tenda.
Atau menjadi penempuh rimba dan climbers dengan imajinasi visioneering untuk membukla jalan pendakian baru sampai ke puncak tujuan, kendati harus menghadapi tantangan yang berat.
Namun, selalu punya keyakinan dan strategi besar untuk selalu melihat peluang-peluang kehidupan masa depan lebih baik, pandai mengenali kelemahan diri, sehingga mampu merumuskan kekuatan yang diperlukan untuk terus mengayunkan langkah mencapai puncak. Termasuk merancang berapa lama akan berada di puncak, karena ketika merancang pendakian, telah sekaligus merancang jalan turun.
Pendakian di negeri fithan bukanlah pendakian biasa. Hutan bambu yang tersedia pun beraneka jenis. Mulai dari bambu betong yang kuat dan kokoh sebagai soko untuk tenda, atau sebagai lingga dan titian, sampai bambu dengan ranting yang bagus untuk seruling. Termasuk menyediakan rebung yang lezat untuk diolah menjadi santapan tengah hari.
Tentu, ada juga bambu berjenis aur di bibir tebing yang sering di sangka tebu dalam fatamorgana. Kendati pada realitas pertama kehidupan, seringkali kita menduga dalam fantasi: “aur di pinggir tebing, seolah tebu di pinggir bibir.” |
